Home / Romansa / Bukan Pelakor / Bab 4. Aksi Utari

Share

Bab 4. Aksi Utari

last update publish date: 2021-09-05 23:20:36

Utari diam-diam sudah melancarkan aksinya dengan berjalan mengendap-endap menuju ke arah belakang rumah juragan Somat. Berbekal handphone butut tanpa aplikasi senter dan juga sepeda rinjing yang besinya sudah berkarat menjadi kendaraan untuk Utari kabur. 

"Pokoknya aku harus pergi dari sini. Dan jangan sampai para anak buah juragan Somat mengetahui rencana aksi kabur aku ini," gumam Utari yang menyemangati dirinya agar tidak takut untuk melancarkan aksinya ini. 

Kepala Utari celingak-celinguk ke kanan dan kiri. Rok kebaya yang sempit membuat jalan Utari semakin lambat. Selama ini, keadaan masih aman. Namun, dalam beberapa detik semuanya langsung kacau balau. 

"Gue dengar-dengar kalau juragan Somat mau nikahin si Utari cuma mau merasakan keperawanannya itu. Katanya juga sehabis juragan Somat ngambil keperawanannya, Utari bakalan digilir sama pekerja konstruksi yang juga sudah booking sama juragan Somat," ucap seseorang pada temannya dengan suara pelan. 

Meski suara itu terucap pelan, tetap saja Utari bisa mendengarnya karena keadaan sangat sepi dan sunyi. 

Hati Utari merasa teriris mendengarnya. Sebegitu tidak berharganya diri Utari di mata para pria hidung belang itu. Apalagi bapak kandungnya sendiri yang tega menjual Utari pada pria hidung belang itu. 

"Ya Allah, selamatkan Utari dari para lelaki brengsek macam mereka. Utari enggak mau dipakai apalagi digilir dengan hina oleh mereka," gumam Utari berdoa pada sang pencipta dengan mata yang sudah berkaca-kaca. 

"Bantu Utari untuk terbebas dari jeratan yang hina ini, ya Allah," mohon Utari kembali menyatukan kedua tangannya di depan dadanya seperti sedang berkomunikasi oleh sang pencipta. 

Utari pun kemudian melanjukan langahnya. Sepeda rinjing mungil milik Ajeng sudah terlihat di mata Utari. Dengan gerakan tergesa-gesa Utari berlari menuju sepeda itu terparkir. 

"Nirman, itu bukannya Utari, ya? Dia mau ke mana lari-lari ke belakang rumah juragan Somat?" tanya Karto dengan suara kencang bertanya pada Nirman, temannya. 

"Jancuk! Dia mau kabur, Karto!" seru Nirman histeris menunjuk Utari. 

"Ayo, buruan kejar dia, Karto!" seru Nirman kembali dengan kencang, menepuk bahu temannya itu. 

Utari yang menyadari kalau dirinya sudah diketahui oleh anak buahnya juragan Somat, lantas Utari semakin menambahkan kecepatan larinya. 

"Woy ... Utari, berhenti!" teriak Nirman yang mengejar Utari. 

"Juraga! Calon mempelai pengantin wanita kabur!" teriak Karto dengan suara mengelegarnya. 

Sontak para anak buah juragan Somat ysng lainnya langsung ikut lari mengejar Utari. 

"Ya ampun, gawat kalau sampai juragan Somat tahu kalau aku pergi," ucap Utari cemas. 

Handphone yang ada di genggaman tangan Utari, lantas gadis itu menyimpannya di dalam bra yang dipakainya meski merasa mengganjal di area dadanya. 

Sepeda yang dikendarai oleh Utari perlahan meninggalkan jarak yang lumayan jauh dai kejaran anak buahnya juragan Somat. 

"Ayo, Utari. Jalanan raya besar sudah terlihat!" seru Utari yang menyemangati dirinya sendiri. 

"Di mana gadis itu!" bentak Somat pada anak buahnya. Napasnya pun masih tersengal-sengal akibat terlalu panik berlari. 

"Di menuju jalan raya besar, Juragan," jawab anak buah Somat takut-takut. "Tapi, Juragan. Narmin dan Karto sedang mengejarnya," sambung orang itu lagi.

"Ya sudah, ngapain kalian di sini, hah! Cepat, kejar sana!" bentak Somat murka dengan urat-urat di lehernya yang tercetak jelas.

"Iya, baik, Juragan."

Somat mengusap wajahnya kasar frustasi. Rumih, istri pertamanya, yang berada di sampingnya hanya bisa terdiam saja.

"Sudah lah, Mas. Masih banyak wanita di kampung ini yang enggak kalah cantik dari Utari," celetuk Rumih yang jengah, karena pusat perhatian suaminya selalu tertuju pada Utari.

"Iya, emang banyak yang cantik di sini. Tapi enggak ada yang perawan kayak Utari! Kamu saja saya nikahkan sudah enggak perawan, Rumih!" sentak Somat tanpa sadar membuka aib Rumih, karena dirinya sudah terlalu kesal pada istri pertamanya itu.

"Mas, tapi 'kan kamu sendiri yang bilang, yang mau menerima aku apa adanya! Kenapa jadi bawa permasalahan itu, hah!" seru Rumih marah, tidak terima aibnya diungkit-ungkit oleh Somat.

Somat mengibaskan tangannya seolah mengusir Rumih. "Sudah lah, sana kamu pergi! Jadi istri enggak ada gunanya sedikit pisan. Bisanya cuma menghambur-hamburkan duit, doang," cibir Somat yang sudah muak berdekatan dengan Rumih.

"Ish ... Awas kamu, Mas! Aku enggak akan kasih tubuh aku lagi ke kamu!" ancam Rumih pada Somat. Kemudian, Rumih pergi meninggalkan Somat dengan kaki dihentakkan kesal ke tanah.

***

Halo para pembaca. Jangan lupa untuk memberikan vote, coment, dan share.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Bukan Pelakor   BAB 60: Labirin Warisan yang Berdarah

    Gelap, dingin, dan bau apek yang menyengat. Larasati terbangun dengan rasa pening yang luar biasa, seolah ribuan jarum menusuk saraf di balik matanya. Ia mencoba menggerakkan tangan, namun gesekan rantai besi yang dingin di pergelangan tangannya memberikan jawaban instan, ia kembali menjadi tawanan. Kali ini, bukan di gubuk kumuh atau di kamar simpanan Darsa, melainkan di sebuah ruang bawah tanah yang dindingnya dilapisi batu alam tua, mungkin ruang rahasia di bawah villa kolonial Bramantya. "Sudah bangun, Ratu kecil?" Suara itu bergema, datang dari sudut ruangan yang remang-remang. Bramantya duduk di sana, memutar-mutar gelas berisi cairan merah pekat—anggur atau mungkin sesuatu yang lebih mengerikan. Di atas meja di sampingnya, terletak dokumen-dokumen yang selama ini Larasati perjuangkan, sertifikat saham Wijaya Internasional dan kunci brankas bank Swiss milik Darsa. "Kamu... kamu tidak akan bisa lolos dengan ini," suara Larasati serak, tenggorokannya terasa seperti terbakar

  • Bukan Pelakor   BAB 59: Menjemput Maut

    Fajar belum benar-benar pecah di langit Bogor. Kabut tebal menyelimuti lereng Gunung Salak, menyembunyikan pepohonan besar yang tampak seperti raksasa diam yang mengawasi. Larasati duduk di kursi belakang mobil taktis, tangannya mengenakan sarung tangan kulit hitam, sementara matanya menatap lurus ke arah jalan setapak yang mulai berbatu. Di sampingnya, Bara memeriksa magasin senjatanya dengan gerakan mekanis yang tenang. Di belakang mereka, dua mobil berisi personel keamanan terlatih mengikuti tanpa lampu sorot. Mereka bergerak seperti hantu. "Nona, kita hampir sampai di titik koordinat," bisik Bara. "Villa itu terisolasi. Tidak ada catatan kepemilikan di dinas pertanahan lokal. Benar-benar sebuah blind spot." Larasati hanya mengangguk. Pikirannya melayang pada boneka kain yang terbakar di panti asuhan kemarin. Bramantya Wijaya bukan sekadar pria yang ingin merebut perusahaan; dia adalah seorang arsitek penderitaan. Dia membiarkan Larasati tumbuh dalam kemiskinan agar dia memilik

  • Bukan Pelakor   BAB 58: Sang Pewaris Terlupakan

    Hujan di luar Lembaga Pemasyarakatan telah berubah menjadi gerimis tipis yang membawa hawa dingin menusuk tulang. Larasati duduk di dalam mobil SUV hitamnya, matanya terpaku pada layar ponsel. Pesan singkat dari nomor tidak dikenal itu terasa seperti siraman air es di tengah api balas dendamnya yang baru saja memuncak. “Pemilik Wijaya yang sesungguhnya bukan hanya ibumu... dan 'kakak' ibumu masih hidup di suatu tempat.” Larasati mengepalkan tangannya hingga buku-buku jarinya memutih. Selama ini, narasi yang ia terima dari Supardi dan Sanjaya adalah bahwa ibunya, Rahayu Wijaya, merupakan pewaris tunggal setelah kematian kakeknya. Sanjaya hanyalah adik sepupu yang haus kuasa yang masuk melalui celah pernikahan dan pengkhianatan. Namun jika pesan ini benar, berarti ada satu kepingan puzzle yang sengaja dihilangkan dari sejarah keluarga Wijaya. "Bara," suara Larasati terdengar parau namun tajam di keheningan kabin mobil. "Ya, Nona?" jawab Bara sambil tetap waspada menatap kaca s

  • Bukan Pelakor   BAB 57: Sisa Hidup di Ujung Cawan

    Lembaga Pemasyarakatan terlihat lebih menyeramkan di bawah guyuran hujan badai. Berkat bantuan Adrian Wong yang kini terpojok, Larasati berhasil mendapatkan akses ke unit isolasi paling bawah, tempat di mana cahaya matahari tidak pernah sampai, dan hanya suara tetesan air dari atap yang bocor yang menjadi teman. Larasati melangkah melewati barisan sel besi dengan langkah yang mantap. Ia mengenakan mantel hitam panjang, wajahnya sedingin marmer. Di tangannya, ia membawa sebuah termos kecil berisi teh herbal, teh dengan campuran yang sama persis seperti yang dulu diberikan Sarah untuk menggugurkan kandungannya. "Buka pintunya," perintah Larasati pada sipir yang sudah disuap. Pintu besi itu berderit terbuka. Di dalam ruangan sempit yang hanya berisi dipan semen, Darsa duduk meringkuk. Tubuhnya jauh lebih kurus, matanya cekung, dan tangannya gemetar akibat sakau atau mungkin trauma dari siksaan narapidana lain. Saat melihat Larasati, Darsa mencoba berdiri, namun kakinya lemas. "Utar

  • Bukan Pelakor   BAB 56: Ujung Belati Sang Sekutu

    Gudang tua di kawasan pelabuhan itu masih menyisakan aroma karat dan air laut yang payau. Di sinilah, beberapa bulan lalu, Utari yang rapuh nyaris kehilangan nyawanya di tangan Juragan Somat. Namun malam ini, ia kembali bukan sebagai mangsa, melainkan sebagai penguasa kegelapan yang sedang menunggu mangsanya. Larasati duduk di kursi besi yang dingin di tengah ruangan yang hanya diterangi satu lampu bohlam yang berayun. Di belakangnya, Bara berdiri seperti bayangan maut yang siap menerjang. Suara langkah sepatu pantofel yang mahal terdengar beradu dengan lantai semen. Adrian Wong masuk dengan santai, tangan di saku jasnya, dan senyum tipis yang masih tersungging di bibirnya seolah tidak terjadi apa-apa. "Tempat yang cukup nostalgik untuk sebuah pertemuan bisnis, Larasati," ucap Adrian sambil menatap sekeliling dengan jijik. "Kenapa kita tidak bicara di restoran berbintang saja?" Larasati tidak tersenyum. Ia melemparkan ransel berisi uang dan dokumen palsu milik Malik ke depan kak

  • Bukan Pelakor   BAB 55: Saksi yang Terbeli

    Jakarta diguyur hujan deras saat Larasati melangkah keluar dari gedung Wijaya Group. Sorot lampu kamera wartawan menyambar-nyambar dari balik pagar betis pengawal, namun ia tetap bungkam. Pikirannya tertuju pada satu nama: Malik. Jika pria itu benar-benar memegang dokumen medis dari dua puluh tahun lalu, maka seluruh kemenangannya saat ini hanyalah istana pasir. "Nona, kita punya lokasi Malik," bisik Bara sambil membukakan pintu mobil SUV hitam yang antipeluru. "Dia bersembunyi di sebuah motel murah di kawasan pelabuhan. Tampaknya dia sedang menunggu instruksi selanjutnya untuk muncul di stasiun televisi besok pagi." "Jangan beri dia kesempatan untuk menghirup udara besok pagi sebagai orang merdeka," desis Larasati. "Bawa saya ke sana." Motel itu kumuh, berbau amis garam dan solar. Di kamar 204, seorang pria paruh baya dengan kacamata tebal sedang memasukkan tumpukan uang ke dalam tas ranselnya. Dialah Malik. Wajahnya tampak cemas, matanya terus melirik ke arah pintu. Tiba-tiba,

  • Bukan Pelakor   Bab 9. Sabuk Pengaman

    Sepanjang malam sampai pagi, mata Utari masih terjaga dengan segar bisa dibilang mata Utari kuat melotot. Sejak kejadian di dalam kamar mandi bersama tuan Darsa membuat Utari langsung demam tinggi. Sedangkan tuan Darsa tidurnya malah tambah nyenyak setelah memainkan squisi alami milik Utari.

  • Bukan Pelakor   Bab 8. Pijatan Tangan Darsa

    Di dalam ruang persegi empat yang lumayan luas dan megah, namun terasa minimalis. Ada Utari yang sedang melihat-lihat isi dari ruang tersebut. Koleksi sabun cair yang beraneka rasa dan masih banyak lagi perlengkapan untuk mandi."Tuan, Utari merasa sedang mimpi melihat kamar ma

  • Bukan Pelakor   Bab 10. Hanya Pembantu

    Suara ketukan di kaca mobil Darsa terdengar nyaring membuat tubuh mereka refleks saling menjauh. Buru-buru Darsa membuka pintunya dengan gerakan yang lumayan tergesa. "Wah, ternyata Tuan Darsa yang ada di dalam. Saya kira tamu nyonya Indri, Tuan," ucap seorang satpam dengan sopan pa

  • Bukan Pelakor   Bab 19. Terpaksa Menikah

    Gemercik suara air yang bertabrakan dengan lantai menjadi pengiring irama di sela-sela tangisan Utari. Tubuh mungil nan rapuhnya bergetar hebat menahan dingin dan kehancuran secara bersamaan.“Hiks ... Kenapa harus aku yang mengalami semua ini ...!” jerit Utar

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status