Mag-log inMalam hari, putrinya membawa buku cerita bergambar yang baru dibelikan oleh Raka.Saat membuka buku itu, ilustrasi yang hangat langsung memenuhi pandangan Brielle. Ceritanya tentang sepasang orang tua yang mencurahkan seluruh cinta mereka sejak anak mereka lahir.Anya bersandar di pelukannya, lalu menopang dagu dan bertanya, "Mama, waktu aku lahir, Mama dan Papa juga mencintaiku seperti ini?"Hati Brielle langsung melembut, "Tentu saja, Papa dan Mama paling mencintaimu."Anya menggesekkan tubuhnya di pelukan Brielle dengan senang. "Aku juga paling mencintai kalian."Setelah selesai membacakan cerita dan menidurkan putrinya, hati Brielle terasa campur aduk. Namun karena lelah bekerja, tak lama kemudian dia pun tertidur.Keesokan paginya, Brielle berniat mengantar putrinya ke sekolah. Namun begitu membuka pintu, Raka sudah berdiri tepat waktu di depan untuk menunggu.Anya menggandeng tangan ayahnya masuk ke lift. Tiba-tiba dia mengerucutkan bibirnya dan berkata, "Papa, boleh nggak aku li
Brielle merasakan dengan jelas tekanan di dalam mobil tiba-tiba menjadi lebih berat. Dia berkata dengan nada meminta maaf ke arah telepon, "Niro, malam ini sepertinya nggak terlalu memungkinkan, masih ada kerjaan yang harus kuselesaikan. Besok siang gimana?"Niro menjawab dengan penuh pengertian, "Nggak masalah, ikuti saja waktumu.""Ya, kamu temani nenekmu dulu. Dia pasti sangat merindukanmu.""Oke, kamu hubungi aku lagi setelah selesai." Suara Niro terdengar lembut."Ya, oke." Brielle menutup telepon. Suasana di dalam mobil langsung diliputi keheningan. Brielle menoleh ke arah jendela, menatap pemandangan di luar."Kamu sebenarnya bisa pergi." Raka tiba-tiba berkata, suaranya mengandung sedikit emosi yang ditekan, "Aku nggak akan mencampuri kehidupan pribadimu."Brielle tetap menatap ke luar, lalu menjawab dengan nada tenang, "Urusanku aku atur sendiri."Jari Raka mengetuk pelan setir mobil, itu adalah kebiasaannya saat berpikir. Setelah beberapa saat, dia berkata, "Akhir pekan ini s
[ Brielle: Oke, kalau ada kabar baik kasih tahu aku. ]Brielle juga berharap Vivian bisa diasuh di sisi Lambert.[ Lambert: Oke, kalau ada waktu kita makan sama-sama. Kamu lanjutkan dulu kesibukanmu. ]Lambert juga tidak ingin mengganggunya lebih lama.[ Brielle: Oke. ]Menjelang siang, Dokter Smith mengajak Brielle makan di restoran luar. Dia sedang ingin makan masakan nusantara.Brielle baru saja duduk bersamanya, ketika sebuah sosok yang familier muncul di pintu restoran. Raka melangkah dengan lebar, lalu menarik kursi di samping Brielle dan duduk dengan santai. "Nggak keberatan kalau aku ikut?"Dokter Smith tersenyum memandang Brielle, "Brielle, aku ingin undang Pak Raka ikut makan bersama, sekalian membahas rencana baru pagi tadi."Brielle mengangguk, menandakan dia tidak keberatan.Tatapan Raka tertuju pada Brielle, lalu bertanya, "Katanya penelitian farmasimu ada perkembangan baru?""Saat ini masih dalam tahap verifikasi."Mereka berbincang beberapa kalimat lagi, lalu hidangan m
Raline membuka foto itu. Benar saja, itu adalah tangkapan layar status media sosial Devina yang dikirim temannya. Di salah satu foto, profil samping wajah Lambert terlihat sangat jelas.Napas Raline langsung terhenti beberapa detik. Dia menggenggam ponselnya dan segera keluar, lalu menelusuri unggahan Devina dengan teliti. Postingan itu dibuat tadi malam pukul sebelas. Meski tidak tahu apa yang terjadi padanya, jelas terlihat Lambert mengantarnya ke rumah sakit, bahkan mengantarnya pulang.Walaupun Raline sudah tidak lagi mengejar Lambert. Bagi dirinya, Lambert tetap seperti sosok cinta pertama yang tak tergantikan. Foto-foto itu tetap sangat menyakitkan baginya.Raline merasa foto-foto ini sengaja dipamerkan Devina untuknya. Dia sangat penasaran dengan apa yang sebenarnya terjadi, tapi dia tidak berani bertanya langsung pada Lambert.Saat itu, Raline melihat Brielle muncul di koridor. Mengingat hubungan Brielle dengan Lambert, dia langsung menghampirinya."Kak Brielle, selamat pagi. B
Saat hendak pergi, Devina juga sempat memotret rumah sakit serta sosok Lambert saat naik ke mobil. Setelah duduk di dalam mobil, dia kembali mengambil selfie di dalam mobil.Lambert tahu tempat tinggal Devina. Bagaimanapun, dulu dia dan Raka juga pernah tinggal di kawasan vila yang sama. Dua puluh menit kemudian, mobil Lambert berhenti di depan vila Devina.Lambert turun dari mobil dan membuka pintu, lalu memberi isyarat agar Devina turun dengan sikap diam dan dingin. Setelah turun sambil berpegangan pada pintu mobil, tatapan Devina kembali memancarkan godaan. "Lambert, mau masuk sebentar?""Nggak perlu," tolak Lambert dengan tegas.Melihat sosoknya yang hendak kembali ke mobil, Devina tiba-tiba berkata, "Lambert, gimana kalau aku bilang aku menyukaimu?"Lambert berbalik menatapnya. Meski mata Devina dipenuhi perasaan, itu sama sekali tidak menggoyahkan dirinya. Tatapannya hanya dingin, seolah melihat semuanya dengan jelas."Aku benar-benar pernah menyukaimu. Hanya saja dulu kamu menol
Lambert membuka pintu mobil dan masuk. Devina langsung mengetuk pintu mobilnya, "Lambert, biarkan aku selesaikan kata-kataku. Kalau nggak, kamu jangan harap bisa pergi ...."Lambert menyalakan mobil. Saat dia hendak memutar arah, tiba-tiba terdengar teriakan kesakitan dari luar, "Ah!"Lambert langsung menginjak rem. Meski dia tidak melihat bagian depan mobilnya menyentuh Devina, dia tetap harus turun untuk memastikan.Benar saja, dia melihat Devina memegangi perutnya sambil jatuh terduduk di tanah. Beberapa pelayan restoran yang tidak tahu situasinya segera berlari mendekat, "Nona, kamu nggak apa-apa?"Lambert memandang Devina yang terduduk di tanah, mengernyit lalu bertanya, "Kamu nggak apa-apa?"Devina mengangkat wajahnya yang dipenuhi air mata karena sakit, "Nggak apa-apa, kamu nggak perlu peduli sama aku.""Pak, sepertinya dia tertabrak. Apakah Anda mau mengantarnya ke rumah sakit untuk diperiksa?" tanya seorang pelayan wanita.Lambert membuka pintu kursi belakang mobil, lalu berka
Sekitar pukul 11 siang, rapat yang berlangsung dua setengah jam akhirnya berakhir.Pembawa acara mengundang seluruh tamu dan rekan media untuk menuju area restoran prasmanan, tempat makan siang telah disiapkan.Saat Brielle mengambil tas dan berdiri, Lambert berkata padanya, "Aku sudah pesan restora
Gavin membawakan makan malam untuknya. Setelah menatanya, dia masuk ke ruang kebugaran. Melihat bosnya sudah berlatih selama satu jam penuh, dia berkata dengan khawatir, "Pak Raka, makanlah sedikit."Kaos olahraga Raka basah oleh keringat dan menempel di tubuhnya, menonjolkan garis otot pria itu yan
Saat itu, Jay melihat Frederick. Dia pun melangkah maju dan memanggilnya, "Pak Frederick.""Pak Jay sudah datang.""Lihat Lambert nggak?""Bukankah Pak Lambert bersama Bu Brielle?" jawab Frederick dengan nada alami.Tatapan Jay sedikit menyipit. Dia menepuk bahu Frederick. "Baiklah, silakan lanjutka
Jay teringat sesuatu, lalu lebih dulu turun untuk mengatur tempat duduk. Kursinya berada di baris kedua paling kanan. Dia sudah lebih dulu meminta staf menyiapkan tiga kursi kosong di sana.Setelah Raline dan Devina duduk, mereka mendongak dan melihat film promosi di layar. Isinya adalah potongan fo







