Share

Bab 542

Author: Ayesha
"Nggak perlu terburu-buru menjawab. Kamu punya waktu tiga bulan untuk mempertimbangkan." Raka berkata, lalu berbalik dan pergi.

Brielle tidak langsung menekan tombol lift. Pikirannya melayang kembali ke eksperimen terakhir dua tahun lalu. Itu adalah penelitian yang ia lakukan di laboratorium bawah tanah di Negara Danmark.

Malam itu, Lastri menelepon dan memberi tahu bahwa Raka membawa Anya pulang. Lastri juga mengatakan bahwa di dalam mobil, dia melihat wanita lain.

Brielle langsung mengesamping
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (6)
goodnovel comment avatar
Merry Ongko
kalu aja Raka tau siapa peneliti muda itu bakalan syok kamu pernah punya istri yg sgt luar biasa...sayangnya sdh kamu sia2 kan...jd gudbye
goodnovel comment avatar
Iin Iin
maka ny jangan Devina trs yg d urusin Raka, lu ga tau kan kalo peneliti muda itu adalah Brielle..
goodnovel comment avatar
indina
makin terkejutlah raka kalau tahu siapa peneliti itu.
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 1104

    Suara Meira tersendat, "Raka sudah berkali-kali mengingatkanku untuk tidak terlalu dekat dengannya, tapi aku malah mengagumi Devina. Aku bersikeras mengundangnya makan ke rumah, bahkan membiarkannya dekat dengan Anya.""Itu yang menyebabkan kesalahpahaman di antara kalian. Setelah mengetahui kebenarannya, aku baru sadar Devina membencimu karena dulu kamu merebut Raka darinya. Dia selalu mencari kesempatan untuk memisahkan kalian, bahkan memanfaatkan Anya untuk memancing reaksimu. Aku benar-benar pantas disalahkan."Suara Meira semakin bergetar, "Aku tahu sekarang aku ngomong ini sudah terlambat. Kamu dan Raka sama-sama anak yang baik. Aku nggak pantas jadi ibunya, nggak pantas menjadi mertuamu, bahkan nggak pantas jadi nenek Anya. Kalau saja dulu kamu nggak segera bawa Anya pergi, dia pasti sudah dimanfaatkan sama Devina. Aku bahkan nggak tahu hal buruk apa lagi yang bisa terjadi."Mata Meira dipenuhi rasa takut. Belakangan ini, semakin dia memikirkannya, dia merasa semakin ngeri. Dia

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 1103

    Brielle menutup mulutnya dengan terkejut dan senang, lalu segera membalas.[ Melahirkan juga nggak bilang-bilang, masih sahabat nggak, sih? ][ Syahira: Aku tahu kamu orang sibuk! Jadi setelah lahiran baru kasih tahu kamu, biar jadi kejutan. ][ Brielle: Oke, besok aku datang untuk jenguk anak angkatku. ]Brielle tersenyum sambil membalas pesan itu. Dia kembali melihat foto bayi itu dengan teliti dan ikut merasa bahagia untuk sahabatnya.[ Syahira: Nggak usah buru-buru, kami masih observasi di rumah sakit, minggu depan juga masih belum terlambat. ][ Brielle: Oke, kamu harus istirahat yang cukup. Minggu depan aku bawa Anya sekalian menjengukmu. ]Setelah berbincang beberapa kalimat lagi dengan Syahira, Brielle tanpa sadar teringat momen saat putrinya lahir. Meskipun berat badan Anya saat lahir hanya sekitar tiga kilogram, karena itu adalah anak pertama, dia tetap harus berjuang selama tiga jam di ruang bersalin.Setelah melahirkan, kesibukan mengurus bayi membuat rasa sakit saat melahi

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 1102

    Lastri keluar dari dapur. Melihat Anya yang sudah tertidur, dia spontan ingin mengambil alih. Namun, Raka berkata dengan suara rendah, "Aku saja."Lalu, Raka berjalan menuju kamar utama di lantai dua. Brielle hanya melirik sekilas dan tidak mengikutinya. Di kamar utama, Raka dengan lembut membaringkan putrinya di atas tempat tidur, lalu melepas sepatu dan menyelimutinya dengan teliti.Dia menunduk menatap wajah tidur putrinya yang tenang. Kemudian, dia mengulurkan tangan merapikan rambut di dahi Anya, lalu membungkuk mencium keningnya sebelum berdiri dan keluar.Di tangga, mereka berpapasan. Brielle menatap pria yang turun itu, lalu berkata dengan sopan, "Terima kasih sudah menjaga Anya dua hari ini."Raka menatapnya dalam-dalam dan berkata, "Nggak perlu ngomong begitu di antara kita."Setelah berkata demikian, dia melewati Brielle dan turun ke bawah. Lastri datang menyambutnya, "Tuan Raka, mau minum teh?"Raka berbalik menatap ke arah tangga. Brielle juga sedang menoleh ke arahnya. Te

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 1101

    Pesawat mendarat dengan stabil di bandara Kota Amadeus. Brielle mengambil bagasinya dan mengikuti arus penumpang menuju area penjemputan. Dia sudah menghubungi Frederick untuk menjemputnya, tetapi begitu keluar, dia langsung melihat sosok tinggi di tengah kerumunan.Raka berdiri di sana sambil menggendong Anya. Begitu melihat ibunya, Anya langsung melambaikan tangan kecilnya dengan penuh semangat, "Mama!"Brielle berjalan cepat menghampiri. Anya langsung merentangkan tangan dari pelukan Raka ke arahnya. Brielle pun segera membuka tangan untuk menggendongnya. Pada saat itu, Frederick juga tersenyum dan berjalan mendekat, "Bu Brielle.""Frederick, kamu kembali ke kantor saja," kata Brielle kepadanya, mengetahui bahwa pekerjaan perusahaan sedang sangat sibuk.Frederick mengangguk, lalu menyapa Raka, "Pak Raka, Bu Brielle saya titipkan pada Anda. Saya kembali ke kantor dulu."Raka mengangguk ringan. Frederick pun pergi lebih dulu.Brielle mencium pipi putrinya, "Kamu kangen Mama?""Kangen!

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 1100

    Brielle segera berkata, "Nggak perlu, aku bisa naik taksi dari hotel ke bandara. Kamu istirahat saja dengan baik.""Nggak apa-apa, aku bisa bangun." Niro tersenyum, "Masuklah."Brielle berjalan menuju area lift. Di tengah jalan, dia menoleh ke belakang dan melihat Niro masih berdiri di sana melambaikan tangan. Dia masuk ke dalam lift. Baru saja sedikit melamun, ponselnya berbunyi menunjukkan pesan dari Raka.[ Anya sudah tidur, nggak perlu khawatir. Kamu istirahat lebih awal. ]Brielle keluar dari lift, lalu dengan singkat membalas "oke", kemudian berjalan menuju kamarnya.Sementara itu, pria yang berada di kamar utama di Cloudwave Residence sama sekali tidak merasa mengantuk. Dia berdiri di depan jendela besar di ruang kerja sambil memegang ponsel. Layar masih menampilkan percakapannya dengan Brielle.Kata "oke" yang sederhana itu, seperti duri kecil yang menusuk hatinya. Dia teringat pemandangan di video tadi, saat Brielle makan malam bersama Niro dengan suasana santai dan bahagia. I

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 1099

    Saat itu, Brielle melihat sebuah menara. Di atasnya juga bisa dikunjungi dan menikmati pemandangan. Dia tiba-tiba tertarik, lalu berkata kepada Niro di belakangnya, "Aku ingin naik ke atas untuk lihat-lihat.""Oke, aku temani," Niro mengangguk, lalu mendampingi Brielle menuju menara kuno itu. Pemandangan dari atas memang bagus, tetapi karena ini adalah menara tua, lorong masuknya hanya cukup untuk satu orang berjalan. Orang yang bertubuh tinggi bahkan harus menunduk agar tidak membentur balok atap.Hal ini sedikit menyulitkan Niro.Baru naik dua lantai dan saat sampai di lantai tiga, ada empat wisatawan dari atas yang ingin turun. Di ruang sempit itu, gadis di depan berkata dengan sopan, "Boleh kasih jalan? Kami ada urusan mendesak mau turun."Brielle segera mundur ke bagian bawah yang sedikit rata. Saat itu, Niro juga tidak punya pilihan selain mendekat. Wisatawan wanita pertama agak gemuk, ketika melewati sisi Niro, dia tidak sengaja menabrak Brielle. Tubuh Niro refleks condong ke de

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 28

    Brielle tertegun. Di dalam ruang VIP duduk tujuh hingga delapan orang, ada pria dan wanita. Di posisi utama, Raka duduk dengan postur santai.Dia mengenakan setelan jas formal, sementara di sampingnya duduk Devina dengan gaun malam merah anggur yang sangat seksi. Di bawah cahaya lampu, mereka terlih

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 29

    Brielle terkekeh dingin sambil berbalik, "Devina, ini kecelakaan atau bukan, kamu sendiri yang paling tahu.""Kak Brielle, maksudmu apa? Kamu masih mau memfitnah Kak Devina juga?" seru Raline dengan marah."Raline, cukup," sahut Raka dengan tenang. Dia berdiri dan berjalan mendekat.Raline terdiam s

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 26

    Raka pun segera berbalik dan pergi mengambil kotak P3K.Brielle menekan lukanya dengan tisu untuk menghentikan darah. Raka membawa kotak P3K, lalu berlutut di hadapannya dan mengambil kapas steril untuk menghentikan pendarahan.Saat telapak tangan besar itu hendak menggenggam pergelangan tangannya,

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 23

    "Tidur di ranjang saja," kata Raka datar.Brielle melirik ponselnya, saat ini baru lewat tengah malam. Dia langsung mengambil keputusan untuk pulang.Kemudian, dia mengambil jaket dan menyampirkannya ke bahu, lalu menggenggam ponselnya. "Nggak perlu, aku pulang saja tidur di rumah."Gerakan Raka yan

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status