로그인Sejak awal penelitian, Brielle sudah memusatkan perhatian pada satu hal, yaitu melepaskan status Devina sebagai satu-satunya donor.Brielle lebih memilih menghabiskan sepuluh bahkan seratus kali lebih banyak energi untuk penelitiannya daripada suatu hari harus bergantung dan memohon pada orang lain.Kali ini, selain melakukan terapi untuk Raline, dia juga memisahkan satu proyek penelitian lain. Dia menggunakan sampel darahnya sendiri untuk mencari kemungkinan adanya reaksi antibodi khusus di antara kerabat sedarah langsung.Gagasan ini bukan muncul begitu saja. Sejak kemungkinan putrinya mewarisi penyakit itu diketahui, ide tersebut sudah ada di benaknya.Sebagai seorang ibu, dia tidak bisa menerima bahwa masa depan putrinya akan bergantung pada orang luar seperti Devina yang memiliki niat buruk dan sewaktu-waktu bisa menggunakan nyawanya sebagai ancaman.Raka memilih untuk berkompromi dan berurusan dengannya, tetapi Brielle tidak bisa melakukan hal yang sama. Pilihannya adalah mematah
"Brielle, kamu lihat bekas luka di pergelangan tangan Devina? Tindakannya memotong pergelangan tangan itu kemungkinan besar hanya cara untuk mengendalikan Pak Raka."Brielle mengerutkan kening. Dengan status Devina sebagai satu-satunya donor di dunia, dia memang bisa menggunakan nyawanya sendiri untuk mengendalikan Raka kapan saja. Jadi, apa pun yang dia inginkan, Raka harus memenuhinya.Termasuk mengorbankan pernikahannya.Brielle teringat kejadian di kolam renang waktu itu. Devina sengaja menjegalnya, lalu menariknya ke dalam air. Dia sudah yakin bahwa Raka akan melompat lebih dulu untuk menyelamatkannya, karena di tubuhnya terikat nyawa tiga generasi Keluarga Pramudita.Hari itu, Brielle juga masih ingat bagaimana Raka memeriksa keadaannya dengan cemas, serta ekspresi bangga dan puas di wajah Devina. Saat itu Brielle mengira semua itu adalah bukti bahwa Raka mencintainya.Lalu kejadian di meja makan ... ketika Devina sengaja minum alkohol hingga Raka merebut gelasnya. Dulu dia mengi
Masa observasi 48 jam itu memang sangat melelahkan, tetapi dia tetap harus melewatinya.Pukul lima pagi, Brielle akhirnya beristirahat di ruang istirahat. Seorang perawat mengantarkan satu set perlengkapan mandi untuknya.Keesokan paginya ketika Brielle membuka mata, dia mendapati ada sebuah koper di sampingnya. Itu adalah kopernya sendiri. Sepertinya Lastri telah membereskan beberapa pakaian hangat untuknya lalu meminta Raka membawanya ke sini.Di tubuh Brielle juga ada tambahan sebuah selimut, yang juga berasal dari rumahnya.Brielle menggosok pelipisnya dan langsung tahu siapa yang menyelimutinya.Setelah berjaga selama tiga hari dua malam, Raline akhirnya berhasil melewati masa aman dari efek obat. Ini adalah hal yang membuat Brielle sangat gembira.Tentu saja, dengan dukungan data ilmiah yang ketat, semuanya tetap berada dalam kendali. Teori Brielle menopang eksperimen ini dan ada harapan besar untuk berhasil menembusnya."Brielle, kalau kamu berhasil, maka pasien penyakit darah d
Raline menggelengkan kepala, matanya berbinar terang. "Kak, aku nggak apa-apa. Aku baik-baik saja." Setelah berkata demikian, dia segera menambahkan dengan tergesa, "Kalau aku nggak apa-apa, berarti selanjutnya kita bisa menyelamatkan Ibu, 'kan?"Baru saat itu Raka mengalihkan pandangannya ke Brielle. "Bagaimana data eksperimen tahap kedua?""Cukup bagus," jawab Brielle dengan nada tenang. "Toleransi adikmu terhadap obat bahkan lebih baik dari yang aku perkirakan. Indikator kunci juga menunjukkan perbaikan yang jelas."Raka menatapnya lalu sedikit mengangguk. "Kerja kerasmu nggak sia-sia. Berapa lama lagi perlu pengamatan lanjutan?""Setidaknya masih perlu pemantauan ketat selama 48 jam," jawab Brielle secara profesional."Malam ini aku akan minta Doktor Smith datang untuk melakukan pemantauan. Kamu pulang dan istirahat saja," kata Raka dengan suara rendah dan terkesan peduli."Nggak perlu. Kamu saja yang jaga Anya. Aku tetap di sini," jawab Brielle."Kak Brielle, sebaiknya kamu dengar
Devina juga tidak sungkan. Setelah Jay menyuapinya menghabiskan semangkuk bubur itu, dia menyeka sudut bibirnya lalu bersandar di sofa. Dengan suara pelan dia bergumam, "Terima kasih, Jay. Untung masih ada kamu di sisiku."Devina memejamkan mata setengah, seluruh tubuhnya meringkuk di dalam selimut. Dia tampak sangat rapuh dan membuat orang merasa iba.Melihat kondisinya, Jay semakin yakin akan satu hal di dalam hatinya. Hubungan antara Devina dan Raka pasti sedang bermasalah."Devina, katakan padaku, gimana sebenarnya sikap Raka padamu sekarang?" tanya Jay dengan khawatir.Devina perlahan membuka matanya. Sudut matanya tampak berkaca-kaca. Dia menatap Jay dengan tatapan bingung dan sedih. Lalu dia menghela napas pelan, suaranya penuh kesedihan."Jay, menurutmu ... kalau seseorang sudah berusaha selama 10 tahun tapi tetap nggak mendapatkan apa yang dia inginkan, apakah ... seharusnya dia menyerah?"Hati Jay tiba-tiba terasa berat. "Devina, kamu dan Raka ...."Devina tersenyum getir, la
Wajah Devina tiba-tiba menjadi semakin pucat. Dia menatap Jay. Meskipun pria itu masih tersenyum cerah dengan tatapan lembut, dia tahu ada sesuatu yang sudah berubah. Dan semua ini terjadi sejak kemunculan Siria.Jay merasa sedikit canggung ditatap dengan mata penuh perasaan seperti itu. Dia menggaruk bagian belakang kepalanya, lalu berkata, "Devina, ada apa denganmu hari ini? Kenapa kamu terlihat sedih sekali? Apa terjadi sesuatu antara kamu dan Raka?"Pada saat itu, pelayan datang membawa semangkuk bubur bergizi. Dia meletakkannya di meja depan sofa, lalu berkata kepada Devina, "Nona Devina, buburnya sudah siap.""Baik, letakkan di sini," kata Devina. Setelah itu dia bangkit ingin mengambil bubur tersebut, tetapi tiba-tiba dia mengeluarkan rintih kesakitan."Ada apa?" tanya Jay dengan khawatir.Devina duduk kembali. Lalu dia mengangkat sedikit bagian lengan di tempat bekas pengambilan darah, memperlihatkan luka yang baru saja berdarah. Kulitnya yang putih tampak dipenuhi memar kebiru
Raka menatap sekilas sosok Brielle yang keras kepala, lalu melangkah ke arah Hubert yang hendak pergi.Melihat Lukas sedang sibuk, Brielle tidak ingin mengganggunya dan berjalan ke lift untuk menunggu. Tak lama kemudian, Raka dan Devina datang untuk mengantar Hubert turun.Brielle bergeser sedikit k
Hati Brielle yang sudah lama mati rasa, tetap saja terasa seperti dicambuk keras melihat pemandangan itu. Dia sungguh berharap bisa tidak bertemu pria itu lagi seumur hidup.Sayangnya, Tuhan tidak memberinya kesempatan untuk memilih kembali siapa yang layak dicintai. Yang ada di depannya hanyalah se
Jangan-jangan ... Arka ingin memaksa berhubungan malam ini? Devina belum bisa memuaskannya?Mereka sudah pergi ke hotel, kenapa masih harus kembali ke rumah dan membuat dirinya jijik lagi?"Aku sudah terbiasa tidur sendiri. Nggak perlu tidur sama-sama." Brielle mengernyit, menolak dengan tegas. Peno
Hari ke-17, sekolah resmi dimulai.Pagi-pagi sekali, Brielle sudah membantu putrinya mengenakan seragam resmi sekolah. Dia menggandeng tangan Anya menuruni tangga, sementara Raka yang sudah rapi dengan setelan jas lengkap menunggu di ruang tamu.Brielle menggendong Anya dan duduk di dalam mobil Raka







