Share

Bab 706

Penulis: Ayesha
Brielle melangkah ke arah lift dan menjawab singkat, "Ya."

Raka mengikutinya masuk ke dalam lift. Jari-jarinya yang panjang menekan tombol lantai 27. Suasana di dalam lift terasa mencekam. Begitu tiba di lantai 27, Raka melangkah keluar lebih dulu.

Brielle kembali ke apartemennya untuk merapikan barang-barang, lalu bersiap berangkat ke laboratorium. Namun saat dia menenteng tas dan keluar, Raka malaj berdiri di depan pintu rumahnya. Di tangannya, dia menggenggam sebuah kotak beludru panjang berw
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci
Komen (7)
goodnovel comment avatar
Imas Siti Aisah
lagi dan lagi raline belaku bodoh...ntar di acara devina memakai kalung itu dan bertemu brielle haha perang terus perasaan gada selesainya
goodnovel comment avatar
Sridewi Novianty
gak ada kapoknya si raline ini. dulu gelang dari neneknya. ckckck.....
goodnovel comment avatar
Merry Ongko
tuh kan.....mengijinkan Raline tinggal di kompleks cloudwave...baru sehari aja dah bikin onar...tambah seru..ntar brielle liat Devina pake...pikirannya mgkn Krn ditolak trus Raka ngasih Devina...tp masa bodo lah..brielle mmg ga mau Nerima jg..terserah Raka mau kasih siapa....cm ada inisial BS nya
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 1549

    Detak jantung Brielle terasa semakin jelas di tengah gelap dan sunyi. Dia dapat dengan jelas merasakan bahwa Raka belum juga menjauh.Napas pria itu masih menyelubunginya, membawa tekanan samar yang sulit diabaikan. Dia bahkan bisa membayangkan Raka sedang membungkuk menatapnya.Karena kedua matanya dipenuhi cairan obat, rasa perih dan tidak nyaman masih terasa. Dia menahannya dan tidak membuka mata.Tak lama kemudian, dia merasakan sisa cairan obat mengalir keluar dari sudut matanya. Entah mengapa, hal itu membuatnya sedikit malu. Rasanya dia seperti sedang menangis.Saat itulah, ujung jari yang hangat menyeka perlahan sisa cairan obat yang mengalir di sudut matanya. Tubuh Brielle sontak bergetar pelan."Bisa tolong ambilkan tisu?" Dia ingin melakukannya sendiri. Namun, pria itu tidak menanggapi permintaannya.Saat Brielle hampir tidak sanggup lagi menahan diri untuk tidak membuka mata, dia tiba-tiba merasakan sentuhan yang luar biasa lembut di sudut matanya.Kali ini ... sepertinya b

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 1548

    "Sayang sekali. Padahal kamu itu tulang punggung teknis di tim kita. Kalau kamu pulang untuk mengurus keluarga, entah kapan bisa kembali lagi ke dunia kerja?""Siapa yang tahu? Kadang aku berpikir, kenapa perempuan selalu harus memilih antara keluarga atau karier? Yang paling nggak adil, yang dikorbankan hampir selalu karier perempuan.""Benar. Seolah-olah perempuan memang harus mengalah demi keluarga dan anak. Kenapa bukan laki-laki saja yang berhenti kerja untuk mengasuh anak? Andai suamiku mau mengurus anak, aku juga nggak ingin melepaskan karierku.""Menjadi perempuan memang sulit. Menyeimbangkan keluarga dan karier bukan perkara mudah."Brielle berdiri di balik sudut lorong. Perasaannya mendadak menjadi rumit.Belakangan ini, Raka memang banyak membantunya, terutama dalam mengurus Anya. Karena terlalu sibuk dengan penelitian, dia memang jarang memikirkan hal itu. Di alam bawah sadarnya, dia selalu menganggap semua itu adalah tanggung jawab Raka sebagai seorang ayah.Namun, setelah

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 1547

    Brielle kembali dibuat terdiam oleh ucapannya. Dia memang benar-benar lupa. Belakangan ini pikirannya sepenuhnya dipenuhi pekerjaan di laboratorium sehingga dia tidak punya waktu memikirkan hal lain."Aku ...."Brielle membuka mulut ingin menjelaskan, tetapi tidak tahu harus mulai dari mana.Raka justru berkata dengan nada santai, "Sudahlah. Selama Dokter Brielle nggak merasa rambutku jelek, sebenarnya nggak diobati juga nggka masalah."Maksudnya jelas. Dia tidak peduli dengan pandangan orang lain. Satu-satunya yang dia pedulikan hanyalah pendapat Brielle.Brielle mengangkat cangkir tehnya, lalu mendengus pelan. "Selama nggak memengaruhi kesehatanmu, sebenarnya diobati atau nggak juga nggak ada bedanya."Raka tersenyum tipis. Dia juga tahu kapan harus berhenti menggoda. Dia kembali mengangkat sendok dan mengambil makanan."Renovasi bagian utama vila hampir selesai. Desain interiornya juga sudah dikirim desainer dalam beberapa versi. Kalau malam nanti kamu sempat, kita tentukan bersama.

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 1546

    "Nggak ada yang nggak bisa kukatakan."Tatapan Raka sedikit meredup saat melanjutkan, "Penyebabnya sebenarnya nggak rumit."Brielle kembali mengangkat pandangan menatapnya.Raka sedikit membungkukkan tubuhnya hingga tatapan mereka sejajar. Matanya yang dalam tertuju pada Brielle saat dia mengucapkan setiap kata dengan jelas."Karena kamu."Brielle terpaku. Jari-jarinya yang menggenggam cangkir teh tanpa sadar mengencang. Dia sama sekali tidak menyangka Raka akan mengatakan alasannya seterus terang itu. Namun, Brielle tidak merasa hal itu ada hubungannya dengan dirinya.Raka juga menyadari bahwa ucapannya tadi mungkin membuat Brielle merasa tertekan dan tidak nyaman. Dia pun tersenyum tipis."Tapi sebenarnya bukan salahmu. Saat itu tekanan mentalku terlalu besar, aku juga kurang beristirahat. Rambutku memutih karena terlalu banyak beban pikiran."Raka menyesap teh. Jakunnya bergerak naik turun."Waktu kamu diculik itu, syukurlah Niro datang tepat waktu untuk menyelamatkanmu. Dia menahan

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 1545

    Raka yang menyetir, sementara Brielle menunjukkan arah. Hanya sekitar sepuluh menit perjalanan, mereka sudah tiba di restoran.Matahari tengah hari terasa cukup terik. Setelah turun dari mobil, Brielle mengangkat tangan untuk menghalangi sinar matahari yang menyilaukan. Saat itu juga, sebuah tangan ikut menaungi kepalanya.Brielle mendongak. Raka tersenyum. Wajahnya yang diterpa cahaya matahari tampak semakin tampan."Ayo."Mereka berjalan memasuki halaman restoran bergaya rumah pribadi itu.Hari itu pengunjung cukup ramai. Untungnya masih tersisa dua meja kosong.Di sana juga ada cukup banyak rekan kerja dari laboratorium. Beberapa meja yang sebelumnya ramai dengan tawa dan obrolan mendadak menjadi sangat hening saat melihat mereka berdua masuk.Brielle merasakan tatapan dari beberapa meja. Bagaimanapun juga, Raka memang terlalu mudah dikenali.Setelah mereka duduk, Brielle melihat para tamu yang tadi berbicara dengan suara keras kini langsung beralih menjadi berbisik-bisik.Setelah B

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 1544

    Anya mengangguk patuh, lalu kembali bermain. Raka menuangkan segelas air untuk Brielle. Kebetulan Brielle memang sedang haus. Dia menerimanya."Terima kasih."Tatapan Raka tertuju padanya."Brielle, penelitian ilmiah adalah sesuatu yang sangat mulia dan sangat berarti. Jangan merasa bersalah hanya karena nggak bisa selalu menemani putrimu. Mungkin sekarang dia belum sepenuhnya mengerti, tetapi saat dia tumbuh dewasa nanti, dia akan memahami bahwa ibunya sedang melakukan sesuatu yang luar biasa."Brielle tertegun. Dia tidak menyangka Raka bisa melihat perasaan itu.Namun, ucapan Raka benar-benar menghiburnya."Suatu hari nanti, dia akan merasa bangga memiliki ibu sepertimu. Itu juga akan menjadi teladan yang sangat berharga dalam perjalanan hidupnya."Brielle kembali terdiam. Ucapan Raka dipenuhi dorongan, kekuatan, sekaligus dukungan untuknya.Selama ini, dia selalu berusaha mencari keseimbangan antara karier dan perannya sebagai seorang ibu. Terkadang, ketika terlalu banyak waktu dicu

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 551

    Raka mendongak menatap Brielle yang tampak tak senang. Dia mengangkat putrinya lalu berkata, "Ayo kita ke bawah untuk kepang rambut, ya?""Oke!" jawab Anya dengan suara imut. Ketika melihat ibunya, dia berseru gembira, "Mama, lihat, Papa sudah pulang."Di depan putrinya, Brielle tidak bisa berkata a

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 505

    Sore itu saat Brielle menjemput putrinya, dia melihat sosok yang sangat familier berdiri di depan gerbang sekolah. Dia merasa agak terkejut dan segera berjalan mendekat. "Nenek, kenapa Nenek ada di sini?"Selama enam tahun bersama Keluarga Pramudita, Brielle sudah terbiasa memanggil Emily dengan seb

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 503

    Ekspresi Brielle sedikit berubah, amarahnya langsung menyeruak dari dada. Apa lagi yang ingin dimainkan Raka kali ini?Raka menyipitkan matanya. "Kamu sebaiknya pertimbangkan dulu. Tentu saja, aku nggak memaksamu untuk menandatangani."Brielle hanya merasa semuanya konyol dan membuang waktu."Nggak

  • Bukan Mantan Biasa   Bab 502

    Saat itu di dalam aula pameran yang tenang, ponsel Brielle berbunyi. Dia mengeluarkannya dan melirik sebentar, lalu langsung memutus panggilan itu.Lambert menoleh dan bertanya, "Kenapa nggak diangkat?""Telepon iseng," jawab Brielle dengan tenang.Tak lama kemudian, sebuah pesan masuk. Brielle meng

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status