LOGINFaye teringat tatapan dingin dan penuh tekanan dari Raka saat dulu dia memanggil pria itu kakak ipar. Namun, melihat tatapan Raka kepada Brielle sekarang, rasanya begitu lembut sampai terasa tidak nyata."Faye, kita harus balik, 'kan? Masih ada banyak data yang harus dirapikan sore ini!" Suara rekan wanita di depannya menarik kembali pikirannya."Baik." Faye menarik kembali pandangannya. Mengingat kejadian saat memanggil Raka kakak ipar dulu, tubuhnya sampai merinding. Dia mengambil tasnya, lalu cepat-cepat berjalan keluar lebih dulu.Di meja Brielle, Raka sedang mendengarkan penjelasannya tentang terobosan terbaru dan pengaruhnya terhadap proyek BCI di masa depan."Aku yakin target tiga tahun yang dulu kamu umumkan di rapat direksi akan benar-benar tercapai. Setidaknya kamu nggak perlu terlalu tertekan lagi," kata Brielle kepadanya.Tatapan Raka menyipit dan dalam. Wajah tampannya sedikit terpaku. Saat dulu dia ingin berinvestasi pada proyek ini dan menghadapi banyak keraguan dari par
Melihat waktu masih cukup awal, Brielle berkata kepadanya, "Kita makan di dekat laboratorium saja."Raka mengangguk, meletakkan iPad, lalu berdiri dengan santai. "Biar aku yang nyetir."Semalam Brielle begadang terlalu larut, jadi sekarang kepalanya masih terasa agak berat. Dia perlu memanfaatkan waktu untuk beristirahat sebelum rapat siang nanti.Sepanjang perjalanan, Brielle duduk di kursi belakang sambil memejamkan mata untuk beristirahat. Raka juga tidak mengganggunya, hanya sesekali melihat ke arahnya lewat kaca spion.Sampai mobil berhenti di sebuah restoran chinese food di seberang laboratorium, Brielle baru terbangun. Dia memijat pelipisnya, lalu mendongak dan tanpa sengaja bertemu dengan sepasang mata yang dalam. Rupanya Raka sedang memperhatikannya lewat kaca spion.Tatapan mereka tiba-tiba bertemu di kaca spion. Brielle yang pertama mengalihkan pandangan."Sudah sampai?" Brielle merapikan rambutnya."Mm." Raka melepas sabuk pengaman, lalu turun lebih dulu dan membukakan pint
Keduanya duduk di meja makan. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, mereka bisa menikmati sarapan bersama dengan santai.Raka mengangkat kepala menatapnya. "Aku dengar hasil tes semalam bawa kabar baik."Jelas sekali, perkembangan eksperimen selalu bisa dia ketahui secepat mungkin.Mata Brielle sedikit berbinar. "Ya, hasil tes kali ini bahkan lebih baik dari perkiraan kami. Kami berhasil membangun jalur sinyal saraf yang stabil ...."Sampai di sini, Brielle tiba-tiba berhenti bicara.Pria di seberang sebenarnya masih menunggu penjelasannya, tetapi mendapati dia mendadak diam. Apa Brielle mengira dirinya tidak mengerti?Brielle mengatupkan bibir merahnya. "Ini sudah bisa dianggap sebagai terobosan besar di dunia medis."Tatapan Raka memperlihatkan sedikit kekaguman.Ekspresi Brielle kembali serius. "Tapi tahap berikutnya juga sangat berisiko. Kami harus menanam elektroda mikro ke dalam otaknya. Itu adalah operasi dengan tingkat presisi yang sangat tinggi.""Dengan tim Pak Justin, s
Brielle langsung berdiri dan buru-buru membuka pintu kantor, lalu berlari menuju laboratorium. Dengan penuh antusias, dia berdiri di samping Rowan.Rowan tak bisa menyembunyikan kegembiraannya. "Tiga puluh dua simulasi yang baru saja kita selesaikan menunjukkan tingkat respons neuron target yang konsisten mencapai 93%, jauh melampaui ambang batas yang kami perkirakan."Brielle bertanya dengan tenang, "Berapa tingkat margin error-nya?""Sepenuhnya masih dalam batas aman." Rowan menunjuk layar komputer, lalu melanjutkan, "Yang lebih penting, gelombang listrik neuron yang kamu bangun sudah membentuk pola koneksi stabil dengan area fungsi di sekitarnya.""Selama Jenderal Niro masih memiliki kondisi dasar untuk menerima sinyal eksternal, kemungkinan untuk membangunkannya benar-benar ada."Detak jantung Brielle langsung bertambah cepat. Untuk pertama kalinya dalam tiga bulan terakhir, secercah harapan benar-benar muncul di depan matanya."Brielle, kita harus segera melakukan pengujian beriku
Brielle menggumam pelan, lalu berjalan mendekat. "Biar aku yang gendong dia."Raka menggeleng ringan. "Biar aku saja." Setelah mengatakan itu, dia berdiri dengan hati-hati, lalu menggendong Anya menuju kamar utama.Brielle mengikuti di belakang. Dia melihat Raka membaringkan Anya di atas tempat tidur dengan lembut. Baru saja gadis kecil itu dibaringkan, dia mulai mengucek mata dan menggesek-gesekkan kaki kecilnya, memperlihatkan sedikit rasa gelisah.Raka langsung berjongkok di samping tempat tidur. Telapak tangannya mengusap lembut kepala mungil itu agar Anya tetap merasakan kehangatan sang ayah.Baru setelah Anya kembali tidur nyenyak, Raka menyelimutinya dengan teliti. Setelah memastikan putrinya nyaman, Raka berbalik menatap Brielle. "Istirahatlah lebih awal."Brielle mengantarnya turun. Saat sampai di depan pintu, Raka menoleh menatapnya. Dalam cahaya remang-remang, tatapannya tampak dalam. "Menurutmu, seberapa besar kemungkinan dia bisa sadar?"Brielle sedikit tertegun. Setelah t
Saat itu juga, terdengar suara wanita dari belakang Raka. "Terima kasih."Raka terkejut, lalu menoleh. Tatapannya langsung bertemu dengan mata Brielle yang jernih, penuh rasa terima kasih yang tulus. Jelas sekali, dia telah mendengar seluruh percakapannya dengan Justin."Sama-sama," jawab Raka pelan."Alat itu sangat penting untuk pengobatan Niro. Aku wakili dia ucapkan terima kasih padamu."Raka menunduk. Bulu matanya yang lebat membentuk bayangan seperti kipas di bawah matanya. Ucapan Brielle tadi semakin menegaskan posisi Niro di hatinya. Mereka sudah seperti keluarga.Justin yang berdiri di samping pun berkata tepat waktu, "Brielle, dengan bantuan Raka, pengobatan Niro pasti akan berjalan lancar."Brielle mengangguk, lalu kembali menatap Raka. Alat itu sangat sulit didapatkan, jadi dia tahu Raka pasti sudah mengeluarkan banyak usaha.Justin melirik jam tangannya. "Aku harus pergi rapat dulu."Keduanya mengangguk bersamaan sambil melihatnya pergi. Setelah sosok Justin menghilang, Br
Tak lama kemudian, Raka keluar dari ruang rapat dengan langkah cepat menuju area lift. Wajahnya tampak tegang, ekspresinya menunjukkan bahwa pikirannya masih penuh dengan gelang giok itu.Begitu tiba di mobil, dia langsung memerintahkan Gavin untuk menelusuri rekaman CCTV hotel tempat dia turun mala
"Brielle baru saja menyelesaikan laporan data eksperimen hari ini di kantor dan bersiap untuk pulang. Begitu dia melepas jas lab dan menggantungkannya, tiba-tiba terdengar suara dari pintu, "Bu, Anda cari siapa?"Sebuah suara wanita menjawab dari luar, "Permisi, di mana kantor Brielle?"Suara itu me
Raka menyapu pandangannya ke seluruh ruangan. Di dalam ruang makan pribadi itu, semua adalah teman-teman dari kalangan Devina. Di atas meja ada kue besar bertuliskan ucapan selamat. Jelas ini pesta kecil untuk merayakan penghargaan yang baru saja diraihnya."Kak, maaf ya! Aku benar-benar nggak berma
Wajah Brielle jelas menunjukkan penolakan. "Aku sudah ada janji malam ini.""Belakangan ini kesehatan Nenek nggak terlalu baik dan dia terus-menerus ingin bertemu denganmu," kata Raka pelan. Mendengar nama Emily, hati Brielle pun melunak sedikit.Sejak pertama kali bertemu dengan Emily, Brielle sela







