MasukDevina menggigit bibir merahnya kuat-kuat. Kata-kata Brielle membuatnya tak mampu membalas."Pokoknya dia melakukan semua itu untukku. Memangnya dia pernah melakukan hal yang sama untukmu?" Devina masih belum menyerah, mencoba memancing emosi Brielle.Brielle mencibir dingin. "Aku bukan objek penelitian yang dia atur. Dia nggak perlu melakukan hal-hal itu untukku."Makna di balik ucapannya jelas, Devina sejak awal hanyalah objek penelitian. Semua yang dilakukan Raka hanyalah cara agar dia mau bekerja sama dalam eksperimen.Kilatan kesal melintas di mata Devina. Sejak kapan pikiran Brielle menjadi sejernih ini? Bukankah emosinya seharusnya terpancing?"Kalau kamu masih ingin mengakhiri semuanya dengan baik, hanya ada satu jalan. Selesaikan apa yang harus kamu lakukan dengan patuh. Itu baik untuk kita berdua." Brielle mengingatkannya dengan dingin.Devina menggenggam tasnya, menatap tajam Brielle. "Brielle, kamu kira kalau sekarang kamu berdiri di pihaknya, dia akan benar-benar tulus pad
Devina menggigit bibirnya, mengingat hari ketika Raka membicarakan soal saham dengannya. Raka secara pribadi menjelaskan setiap klausul kepadanya, seolah-olah menyuapinya seteguk demi seteguk racun dengan tangan sendiri, sementara dia menerimanya dengan penuh kebahagiaan.Padahal dia sebenarnya bisa saja menyuruh pengacara atau asistennya yang membahasnya, tetapi karena Raka sendiri yang melakukannya, bagi Devina itu terasa sangat berarti.Siapa sangka, yang dia berikan bukanlah sesendok madu, melainkan segelas racun.Sekarang ketika dipikirkan kembali, pasti ada klausul jebakan dalam kontrak itu, memastikan bahwa Raka bisa menarik kembali semuanya kapan saja, memaksanya untuk terus berkompromi.Wajah Devina sedikit memucat. Tiba-tiba, dia teringat Brielle. Sekarang Brielle bekerja di laboratorium milik Raka, mungkinkah Brielle sedang membalas dendam padanya?Asal ada alasan apa pun, mereka bisa memaksanya datang untuk pengambilan darah. Pasti begitu, pasti Brielle sedang membalas keja
Saat itu, Raka seperti magnet yang menarik kuat dirinya yang berusia 18 tahun. Bahkan sekarang, di usia 28, ketika kembali melihat Raka di usia 19 dalam foto itu, dia masih bisa merasakan debaran kuat yang sama seperti dulu.Di ponselnya, ada begitu banyak foto Raka yang dia ambil diam-diam. Namun saat ini, setiap foto itu justru merekam cintanya yang begitu rendah diri.Bertemu seseorang yang terlalu memukau di usia muda bukanlah sebuah keberuntungan, melainkan bencana yang tak bisa dihindari.Selama sepuluh tahun ini, demi bisa pantas berdiri di sisi Raka, dia mati-matian berusaha naik kelas. Belajar piano, masuk ke lingkaran sosial kelas atas, bahkan menggunakan berbagai cara untuk menyusup ke dalam lingkaran hidupnya. Semua kesulitan itu hanya dia sendiri yang tahu.Namun, semua yang dia lakukan untuk Raka, sama sekali tidak dianggap oleh Raka. Raka seperti seseorang yang tidak memiliki hati. Dia mati-matian berakting di dunia pria itu, sementara Raka hanya menjadi penonton yang di
Faye benar-benar sudah tidak punya mood untuk bekerja. Dia langsung mengajukan cuti, mengambil tasnya, lalu berjalan cepat keluar dari laboratorium dan pulang ke rumah.Di perjalanan, seluruh dirinya dipenuhi amarah. Dia memikirkan bagaimana Devina mendapatkan 13% saham dari perusahaan ayahnya dengan begitu mudah. Meskipun tidak berhasil menikah ke Keluarga Pramudita, saham itu sudah cukup membuatnya hidup tanpa kekhawatiran seumur hidup.Lantas, bagaimana dengan dirinya? Ayahnya bahkan tidak memberinya 1% saham pun. Perbedaan yang begitu besar ini, bagaimana mungkin bisa dia terima? Dia harus pulang dan berdiskusi dengan ibunya untuk mencari cara membalikkan keadaan.Di vila Devina, seorang dokter bersama perawat baru saja pergi. Devina berbaring di sofa, menutupi bekas suntikan di lengannya, memejamkan mata untuk beristirahat. Selama seminggu ini, dia hampir sepenuhnya fokus memulihkan kondisi tubuhnya.Panggilan telepon dari Faye barusan membuat emosinya sedikit bergejolak. Dia suda
"Devina, jangan main trik denganku. Jelaskan padaku, atas dasar apa kamu bisa mendapat saham itu." Faye sudah begitu marah sampai kehilangan kendali. Sikap sopannya yang biasa benar-benar lenyap, yang tersisa hanya kebencian karena hartanya dirampas.Di seberang sana, nada suara Devina menjadi sedikit dingin. "Faye, karena kamu mau tahu, aku akan beri tahu. Itu hadiah dari Raka untukku dan Ayah juga menyetujuinya."Faye membelalakkan matanya dengan tidak percaya. "Apa katamu?""Faye, aku tahu ini sulit kamu terima, tapi ini adalah kompensasi yang Raka berikan padaku," lanjut Devina. "Juga ... uang perpisahan darinya."Kepala Faye kembali berdengung. Devina dan Raka sudah putus? Pantas saja tadi Raka begitu dingin padanya. Jadi, Devina memang tidak mampu lagi mengikat Raka. Namun, menggunakan 13% saham perusahaan sebagai uang perpisahan jelas merugikan dirinya. Bagaimana mungkin dia tidak marah?"Devina, kamu masih punya rasa malu atau nggak? Kamu putus dengan Raka, atas dasar apa kamu
Saat rapat berlangsung, Faye duduk di barisan paling belakang. Dia diam-diam menatap ke arah Raka yang duduk di kursi utama. Melihat ekspresinya yang fokus mendengarkan laporan, tidak sekali pun melirik ke arahnya.Seorang elite bisnis seperti Raka, bagaimana bisa tertarik pada Brielle? Saat tahun pertama kuliah, Brielle belum punya pencapaian akademik apa pun, bahkan dulu dia sampai putus kuliah demi cintanya pada Raka.Di dalam rapat, laporan Harvis sangat mengesankan. Beberapa kali Raka bahkan menunjukkan ekspresi puas. Faye memandang Harvis, hatinya semakin tidak rela. Dia sudah berada di sisi Harvis selama dua setengah tahun, tetapi tetap saja tidak pernah mendapat sedikit pun perhatian darinya.Setelah rapat selesai, Faye sengaja menunggu di sudut koridor, berharap Raka akan memperhatikannya dan menyapa lebih dulu. Namun, Raka berjalan bersama Jared melewatinya, bahkan sekilas pun tidak melirik ke arahnya dan langkahnya juga tidak berhenti sedetik pun.Faye berdiri di koridor, me
Setengah bulan pun berlalu dengan cepat. Pesawat dari Negara Danmark mendarat dengan selamat.Rombongan penjemputan sudah tiba di depan pintu bandara. Setelah Meira naik ke mobil, dia langsung memejamkan mata untuk beristirahat. Devina menatap Raka yang sudah masuk ke mobil, lalu dia pun naik mobil
"Cherlina, lain kali jangan bertindak semaumu sendiri, paham?" Tatapan Faye mengarah tajam padanya, jelas menyalahkan Cherlina karena hari itu mendorongnya untuk naik ke ruang wawancara.Cherlina termangu sesaat. "Maaf, Faye. Aku ... aku nggak bermaksud begitu.""Kamu keluar saja, aku mau kerja," uc
Brielle kemudian mengambil spidol fluoresen, lalu mulai memasuki inti presentasinya hari itu. Dia membalikkan badan, lalu menggunakan spidol penanda untuk menunjuk bagian yang dia jelaskan, tetapi tetap menjaga sikap sopan dengan sesekali menghadap audiens.Teori-teori ilmiah yang rumit, seakan menj
Brielle sudah menduga Raka tidak akan menyetujui perceraian begitu saja, tetapi dia sudah mempersiapkan diri secara mental. Dia mengangkat tasnya sambil berkata, "Kalau begitu, kita bertemu di pengadilan saja."Setelah mengucapkan itu, dia hendak pergi.Raka ikut berdiri, maju beberapa langkah, dan







