MasukKiya justru tertawa renyah.
Bukan tawa yang dipaksakan — tawa seseorang yang benar-benar menikmati momen ini. Lalu dengan gerakan yang sangat santai, ia mendorong dada Kenzo dengan dua jari.
"Uh-oh." Senyumnya melebar. "Ingat kata Dokter Arlo, Tuan Muda Valerius? Tubuhku belum boleh melak
Pintu lobi tahanan terbuka.Isabella Sterling berdiri di sana.Wajahnya sedikit berbeda dari terakhir kali Julian melihatnya — ada sesuatu di sekitar matanya yang tidak bisa didefinisikan dengan tepat. Bukan lelah. Lebih seperti seseorang yang baru saja membayar harga yang lebih mahal dari yang tertera di label, dan sudah memutuskan untuk tidak memikirkannya.Rambutnya tersisir rapi. Gaun hamilnya longgar dan mahal. Senyumnya muncul begitu melihat Julian — tapi tidak sampai ke matanya."Bella." Julian melangkah mendekat. "Bagaimana kamu bisa—""Jangan tanya," potong Isabella. Suaranya ringan, tapi ada sesuatu di baliknya yang menutup pintu sebelum Julian sempat melongok ke dalam. "Kita pergi dulu. Nanti bicara."Julian menatapnya sebentar.Sesuatu di nada itu membuat pertanyaannya berhenti di tenggorokan. Ada batas yang tiba-tiba ada di sana — garis yang tidak terlihat tapi terasa sangat jelas, garis yang mengatakan: ada hal-hal yang lebih baik tidak kamu ketahui.Ia memilih untuk tid
Pagi setelah malam eksekusi, Jakarta terbangun dengan berita yang sama di setiap layar.Nama Julian Cavendish bergulir di ticker berita seperti bendera yang sudah terlanjur terbakar — tidak ada yang bisa menyelamatkannya, yang bisa dilakukan hanya menonton sampai habis. Foto-fotonya dari malam kampanye tersebar di mana-mana: wajah yang tegang, langkah yang terburu-buru, dan di belakangnya layar LED raksasa yang memajang dosanya sendiri.Richard Sterling sudah lebih dulu bergerak.Konferensi pers pagi itu singkat, terkontrol, dan kejam dengan caranya sendiri. Richard berdiri di depan mikrofon dengan setelan yang sempurna dan wajah seorang politikus yang sudah berlatih menghadapi badai sejak puluhan tahun lalu."Saya menyesalkan tindakan Julian Cavendish yang menyalahgunakan kepercayaan yang saya berikan sebagai asisten pribadi. Seluruh transaksi ilegal tersebut dilakukan tanpa sepengetahuan saya—"Kiya mematikan televisi.Ia berdiri di depan jendela kamar dengan secangkir teh yang sud
Kenzo berdiri di sisi ranjang, menatap Kiya yang kini kembali bersandar ke bantal dengan tenang — seperti ia baru saja mendiktekan menu makan malam, bukan baru saja menyusun rencana yang akan menghancurkan dua orang sekaligus dalam satu malam."Enam tahun," kata Kenzo akhirnya.Kiya meliriknya. "Hm?""Kamu bilang enam tahun hidup bersama Julian dan dia tidak pernah belajar." Kenzo menatapnya. "Tapi kamu belajar semua kelemahannya."Kiya tidak menjawab langsung. Matanya kembali ke arah jendela, ke lampu-lampu kota di kejauhan."Aku tidak punya pilihan lain,"
Kiya justru tertawa renyah.Bukan tawa yang dipaksakan — tawa seseorang yang benar-benar menikmati momen ini. Lalu dengan gerakan yang sangat santai, ia mendorong dada Kenzo dengan dua jari."Uh-oh." Senyumnya melebar. "Ingat kata Dokter Arlo, Tuan Muda Valerius? Tubuhku belum boleh melakukan aktivitas berat sampai minggu depan."Kenzo membeku.Ia menatap Kiya yang kini dengan tenang membenahi jubah tidur sutranya, merapikan rambutnya yang berantakan akibat ulahnya sendiri, lalu bersandar kembali ke bantal dengan ekspresi seseorang yang baru saja memenangkan pertandingan catur dalam tiga langkah.Pena berlapis emas di atas meja nakas hampir ia
Julian Cavendish berjalan dengan kepala setengah tertunduk, kedua tangannya mencengkeram erat dokumen tebal milik Richard Sterling. Setelan jasnya bukan lagi merek rancangan desainer Paris, melainkan katun kaku khas seragam para asisten. Ego yang dulu setinggi langit kini dipaksa merangkak di dalam lumpur.Julian berhenti di depan pintu jati besar berlogo lambang negara, menghela napas panjang untuk meredakan sesak di dadanya sebelum mendorong pintu tersebut."Kau lambat, Julian," ucap Richard Sterling dingin tanpa menoleh. Pria tua itu tetap duduk santai di balik meja kerjanya yang megah, menghisap cerutu hingga asap abu-abu pekat memenuhi ruangan.Julian meletakkan dokumen itu di meja dengan gerakan kaku. "Maaf, Om. Ada beberapa berkas audit yang harus saya rapikan terlebih dahulu."Richard tersenyum sinis, lalu melempar sebuah map baru berwarna hitam ke hadapan Julian. "Ini proyek pertamamu sebagai asistenku. Alirkan dana kampanye dari tiga perusahaan cangkang ini ke beberapa vendo
"Bau antiseptik ini... membuat kepalaku mau pecah, Dokter Arlo."Krystalia memalingkan wajahnya ke arah jendela besar yang langsung menghadap langit Jakarta. Di balik kaca isolasi kamar VVIP, sisa badai semalam seolah menolak untuk pergi, menciptakan atmosfer pengap yang mencekat batin.Dokter Arlo melangkah mendekat dengan jas putihnya yang rapi, memeriksa botol infus Kiya dengan gerakan yang telaten. "Tekanan darahmu sudah mulai stabil, Kiya. Tapi kecemasanmu itu yang membuat monitor jantung di sampingmu berbunyi terlalu cepat.""Bagaimana aku tidak cemas?" Kiya menatap lengannya yang tertancap jarum infus dengan pandangan lelah. "Perutku memang sudah tidak senyeri kemarin, tapi rasanya ada yang salah."Arlo menyodorkan segelas kecil obat sirup dari baki perawat dengan senyuman yang menenangkan. "Minum ini dulu. Ini obat sirup untuk membantu pemulihanmu."Kiya melirik gelas kecil itu, lalu merengut. "Terima kasih, Dokter Arlo. Tapi... boleh tidak kalau jadwalku minum obat diganti sa
"Bagaimana istriku, Arlo?!"Arlo tidak membalas kasar, juga tidak terpancing oleh kemarahan pria posesif di depannya. Ia justru menepuk pelan tangan Kenzo yang mencengkeram kuat kerah bajunya, meminta pria itu untuk men
Meskipun tanggal pernikahan mereka sudah ditetapkan, Krystalia belum resmi menyandang nama besar Valerius di belakang namanya. Namun, seisi mansion mewah itu sudah memperlakukannya seperti seorang permaisuri tertinggi yang titahnya tak boleh dibantah seujung kuku p
"Krystalia. Apa yang sedang kau lakukan?!"Kiya menoleh, mendapati Kenzo yang baru saja melangkah masuk.Pria itu tampaknya baru saja kembali dari kantor; jas hitamnya
Dinding sel kantor polisi yang dingin dan beraroma apek sama sekali bukan tempat yang pantas untuk seorang Isabella Sterling. Setelah mendekam satu malam dalam ketakutan, pintu besi berkarat itu akhirnya terbuka dengan suara derit yang memilukan.







