Share

Bab 142

Penulis: Ayesha
Akhir pekan, Brielle tetap tinggal di rumah. Raka pergi ke rumah Keluarga Pramudita untuk menemani Anya dan Brielle tidak ikut.

Hari Senin.

Setelah mengantar Anya, Brielle langsung menuju lokasi ujian di Fakultas Kedokteran. Jurusan utamanya adalah Ilmu Penyakit Dalam, tetapi ujian lulus percepatan kali ini mencakup delapan mata kuliah inti.

Dalam tiga hari, Brielle menyelesaikan semua ujian.

Selesai ujian, Harvis menemaninya makan siang di kantin. Dia mengira Brielle akan tampak gugup dan tegang setelah ujian, tapi ternyata melihatnya tetap makan lahap dan tenang, Harvis benar-benar terkejut.

"Kamu sama sekali nggak capek setelah ujian tiga hari berturut-turut?" tanya Harvis sambil tersenyum.

Brielle mengusap lehernya. "Capek sih nggak, cuma leher dan tanganku agak pegal." Setelah itu, dia menoleh pada Harvis. "Aku mau pinjam laboratorium beberapa hari. Ada penelitian inovatif yang harus kuselesaikan."

"Kenapa? Itu juga termasuk dalam penilaian ujianmu?"

"Itu penelitian untuk makalahk
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci
Komen (6)
goodnovel comment avatar
Laurensia Liana
Bagus ceritanya, semoga bab nya gak terlalu banyak. yg penting ceritanya bagus. tidak bertele tele. drpd bab banyak tp ruwet ceritanya
goodnovel comment avatar
Tiwi Syalala
paling males baca novel udah banyak berapa bab smpe 100 aja kaga sampe2 intinya masih muter2 sini aja
goodnovel comment avatar
Nurul
semgat kakak ku tnggu lanjutnnya
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 715

    Niro bersikeras mengantar Brielle sampai ke depan pintu rumahnya sebelum pergi. Brielle sempat ingin mengajaknya masuk untuk minum teh, tetapi malah ditolak olehnya.Sudah terlalu larut. Niro paham betul soal menjaga batas. Meski dia memang menginginkannya, Niro tidak mau meninggalkan kesan buruk di mata Brielle. Sikapnya yang penuh etika dan tahu diri benar-benar meninggalkan kesan yang sangat baik bagi Brielle."Mama!" Anya langsung berlari memeluknya dan mengangkat wajah mungilnya yang imut sambil berkata, "Mama, aku nggak makan banyak biskuit kok! Cuma satu bungkus kecil saja.""Mm, Mama tahu kamu pasti menepati janji," ujar Brielle sambil berlutut dan mengecup pipi kecilnya.Di samping, Lastri ikut tersenyum. Di bawah didikan Brielle, Anya memang semakin hari semakin mengerti dan patuh. Hanya wajahnya saja yang masih sangat mirip ayahnya, sementara sifatnya semakin lama semakin mirip Brielle.Sepanjang malam, Brielle sempat merasa tegang karena khawatir Raka akan tiba-tiba muncul

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 714

    Keindahan Brielle memang berbeda. Dia bukan tipe wanita ambisius yang agresif. Kelembutannya bagaikan bunga yang tenang, tetapi menyimpan ketajaman. Dia memiliki sebuah kekuatan yang bahkan membuat para pria terpukau.Sejak bertemu dengannya, pandangan Niro seolah tak bisa lagi berpaling. Selama Brielle belum menikah lagi dengan orang lain, Niro akan memperjuangkannya sampai akhir.Sepanjang perjalanan, Brielle berbincang dengannya tentang prinsip dasar riset BCI. Suasananya terasa menyenangkan. Bagi Niro, momen itu justru sangat menggetarkan hati."Temanmu tinggal di kompleks mana? Aku antar dulu," kata Brielle."Nggak perlu. Aku antar kamu dulu, nanti baru keluar lagi dari kompleksmu," Niro tetap bersikeras.Area parkir bawah tanah Cloudwave Residence pun tampak mewah dan terang. Brielle mengarahkan Niro untuk memarkir mobil di tempat parkir unitnya.Niro turun lebih dulu. Brielle baru hendak melepas sabuk pengaman ketika dari sudut matanya dia melihat sebuah sosok yang tinggi dan ra

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 713

    Di seberang sana, panggilan itu baru tersambung beberapa saat kemudian. Devina tidak menunggu Raka berbicara lebih jauh, dia terengah-engah berkata, "Raka, aku hampir pingsan. Tolong aku. Di toilet."Brielle baru saja kembali ke tempat duduknya ketika dia melihat Raka bangkit dari kursinya. Pada saat yang sama, Niro menyerahkan ponsel Brielle yang layarnya menyala.Brielle mengambilnya. Ternyata panggilan dari Lastri. Dia segera keluar dari aula menuju lorong samping yang lebih tenang untuk menjawab."Mama, aku boleh makan sedikit biskuit?" tanya Anya di seberang sana.Brielle tahu Lastri pasti akan memberinya camilan, tetapi Anya selalu meminta izin lebih dulu. Dia tersenyum tipis. "Boleh. Dua keping saja, ya.""Baik, Mama. Aku sayang Mama."Brielle mendengar langkah kaki tergesa di belakangnya, seolah seseorang sedang berlari. Dia refleks menoleh dan melihat dari arah toilet, Raka sedang menggendong Devina dengan langkah cepat ke arahnya.Brielle mendongak dan tatapannya langsung ber

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 712

    Sambil berbicara, Devina buru-buru berkata, "Aku ke toilet sebentar."Saat Devina berdiri, tubuhnya terasa goyah. Dia meninggalkan tempat duduknya dengan satu tangan mengangkat gaun malam berwarna sampanye, tangan lainnya mencengkeram kalung itu dengan erat. Keanggunan yang seharusnya dia miliki lenyap seketika.Seperti seseorang yang melarikan diri dengan panik.Pada saat bersamaan, Brielle juga bangkit dari kursinya dan berjalan ke arah toilet.Devina nyaris berlari masuk ke toilet. Di depan cermin, wajahnya tampak pucat pasi. Dia berusaha membuka kalung itu, tetapi karena tangannya gemetar, pengaitnya tak kunjung terlepas.Saat itu, seorang tamu wanita datang mencuci tangan dan bertanya, "Nona, perlu bantuan?""Terima kasih, mohon bantuannya," jawab Devina sambil berusaha menenangkan diri dan memaksakan senyum.Wanita itu mendekat dan membantu melepaskan kalungnya, bahkan tak lupa memuji, "Kalungnya cantik sekali.""Terima kasih," jawab Devina dengan suara kaku.Setelah tamu wanita

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 711

    Tak lama kemudian, penampilan pertama dimulai dan seluruh aula pun menjadi hening.Saat memasuki penampilan ketiga, pembawa acara naik ke panggung. "Selanjutnya, mari kita sambut pianis ternama, Nona Devina, yang akan membawakan karya terkenalnya."Di tengah gemuruh tepuk tangan, Devina melangkah naik ke panggung dengan anggun. Dia duduk di depan piano yang berada di tengah panggung, lalu pandangannya menyapu ke arah penonton, tepat ke arah Raka.Dia menarik napas dalam-dalam. Jemari rampingnya mulai menekan tuts piano, alunan nada indah pun mengalir memenuhi aula.Sejak awal, Devina memang bukan sekadar hiasan. Kemampuannya dalam bermain piano memang patut diakui. Sejak mengenal Raka, dia berusaha keras menjadikan dirinya wanita yang pantas berdiri di sisi Raka.Dia bergadang berlatih piano, memaksa dirinya terus berkembang. Semua itu karena Raka bagaikan sosok yang tinggi tak terjangkau baginya.Di bawah sorotan lampu, gaun sampanye yang dikenakannya berpadu dengan kilau berlian mera

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 710

    Di seberang sana, Jay malah balik bertanya, "Kenapa kamu jadi tertarik sekali sama dia?""Cemburu, ya? Aku cuma melihat dia bersama Brielle, jadi penasaran saja," balas Devina. Setelah itu, dia kembali mengirim sebuah foto lain, memperlihatkan Brielle duduk berdampingan dengan pria tersebut."Aku nggak kenal orang ini," jawab Jay apa adanya."Kalau begitu, kirimkan ke Lambert. Tanya dia kenal nggak," lanjut Devina."Itu kurang pantas, 'kan? Bisa melukai perasaan Lambert," Jay sedikit ragu."Justru bagus supaya Lambert bisa melihat dengan jelas seperti apa Brielle sebenarnya. Itu demi kebaikannya," balas Devina. Di dalam hatinya, dia memang tidak pernah berhenti berusaha menyingkirkan Brielle dari lingkaran pergaulan Raka.Di seberang sana, Jay seolah setuju dengan pendapatnya. "Baiklah, aku kirim ke dia dan tanyakan."Devina pun tersenyum tipis. Tepat pada saat itu, suara dari pengeras terdengar lantang di seluruh aula, "Hadirin sekalian, mari kita sambut dengan tepuk tangan meriah keh

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status