Mag-log in"Tuan, tunggu dulu! Anak anda aman di dalam bersama saya! Dia ketakutan karena petir!" Alina berteriak setengah histeris dari balik pintu kayu rumahnya yang bergetar.
"Saya tidak peduli siapa anda! Buka pintunya sekarang juga, atau saya dobrak rumah ini!" balas suara bariton di luar, menggelegar mengalahkan deru hujan yang semakin menggila. Nada bicaranya sarat akan perintah mutlak yang tak boleh dibantah. Alina mendengus geram. Tangannya yang gemetar karena dingin mencoba menenangkan Sean yang semakin menyembunyikan wajahnya di ceruk leher wanita itu. "Sean, tenang ya sayang. Tante buka pintunya dulu." "Nggak mau, Tante... hiks... Papa galak. Sean takut..." bisik anak kecil itu dengan suara parau, jari-jari mungilnya mencengkeram erat kerah jaket basah Alina. Braakk! "Satu! Dua! Jangan coba-coba menguji kesabaran saya, Wanita asing!" Mendengar ancaman yang semakin tidak main-main, Alina dengan cepat memutar kunci dan menarik gagang pintu. Begitu pintu terbuka, embusan angin malam yang membawa uap air hujan langsung menerpa wajah mereka. Di ambang pintu, berdiri kokoh sosok pria bertubuh tinggi tegap dengan rambut hitamnya yang agak basah. Setelan jas mahalnya tampak sedikit lembap, namun aura intimidasi yang dipancarkannya begitu pekat. "Sean! Turun sekarang! Apa yang kau lakukan di rumah orang asing?!" bentak pria itu langsung, matanya langsung tertuju pada putranya yang berada di gendongan Alina. Namun, belum sempat pria itu melangkah masuk, sepasang mata tajamnya mendadak terpaku. Di bawah temaram lampu bohlam kuning lima watt yang menggantung di teras kecil, penglihatannya dipaksa menangkap pemandangan yang tak terduga. Tubuh mungil Alina yang basah kuyup membuat pakaian kerjanya menempel ketat, mencetak dengan sangat jelas lekuk tubuh wanita berusia 28 tahun itu. Kulit lehernya yang putih bersih tampak berkilau karena sisa air hujan, dan rambut hitam panjangnya yang basah menjuntai seksi di atas bahu. Pria itu tertegun sejenak, tenggorokannya mendadak terasa kering hingga ia terpaksa menelan ludah dengan susah payah, mencoba mengusir pikiran liar yang tiba-tiba melintas di kepalanya. Alina yang menyadari tatapan itu langsung merasa risih. Rasa kesalnya pada sikap tidak beradab pria di depannya ini seketika menyulut keberaniannya. "Dia ketakutan setengah mati di bawah hujan, dan hal pertama yang Tuan lakukan saat datang adalah membentaknya?!" semprot Alina dengan napas memburu, menatap lurus ke dalam manik mata abu-abu pria itu tanpa ada rasa takut sedikit pun. Pria itu tersentak, egonya yang setinggi langit seolah tertampar keras oleh ucapan wanita asing di depannya. "Apa kau bilang? Kau tidak tahu apa-apa tentang cara aku mendidik anak! Dia sengaja kabur karena keras kepala!" "Keras kepala Tuan bilang?!" Alina tertawa sinis, merapatkan pelukannya pada Sean yang mulai sesenggukan lagi. "Anak sekecil ini dibiarkan sendirian di luar saat badai sebesar ini! Di mana pikiran Tuan? Kalau dia tidak mengetuk pagar rumah saya, mungkin dia sudah pingsan atau tersambar petir di jalanan!" "Kau—" Pria itu mengepalkan tangannya, rahangnya mengetat kuat hendak membalas argumen tajam Alina. Dia tidak pernah membiarkan siapa pun menceramahinya, apalagi seorang wanita asing berpakaian pelayan kafe. Namun, kalimatnya tertahan di tenggorokan saat pandangannya turun ke arah Sean. Putranya yang biasanya selalu membangkang dan bertingkah nakal, kini justru tampak begitu rapuh, memeluk erat leher wanita itu seolah-olah wanita itu adalah pelindung terbaiknya. Ketakutan yang nyata terpancar dari tubuh kecil Sean yang bergetar. Pria itu menghela napas panjang, mencoba meredam amarahnya yang meluap. Egonya terpaksa mengalah melihat kondisi sang anak. Dia melangkah maju satu langkah, lalu mengulurkan kedua tangannya dengan gerakan yang sengaja ditenangkan. "Sean, ayo pulang dengan Papa. Badainya sudah mau reda, kita pulang ke rumah, ya?" ajaknya dengan nada suara yang jauh lebih lembut dari sebelumnya. Sean menoleh sedikit, namun begitu melihat tangan ayahnya, dia justru menggelengkan kepala kuat-kuat dan kembali menyembunyikan wajahnya. "Nggak mau! Papa pasti mau hukum Sean lagi! Sean mau sama Tante aja!" rengek anak itu, suaranya naik satu oktav penuh penolakan. "Sean Dirgantara, jangan membantah Papa. Ayo pulang," bujuk pria itu lagi, mulai kehilangan sisa-sisa kesabarannya. "Nggak mau! Rumah Papa dingin! Nggak ada siapa-siapa! Sean benci Papa!" teriak Sean histeris, membuat dada pria itu berdenyut nyeri mendengar kalimat penolakan yang begitu jujur dari bibir putranya. Alina yang melihat lingkaran setan ini akhirnya menghela napas lelah. Tubuhnya sendiri sudah menggigil karena kedinginan, dan dia tidak ingin perdebatan ini membuat Sean semakin trauma. "Begini saja, Tuan," sela Alina, mencoba mencari jalan tengah agar keributan ini segera berakhir. "Lebih baik Tuan masuk dulu dan tunggu di ruang tamu yang sempit ini sampai anak Tuan benar-benar tenang. Setelah dia berhenti menangis dan tidak ketakutan lagi, Tuan bisa membawanya pulang dengan baik-baik." Mendengar tawaran itu, pria di depan Alina mendadak menarik kembali tangannya. Sepasang matanya menyipit penuh curiga. Dia kembali menatap Alina dari atas ke bawah, memperhatikan bagaimana pakaian basahnya menonjolkan bentuk tubuh wanita itu di dalam rumah yang sepi. Pikiran buruknya sebagai pria kaya yang sering didekati wanita dengan berbagai cara kotor mulai bekerja. Pria itu mendengus sinis, senyuman meremehkan kembali terukir di wajah tampannya. "Menunggu di dalam rumahmu? Berdua saja dengan wanita yang berpakaian seperti ini di malam hari?" Alina mengernyitkan alisnya, tidak mengerti arah pembicaraan pria itu. "Maksud Tuan apa?" "Jangan berpura-pura polos," ucap pria itu dengan nada suara yang mendadak merendah, sangat dingin dan sarat akan tuduhan jahat. Dia melangkah maju, mempersempit jarak di antara mereka hingga Alina bisa mencium aroma parfum maskulin yang mahal bercampur air hujan. Pria itu menundukkan kepalanya sedikit, berbisik tepat di depan wajah Alina dengan tatapan mata yang mengunci pergerakan wanita itu. "Kau sengaja memanfaatkan anakku yang sedang ketakutan agar bisa membawanya ke rumahmu, lalu membiarkan tubuhmu basah kuyup seperti ini agar aku datang menjemputnya? Katakan padaku, taktik murahan apa lagi ini? Apa kau sedang berusaha menggodaku untuk mendapatkan uangku, hah?""PAPA! TOLONG! LILY MAKAN TANAH DI TAMAN!" Teriakan melengking Sean yang kini sudah berusia sepuluh tahun memecah ketenangan siang di rumah utama keluarga Dirgantara. Reynard yang baru saja hendak menyandarkan punggung tegapnya di sofa ruang keluarga langsung melompat berdiri, melempar remote televisi ke sembarang arah. "ASTAGA, LILY! JANGAN DIMAKAN!" Di area taman belakang, seorang bocah perempuan berusia dua tahun dengan gaun merah muda berenda dan rambut dikuncir dua tampak berlari kencang seraya tertawa melengking, memegang genggaman tanah taman dengan mulut yang sudah berlepotan hitam. "Buhahaha! Ndak mau, Papa! Ndak mau!" tawa Lily menggelegar, berlari kecil menjauhi sang ayah dengan langkah kakinya yang menggemaskan. "Lily Dirgantara, berhenti! Astaga, Sean, bantu Papa tahan adiknya!" seru Reynard setengah panik, berlari membungkuk mengejar putri kecilnya. "Aku sudah coba tahan tadi, Pa! Tapi Lily lari cepat sekali seperti kuda!" keluh Sean yang sudah mandi keringat,
"Dengar aku baik-baik, Alina Dirgantara!" pangkas Reynard tegas, merengkuh kedua pipi pucat istrinya seraya menatap lurus ke dalam iris matanya yang basah. "Aku tidak peduli! Aku sama sekali tidak membutuhkan anak lagi!" "Tapi, Mas..." cicit Alina dengan suara tercekat, air mata bergulir perlahan di pipinya. "Seorang wanita—" "Kau adalah wanita paling sempurna di hidupku, dengan atau tanpa rahim itu!" potong Reynard penuh emosi dan kehangatan yang meluap. "Melihatmu berada di ambang maut kemarin sudah cukup membuat nyawaku rasanya melayang. Aku tidak akan pernah sudi membayangkan situasi seperti itu terjadi lagi padamu. Bagi kita, Sean dan putri kecil kita sudah lebih dari cukup. Aku cuma ingin kita hidup bahagia bersama, tanpa menuntut apa pun lagi darimu. Paham, cantik?" Alina terpaku, merasakan gelombang ketulusan yang membakar seluruh rasa rendah dirinya. Wanita itu menyembunyikan paras mewahnya di dada tegap Reynard yang terbalut baju rumah sakit merah muda, menangis terisak s
"Mas... baju pasien warna merah muda apa tidak terlalu mencolok untuk ukuran CEO perusahaan besar?" tanya Alina pelan dengan suara parau, menatap suaminya dari atas ranjang dengan sebelah alis terangkat lemah. Reynard, yang baru saja hendak memeluk Alina lebih dekat, mendadak membeku. Pria tegap itu menunduk menatap kemeja rumah sakit berlengan pendek berwarna pink terang yang melekat di tubuh bongsornya, baju pasien terpaksa yang ia ambil tadi saat terbangun dari pingsannya. "Ah... ini..." wajah tampan Reynard merona merah padam, merasa salah tingkah setengah mati di hadapan istrinya yang baru saja siuman. Namun, detik berikutnya, pertahanan itu runtuh. Reynard langsung menubruk tubuh Alina perlahan, menyembunyikan wajahnya di ceruk leher sang istri sambil terisak pelan. "Peduli amat dengan baju ini, Alina! Aku hampir mati ketakutan! Saat mendengar kau belum sadar tadi, duniaku seperti runtuh seketika!" "Uhuk! Modus saja anak ini!" celetuk Tuan Richard tiba-tiba dari samping ranja
"Angkat yang benar! Anak ini berat sekali seperti beruang!" seru Tuan Richard dengan napas terengah-engah, memegangi kedua ketiak tubuh bongsor Reynard yang terkulai lemas tak berdaya. Dua perawat pria yang ikut membopong kaki Reynard sampai bermandikan keringat dingin. Tubuh tegap dan tinggi CEO Dirgantara Group itu benar-benar menguji ketahanan fisik mereka di tengah koridor rumah sakit. "Aduh, Tuan Richard, hati-hati kepalanya!" tegur salah satu perawat seraya merebahkan tubuh Reynard di atas ranjang ruangan rawat inap yang berada tepat di sebelah ruangan Alina. Nyonya Ella yang melangkah masuk ke ruangan itu seketika menepuk jidatnya sendiri, menggeleng-gelengkan kepala melihat kelakuan putra tunggalnya. "Dasar Reynard!" omel Nyonya Ella gemas, memijat pelipisnya seraya menatap tubuh anaknya yang masih pingsan. "Bisa-bisanya seorang CEO besar pingsan cuma gara-gara dengar kabar begitu?! Di saat seperti ini Alina sangat membutuhkan suaminya di sampingnya, tapi dia malah ena
"Reynard! Bagaimana keadaan Alina?!" Suara Tuan Richard memecah keheningan koridor ruang operasi yang dingin. Pria paruh baya itu melangkah tergesa-gesa dengan napas memburu, didampingi Nyonya Ella yang menggandeng erat jemari Sean. Reynard yang terduduk lesu di lantai dingin dengan punggung bersandar pada dinding langsung mendongak. Baju mewahnya yang basah oleh air hujan, kotor oleh tanah aspal, serta bekas darah di lengan bajunya membuat penampilannya tampak teramat mengenaskan. "Ayah... Ibu..." cicit Reynard dengan suara parau. Pria tegap itu bangkit perlahan dengan kaki gemetar, lalu tangisnya pecah seketika di hadapan orang tuanya. "Alina... Alina di dalam, Yah. Dokter bilang... ketubannya pecah dan bekas luka operasinya bermasalah. Aku... aku diminta memilih antara Alina atau bayinya!" "APA?!" Tuan Richard membelalakkan mata, dadanya naik turun oleh amarah yang mendadak membakar kepalanya. "Pilihan konyol apa itu?! Dokter macam apa yang memberi pilihan seperti itu?! Rumah s
Uhuk! Uhuk! Reynard tersedak hebat, menyemburkan kopi panas di mulutnya hingga mengotori meja berkas yang dipenuhi dokumen penting. "Kau bicara apa, Sean?! Mama kenapa?!" "Mama kesakitan, Pa! Airnya keluar banyak banget, terus sekarang dibawa Pak Budi sama Bi Minah ke rumah sakit!" jerit Sean di ujung telepon, suaranya parau dan gemetar karena menangis. Tuan Richard yang berdiri di sampingnya langsung menyambar bahu Reynard. "Ada apa, Reynard?! Alina kenapa?!" "Sepertinya ketubannya pecah, Yah! Alina dibawa ke rumah sakit sekarang!" seru Reynard panik luar biasa. Pria tegap itu melompat berdiri, melemparkan telepon begitu saja. "Aku harus ke rumah sakit sekarang!" "Kau tenang dulu, Reynard! Biar Ayah yang pulang ke rumah jemput Sean dan menghubungi ibumu!" tegas Tuan Richard menginstruksikan dengan suara berwibawa, meski tangannya ikut gemetar. "Cepat jalan duluan!" Tanpa membuang waktu satu detik pun, Reynard berlari menyusuri koridor kantor. Namun, saat sampai di area parkir b







