Share

Bab 557

Penulis: Ayesha
Brielle tiba di rumah Keluarga Pramudita untuk menjemput putrinya. Pembantu memintanya masuk dan duduk di ruang tamu, tetapi Brielle menolak dengan halus. Tak lama kemudian, Meira keluar sambil menggandeng Anya.

"Mama!" Anya berlari gembira ke arahnya.

Brielle mengangkat putrinya dan berkata kepada Meira, "Kalau begitu kami pulang dulu."

"Brielle, terima kasih sudah repot-repot," ujar Meira.

Brielle tertegun sejenak. Sebelumnya, Meira tidak pernah mengucapkan kalimat seperti itu kepadanya.

"Tida
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci
Komen (5)
goodnovel comment avatar
Imas Siti Aisah
rupanya brielle lagi galau ampe gapokus gitu..si tuan pasti seneng ditabrak brielle......
goodnovel comment avatar
Merry Ongko
ikutan deg2 an ternyata niro.ke.tempat.brrbahaya...feeling.ku kok dia nanti ga balik ya...
goodnovel comment avatar
ratna juita
makin seru aja Thor, pengen tau ending nya seperti apa....smg Niro menepati janji nya utk kembali dengan selamat
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 1452

    Raka berjabat tangan dengan Ella dengan sopan. Ella kemudian meraih tangan Brielle. "Ayo, ikut ke sana."Sesampainya di tengah sekelompok orang, mereka kembali saling berkenalan. Tak lama kemudian, semua orang mulai mengobrol santai mengenai dunia medis.Raka berdiri di samping mendengarkan. Sesekali dia menyesap sampanyenya, tetapi lebih sering, pandangannya tertuju pada Brielle. Dulu, dia selalu berdiri di sisi Brielle sebagai seorang investor, mendengarkan percakapannya dengan orang lain.Namun, malam ini berbeda. Dia berdiri di sini sebagai seorang teman yang sesungguhnya. Perasaan yang memenuhi hatinya pun sama sekali berbeda.Saat itu Brielle sedang mendengarkan Ella menceritakan kisah lucu dari sebuah eksperimen hingga dia tak kuasa menahan tawa. Tanpa sengaja, tatapannya bertemu dengan sepasang mata yang dalam.Tatapan itu berasal dari Raka.Pria itu sedikit memiringkan kepala sambil menatapnya. Di bawah sorot lampu, tatapan matanya terasa begitu membara. Brielle segera mengali

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 1451

    Brielle mengenakan gaunnya, lalu mengeluarkan sepasang anting mutiara sederhana dari tas rias kecilnya. Rambut panjangnya dibiarkan tergerai alami di belakang bahunya. Malam ini adalah jamuan makan malam akademis, jadi penampilan yang sederhana dan pantas sudah cukup.Pukul setengah delapan malam, Brielle turun tepat waktu. Raka sudah menunggunya di lobi.Pria itu berganti mengenakan setelan jas biru tua tanpa dasi. Kerah kemeja putihnya dibiarkan sedikit terbuka, memberi kesan santai tetapi tetap berwibawa.Saat melihat Brielle, sebersit kekaguman melintas di mata Raka. Dia menatap wanita yang melangkah menghampirinya dengan tenang. Jakunnya bergerak pelan.Sudah berapa lama? Sudah berapa lama dia tidak melihat Brielle berjalan menghampirinya seperti ini. Rasanya seolah sudah berlalu satu abad.Dulu, Brielle selalu menghampirinya dengan penuh semangat, berlari memeluknya dengan riang, lembut, dan malu malu. Namun setelah bercerai, sikapnya menjadi dingin dan sengaja menghindarinya. Di

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 1450

    Jawaban Raka yang lugas dan tidak ragu-ragu membuat kata-kata yang hendak diucapkan oleh Brielle tertelan kembali. Dia menatap pria yang berdiri membelakangi sinar matahari itu.Dengan setelan jas kasual, kesan tajam dan formal yang biasanya dia miliki berkurang beberapa tingkat, digantikan oleh aura yang lebih santai dan mudah didekati. Namun, wibawa tenang yang menjadi ciri khasnya tetap tidak berubah."Kalau begitu ... sampai nanti malam. Aku mau balik ke hotel dulu untuk istirahat," kata Brielle."Makan sesuatu dulu," ujar Raka dengan suara rendah. Memang itulah tujuan kedatangannya, untuk menjemput Brielle.Brielle teringat bahwa konferensi sudah selesai. Seluruh tubuh dan pikirannya terasa jauh lebih ringan. Dia mengangguk. "Oke."Mereka berjalan melewati jalan setapak yang teduh di dalam kampus. Sinar matahari musim panas menembus sela-sela dedaunan, membentuk bayangan belang-belang di atas tanah.Di kejauhan, beberapa pekerja sedang memangkas rumput. Aroma rerumputan yang segar

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 1449

    Brielle tertegun. Untuk sesaat, dia bahkan tidak tahu harus mengatakan apa."Maaf. Saat itu reaksiku memang sangat keras dan caraku menghadapinya juga sangat bodoh," ujar Raka sambil tersenyum pahit."Jadi kamu sengaja menggunakan Devina untuk memancing reaksiku?" Brielle menatapnya, lalu bertanya lagi, "Kenapa nggak langsung tanya ke aku?"Raka menatapnya tanpa berkedip. Cahaya matahari memantul di kedua matanya. Dia tersenyum. "Kalau kita bisa kembali ke masa itu, aku pasti akan langsung tanya ke kamu."Tiba-tiba, Brielle ikut tersenyum. "Kamu nggak akan melakukannya. Karena aku juga nggak akan melakukannya."Dia tidak akan mempertanyakan hubungan Raka dan Devina yang sebenarnya. Dia hanya akan menebak-nebak hubungan mereka, lalu terus menyangkal dirinya sendiri, menyiksa dirinya sendiri, hingga akhirnya memilih untuk mengakhiri semuanya.Senyuman Raka mengandung kepedihan sekaligus pengertian. "Kamu benar."Dia mengakuinya. Karena saat itu, mereka berdua sama-sama takut. Takut jika

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 1448

    Pagi harinya, alarm di samping bantal tiba-tiba berbunyi dan membangunkan Brielle. Sinar matahari yang menyilaukan menusuk matanya hingga dia refleks mengangkat tangan untuk menghalanginya.Nuansa musim panas terasa dari luar jendela. Brielle melirik jam. Meskipun masih sangat kurang tidur, dia harus bangun untuk menyelesaikan hari terakhir di kegiatan akademiknya.Dia berdiri dan berjalan ke depan cermin. Matanya bengkak dan kantung matanya yang gelap terlihat jelas, tetapi sorot matanya sudah jernih dan tidak lagi dipenuhi kebingungan.Brielle merapikan rambutnya, lalu mengenakan setelan yang rapi. Masa lalu memang tidak bisa diubah, tetapi masa depan masih panjang. Setidaknya sekarang, dia sudah memiliki keberanian untuk menghadapi semuanya.Brielle mengambil tas laptopnya. Setelah semalaman menata ulang emosinya, dia memutuskan untuk memberanikan diri menghadapi segala sesuatu. Bagaimanapun juga, setiap masalah pasti memiliki jalan keluar.Begitu membuka pintu kamar, dia melihat Ra

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 1447

    Memang benar, selama di Negara Madagasa, Brielle pernah beberapa kali bertemu dengan Harvis.Hubungan mereka juga cukup baik. Mereka bahkan sering berkomunikasi dan bertukar kabar secara online.Pada masa itu, Harvis adalah satu-satunya pria yang bisa menjadi tempat Brielle mencurahkan keluh kesahnya.Dia masih ingat suatu kali ketika dirinya ketinggalan pesawat, Raka sudah lebih dulu pulang ke tanah air bersama Anya.Saat itu, Brielle menjelaskan bahwa dia terlambat karena pergi berwisata ke daerah sekitar bersama seorang teman.Namun ketika dia tiba di rumah, wajah Raka terlihat sangat muram. Pria itu hanya duduk diam di sofa, sementara suasana di sekelilingnya dipenuhi tekanan yang menyesakkan.Brielle menggigit bibirnya dengan pelan. Raka memang orang yang sangat menjaga harga diri dan terbiasa memendam segala sesuatu.Dia pernah berkonsultasi dengan seorang psikolog. Kesimpulan yang diberikan psikolog itu adalah pria yang emosinya terlalu stabil sering kali memiliki masalah dalam

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 484

    Brielle menekan amarah di dadanya dan melangkah keluar dari lift. Cherlina sedang bergegas menuju ruang rapat. Ketika melihat Brielle, dia langsung menyapa, "Brielle, perlu aku buatin kopi?"Brielle tersenyum padanya. "Boleh, terima kasih!""Ah, santai saja." Cherlina mengangkat alisnya sedikit. Dia

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 478

    Cahaya licik melintas di mata Devina, menandakan rencananya sudah berhasil. Dia berpura-pura menghela napas dan berkata, "Tapi kamu bisa apa? Lambert sekarang sudah benar-benar terpikat oleh Brielle. Apa kamu yakin dia mau mendengar kata-katamu?"Tatapan Jay menjadi dalam. "Kalau begitu, kita kasih

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 502

    Saat itu di dalam aula pameran yang tenang, ponsel Brielle berbunyi. Dia mengeluarkannya dan melirik sebentar, lalu langsung memutus panggilan itu.Lambert menoleh dan bertanya, "Kenapa nggak diangkat?""Telepon iseng," jawab Brielle dengan tenang.Tak lama kemudian, sebuah pesan masuk. Brielle meng

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 472

    Untuk bisa mendengar apa yang akan dikatakan Savana, Raline pura-pura menelepon seseorang lalu berjalan masuk ke balik pepohonan di dekat sana.Lambert yang berbalik melihat ibunya datang, seketika merasa tegang. Meskipun belakangan ini sikap ibunya mulai melunak, dia tetap belum bisa menebak isi ha

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status