共有

Bab 542

作者: Ayesha
"Nggak perlu terburu-buru menjawab. Kamu punya waktu tiga bulan untuk mempertimbangkan." Raka berkata, lalu berbalik dan pergi.

Brielle tidak langsung menekan tombol lift. Pikirannya melayang kembali ke eksperimen terakhir dua tahun lalu. Itu adalah penelitian yang ia lakukan di laboratorium bawah tanah di Negara Danmark.

Malam itu, Lastri menelepon dan memberi tahu bahwa Raka membawa Anya pulang. Lastri juga mengatakan bahwa di dalam mobil, dia melihat wanita lain.

Brielle langsung mengesamping
この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード
ロックされたチャプター
コメント (6)
goodnovel comment avatar
Merry Ongko
kalu aja Raka tau siapa peneliti muda itu bakalan syok kamu pernah punya istri yg sgt luar biasa...sayangnya sdh kamu sia2 kan...jd gudbye
goodnovel comment avatar
Iin Iin
maka ny jangan Devina trs yg d urusin Raka, lu ga tau kan kalo peneliti muda itu adalah Brielle..
goodnovel comment avatar
indina
makin terkejutlah raka kalau tahu siapa peneliti itu.
すべてのコメントを表示

最新チャプター

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 1100

    Brielle segera berkata, "Nggak perlu, aku bisa naik taksi dari hotel ke bandara. Kamu istirahat saja dengan baik.""Nggak apa-apa, aku bisa bangun." Niro tersenyum, "Masuklah."Brielle berjalan menuju area lift. Di tengah jalan, dia menoleh ke belakang dan melihat Niro masih berdiri di sana melambaikan tangan. Dia masuk ke dalam lift. Baru saja sedikit melamun, ponselnya berbunyi menunjukkan pesan dari Raka.[ Anya sudah tidur, nggak perlu khawatir. Kamu istirahat lebih awal. ]Brielle keluar dari lift, lalu dengan singkat membalas "oke", kemudian berjalan menuju kamarnya.Sementara itu, pria yang berada di kamar utama di Cloudwave Residence sama sekali tidak merasa mengantuk. Dia berdiri di depan jendela besar di ruang kerja sambil memegang ponsel. Layar masih menampilkan percakapannya dengan Brielle.Kata "oke" yang sederhana itu, seperti duri kecil yang menusuk hatinya. Dia teringat pemandangan di video tadi, saat Brielle makan malam bersama Niro dengan suasana santai dan bahagia. I

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 1099

    Saat itu, Brielle melihat sebuah menara. Di atasnya juga bisa dikunjungi dan menikmati pemandangan. Dia tiba-tiba tertarik, lalu berkata kepada Niro di belakangnya, "Aku ingin naik ke atas untuk lihat-lihat.""Oke, aku temani," Niro mengangguk, lalu mendampingi Brielle menuju menara kuno itu. Pemandangan dari atas memang bagus, tetapi karena ini adalah menara tua, lorong masuknya hanya cukup untuk satu orang berjalan. Orang yang bertubuh tinggi bahkan harus menunduk agar tidak membentur balok atap.Hal ini sedikit menyulitkan Niro.Baru naik dua lantai dan saat sampai di lantai tiga, ada empat wisatawan dari atas yang ingin turun. Di ruang sempit itu, gadis di depan berkata dengan sopan, "Boleh kasih jalan? Kami ada urusan mendesak mau turun."Brielle segera mundur ke bagian bawah yang sedikit rata. Saat itu, Niro juga tidak punya pilihan selain mendekat. Wisatawan wanita pertama agak gemuk, ketika melewati sisi Niro, dia tidak sengaja menabrak Brielle. Tubuh Niro refleks condong ke de

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 1098

    "Tapi aku masih ingin mengobrol sebentar sama Paman Niro!" Di layar, wajah kecil Anya mendekat dengan lucu, "Musim panas nanti aku mau pergi ke tempat Paman Niro untuk menangkap kunang-kunang.""Kalau musim panas nanti Mama ada waktu, Mama antar kamu ya?" Brielle hanya bisa membujuk putrinya."Anya yang baik, nanti musim panas biar Mama yang bawa kamu ke markas Paman untuk main, ya?" kata Niro dengan lembut."Baik." Anya akhirnya tersenyum senang, "Mama, kamu temani Paman Niro makan dulu ya! Besok jangan lupa bawain aku hadiah!""Iya, Mama nggak akan lupa," Brielle berjanji pada putrinya.Panggilan di sana pun berakhir. Brielle tersenyum tak berdaya tetapi penuh kasih, "Anak kecil ini permintaannya makin banyak saja."Tatapan Niro yang tersenyum jatuh pada wajahnya, "Anya lucu sekali. Dia masih jujur dan polos. Kamu mendidiknya dengan sangat baik."Brielle menghela napas, "Kadang aku merasa bersalah sama dia, waktu yang aku habiskan untuk menemaninya terlalu sedikit.""Tapi kamu member

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 1097

    "Kalau begitu sudah sepakat." Niro tersenyum.Pelayan mulai menyajikan hidangan. Makanan yang disajikan memenuhi meja, setiap hidangan tampak seperti karya seni yang menggugah selera."Coba yang ini." Niro mengambil sendok saji dan mengambilkan sepotong ikan untuknya, "Katanya ini hasil tangkapan laut segar, dagingnya sangat lembut."Brielle tersenyum tipis, "Aku ambil sendiri saja, kamu makan. Kamu baru saja pulang, pasti juga lapar."Niro sedikit tertegun. Rasa hangat langsung mengalir di hatinya. Memang benar, dia baru saja turun dari pesawat dan pulang sebentar untuk mandi, lalu langsung datang menjemput Brielle.Selanjutnya mereka mulai mengobrol tentang kabar masing-masing. Niro menceritakan beberapa hal menarik di sekitarnya, sementara Brielle juga berbagi tentang situasi upacara penghargaan kali ini. Suasana terasa santai dan menyenangkan."Ayahku juga sangat mengakui kemampuanmu. Dia selalu saja memujimu setiap saat," Niro meletakkan sendoknya, lalu mengangkat cangkir teh. Tat

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 1096

    Brielle tertegun sejenak, lalu segera tersenyum, "Nggak perlu, aku turun sekarang."Brielle membawa tasnya turun. Saat melangkah keluar dari lift di lantai satu, dia melihat sosok tinggi tegap berdiri beberapa meter di depan. Pria itu tidak sedang melihat ponsel, melainkan menunggu seseorang dengan sabar.Tatapan Brielle bertemu dengan tatapannya. Pria itu langsung tersenyum.Melihatnya, hati Brielle sedikit diliputi rasa bersalah. Dia teringat terakhir kali pria itu datang mencarinya, Brielle bahkan tidak sempat menahannya untuk makan."Lama nggak ketemu." Brielle mengangkat kepala menatapnya, lalu menyadari ada bekas luka beberapa sentimeter di samping dahinya. Meski tidak terlalu mencolok, jelas itu bekas jahitan.Brielle langsung mendekat beberapa langkah dan memperhatikan luka itu, "Kenapa kamu bisa terluka begini?"Niro mengangkat tangan dan menyentuhnya. "Kena gores peluru sedikit, nggak apa-apa, cuma luka kecil."Napas Brielle sempat terhenti beberapa detik. Sulit dibayangkan b

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 1095

    Saat itu, seorang asisten mendekat dan berkata, "Kak Faye, kamu juga lagi lihat berita tentang Brielle ya?"Faye mencibir, "Apa yang menarik dari itu.""Dengar-dengar, Kak Faye dulu satu kelas sama Brielle? Benarkah?" tanya asisten itu dengan nada penasaran.Faye tersenyum sinis, "Iya, satu kelas. Dia itu cuma mengandalkan ayahnya dan mantan suaminya, Raka. Masih berani membual di sini."Asisten itu langsung mendekat dengan wajah penuh penasaran, "Kak Faye, yang kamu bilang itu benar? Brielle bisa dapat penghargaan itu karena ayahnya dan mantan suaminya?"Saat itu, asisten lain di samping mereka ikut menyela, "Tapi dia juga cukup hebat, 'kan?""Hebat apanya? Ayahnya dulu sudah meninggalkan banyak catatan penelitian. Dia cuma menginjak dasar akademik ayahnya untuk melakukan riset. Bukannya wajar kalau bisa dapat beberapa terobosan?" kata Faye dengan nada meremehkan.Kedua asisten itu langsung mengangguk setuju, di mata mereka tampak sedikit pemahaman, "Kalau begitu, Brielle juga biasa s

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 65

    "Aku rasa dia nggak punya latar belakang pendidikan yang layak. Seseorang yang bahkan nggak lulus kuliah, mana mungkin bisa racik obat khusus? Kalau publik tahu, bisa-bisa jadi takut minum obatnya!""Benar juga sih. Faye memang lebih cocok mewakili laboratorium kita."Kedua wanita itu keluar sambil

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 142

    Akhir pekan, Brielle tetap tinggal di rumah. Raka pergi ke rumah Keluarga Pramudita untuk menemani Anya dan Brielle tidak ikut.Hari Senin.Setelah mengantar Anya, Brielle langsung menuju lokasi ujian di Fakultas Kedokteran. Jurusan utamanya adalah Ilmu Penyakit Dalam, tetapi ujian lulus percepatan

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 145

    Brielle melirik sekilas tesis itu, lalu tersenyum tipis. "Menurut Profesor Madeline sendiri bagaimana?"Andai Brielle gagal lulus ujian kali ini, Madeline pasti akan mengira itu hanyalah peninggalan Adam. Namun dengan nilai yang begitu mencengangkan, dia benar-benar bisa memercayai bahwa itu adalah

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 149

    Devina menggigit bibirnya, memegang cangkir teh dengan ekspresi sedikit canggung. Dialah guru piano pertama Anya, tetapi sekarang Anya sama sekali tidak menyebut namanya.Melihat Anya mengangkat dagu mungilnya yang bulat, menatap Brielle dengan penuh kekaguman, Devina tak kuasa mencaci dalam hati, '

続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status