LOGINKening Davin berkerut dalam saat membaca pesan dari nomor tak dikenal itu. Dia baca berkali-kali sampai dia yakin kalau yang dimaksud pesan itu adalah Cantika. Davin mencoba menelepon ke nomor itu namun teleponnya tidak diangkat sama sekali. Davin menggerutu kesal dan memilih keluar dari ruangan itu. Untuk sesaat fokusnya terpecah. Tapi lagi-lagi berkaitan dengan Cantika.“Siapa ini? Dan apa maksudmu?” tanya Davin mengirim balasan pesan setelah tiga kali teleponnya di tolak.“Aku yang tahu rahasia Cantika. Kalau kamu mau aku bisa mengirimkan buktinya kepadamu. Lengkap dengan foto dan video. Bahkan bukti perjalanan dan hotel. Bagaimana?” Pesan misterius itu kembali membuat Davin kebingungan. Dia mencoba tak mudah percaya walau saat ini nama Cantika mulai berubah buruk di pikirannya. “Jangan main-main. Aku tidak mengenalmu!” tegas Davin membalas pesan lagi.“Baiklah aku akan kirim contohnya!”Damar yang berada di seberang telepon langsung mengirim contoh foto. Cantika sedang bersama
Damar tersenyum puas saat melihat dari kejauhan kalau kotak coklat darinya sudah diambil oleh Cantika. Untung saja wanita itu sangat suka berfoto. Termasuk foto paket yang datang ke rumahnya, makanya Damar jadi tahu alamat rumahnya.Dan hari ini dia akan menunggu Cantika untuk datang dan membayar biaya tutup mulutnya. Sementara Cantika yang semalam merasa frustasi setelah melihat foto-foto dirinya dengan Bobby dalam berbagai pose, hari ini memilih masih berada di kamarnya. “Kenapa tidak aku hapus foto-foto Bobby?” kesal Cantika. Dia terbiasa memfoto semuanya. Termasuk saat bersama Bobby. Dia merasa masih ada pria yang mau menerima dirinya, memuja dirinya dan mengejar dirinya saat dia merasa Davin berubah. “Tapi siapa yang mengirim kotak hadiah ini? Bukannya Bobby sudah mati? Apa copet kemarin? Tapi kalau copet kemarin kenapa dia bisa tahu tentangku dan Davin? Aneh!” Cantika terus mondar-mandir di dalam kamarnya hingga tanpa sadar waktu pertemuan yang ditentukan oleh Damar sudah te
Damar terus memindahkan data ponsel ke ponsel miliknya. Lalu dengan cepat dia menghapus semua yang ada di ponsel itu hingga memori ponsel kembali kosong. Dia bahkan menyimpan nomor Davin. Meski tubuhnya masih terasa sangat nyeri, Damar memilih tak peduli. Dia harus secepatnya menghilangkan jejak dari ponsel yang dia ambil.“Oke, sudah selesai. Sekarang tinggal satu ponsel lagi!” ucap Damar segera berusaha memecahkan sandi ponsel.“Sepertinya ponsel yang ini cuma untuk urusan pekerjaan,” gumamnya karena tak menemukan hal aneh apapun. Damar kemudian mematikan semua ponselnya. Dia kembali memakai masker dan topinya agar lukanya tak terlalu terlihat. Dia kembali menjual kedua ponsel itu. Damar tersenyum setelah segepok uang sudah ada di tangannya. “Lumayan, setidaknya setengah dari biaya persalinan sudah aku kumpulkan. Sekarang tinggal aku cari setengahnya lagi.” Selesai menjual ponsel, rasa nyeri makin terasa di tubuhnya. Tapi dia memilih pulang ke rumah. “Damar, apa yang terjadi pad
Mata Damar beralih ke arah Davin yang sedang membeli es krim. Dia sedang mengukur waktu pria itu kembali hingga dia bisa melihat Cantika yang sebenarnya bisa jalan. “Mumpung sedang sepi. Davin juga sebentar lagi kembali. Sebaiknya aku beraksi sekarang!” putus Damar. Damar berjalan pelan dari arah belakang kursi roda. Cantika sama sekali tak menyadari ada orang di belakangnya. Dia lebih fokus melihat ke arah Davin di ujung jalan. Tangan Damar dengan cepat tiba-tiba mendorong kursi roda itu hingga jatuh. Suara jeritan Cantika terdengar saat tubuhnya ambruk ke rerumputan. Davin menarik tas Cantika lalu lari dengan cepat.“Copet!” pekik Cantika panik yang tiba-tiba berlari dan mengejar copetnya. Dia lupa kalau dia seharusnya sedang pura-pura kakinya tak bisa berjalan. “Wah copet tuh. Kejar woi!” teriak orang-orang yang melihat Damar.“Hei pencuri! Kembalikan tasku. Dasar manusia sampah. Pasti ibumu bukan perempuan baik-baik!” teriak Cantika benar-benar kesal.Davin yang berlari dan me
Ayunindya masih memperhatikan foto di dinding. Seorang gadis muda yang terlihat cantik dengan latar belakang pantai yang indah. Dia masih ingat wajahnya dan dia sama sekali tak menyangka kalau kamar itu adalah miliknya.“Ayu, memangnya dia siapa?” tanya Damar yang berdiri di belakang Ayunindya. “Namanya Noni. Dia pernah bekerja sebagai office girl di perusahaan Mas Davin. Tapi tidak lama kerjanya, seingatku dia berhenti dan mau menyusul Ibunya kerja di luar negeri,” jelas Ayunindya. Damar menarik napas lega. Setidaknya dia tahu tidak ada ancaman yang berarti di rumah itu. “Mungkin gajinya lebih menjanjikan. Setidaknya aku tahu kita aman di sini.” “Iya. Di sini aku bisa memasak. Ada banyak perlengkapan masak di sini,” usul Ayunindya sambil menarik sprei dan membuka sarung bantal.“Tidak usah. Kamu sebentar lagi akan lahiran. Biar kita beli makan saja setiap hari,” tolak Damar membuka tas besarnya lalu mengambil selimut dan jaket yang ada di sana.“Kamu mau ke mana, Damar?” “Aku le
Davin dan Adit saling pandang. Wajah mereka sama-sama terlihat menegang. Mata mereka sama-sama tertuju pada semak-semak tinggi yang lebat. Tak terlihat apapun dari pinggir jalan tapi rasa penasaran membuat kaki Davin melangkah.Sementara Ayunindya berubah panik. Matanya membulat saat mendengar suara kaki melangkah mendekat. Dia jadi menyesal kenapa lebih menuruti rasa penasarannya ketimbang ucapan Damar yang memintanya tetap tinggal di Masjid. “Ya Allah, hamba cemas!” lirih Ayunindya tanpa suara. Dia sampai merapatkan tubuhnya ke balik tanaman.“Pak, hati-hati!” seru Adit langsung menarik tangan Davin. Takut terjadi sesuatu dengan bosnya itu.“Aku hanya ingin lihat!” “Takutnya itu ular atau mungkin binatang berbisa lainnya,” sergah Adit yang membuat Davin tiba-tiba gamang. Suara gemerisik kembali terdengar dari balik tanaman namun kali ini ada seekor kucing kecil yang menyembul keluar sambil mengeong. “Oh, ternyata kucing!” ucap Davin dan Adit akhirnya tersenyum lega. Mereka akhi







