Share

26. Setelah Api

Penulis: hanbyeol
last update Tanggal publikasi: 2026-06-07 11:39:42

Pagi setelah malam eksekusi, Jakarta terbangun dengan berita yang sama di setiap layar.

Nama Julian Cavendish bergulir di ticker berita seperti bendera yang sudah terlanjur terbakar — tidak ada yang bisa menyelamatkannya, yang bisa dilakukan hanya menonton sampai habis.

Foto-fotonya dari malam kampanye tersebar di mana-mana: wajah yang tegang, langkah yang terburu-buru, dan di belakangnya layar LED raksasa yang memajang dosanya sendiri.

Richard Sterling sudah lebih dulu bergerak.

Konferensi pe
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • (Bukan) Istri Kontrak Tuan Valerius   27. Kebebasan Dan Parfum Bau Bensin

    Pintu lobi tahanan terbuka.Isabella Sterling berdiri di sana.Wajahnya sedikit berbeda dari terakhir kali Julian melihatnya — ada sesuatu di sekitar matanya yang tidak bisa didefinisikan dengan tepat. Bukan lelah. Lebih seperti seseorang yang baru saja membayar harga yang lebih mahal dari yang tertera di label, dan sudah memutuskan untuk tidak memikirkannya.Rambutnya tersisir rapi. Gaun hamilnya longgar dan mahal. Senyumnya muncul begitu melihat Julian — tapi tidak sampai ke matanya."Bella." Julian melangkah mendekat. "Bagaimana kamu bisa—""Jangan tanya," potong Isabella. Suaranya ringan, tapi ada sesuatu di baliknya yang menutup pintu sebelum Julian sempat melongok ke dalam. "Kita pergi dulu. Nanti bicara."Julian menatapnya sebentar.Sesuatu di nada itu membuat pertanyaannya berhenti di tenggorokan. Ada batas yang tiba-tiba ada di sana — garis yang tidak terlihat tapi terasa sangat jelas, garis yang mengatakan: ada hal-hal yang lebih baik tidak kamu ketahui.Ia memilih untuk tid

  • (Bukan) Istri Kontrak Tuan Valerius   26. Setelah Api

    Pagi setelah malam eksekusi, Jakarta terbangun dengan berita yang sama di setiap layar.Nama Julian Cavendish bergulir di ticker berita seperti bendera yang sudah terlanjur terbakar — tidak ada yang bisa menyelamatkannya, yang bisa dilakukan hanya menonton sampai habis. Foto-fotonya dari malam kampanye tersebar di mana-mana: wajah yang tegang, langkah yang terburu-buru, dan di belakangnya layar LED raksasa yang memajang dosanya sendiri.Richard Sterling sudah lebih dulu bergerak.Konferensi pers pagi itu singkat, terkontrol, dan kejam dengan caranya sendiri. Richard berdiri di depan mikrofon dengan setelan yang sempurna dan wajah seorang politikus yang sudah berlatih menghadapi badai sejak puluhan tahun lalu."Saya menyesalkan tindakan Julian Cavendish yang menyalahgunakan kepercayaan yang saya berikan sebagai asisten pribadi. Seluruh transaksi ilegal tersebut dilakukan tanpa sepengetahuan saya—"Kiya mematikan televisi.Ia berdiri di depan jendela kamar dengan secangkir teh yang sud

  • (Bukan) Istri Kontrak Tuan Valerius   25. Eksekusi Di Altar Parlemen

    Kenzo berdiri di sisi ranjang, menatap Kiya yang kini kembali bersandar ke bantal dengan tenang — seperti ia baru saja mendiktekan menu makan malam, bukan baru saja menyusun rencana yang akan menghancurkan dua orang sekaligus dalam satu malam."Enam tahun," kata Kenzo akhirnya.Kiya meliriknya. "Hm?""Kamu bilang enam tahun hidup bersama Julian dan dia tidak pernah belajar." Kenzo menatapnya. "Tapi kamu belajar semua kelemahannya."Kiya tidak menjawab langsung. Matanya kembali ke arah jendela, ke lampu-lampu kota di kejauhan."Aku tidak punya pilihan lain,"

  • (Bukan) Istri Kontrak Tuan Valerius   24. Taring yang Tersembunyi

    Kiya justru tertawa renyah.Bukan tawa yang dipaksakan — tawa seseorang yang benar-benar menikmati momen ini. Lalu dengan gerakan yang sangat santai, ia mendorong dada Kenzo dengan dua jari."Uh-oh." Senyumnya melebar. "Ingat kata Dokter Arlo, Tuan Muda Valerius? Tubuhku belum boleh melakukan aktivitas berat sampai minggu depan."Kenzo membeku.Ia menatap Kiya yang kini dengan tenang membenahi jubah tidur sutranya, merapikan rambutnya yang berantakan akibat ulahnya sendiri, lalu bersandar kembali ke bantal dengan ekspresi seseorang yang baru saja memenangkan pertandingan catur dalam tiga langkah.Pena berlapis emas di atas meja nakas hampir ia

  • (Bukan) Istri Kontrak Tuan Valerius   23. Benalu di Balik Dinding Parlemen

    Julian Cavendish berjalan dengan kepala setengah tertunduk, kedua tangannya mencengkeram erat dokumen tebal milik Richard Sterling. Setelan jasnya bukan lagi merek rancangan desainer Paris, melainkan katun kaku khas seragam para asisten. Ego yang dulu setinggi langit kini dipaksa merangkak di dalam lumpur.Julian berhenti di depan pintu jati besar berlogo lambang negara, menghela napas panjang untuk meredakan sesak di dadanya sebelum mendorong pintu tersebut."Kau lambat, Julian," ucap Richard Sterling dingin tanpa menoleh. Pria tua itu tetap duduk santai di balik meja kerjanya yang megah, menghisap cerutu hingga asap abu-abu pekat memenuhi ruangan.Julian meletakkan dokumen itu di meja dengan gerakan kaku. "Maaf, Om. Ada beberapa berkas audit yang harus saya rapikan terlebih dahulu."Richard tersenyum sinis, lalu melempar sebuah map baru berwarna hitam ke hadapan Julian. "Ini proyek pertamamu sebagai asistenku. Alirkan dana kampanye dari tiga perusahaan cangkang ini ke beberapa vendo

  • (Bukan) Istri Kontrak Tuan Valerius   22. Distorsi di Balik Kaca Isolasi

    "Bau antiseptik ini... membuat kepalaku mau pecah, Dokter Arlo."Krystalia memalingkan wajahnya ke arah jendela besar yang langsung menghadap langit Jakarta. Di balik kaca isolasi kamar VVIP, sisa badai semalam seolah menolak untuk pergi, menciptakan atmosfer pengap yang mencekat batin.Dokter Arlo melangkah mendekat dengan jas putihnya yang rapi, memeriksa botol infus Kiya dengan gerakan yang telaten. "Tekanan darahmu sudah mulai stabil, Kiya. Tapi kecemasanmu itu yang membuat monitor jantung di sampingmu berbunyi terlalu cepat.""Bagaimana aku tidak cemas?" Kiya menatap lengannya yang tertancap jarum infus dengan pandangan lelah. "Perutku memang sudah tidak senyeri kemarin, tapi rasanya ada yang salah."Arlo menyodorkan segelas kecil obat sirup dari baki perawat dengan senyuman yang menenangkan. "Minum ini dulu. Ini obat sirup untuk membantu pemulihanmu."Kiya melirik gelas kecil itu, lalu merengut. "Terima kasih, Dokter Arlo. Tapi... boleh tidak kalau jadwalku minum obat diganti sa

  • (Bukan) Istri Kontrak Tuan Valerius   13. Bau Busuk Konspirasi

    Sisa-sisa kehangatan semalam masih tertinggal pekat di dalam kamar utama. Di bawah selimut sutra yang tebal, Kiya menggeliat pelan, merasakan sepasang lengan kokoh yang mengunci pinggangnya dengan begitu posesif.

  • (Bukan) Istri Kontrak Tuan Valerius   11. Konspirasi Di Balik Kertas

    Setelah percobaan kelima yang lumayan berhasil, Kenzo membawa sepiring panekuk berbentuk hati yang agak mencong dengan siraman sirup manis ke kamar Kiya.Ia mendorong pintu kamar tanpa mengetuk. Kiya sedang duduk mering

  • (Bukan) Istri Kontrak Tuan Valerius   10. Apakah Ini Cinta?

    Konfrontasi di depan sekolah Arthur akan menjadi hari yang paling mematikan bagi Julian Cavendish. Di bawah kepungan kilatan kamera jurnalis yang awalnya menyudutkan Kiya, tiga mobil Mercedes-Benz hitam legam milik Valerius Group datang mengepung lokasi.Kenzo Valerius keluar terlebih dahulu, disus

  • (Bukan) Istri Kontrak Tuan Valerius   8. Sangkar Emas Dengan Bom Waktu

    Empat belas hari tersisa, dan mansion mewah milik Kenzo Valerius mulai terasa seperti sangkar emas yang dipenuhi oleh bom waktu.Kiya berdiri diam di depan meja riasnya yang megah, menatap deretan botol obat kecil berlabel bahasa Jerman yang tertata rapi. Suplemen penguat rahim, vitamin kesuburan, h

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status