INICIAR SESIÓNOrang-orang selalu menyebutku anak pelakor. Sedih, kesal, marah, tapi itulah kenyataannya. Bahkan aku selalu ditolak calon mertua karena cap anak pelakor itu. Yang lebih menyakitkan lagi, laki-laki yang selalu aku kagumi dan yang dulu selalu melindungiku, malah membenciku karena ibuku lah yang merusak rumah tangga orang tuanya.
Ver más"Kamu itu anak pelakor! Nggak pantas sama anakku!"
"Jadi dia anaknya si pelakor itu, ya? Kamu putusin, dia! Mama nggak mau punya calon menantu anaknya pelakor!" Anak Pelakor. Begitulah orang-orang selalu menyebutku. Ya, memang tidak dipungkiri sih, hal itu benar adanya. Tapi mengapa? Mengapa aku jadi anak pelakor? Aku juga nggak mau menjadi anak dari wanita yang merebut suami orang. Kenapa harus aku yang jadi anak pelakor. Kenapa aku harus mendapatkan sanksi sosial dari perbuatan ibuku di masa lalu? Bahkan sanksi itu berdampak pada kehidupan pribadiku. "Ra, maafin aku, ya. Aku nggak bisa melanjutkan hubungan ini. Ibu memintaku putus sama kamu. Sekali lagi, aku minta maaf. Mungkin ... kita bukan jodoh. Aku harap kamu mau mengerti dan relakan aku pergi," kata Dimas seraya melepaskan genggaman tangannya. "Baiklah, aku ngerti, kok. Kamu nggak perlu minta maaf, Dim. Mungkin aku yang salah." Kucoba melengkungkan senyum meski terpaksa. Dimas meminta bertemu di cafe dekat kampus, ternyata untuk memutuskan hubungan kami yang sudah terjalin selama setahun ini. Kupikir hubungan kami akan baik-baik saja dan berakhir di pelaminan. Namun, nyatanya semua itu hanya anganku saja. Kukira keluarga Dimas berbeda dengan yang lainnya. Nyatanya, mereka juga sama. Padahal, kemarin .... "Ayo masuk, Ra. Ibuku sudah nunggu di dalam." Dimas menggandeng tanganku setelah membuka pintu rumahnya. Itu pertama kalinya aku datang ke rumah Dimas, itu pun karena dia bilang ibunya ingin bertemu denganku. Katanya, dia ingin serius padaku. Dan tentu saja ingin memperkenalkan aku pada orang tuanya terlebih dahulu. Pastilah ada rasa deg-degan mengetahui akan bertemu dengan calon mertua. "Iya." Kujawab singkat dengan menampilkan senyuman yang tak bisa ku sembunyikan, dan mengikuti langkah kakinya. Kami pun masuk. Bu Imas, begitu nama ibunya Dimas, langsung menghampiriku. "Ini Nadira, yang sering kamu ceritakan itu, Dim?" Ku lengkungkan senyum sembari mencium tangannya sebagai tanda hormat. Bu Imas tersenyum hangat, lalu mengajakku duduk di sofa. Dimas sibuk mengambil kue dan minuman, sementara aku hanya memperhatikannya. Sebenarnya tidak enak dan ingin membantunya, tapi Bu Imas melarangku. "Sudah, biarkan saja itu Dimas yang mengambilnya. Kamu kan, tamu, duduk manis saja dengan Ibu di sini." "Iya, Bu." Aku pun manut saja saat Bu Imas memegang tanganku agar tetap duduk dengannya. Calon mertua yang baik. Begitu yang ada dalam pikiranku saat itu. Kesan pertama kulihat beliau orangnya ramah dan murah senyum. Dan juga, tidak patriarki. Terbukti dari caranya memperlakukan aku dan Dimas yang malah harus melayaniku. Ada kebahagiaan tersendiri melihat sikap calon ibu mertuaku ini. Beberapa kue dan minuman ditaruh Dimas di meja, kemudian dia duduk bersebelahan denganku. Aku berada di tengah-tengah antara ibu dan anak itu. Rasanya seperti keluarga yang hangat, membuatku tidak sabar ingin segera menjadi bagian dari keluarga itu. "Dimas itu sering cerita tentang kamu, lho, katanya kamu itu sangat baik dan cantik. Ternyata itu semua memang benar, sih. Padahal sebelumnya, dia itu nggak pernah cerita soal perempuan sama Ibu. Tapi sejak sama kamu, dia bahkan sering bertanya apa saja sih, yang disukai cewek. Jadi sering ngajak ibunya buat curhat," papar Bu Imas sembari tersenyum dan melirik ke arah putranya. Dimas terlihat kesal saat aku ikut meliriknya. "Ibu ngapain sih, cerita soal ini sama Dira? Kan malu, Bu!" "Lha kenapa malu? Kan memang iya, kamu heboh banget saat cerita soal Dira sama Ibu. Kamu bilang, gadis tercantik di kampus akhirnya jadi pacar aku! Begitu, kan?" Bu Imas mempraktekkan gaya Dimas yang membusungkan dadanya, sementara Dimas langsung berdiri dan mendekati ibunya agar berhenti. Aku jadi tertawa melihat tingkah ibu dan anak itu. "Jangan dengerin, Ra, ibuku itu memang suka mengada-ada." "Siapa yang mengada-ada? Ada lagi, malah kamu—" Bu Imas ingin bicara lagi, tapi Dimas menutup mulut ibunya. "Sudah, Bu, jangan cerita lagi. Ibu nggak mau ngajak Dira makan masakan Ibu? Ha?" Dimas melepas tangannya, lalu Bu Imas malah terkekeh. "Ha ha ha, ada yang malu. Ya sudah, yuk makan dulu, Nak." Beberapa masakan sudah terhidang di meja makan. Bu Imas begitu antusias mengambilkan banyak makanan ke dalam piringku. Karena tidak mau mengecewakannya, aku pun menghabiskannya meski perutku hampir tidak muat. "Jadi, Nak Dira ini tinggalnya di kompleks Adikra?" Selesai makan, Bu Imas mengajakku berbincang di ruang tengah. "Iya, Bu. Saya tinggal di sana." "Ibu juga punya beberapa teman di sana. Jangan-jangan ibu kamu aku juga kenal. Siapa nama ibumu?" Bu Imas masih dengan senyum hangatnya saat bertanya padaku. "Ibu saya bernama Wulan." "Wulan? Apa ... istri barunya Ronal?" Bu Imas terlihat kaget, tapi malah menyebutkan nama Om Ronal. "Iya, Bu." Jawabanku membuat Bu Imas tampak sendu. Wajah yang tadinya penuh senyum, kini menjadi diam seribu bahasa. "Ibu kenal, sama ibunya Dira?" Kini Dimas yang bertanya. Namun, sang ibu hanya mengangguk tanpa suara. Setelah pertanyaan itu, Bu Imas tidak lagi sehangat sebelumnya padaku. Aku mulai tidak nyaman karena tidak banyak lagi yang kami bicarakan. Terkadang saat aku berbicara dengan Dimas, Bu Imas tidak menanggapi dan malah menonton televisi saja. Aku berusaha berpikir positif. Namun, kenyataan hari ini membuatku tersadar. Mana mungkin seorang ibu mengizinkan anaknya menikah dengan anak pelakor. Mana mungkin ada yang mau berbesan dengan wanita yang pernah merebut suami orang. Ku coba mengikhlaskan segala yang terjadi. Ini bukan kali pertama. Beberapa kali aku juga sudah mengalaminya. Di mana aku harus putus dari kekasih, lantaran tak direstui oleh orang tuanya. Alasannya sama, yaitu latar belakang keluarga. Karena aku anak pelakor, dan mereka tidak ingin aku menjadi menantunya. Khawatir jika aku juga mewarisi kelakuan ibuku, suatu saat nanti. *** Sepulang dari kampus, aku memasak di dapur untuk melupakan kejadian hari ini. Tidak dipungkiri, ada rasa yang tak bisa dijelaskan. Antara kesal, marah, juga sedih. Namun, aku harus tetap berpikir positif. Aku tidak mau menjadikan ini sebagai beban. Aku yakin, suatu saat nanti akan ada laki-laki yang tulus padaku, tanpa mempedulikan latar belakang keluargaku, tanpa menghakimi diriku yang anak pelakor ini. "Putus lagi, ya? Tadi aku lihat Dimas nganterin Valerie. Ha ha, kasihan banget!" Tanpa basa-basi, Athar mengambil kue buatanku dan melahapnya. "Mau gimanapun, kamu itu tetep anak pelakor! Nggak akan ada yang mau sama kamu!" Laki-laki jangkung dengan selisih tiga tahun lebih tua dariku itu melenggang pergi setelah mengatakan cemoohannya padaku. Sudah hal yang biasa, dia memang selalu begitu padaku, tapi aku tidak mungkin menyalahkannya. Karena aku juga sadar, dirinya lebih sakit karena harus menyaksikan kedua orang tuanya berpisah akibat perbuatan ibuku yang menjadi orang ketiga. Dulu dia sangat baik padaku dan selalu melindungiku. Dari dulu aku begitu mengagumi semua tentang dia.. Bahkan, aku pernah berdoa agar bisa hidup seatap dengan Athar. Allah memang mengabulkan doaku, kini kami memang hidup dalam satu atap. Namun, malah sebagai saudara tiri. "Semua yang ibumu lakukan terhadap keluargaku, akan kamu tanggung selama hidupmu!"Entah kenapa hidupku begitu rumit. Jika aku bisa memilih, aku juga tidak ingin semua ini terjadi. Aku ingin menjadi Nadira yang disayangi semua orang, dan tidak memiliki musuh.Kedatangan Athar membuatku kaget. Entah sejak kapan dia berada di sana. Tiba-tiba saja dia menyahut dan sekarang duduk sambil melipat kedua tangannya, menyaksikan Dimas dan aku yang menolak diajak bicara."Sudah diputusin, sekarang mau ngajak balikan lagi?" Athar tersenyum sinis pada Dimas. "Kayak nggak ada cewek lain aja," tambahnya.Dimas melepaskan cengkeraman tangannya dari tanganku, lalu melangkah ke depan Athar. "Nggak usah ikut campur!" Wajah Dimas mulai memerah. Terlihat sekali dia nggak suka dengan Athar yang terkesan ikut campur."Gue nggak ikut campur, cuma ngingetin aja. Kemarin lo udah bawa Valerie ke rumah lo, sekarang mau ngapain lagi? Kayaknya nyokap lo bakalan marah kalau tahu lo deketin cewek lain lagi."Athar terlihat santai dan seperti mengejek Dimas. Dan apa katanya tadi? Dimas sudah bawa
Harusnya aku biasa saja, tapi mendengar Athar berkata seperti itu, hatiku masih merasakan sakit. Dulu kami sangat dekat. Bahkan, dia pernah berjanji untuk hidup bersamaku. Namun, sekarang keadaan telah berubah. Aku harus terbiasa dan menganggap semuanya biasa saja.Perkataan Athar membuatku sadar bahwa kini di matanya, aku hanyalah orang yang tidak penting lagi. Selama ini aku terlalu berharap. Berharap pelan-pelan dia akan mulai menerima keadaan ini dengan ikhlas dan kembali bersikap baik padaku. Namun, yang terjadi justru sebaliknya.Semakin lama, Athar semakin membenciku. Rasanya mustahil untuk dia bisa bersikap baik seperti dulu lagi. Dan Afrin, sampai sekarang rasa bencinya padaku semakin besar. Terbukti dari sikapnya padaku barusan yang kasar dan berani menjambakku."Aku minta maaf. Jika selama ini aku yang salah, aku benar-benar minta maaf." "Lo pikir dengan minta maaf bakal ngembaliin semuanya? Percuma! Percuma lo minta maaf! Lo nggak bakal bisa ngembaliin kebahagiaan gue, Di
Perempuan yang sudah sakit hati tidak akan peduli lagi dengan apa pun, asal bisa terlepas dari ikatan yang membelenggu. Tante Diana menggugat cerai, tetapi hak asuh kedua anaknya jatuh ke tangan Om Ronal. Tante Diana pergi dari rumah meninggalkan kedua anaknya. Dia tidak ada pilihan lain. Ternyata sebelum menikah, mereka pernah membuat surat perjanjian yang menyatakan bahwa apabila salah satu dari mereka mengajukan cerai, maka harus pergi tanpa harta dan anak-anak.Setelah perpisahan itu, Ibu pun meminta untuk dinikahi. Hingga akhirnya aku dan Ibu tinggal di rumah ini. Sejak saat itu, Athar dan Afrin selalu memusuhiku. Mereka bilang, aku nggak bisa menasehati ibuku dan sama saja seperti ibuku."Non, Bapak dan Ibu memanggil untuk makan malam." Bi Inah mengetuk pintu kamar."Iya, Bi." Aku pun turun dan menuju ke ruang makan. Yang lain sudah berada di sana, aku menjadi yang terakhir duduk."Huh! Tuan Putri baru turun dari singgasananya," ledek Athar saat aku duduk. Dia melirik sebenta
Ibuku memang menjadi orang ketiga. Ibuku juga menjadi perempuan perusak rumah tangga orang. Dia membuat seorang anak harus kehilangan kebahagiaan keluarga, juga membuat seorang suami berpisah dari istri sahnya. Namun, kenapa aku yang selalu dijadikan sasaran? Afrin selalu bersikap kasar dan sering memakiku. Dia melampiaskan semua kekesalannya padaku, padahal aku tidak tahu apa-apa. Ya, aku tahu semua itu perbuatan ibuku, tapi aku juga tidak mampu mencegahnya. Dan hal itu yang selalu Afrin salahkan. "Aku capek, Frin, tolong minggir. Aku mau masuk kamar dan istirahat." "Capek? Emang habis ngapain aja?" Afrin memaksa membuka jaket sweater yang aku pakai. "Kok baju loe kotor dan baunya nggak enak, sih! Kayak agak basah juga," celetuknya sembari mendekatkan hidung ke arahku. Aku melepaskan tangannya dari tubuhku dan menjauhkan diri darinya. Bajuku memang sedikit basah dan kotor karena aku diseret dan dibawa ke toilet yang lantainya agak basah. Dan tentu saja, baunya juga kurang






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.