Share

Maafkan, Ayah

Author: Nona Lee
last update publish date: 2026-06-13 12:38:15

Plak!

Suara tamparan keras bukan di pipi, melainkan hantaman tangan Alina yang sengaja memukul tiang pintu kayunya sendiri, menggema membelah suara hujan. Napas Alina naik-turun dengan cepat, sepasang matanya menyala kemarahan yang luar biasa.

"Jaga ucapan Tuan ya!" desis Alina, suaranya bergetar hebat bukan lagi karena dingin, melainkan karena harga dirinya yang diinjak-injak. "Saya tidak peduli seberapa kaya Tuan, atau seberapa banyak wanita yang antri untuk menggoda Tuan di luar sana! Saya menolong anak ini murni karena insting saya sebagai manusia yang masih punya hati melihat anak kecil basah kuyup ketakutan! Jangan samakan saya dengan wanita-wanita haus harta yang ada di kepala kotor Tuan itu!"

Reynard Dirgantara tertegun sesaat, namun senyum sinisnya kembali terukir cepat. Pengalaman hidup di dunia bisnis yang kejam, dikelilingi orang-orang bermuka dua yang selalu memanfaatkan statusnya, membuat pria ini tidak mudah percaya begitu saja pada ketulusan.

"Semua wanita licik di luar sana selalu menggunakan alasan ketulusan di awal untuk menarik perhatian saya," sahut Reynard dingin, matanya menatap tajam tanpa berkedip. "Dan saya tidak akan membiarkan anak saya menjadi umpan taktik murahamu."

Tanpa aba-aba, Reynard melangkah maju dan merangsek masuk ke teras rumah Alina. Dengan gerakan kasar namun terukur, dia merebut paksa tubuh Sean dari dekapan Alina.

"Nggak mau! Papa lepasin! Sean mau sama Tante! Hiks... Papa jahat!" Sean menjerit-jerit histeris, tangan kecilnya memukul-mukul bahu tegap Reynard, berusaha menggapai kembali jaket basah Alina.

"Diam, Sean Dirgantara! Cukup!" bentak Reynard dengan suara menggelegar, membuat tangisan anak itu seketika tertahan menjadi isakan kecil yang tertahan di tenggorokan karena terkejut.

Reynard membalikkan tubuhnya, bersiap melangkah keluar menembus sisa-sisa hujan. Namun sebelum kakinya melangkah jauh, dia menoleh sedikit ke belakang, memberi Alina tatapan paling mematikan yang pernah wanita itu lihat. "Satu hal lagi. Jangan pernah mencoba mendekati putra saya lagi."

Alina membeku di ambang pintu, mulutnya terkunci rapat oleh rasa syok dan amarah yang bertumpuk menjadi satu. Dia hanya bisa menatap nanar punggung tegap pria angkuh itu yang berjalan menjauh, menyeberangi jalanan aspal yang basah menuju rumah mewahnya. Di dalam gendongan itu, Sean masih terus menangis sesenggukan, menatap ke arah Alina dengan tatapan pilu yang mengiris-iris hati wanita itu.

"Lelaki sakit jiwa... benar-benar angkuh dan tidak punya perasaan!" gumam Alina kesal, tangannya meremas kusut ujung pakaiannya yang basah sebelum membanting pintu rumahnya dengan hentakan keras.

Brak!

Reynard menutup pintu utama rumah mewahnya dengan kaki, menguncinya rapat tanpa memedulikan tangisan Sean yang kini kembali pecah. Suasana rumah yang besar itu terasa begitu sunyi dan dingin, kontras dengan interiornya yang serbamegah dan mahal. Tanpa merespons satu pun omelan atau protes dari putranya, Reynard berjalan dengan langkah lebar menaiki tangga menuju kamar mandi utama.

Dengan wajah datar seolah tanpa emosi, Reynard membawa Sean masuk ke dalam area shower. Dia melepaskan pakaian putranya yang basah kuyup dan kotor terkena lumpur, lalu menyalakan air hangat.

"Papa jahat! Sean benci Papa! Kenapa Papa selalu marahin Sean?!" jerit Sean di bawah guyuran air hangat, air matanya menyatu dengan aliran air dari shower. Tangan kecilnya terus berusaha mendorong dada ayahnya.

Reynard tetap diam. Dengan sisa-sisa ketenangannya yang dipaksakan, dia mengambil sabun, menggosok tubuh kecil putranya dengan saksama, lalu membilasnya hingga bersih. Pikirannya benar-benar kacau, namun fokusnya tetap tertuju untuk memastikan anaknya tidak jatuh sakit setelah kehujanan.

Setelah selesai, Reynard membawa Sean ke kamar tidur, membalut tubuh anak itu dengan handuk kering, dan memakaikan baju tidur yang hangat. Sepanjang proses itu, Sean sama sekali tidak berhenti menangis. Bahkan setelah selesai berpakaian, anak itu justru berdiri di atas tempat tidur dan mulai memukul-mukul dada bidang ayahnya dengan kepalan tangan kecilnya.

"Papa jahat! Lepasin! Sean mau keluar!"

"Cukup, Sean!" Reynard akhirnya meledak. Kepalanya yang sejak siang sudah berdenyut nyeri akibat tumpukan pekerjaan kantor, ditambah laporan bahwa pengasuh baru Sean kabur lagi sore tadi, kini benar-benar terasa mau pecah.

Pria itu mencengkeram kedua bahu kecil Sean, menatap tajam tepat ke dalam manik mata putranya dengan napas memburu. Sean seketika terdiam, tubuhnya bergetar kecil melihat kilat amarah yang begitu pekat di mata sang ayah.

"Kenapa kau selalu seperti ini, hah?!" bentak Reynard, suaranya meninggi membelah keheningan kamar. "Papa seharian lelah bekerja di kantor, mencari uang untuk semua fasilitas yang kau pakai sekarang! Tapi apa balasanmu? Kau buat semua pengasuh yang Papa gaji mahal kabur setiap tiga hari sekali! Sekarang kau malah keluyuran di luar saat badai dan masuk ke rumah wanita asing! Apa maumu sebenarnya, Sean?!"

Sean menundukkan kepalanya dalam-dalam. Air matanya menetes satu-satu ke atas selimut tebal. Jari-jari mungilnya saling bertautan, memilin ujung bajunya dengan cemas dan ketakutan.

"S-Sean... Sean cuma kesepian, Pa..." bisik anak itu lirih, suaranya nyaris tenggelam dalam isakan. "Para pengasuh itu... mereka tidak asyik. Mereka tidak peduli pada Sean. Mereka hanya main ponsel dan memarahi Sean kalau Papa tidak ada di rumah. Papa juga jahat... Papa selalu sibuk, tidak pernah punya waktu untuk Sean..."

Mendengar kalimat jujur yang keluar dari bibir mungil anaknya, Reynard mendadak kehilangan seluruh kata-katanya. Amarah yang tadi meluap-luap di dadanya seolah menguap begitu saja, digantikan oleh rasa sesak yang menghimpit ulu hatinya.

Pria itu memejamkan matanya rapat-rapat, menarik napas dalam-dalam untuk mengendalikan badai emosi di dalam dirinya. Perlahan, ditariknya tubuh kecil Sean ke dalam pelukannya. Reynard mendekap erat putranya yang masih sesenggukan, menyandarkan dagunya di atas rambut hitam Sean yang masih agak lembap.

Pria itu tahu, semua ini terlalu berat untuk anak seusia Sean. Kesibukannya membangun kerajaan bisnis membuat Sean kehilangan sosok orang tua yang utuh sejak kecil. Terlebih lagi, sejak hari pertama menghirup udara di dunia ini, Sean tidak pernah mengenal atau merasakan apa itu sosok seorang ibu. Reynard paham betul jika segala kenakalan yang dilakukan Sean selama ini hanyalah cara darurat anak itu untuk mencari perhatiannya. Namun, haruskah caranya seberbahaya ini hingga mengorbankan keselamatan nyawanya sendiri?

"Maafkan Papa..." bisik Reynard lirih, suaranya melembut penuh penyesalan sembari mengusap punggung putranya. "Maaf karena Papa sudah membentakmu tadi. Papa hanya... sangat takut kehilanganmu, Sean. Sekarang, tidurlah. Ini sudah sangat larut."

Reynard merenggangkan pelukannya, membantu Sean berbaring di atas ranjang king size yang empuk, lalu menarik selimut tebal hingga sebatas dada anaknya. Pria itu duduk di tepi ranjang, berniat menunggu hingga putranya benar-benar terlelap ke dalam mimpi.

Suasana kamar mendadak hening, hanya menyisakan suara ketukan sisa air hujan di kaca jendela. Mata Sean yang sembap mulai meredup karena kantuk, namun sebelum kelopak mata itu tertutup sepenuhnya, anak itu tiba-tiba mencengkeram ujung lengan kemeja Reynard.

"Papa..." panggil Sean dengan suara berbisik, matanya menatap kosong ke langit-langit kamar.

"Ya, Sayang? Ada apa?" sahut Reynard lembut, mengusap dahi putranya.

"Kenapa... kenapa Sean tidak punya Ibu seperti anak-anak yang lain?"

Pertanyaan polos yang keluar dari mulut Sean seketika membuat tubuh Reynard menegang sempurna di tempat duduknya. Jantungnya seolah berhenti berdetak, dan seluruh memori kelam masa lalu yang selama ini ia kubur dalam-dalam mendadak mendobrak paksa benaknya, membuat napas pria itu tercekat di tenggorokan.

"Apa Ibu pergi karena Sean anak yang nakal?"

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Terjerat Pesona Duda Tampan   Rumah Terindah

    "PAPA! TOLONG! LILY MAKAN TANAH DI TAMAN!" Teriakan melengking Sean yang kini sudah berusia sepuluh tahun memecah ketenangan siang di rumah utama keluarga Dirgantara. Reynard yang baru saja hendak menyandarkan punggung tegapnya di sofa ruang keluarga langsung melompat berdiri, melempar remote televisi ke sembarang arah. "ASTAGA, LILY! JANGAN DIMAKAN!" Di area taman belakang, seorang bocah perempuan berusia dua tahun dengan gaun merah muda berenda dan rambut dikuncir dua tampak berlari kencang seraya tertawa melengking, memegang genggaman tanah taman dengan mulut yang sudah berlepotan hitam. "Buhahaha! Ndak mau, Papa! Ndak mau!" tawa Lily menggelegar, berlari kecil menjauhi sang ayah dengan langkah kakinya yang menggemaskan. "Lily Dirgantara, berhenti! Astaga, Sean, bantu Papa tahan adiknya!" seru Reynard setengah panik, berlari membungkuk mengejar putri kecilnya. "Aku sudah coba tahan tadi, Pa! Tapi Lily lari cepat sekali seperti kuda!" keluh Sean yang sudah mandi keringat,

  • Terjerat Pesona Duda Tampan   Kecemburuan Sean

    "Dengar aku baik-baik, Alina Dirgantara!" pangkas Reynard tegas, merengkuh kedua pipi pucat istrinya seraya menatap lurus ke dalam iris matanya yang basah. "Aku tidak peduli! Aku sama sekali tidak membutuhkan anak lagi!" "Tapi, Mas..." cicit Alina dengan suara tercekat, air mata bergulir perlahan di pipinya. "Seorang wanita—" "Kau adalah wanita paling sempurna di hidupku, dengan atau tanpa rahim itu!" potong Reynard penuh emosi dan kehangatan yang meluap. "Melihatmu berada di ambang maut kemarin sudah cukup membuat nyawaku rasanya melayang. Aku tidak akan pernah sudi membayangkan situasi seperti itu terjadi lagi padamu. Bagi kita, Sean dan putri kecil kita sudah lebih dari cukup. Aku cuma ingin kita hidup bahagia bersama, tanpa menuntut apa pun lagi darimu. Paham, cantik?" Alina terpaku, merasakan gelombang ketulusan yang membakar seluruh rasa rendah dirinya. Wanita itu menyembunyikan paras mewahnya di dada tegap Reynard yang terbalut baju rumah sakit merah muda, menangis terisak s

  • Terjerat Pesona Duda Tampan   Tidak Bisa Memberi Anak Lagi

    "Mas... baju pasien warna merah muda apa tidak terlalu mencolok untuk ukuran CEO perusahaan besar?" tanya Alina pelan dengan suara parau, menatap suaminya dari atas ranjang dengan sebelah alis terangkat lemah. Reynard, yang baru saja hendak memeluk Alina lebih dekat, mendadak membeku. Pria tegap itu menunduk menatap kemeja rumah sakit berlengan pendek berwarna pink terang yang melekat di tubuh bongsornya, baju pasien terpaksa yang ia ambil tadi saat terbangun dari pingsannya. "Ah... ini..." wajah tampan Reynard merona merah padam, merasa salah tingkah setengah mati di hadapan istrinya yang baru saja siuman. Namun, detik berikutnya, pertahanan itu runtuh. Reynard langsung menubruk tubuh Alina perlahan, menyembunyikan wajahnya di ceruk leher sang istri sambil terisak pelan. "Peduli amat dengan baju ini, Alina! Aku hampir mati ketakutan! Saat mendengar kau belum sadar tadi, duniaku seperti runtuh seketika!" "Uhuk! Modus saja anak ini!" celetuk Tuan Richard tiba-tiba dari samping ranja

  • Terjerat Pesona Duda Tampan   Dimana ini?

    "Angkat yang benar! Anak ini berat sekali seperti beruang!" seru Tuan Richard dengan napas terengah-engah, memegangi kedua ketiak tubuh bongsor Reynard yang terkulai lemas tak berdaya. Dua perawat pria yang ikut membopong kaki Reynard sampai bermandikan keringat dingin. Tubuh tegap dan tinggi CEO Dirgantara Group itu benar-benar menguji ketahanan fisik mereka di tengah koridor rumah sakit. "Aduh, Tuan Richard, hati-hati kepalanya!" tegur salah satu perawat seraya merebahkan tubuh Reynard di atas ranjang ruangan rawat inap yang berada tepat di sebelah ruangan Alina. Nyonya Ella yang melangkah masuk ke ruangan itu seketika menepuk jidatnya sendiri, menggeleng-gelengkan kepala melihat kelakuan putra tunggalnya. "Dasar Reynard!" omel Nyonya Ella gemas, memijat pelipisnya seraya menatap tubuh anaknya yang masih pingsan. "Bisa-bisanya seorang CEO besar pingsan cuma gara-gara dengar kabar begitu?! Di saat seperti ini Alina sangat membutuhkan suaminya di sampingnya, tapi dia malah ena

  • Terjerat Pesona Duda Tampan   Komplikasi Persalinan

    "Reynard! Bagaimana keadaan Alina?!" Suara Tuan Richard memecah keheningan koridor ruang operasi yang dingin. Pria paruh baya itu melangkah tergesa-gesa dengan napas memburu, didampingi Nyonya Ella yang menggandeng erat jemari Sean. Reynard yang terduduk lesu di lantai dingin dengan punggung bersandar pada dinding langsung mendongak. Baju mewahnya yang basah oleh air hujan, kotor oleh tanah aspal, serta bekas darah di lengan bajunya membuat penampilannya tampak teramat mengenaskan. "Ayah... Ibu..." cicit Reynard dengan suara parau. Pria tegap itu bangkit perlahan dengan kaki gemetar, lalu tangisnya pecah seketika di hadapan orang tuanya. "Alina... Alina di dalam, Yah. Dokter bilang... ketubannya pecah dan bekas luka operasinya bermasalah. Aku... aku diminta memilih antara Alina atau bayinya!" "APA?!" Tuan Richard membelalakkan mata, dadanya naik turun oleh amarah yang mendadak membakar kepalanya. "Pilihan konyol apa itu?! Dokter macam apa yang memberi pilihan seperti itu?! Rumah s

  • Terjerat Pesona Duda Tampan   Diantara Dua Pilihan

    Uhuk! Uhuk! Reynard tersedak hebat, menyemburkan kopi panas di mulutnya hingga mengotori meja berkas yang dipenuhi dokumen penting. "Kau bicara apa, Sean?! Mama kenapa?!" "Mama kesakitan, Pa! Airnya keluar banyak banget, terus sekarang dibawa Pak Budi sama Bi Minah ke rumah sakit!" jerit Sean di ujung telepon, suaranya parau dan gemetar karena menangis. Tuan Richard yang berdiri di sampingnya langsung menyambar bahu Reynard. "Ada apa, Reynard?! Alina kenapa?!" "Sepertinya ketubannya pecah, Yah! Alina dibawa ke rumah sakit sekarang!" seru Reynard panik luar biasa. Pria tegap itu melompat berdiri, melemparkan telepon begitu saja. "Aku harus ke rumah sakit sekarang!" "Kau tenang dulu, Reynard! Biar Ayah yang pulang ke rumah jemput Sean dan menghubungi ibumu!" tegas Tuan Richard menginstruksikan dengan suara berwibawa, meski tangannya ikut gemetar. "Cepat jalan duluan!" Tanpa membuang waktu satu detik pun, Reynard berlari menyusuri koridor kantor. Namun, saat sampai di area parkir b

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status