FAZER LOGINSepuluh tahun hidup dalam sangkar emas pernikahan yang busuk membuat Rana hafal betul rasanya dikhianati. Suaminya, Bayu, bebas berselingkuh di luar sana, sementara ia terjebak dalam kepasrahan semu demi melindungi Arka, anak semata wayangnya. Rana tahu ia tak boleh terus menjadi istri bodoh yang tak berdaya. Ia harus keluar, meski harus merangkak dari bawah. Saat ia nekat kembali menapaki dunia kerja, takdir justru mempertemukannya dengan Seno—mantan remaja belasan tahun yang dulu sering merajuk malas di kantor ayahnya, tempat Rana magang sepuluh tahun lalu. Kini, Seno bukan lagi bocah canggung yang butuh ditemani. Ia telah menjelma menjadi CEO muda yang dominan, tajam, dan memegang kendali penuh atas perusahaan tempat Rana mencari suaka. Menyadari status Rana sebagai seorang ibu berhati hancur yang dibebani rasa insecure, Seno tidak sekadar memberinya pekerjaan. Di balik dinding ruang kerja yang kedap suara dan jam-jam lembur yang panjang, Seno menuntut lebih dari sekadar kepatuhan profesional. Ia ingin meruntuhkan seluruh pertahanan diri Rana, menghapus bayang-bayang lelaki bajingan di masa lalu, dan menarik wanita itu sepenuhnya ke dalam pelukan serta kendalinya. Di antara batas etika kantor dan gairah dewasa yang terpendam, Rana harus memilih antara tetap membentengi diri dalam sisa harga dirinya, atau menyerah sepenuhnya pada dekapan panas sang bos muda yang berbahaya.
Ver maisRana mendorong pintu samping rumah Bu Amel dengan napas yang masih menyisakan sisa-sisa keterkejutan luar biasa. Di ruang tengah, ia langsung menghambur memeluk ibunya, menceritakan bahwa ia tidak hanya diterima bekerja di Senjaya Medika, tetapi langsung ditarik menjadi sekretaris pribadi sang CEO tanpa harus melewati proses seleksi panjang.Namun, alih-alih langsung merayakan kemenangan kariernya, pikiran Rana sore itu justru melayang ke tempat lain.Ia berjalan pelan menuju kursi kayu di ruang taman terbuka yang membatasi antara rumah Bu Amel dan rumah Bu Rita—adik kandungnya. Dari tempatnya duduk, netra Rana menatap lurus ke halaman rumput, memerhatikan Arka yang sedang tertawa lepas berlari-lari mengejar bola bersama sepupunya, anak Bu Rita.Langkah kaki ringan mendekat. Bu Amel datang menghampiri sambil membawa piring kecil berisi tempe goreng hangat yang masih mengepulkan uap tipis, lalu duduk di sebelah putrinya. Melihat tatapan menerawang Rana, Bu Amel menyodorkan piring terseb
Dunia Rana rasanya mendadak berhenti berputar seketika.Bukan karena ia takut, melainkan karena gelombang kejutan yang telak menghantam kesadarannya. Sosok pria berjas tailored abu-abu arang yang berdiri di hadapannya kini sama sekali tidak menyisakan bayangan remaja belasan tahun yang dulu hobi merajuk di sudut kantor ayahnya. Garis wajahnya tegas, posturnya tinggi tegap, dan aura dominasi mutlak menguar dari setiap langkahnya.Rana membeku di kursinya. Napasnya tercekat di tenggorokan.Ia memang sengaja mengirim lamaran ke Senjaya Medika pagi itu karena ia tahu persis reputasi korporasi di bawah naungan Senjaya Group ini. Berbekal pengalaman magang sepuluh tahun lalu, Rana berharap bisa menyelinap masuk ke posisi staf administrasi yang aman—tempat di mana ia bisa bekerja tenang tanpa menarik perhatian. Ia sama sekali tidak pernah menduga, kursi tertinggi di balik meja eksekutif itu kini diduduki oleh Rian Seno Aji.Staf HRD wanita yang tadinya duduk di sebelah langsung bangkit berdi
Taksi online berhenti tepat di halaman rumah Bu Amel. Dari dalam rumah, wanita paruh baya itu sontak menghentikan aktivitasnya, mengerjap tak percaya melihat Rana turun seorang diri sambil menyeret koper kain ukuran besar, ditemani Arka yang berdiri kebingungan di sampingnya.Biasanya, jika Rana berkunjung, ia selalu datang bersama Bayu menggunakan truk tua lelaki itu, dan tak pernah lebih dari satu jam. Tapi hari ini? Rana datang sendiri membawa seluruh dunianya dalam sebuah koper usang."I-Ibu... minta tolong bayarin taksolnya dulu, Bu," suara Rana bergetar hebat, napasnya masih memburu sisa kepanikan di jalan.Bu Amel yang sempat buffering seketika merogoh dompetnya tanpa banyak tanya, menyerahkan selembar uang kepada sang sopir. Begitu taksi berlalu, Rana membawa kopernya masuk ke ruang tamu, langsung memeluk Arka erat-erat untuk meredam isak tangis yang mendesak di dadanya.Tidak lama berselang, pintu samping terbuka. Bu Rita—adik kandung Bu Amel—yang sedang berjemur bersama cucu
"Astaga... ada apa ini, Nak?" suara Ibu Sri langsung dibayangi kepanikan. Matanya bergantian menatap Rana yang bermata sembab dan Bayu yang membuang muka—meski jemari lelaki itu tampak gemetar hebat saat memegang ponsel Rana yang baru saja dilempar.Rana tidak menjawab. Napasnya masih memburu naik-turun. Tatapannya yang setajam silet beralih dari punggung suaminya yang kaku, lalu jatuh menatap wanita paruh baya yang sudah ia anggap seperti ibu kandungnya sendiri."Bu," suara Rana terdengar parau namun sarat ketegasan mutlak. "Aku mau cerai sama Bayu."Ibu Sri terperanjat. Ia buru-buru melangkah mendekat dengan hati-hati, merentangkan tangan seolah ingin meredam ledakan. "Ada apa, Nak? Jangan ngomong sembarangan. Bisa dibicarakan baik-baik, ya? Jangan terbawa emosi."Wanita itu lantas beralih menatap anaknya, meminta pembelaan sekaligus mencoba menengahi. "Sabar, Nak. Disabarin aja demi anak kalian, demi Arka. Sayang kalau cerai, nanti Arka gimana masa depannya? Nanti juga Bayu berubah












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.