LOGINPlak!
Suara tamparan keras bukan di pipi, melainkan hantaman tangan Alina yang sengaja memukul tiang pintu kayunya sendiri, menggema membelah suara hujan. Napas Alina naik-turun dengan cepat, sepasang matanya menyala kemarahan yang luar biasa. "Jaga ucapan Tuan ya!" desis Alina, suaranya bergetar hebat bukan lagi karena dingin, melainkan karena harga dirinya yang diinjak-injak. "Saya tidak peduli seberapa kaya Tuan, atau seberapa banyak wanita yang antri untuk menggoda Tuan di luar sana! Saya menolong anak ini murni karena insting saya sebagai manusia yang masih punya hati melihat anak kecil basah kuyup ketakutan! Jangan samakan saya dengan wanita-wanita haus harta yang ada di kepala kotor Tuan itu!" Reynard Dirgantara tertegun sesaat, namun senyum sinisnya kembali terukir cepat. Pengalaman hidup di dunia bisnis yang kejam, dikelilingi orang-orang bermuka dua yang selalu memanfaatkan statusnya, membuat pria ini tidak mudah percaya begitu saja pada ketulusan. "Semua wanita licik di luar sana selalu menggunakan alasan ketulusan di awal untuk menarik perhatian saya," sahut Reynard dingin, matanya menatap tajam tanpa berkedip. "Dan saya tidak akan membiarkan anak saya menjadi umpan taktik murahamu." Tanpa aba-aba, Reynard melangkah maju dan merangsek masuk ke teras rumah Alina. Dengan gerakan kasar namun terukur, dia merebut paksa tubuh Sean dari dekapan Alina. "Nggak mau! Papa lepasin! Sean mau sama Tante! Hiks... Papa jahat!" Sean menjerit-jerit histeris, tangan kecilnya memukul-mukul bahu tegap Reynard, berusaha menggapai kembali jaket basah Alina. "Diam, Sean Dirgantara! Cukup!" bentak Reynard dengan suara menggelegar, membuat tangisan anak itu seketika tertahan menjadi isakan kecil yang tertahan di tenggorokan karena terkejut. Reynard membalikkan tubuhnya, bersiap melangkah keluar menembus sisa-sisa hujan. Namun sebelum kakinya melangkah jauh, dia menoleh sedikit ke belakang, memberi Alina tatapan paling mematikan yang pernah wanita itu lihat. "Satu hal lagi. Jangan pernah mencoba mendekati putra saya lagi." Alina membeku di ambang pintu, mulutnya terkunci rapat oleh rasa syok dan amarah yang bertumpuk menjadi satu. Dia hanya bisa menatap nanar punggung tegap pria angkuh itu yang berjalan menjauh, menyeberangi jalanan aspal yang basah menuju rumah mewahnya. Di dalam gendongan itu, Sean masih terus menangis sesenggukan, menatap ke arah Alina dengan tatapan pilu yang mengiris-iris hati wanita itu. "Lelaki sakit jiwa... benar-benar angkuh dan tidak punya perasaan!" gumam Alina kesal, tangannya meremas kusut ujung pakaiannya yang basah sebelum membanting pintu rumahnya dengan hentakan keras. Brak! Reynard menutup pintu utama rumah mewahnya dengan kaki, menguncinya rapat tanpa memedulikan tangisan Sean yang kini kembali pecah. Suasana rumah yang besar itu terasa begitu sunyi dan dingin, kontras dengan interiornya yang serbamegah dan mahal. Tanpa merespons satu pun omelan atau protes dari putranya, Reynard berjalan dengan langkah lebar menaiki tangga menuju kamar mandi utama. Dengan wajah datar seolah tanpa emosi, Reynard membawa Sean masuk ke dalam area shower. Dia melepaskan pakaian putranya yang basah kuyup dan kotor terkena lumpur, lalu menyalakan air hangat. "Papa jahat! Sean benci Papa! Kenapa Papa selalu marahin Sean?!" jerit Sean di bawah guyuran air hangat, air matanya menyatu dengan aliran air dari shower. Tangan kecilnya terus berusaha mendorong dada ayahnya. Reynard tetap diam. Dengan sisa-sisa ketenangannya yang dipaksakan, dia mengambil sabun, menggosok tubuh kecil putranya dengan saksama, lalu membilasnya hingga bersih. Pikirannya benar-benar kacau, namun fokusnya tetap tertuju untuk memastikan anaknya tidak jatuh sakit setelah kehujanan. Setelah selesai, Reynard membawa Sean ke kamar tidur, membalut tubuh anak itu dengan handuk kering, dan memakaikan baju tidur yang hangat. Sepanjang proses itu, Sean sama sekali tidak berhenti menangis. Bahkan setelah selesai berpakaian, anak itu justru berdiri di atas tempat tidur dan mulai memukul-mukul dada bidang ayahnya dengan kepalan tangan kecilnya. "Papa jahat! Lepasin! Sean mau keluar!" "Cukup, Sean!" Reynard akhirnya meledak. Kepalanya yang sejak siang sudah berdenyut nyeri akibat tumpukan pekerjaan kantor, ditambah laporan bahwa pengasuh baru Sean kabur lagi sore tadi, kini benar-benar terasa mau pecah. Pria itu mencengkeram kedua bahu kecil Sean, menatap tajam tepat ke dalam manik mata putranya dengan napas memburu. Sean seketika terdiam, tubuhnya bergetar kecil melihat kilat amarah yang begitu pekat di mata sang ayah. "Kenapa kau selalu seperti ini, hah?!" bentak Reynard, suaranya meninggi membelah keheningan kamar. "Papa seharian lelah bekerja di kantor, mencari uang untuk semua fasilitas yang kau pakai sekarang! Tapi apa balasanmu? Kau buat semua pengasuh yang Papa gaji mahal kabur setiap tiga hari sekali! Sekarang kau malah keluyuran di luar saat badai dan masuk ke rumah wanita asing! Apa maumu sebenarnya, Sean?!" Sean menundukkan kepalanya dalam-dalam. Air matanya menetes satu-satu ke atas selimut tebal. Jari-jari mungilnya saling bertautan, memilin ujung bajunya dengan cemas dan ketakutan. "S-Sean... Sean cuma kesepian, Pa..." bisik anak itu lirih, suaranya nyaris tenggelam dalam isakan. "Para pengasuh itu... mereka tidak asyik. Mereka tidak peduli pada Sean. Mereka hanya main ponsel dan memarahi Sean kalau Papa tidak ada di rumah. Papa juga jahat... Papa selalu sibuk, tidak pernah punya waktu untuk Sean..." Mendengar kalimat jujur yang keluar dari bibir mungil anaknya, Reynard mendadak kehilangan seluruh kata-katanya. Amarah yang tadi meluap-luap di dadanya seolah menguap begitu saja, digantikan oleh rasa sesak yang menghimpit ulu hatinya. Pria itu memejamkan matanya rapat-rapat, menarik napas dalam-dalam untuk mengendalikan badai emosi di dalam dirinya. Perlahan, ditariknya tubuh kecil Sean ke dalam pelukannya. Reynard mendekap erat putranya yang masih sesenggukan, menyandarkan dagunya di atas rambut hitam Sean yang masih agak lembap. Pria itu tahu, semua ini terlalu berat untuk anak seusia Sean. Kesibukannya membangun kerajaan bisnis membuat Sean kehilangan sosok orang tua yang utuh sejak kecil. Terlebih lagi, sejak hari pertama menghirup udara di dunia ini, Sean tidak pernah mengenal atau merasakan apa itu sosok seorang ibu. Reynard paham betul jika segala kenakalan yang dilakukan Sean selama ini hanyalah cara darurat anak itu untuk mencari perhatiannya. Namun, haruskah caranya seberbahaya ini hingga mengorbankan keselamatan nyawanya sendiri? "Maafkan Papa..." bisik Reynard lirih, suaranya melembut penuh penyesalan sembari mengusap punggung putranya. "Maaf karena Papa sudah membentakmu tadi. Papa hanya... sangat takut kehilanganmu, Sean. Sekarang, tidurlah. Ini sudah sangat larut." Reynard merenggangkan pelukannya, membantu Sean berbaring di atas ranjang king size yang empuk, lalu menarik selimut tebal hingga sebatas dada anaknya. Pria itu duduk di tepi ranjang, berniat menunggu hingga putranya benar-benar terlelap ke dalam mimpi. Suasana kamar mendadak hening, hanya menyisakan suara ketukan sisa air hujan di kaca jendela. Mata Sean yang sembap mulai meredup karena kantuk, namun sebelum kelopak mata itu tertutup sepenuhnya, anak itu tiba-tiba mencengkeram ujung lengan kemeja Reynard. "Papa..." panggil Sean dengan suara berbisik, matanya menatap kosong ke langit-langit kamar. "Ya, Sayang? Ada apa?" sahut Reynard lembut, mengusap dahi putranya. "Kenapa... kenapa Sean tidak punya Ibu seperti anak-anak yang lain?" Pertanyaan polos yang keluar dari mulut Sean seketika membuat tubuh Reynard menegang sempurna di tempat duduknya. Jantungnya seolah berhenti berdetak, dan seluruh memori kelam masa lalu yang selama ini ia kubur dalam-dalam mendadak mendobrak paksa benaknya, membuat napas pria itu tercekat di tenggorokan. "Apa Ibu pergi karena Sean anak yang nakal?""Mengawasi? Kenapa aku harus mengawasinya?!" seru Nyonya Ella dengan nada heran, matanya menyipit menatap suaminya. "Aku curiga Reynard mulai main gila dengan pengasuh itu," jawab Tuan Richard dingin tanpa ragu, melipat kedua tangannya di balik punggung. Nyonya Ella seketika memutar bolanya dan mendengkus kencang. "Astaga, Richard! Kau ini selalu saja paranoid dan berburuk sangka pada anakmu sendiri! Reynard itu punya selera tinggi. Mana mungkin dia suka dengan seorang pengasuh yang pasti wajahnya biasa saja, tidak terurus, dan jelas-jelas dari kasta jauh di bawah keluarga kita?!" "Aku hanya mengingatkanmu, Ella," sela Tuan Richard, mengabaikan kekehan istrinya. "Perhatikan saja bagaimana cara Reynard menatap wanita itu nanti." Malam pun tiba. Sebuah mobil hitam mewah meluncur membelah jalanan kota menuju kawasan elit di pinggiran ibu kota. Di dalam kendaraan tersebut, keberangkatan Reynard, Sean, dan Alina menuju rumah utama benar-benar terjadi. Semua pakaian dan keperluan bes
"Reynard! Kau ini di mana, sih?! Kenapa baru mengangkat telepon Ibu, hah?!" Suara melengking nan penuh penekanan itu menggelegar nyaring dari speaker ponsel. Reynard sampai spontan menggeser ponselnya agak jauh dari telinga, menatap layar benda pipih itu dengan dahi berkerut meringis. Alina, yang masih dalam posisi dipeluk hangat oleh Reynard, ikut menyimak samar-samar suara omelan yang melengking tersebut. Wanita mungil itu hanya bisa menahan napas seraya menyembunyikan senyum geli di dada tegap kekasihnya. Di seberang sana, di sebuah ruang keluarga nan megah bertabur marmer mahal, berdiri seorang wanita paruh baya berpenampilan amat elegan. Busana sutra yang dikenakannya tampak begitu berkelas, polesan riasan tipis menonjolkan raut wajahnya yang cenderung angkuh. Namun, di balik sikap cerewet dan ketegasannya, Nyonya Ella, ibu kandung Reynard sebenarnya adalah sosok ibu dan nenek yang sangat penyayang serta protektif pada keluarganya. Saat ini, Richard sendiri belum sempat memb
"Dialah satu-satunya pengasuh yang bisa mengendalikan Sean, Ayah," sahut Reynard dengan nada tenang yang amat dingin. "Setelah puluhan pengasuh sebelumnya tidak pernah bertahan lebih dari satu minggu." Tuan Richard mengatupkan bibirnya rapat-rapat. Ia terdiam, pandangan matanya yang tajam seolah menimbang-nimbang setiap kata yang terlontar dari bibir putranya. Ia tahu betul betapa sulitnya menangani tabiat Sean jika sedang kumat, dan kenyataan bahwa wanita itu berhasil bertahan sejauh ini adalah hal yang tidak bisa ia bantah. "Aku akan membicarakan hal ini dulu dengan ibumu," putus Tuan Richard akhirnya seraya berdiri dengan bantuan tongkat kayunya. "Keputusan ini bukan cuma milikku, Reynard." Pria paruh baya itu berbalik, melangkah menuju pintu keluar dengan wibawa yang tetap terasa menekan. Namun, saat melewati koridor menuju teras depan, langkah Tuan Richard sempat tertahan sejenak. Ia berpapasan dengan Alina yang berdiri kaku di dekat pintu dapur. Alina seketika menundukkan ke
"Kau pikir aku buta, Reynard? Oh.. atau kau memang sudah menganggap ayahmu ini mati?!" Suara Tuan Richard memecah keheningan ruangan dengan nada yang rendah namun tajam, seolah menyayat udara yang dingin di ruang tamu. Pria tua itu tidak beranjak dari kursinya, matanya yang tajam tetap terkunci pada wajah putranya. Reynard tetap berdiri tegak, menyilangkan tangan di dada dengan raut wajah yang sedatar tembok. "Ayah, ini rumahku. Ada urusan apa Ayah datang tanpa memberitahuku?" Tuan Richard mendengus kasar. "Urusan? Kau bertanya apa urusanku? Sean alergi kacang, dia masuk rumah sakit, dan kau tidak memberitahuku sepatah kata pun! Kemarin, anak buahku melapor jika cucuku berjalan pincang karena jatuh di sekolah, dan lagi-lagi, aku harus tahu dari orang lain, bukan dari kau ayahnya!" Di dapur yang berjarak cukup jauh, Alina yang sedang menyiapkan teh hanya bisa diam mematung. Ia mendengar setiap kata yang terlontar, hatinya mencelos saat mendengar suara kemarahan Tuan Richard yang me
"A-apa?! Siapa yang memukul Papa?!" Alina melotot sempurna. Kedua matanya membulat besar menatap Sean yang masih berdiri dengan posisi berkacak pinggang di depannya. Rasa kaget dan bingung bercampur menjadi satu di wajah wanita itu, membuatnya mendadak salah tingkah. "Sean... Tante tidak pernah memukul Papa! Siapa yang mengajari Sean bicara begitu?!" seru Alina cepat, memprotes tuduhan tak berdasar itu dengan wajah yang mulai merona merah. Sean tidak menurunkan kedua tangannya dari pinggang kecilnya. Bocah itu menyipitkan mata, menatap Alina dengan sok curiga. "Papa yang bilang tadi! Kata Papa, Tante Alina memukul Papa gara-gara Papa membuat Sean menangis semalam!" Alina seketika menolehkan kepalanya tajam ke arah Reynard yang masih berlutut di dekat meja makan. Pria berkuasa itu kini sudah berdiri tegak. Bukannya merasa bersalah atau membantu meluruskan kesalahpahaman, Reynard justru tak sanggup lagi menahan tawanya. Tawa renyah nan lepas menyembur begitu saja dari bibirnya,
"Janji apa? Saya tidak pernah merasa berjanji apa pun pada Tuan," cetus Alina pelan, berpura-pura lupa. Wanita itu mengalihkan pandangannya, enggan menatap ketajaman manik mata Reynard. "Lagipula, untuk apa saya berterima kasih pada lelaki pemarah yang suka membentak anak kecil?" Mendengar ucapan menohok itu, Reynard seketika menghentikan aksinya. Pria itu menghela napas panjang, lalu perlahan duduk tegak di sisi ranjang. Wajah tegapnya menyiratkan rasa bersalah yang amat sangat. "Alina, tolonglah... Jangan seperti ini," panggil Reynard dengan nada memohon, kembali memegang lembut jemari wanita itu. "Saya tahu saya salah. Lalu saya harus bagaimana agar kau tidak marah lagi padaku, hm? Katakan, apa yang harus saya lakukan?" Alina ikut mendudukkan dirinya, merapikan pakaiannya yang sedikit kusut seraya menatap Reynard tajam. "Tuan tidak perlu melakukan apa pun untuk saya. Tapi kalau Tuan benar-benar merasa bersalah, Minta maaf pada Sean! Anak itu sangat ketakutan semalam gara-gara Tu







