INICIAR SESIÓN"Lelaki yang seharusnya menjadi perisai paling kokoh saat badai datang, justru menjadi badai terbesar yang menghancurkan rumahnya sendiri. Keegoisan pria tak hanya meremukkan hati wanita yang mencintainya, tapi juga merenggut impian kecil yang belum sempat menatap dunia..." ~~ nona_lee
"Buka pintunya sekarang, atau kupatahkan tanganmu!" Suara bentakan Reynard menggema keras di depan ruang kontrol CCTV rumah utama. Petugas keamanan berbadan tegap itu gemetar hebat, tak berani membangkang majikan mudanya yang tampak seperti kesetanan dengan napas memburu dan rahang yang mengeras. Pintu besi itu terbuka. Tanpa membuang waktu, Reynard memborong masuk, menggeser tubuh operator secara kasar. Jemarinya yang gemetar memutar balik rekaman video beberapa jam lalu, tepat di hall utama rumah mereka. Layar monitor berkedip, menampilkan rekaman jernih beresolusi tinggi tanpa suara. Namun, gambar bisu itu justru terasa sepuluh kali lebih menyiksa. Mata Reynard membelalak sempurna, menyaksikan bagaimana Tuan Richard berdiri menakutkan di hadapan Alina. Ia melihat Alina yang ketakutan, lalu... PLAK! Tangan ayahnya melayang keras menghantam pipi wanita yang sangat dicintainya hingga tubuh lemas itu terhuyung. Tak berhenti di situ, rekaman menampilkan Tuan Richard yang mengambil s
"Minum dulu air hangatnya, Al. Tenangkan dirimu," ucap Andri pelan seraya menyodorkan segelas teh manis hangat ke hadapan Alina yang terduduk lesu di atas kasur tipis rumah kontrakannya. Alina menerima gelas tersebut dengan jemari yang masih bergetar hebat. Uap tipis membumbung tinggi, menimpa wajahnya yang pucat dengan bekas memar kemerahan di pipi kanan yang makin membiru. Ia menyesap cairan manis itu perlahan, mencoba mengusir rasa dingin dan ngilu yang masih membelenggu dadanya. Andri menarik kursi plastik kecil, duduk berhadapan dengan sahabatnya. Mata pria itu menatap nanar kondisi Alina yang begitu mengenaskan. "Sekarang coba cerita pelan-pelan padaku. Apa yang sebenarnya terjadi di rumah itu? Kenapa Tuan Richard sampai setega itu padamu?" Alina menundukkan kepalanya dalam-dalam, air matanya kembali menetes menyatu dengan teh hangat di dalam gelas. "Tuan Richard... beliau sudah tahu semuanya, Ndri. Beliau tahu kalau aku dan Reynard punya hubungan spesial..." "Tahu dari mana
"Richard! Ada apa ini?! Kenapa rumah ramai sekali?!" Suara Nyonya Ella terdengar nyaring begitu kakinya melangkah melewati pintu utama. Tangan kanannya menenteng beberapa tas belanjaan barang brand mewah. Namun, senyum di wajah cantiknya seketika luntur tatkala telinganya menangkap suara tangisan histeris yang sangat ia kenali dari arah ruang tengah. Nyonya Ella melangkah tergesa-gesa. Matanya membelalak sempurna menyaksikan pemandangan kacau di hadapannya. Sean, cucu kesayangannya, sedang menangis sesenggukan seraya mengepalkan tangan mungilnya. Memukul-mukul paha dan lutut Tuan Richard yang sedang duduk di sofa sembari memegangi kepalanya yang tampak pening. Di atas lantai marmer, lembaran uang ratusan ribu berserakan tak beraturan bagai sampah tak berharga. "Richard! Apa-apaan ini?! Kenapa ada banyak uang berhamburan di lantai?!" tanya Nyonya Ella dengan nada panik, melempar tas belanjaannya ke sembarang tempat. Mendengar suara sang nenek, Sean langsung berbalik. Dengan mata se
"Bicaralah! Kenapa kau diam saja, wanita penipu?!" bentak Tuan Richard dengan suara menggelegar, memecah keheningan rumah megah yang kini mendadak terasa mencekam. "Kau pikir aku tidak tahu siapa kau sebenarnya?!" Alina masih terhuyung, memegangi pipinya yang terasa panas membakar dan berdenyut nyeri. Sudut bibirnya mengeluarkan sedikit darah segar. Tatapannya nanar, menatap pria tua di hadapannya dengan penuh kebingungan dan rasa takut yang melumpuhkan. "T-Tuan Richard... Saya tidak mengerti... Apa salah saya?" "Tante!!" Sean menjerit histeris dari sudut ruangan. Anak kecil itu berlari dengan linangan air mata yang membasahi seluruh pipinya, mencoba melompati jarak dan menarik-narik ujung jas Tuan Richard dengan jemari mungilnya yang gemetaran. "Kakek, stop! Jangan pukul Tante Alina! Kakek jahat! Jangan marahi Tante!" jerit Sean terisak-isak, suaranya parau dan terengah-engah karena ketakutan yang amat sangat. Namun, Tuan Richard sama sekali tidak menaruh iba. Pria tua itu j
"Tante Alina, lihat! Sendok yang ini bentuknya lucu banget, warna merah muda!" seru Sean riang seraya memamerkan wadah es krim stroberinya yang penuh melimpah dengan aneka topping warna-warni. Alina tertawa pelan, membenarkan letak duduk anak laki-laki itu di atas kursi kayu kedai es krim. "Iya, lucu sekali, Sayang. Makan es krimnya pelan-pelan ya, nanti tenggorokan Sean bisa sakit kalau terlalu terburu-buru." "Tante, foto Sean dong!" pintanya manja seraya memegang sendok es krim di depan mulutnya dengan gaya menggemaskan. "Kirim ke Papa sekarang, biar Papa iri karena tidak ikut makan es krim enak!" "Boleh, ayo senyum yang manis..." Alina mengarahkan kamera ponselnya dan cekrek, mengabadikan tawa ceria Sean yang menawan. Jemari Alina kemudian bergerak lincah menekan aplikasi pesan singkat, mengirimkan foto mungil itu ke nomor W******p milik Reynard. Namun, matanya tertuju pada indikator di samping pesan tersebut. Hanya ada centang satu abu-abu. Alina mencoba menekan tombol panggila
"Maafkan saya sebelumnya, Tuan Richard..." ujar pria berpakaian hitam itu seraya menundukkan kepalanya dalam-dalam, suaranya terdengar makin serak dan serius. "Ada detail penting mengenai riwayat rumah tangga wanita bernama Alina ini yang perlu Tuan ketahui." Tuan Richard menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi kulit, menatap tajam ke arah anak buahnya. "Bicara yang jelas! Jangan berbelit-belit!" "Menurut hasil penelusuran tim kami di lapangan..." lanjut pria itu pelan, "Alina pernah menikah beberapa tahun lalu dengan seorang pengusaha lokal bernama Bagas. Pernikahan mereka bertahan sekitar beberapa tahun sebelum akhirnya resmi bercerai. Selama masa pernikahan itu, Alina tercatat sudah pernah hamil dan melahirkan." Deg! Mata Tuan Richard seketika membulat tajam. Dada pria paruh baya itu berdesir hebat mendengar fakta yang tak pernah terbayangkan sebelumnya. "Hamil dan melahirkan?! Jadi dia sudah punya anak?!" "Mengenai keberadaan anak-anaknya..." Pria serba hitam itu menghela n







