LOGINDemi menyelamatkan nyawanya, Alina Sterling terpaksa terikat dalam pernikahan rahasia dengan Marvin, pengawal dingin, di bawah todongan senjata. Dunianya semakin gelap ditengah pelariannya yang mencekam. Sebuah kecelakaan merenggut penglihatannya, memaksa Alina bergantung sepenuhnya pada pengawalnya yang ternyata menyimpan rahasia besar tentang masa lalunya. Begitu penglihatannya pulih, semua rahasia Marvin terungkap, seorang wanita yang mengaku sebagai istrinya, memicu pelarian Alina yang sia-sia di bawah bayang-bayang obsesi sang pengawal yang sudah menjadi suaminya. Marvin tidak akan melepaskannya, meski ia harus mematahkan sayap Alina agar dia tetap berada di sisinya dan bisa melindunginya dari musuh selamanya.
View More"Putuskan hubunganmu dengan pria brengsek itu, Alina! Keluarga Sterling tidak menerima menantu dari putra musuhnya sendiri!"
Suara Arthur Sterling menggelegar di ruang kerja mansion yang mewah. Alina hanya bisa menggigit bibir, menatap ayahnya dengan sorot mata penuh pemberontakan. "Aku tidak akan pernah mau putus dengannya. Selama ini aku tidak pernah menolak keinginan Ayah, tapi tidak dengan pilihan hidupku," balas Alina tegas. Selama ini, hidupnya sudah seperti burung dalam sangkar emas. Keluarga Sterling adalah dinasti bisnis yang kaku, di mana reputasi lebih berharga daripada nyawa. Hubungan Alina dengan kekasihnya, seorang pria yang ternyata adalah musuh ayahnya, adalah satu-satunya pelarian manis yang ia miliki. Namun, Alina tidak tahu, kalau Julian adalah pria brengsek yang mencoba menghancurkan ayahnya lewat dirinya. Ia hanya memanfaatkan Alina dan berpura-pura tidak memiliki hubungan baik dengan ayahnya, Silas. "Kau mencoba menentang perintahku?" "Ayah tidak bisa mengatur hatiku!" balas Alina bergetar. "Aku bisa mengatur hidupmu! Mulai detik ini, Marvin Vance akan mengawasimu 24 jam. Jangan harap kau bisa melangkah keluar dari mansion ini tanpa izinnya!" Alina melirik pria yang berdiri tegak di sudut ruangan layaknya patung bernyawa. Dia adalah Marvin Vance. Pengawal pribadi yang dikirim agensi keamanan elit untuk menjadi pengawal Arthur sebelumnya. Marvin adalah pria paling dingin dan menyebalkan yang pernah Alina temui saat dia menjadi pengawal ayahnya. Hubungan mereka selama enam bulan terakhir hanyalah sebatas atasan dan bawahan yang kaku, bahkan sering kali penuh adu mulut karena sifat Marvin yang terlalu disiplin dan tidak punya perasaan. Bagi Alina, Marvin bukan penjaga, dia adalah sipir penjara. "Marvin, kemarilah!" panggil Arthur tegas. "Pastikan putriku tidak melakukan tindakan bodoh. Jaga dia dengan ketat. Jika dia kabur, kepalamu taruhannya." "Dimengerti, Tuan," jawab Marvin dengan suara bariton yang datar, tanpa emosi sedikit pun. "Bawa dia ke kamarnya! Awasi dia dan jangan sampai kau lengah!" perintah Arthur lalu segera pergi. Marvin lalu menarik tangan Alina masuk ke dalam kamarnya. "Lepaskan tanganmu, brengsek! Kau tidak berhak menyentuhku!" Alina menyentak lengannya, berusaha melepaskan diri dari cengkeraman Marvin. Pria itu berdiri tegak seperti tembok beton di depan pintu utama mansion Sterling. "Tugasku adalah menjagamu tetap di dalam, Nona Sterling. Aku tidak akan pernah keluar dari sini, kecuali ayahmu yang memintaku," katanya dingin. Matanya yang sedingin es tidak menunjukkan emosi sedikit pun, meski Alina sudah memaki-makinya selama sepuluh menit. "Kau hanya seorang pengawal! Ayahku membayarmu untuk melindungiku, bukan untuk memenjarakanku!" teriak Alina penuh keangkuhan. "Dalam kamusku, perlindungan berarti pengawasan total," balas Marvin. Ia melangkah mendekat, mengintimidasi Alina dengan tinggi badannya. "Dan perintah Tuan Arthur sangat jelas. Anda dilarang menemui Julian. Pria itu adalah putra Silas, musuh bebuyutan keluarga Anda. Dia hanya memanfaatkanmu untuk menghancurkan hidupmu dan ayahmu, bukan untuk memberikan cintanya." "Kau tidak tahu apa-apa tentang Julian! Dan kau atau ayahku tidak berhak mengatur kehidupanku. Dia mencintaiku dan aku mencintainya!" Alina benar-benar frustasi saat semua orang melarang hubungannya dengan Julian. Alina menggeram, matanya berkilat penuh kebencian. "Aku akan membuat Ayah memecatmu malam ini juga!" "Silakan coba," tantang Marvin sebelum melepaskan tangan Alina dan kembali ke posisi siaga. "Sebelum surat pemecatan itu ada di tanganku, kau tidak akan pernah melangkah keluar dari rumah ini. Sebaiknya kau ingat-ingat kataku ini!" *** Hampir satu minggu Alina tak bisa melakukan apapun di rumah itu. Beberapa kali mencoba kabur dengan bantuan Julian pun selalu berakhir gagal. Perlahan, Alina mulai menyadari bahwa ia tak bisa melawan Marvin dengan kekuatan fisik darinya ataupun dari Julian. Akhirnya, ia menyusun rencana yang lebih cerdik. “Argh! Marvin, tolong aku!” pekik Alina kesakitan. Marvin yang berada di luar kamar, langsung berlari masuk begitu mendengar teriakan Alina. "Nona, kau baik-baik saja?" tanya Marvin cemas saat melihat Alina terbaring lemas di ranjang. "Tolong... bawa aku ke dokter. Lambungku sangat sakit," rintih Alina dengan akting yang sempurna. Marvin, yang untuk pertama kalinya terlihat panik, segera mengangkat tubuh Alina dan membawanya ke rumah sakit. Namun, di sanalah bencana dimulai. Saat Marvin lengah karena mengurus administrasi, Alina menyelinap keluar dengan menyamar sebagai perawat. Beruntung saat itu Marvin yang sempat berpapasan dengannya, menyadari bahwa itu Alina yang menyamar jadi perawat. Ia pun segera mengejarnya. Alina akhirnya mencapai parkiran dan langsung memacu mobil sewaannya ke arah dermaga. Napasnya belum juga stabil. Jantungnya berdegup terlalu cepat, seolah tahu ada sesuatu yang tidak beres. Lampu-lampu dermaga berkelip redup, angin malam terasa dingin menusuk kulit. Ia menghentikan mobil dengan sedikit tergesa, lalu keluar sambil menoleh ke segala arah. “Julian?” panggilnya, suaranya nyaris hilang ditelan sepi. Tidak ada jawaban. Yang ada justru suara langkah kaki yang memburu ke arah Alina. "Itu dia! Tangkap gadis itu!" Darah Alina langsung terasa dingin. Refleks, ia berbalik dan berusaha masuk kembali ke dalam mobil. Tangannya gemetar saat mencoba membuka pintu. Namun terlambat. Seseorang menarik lengannya dengan kasar. “Lepaskan aku!” teriaknya, panik. Ia meronta, tapi cengkeraman mereka seperti besi. Beberapa pria bersenjata sudah mengelilinginya. Tatapan mereka dingin, tanpa ragu. “Siapa kalian?!” suara Alina pecah, napasnya terengah. Tidak ada yang menjawab, mereka langsung menyeret Alina ke arah mobil lain. Sepatunya terseret kasar di aspal, rasa takut menjalar hingga ke ujung jarinya. Ia mencoba melawan, tapi tubuhnya kalah kuat. “Lepasakan aku!”pekik Alina. Tiba-tiba— BRAKK! Sebuah SUV hitam menghantam mobil penculik dengan keras, membuat semua orang terkejut. Pintu SUV terbuka, dan Marvin keluar dengan pistol terangkat, matanya tajam seperti pisau. “Lepaskan dia!” suaranya rendah, tapi penuh ancaman. “Atau kalian tidak akan pulang utuh malam ini.” Harapan sempat menyala di mata Alina. “Marvin! Tolong aku!” Namun sekejap kemudian, harapan itu dipaksa padam. Salah satu pria mencengkeram Alina dari belakang dan menodongkan pistol tepat ke pelipisnya. “Jatuhkan senjatamu, atau kepala gadis ini akan pecah!” “M–Marvin …” lirih Alina semakin ketakutan. Marvin membeku. Rahangnya mengeras, matanya penuh amarah… tapi juga ragu. Ia tak punya banyak pilihan. Keselamatan Alina adalah yang terpenting. “Baik…” suara Marvin berat, hampir tak terdengar. Perlahan, ia menjatuhkan pistolnya ke tanah. Kedua tangannya terangkat. “Tapi, jangan sakiti dia.” Namun, detik itu juga sebuah jarum suntik menusuk leher Alina. Dunia mulai berputar. Pandangannya kabur. Tubuhnya melemas tanpa bisa dilawan. Hal terakhir yang ia lihat adalah Marvin yang berteriak dan menerjang, sebelum tubuhnya dihujani pukulan tanpa ampun. *** Aroma besi berkarat dan debu pengap langsung menusuk indera Alina saat kesadarannya kembali. Kepalanya berdenyut hebat, seperti dipukul dari dalam. Ia mencoba bergerak, tapi sia-sia. Pergelangan tangannya terikat kuat pada kursi kayu. “Tolong…” bisiknya serak, nyaris tak terdengar. Dari balik kegelapan, seorang pria berwajah penuh bekas luka melangkah maju. Senyum miringnya dingin, matanya menatap Alina seolah ia bukan manusia… hanya sesuatu yang bisa dipatahkan kapan saja. “Siapa kau?! Lepaskan aku!” suara Alina pecah, panik. Pria itu tidak menjawab. Tatapannya justru beralih saat pintu besi di belakangnya terbuka dengan kasar. Dua pria bertopeng menyeret seseorang masuk. Alina membeku. “Marvin…!” Kemeja hitamnya robek, wajahnya berlumur darah. Tapi matanya… masih tajam, dingin, hidup. “Lepaskan dia,” ucap Marvin berat, suaranya parau namun tetap penuh tekanan. Pria berwajah luka itu terkekeh pelan. “Masih berani memerintahku?” Ia memberi isyarat. Lalu, seorang pria tua berbaju hitam maju dengan tangan gemetar, menggenggam sebuah kitab suci. Dada Alina langsung terasa sesak. “Apa… apa yang kalian lakukan?” suaranya bergetar. Pria itu menatapnya, lalu tersenyum lebih lebar. “Kalian akan menikah. Di sini. Sekarang.” Ia mendekat sedikit, suaranya berubah rendah dan penuh ejekan. “Aku penasaran… bagaimana reaksi Arthur saat tahu putrinya menikah seperti ini dengan pengawalnya sendiri.”Prang!"Siapa?" Alina terkejut saya mendengar suara gaduh di luar.Suara kaca jendela kamar yang pecah mengejutkan Alina. Belum sempat ia berteriak, dua pria bertopeng hitam melompat masuk lewat balkon, langsung menerjang dan membekap mulut Alina rapat-rapat."Siapa kalian?" tanya Alina dengan wajah panik."Jangan teriak atau leher mu terlepas dari badan mu!" ancam salah satu penyusup seraya menempelkan pisau ke leher Alina.Alina meronta histeris di dalam cengkeraman mereka. Satu penyusup lainnya dengan cepat mengikat tangan Alina dan menggeretnya menuju pintu balkon tempat mereka naik."Cepat bawa dia!" perintah salah satu orang di sana.Alina lalu diseret keluar dengan kasar. Namun, belum sempat mereka membawa Alina melompati pembatas balkon, suara langkah kaki tergesa-gesa terdengar menggelegar dari dalam lorong, disusul suara tembakan yang memecah keheningan rumah.Duar!"Lepaskan dia! Atau aku tembak kepala kalian!" teriak Leo yang langsung mendobrak pintu kamar bersama belasan
"Bagus, kau lakukan apa yang aku perintahkan," desis Marvin dengan nada dingin. "Satu hal lagi, Leo. Periksa seluruh ponsel dan akses komunikasi di rumah ini. Putuskan sambungan internet jika perlu. Jangan biarkan ada celah sedikit pun bagi Daniar untuk menghubungi Alina, begitu juga dengan Alina. Jangan sampai dia menghubungi Daniar.""Siap, Tuan Vance. Saya akan segera melaksanakan nya," jawab Leo tegas sebelum menunduk hormat dan berbalik pergi.Marvin masih berdiri terpaku di depan pintu kamar yang terkunci. Tangan kekarnya memegang kenop pintu dengan erat, seolah menyalurkan rasa sakit dan keputusasaan yang menggerogoti dadanya.'Maafkan aku, Alina. Maafkan aku sudah berlaku kasar kepadamu. Aku tidak berniat untuk melakukan itu, semuanya untuk kebaikan mu,' batin Alina dalam hati.Dari balik pintu kayu tebal itu, samar-samar terdengar suara isak tangis Alina yang begitu memilukan.Ia memejamkan mata rapat-rapat. "Tuhan... kenapa terasa sesakit ini?" bisik Marvin parau, menempelka
"Kenapa kau diam, Alina? Jawab aku!" sentak Marvin dengan suara bergetar, menatap sendu wajah istrinya yang enggan menatapnya. "Bicara padaku, Alina! Jangan bersikap seperti ini. Kau membuatku tersiksa."Alina tetap memejamkan mata, memalingkan wajahnya rapat-rapat ke arah jendela. "Sudah tidak ada lagi yang perlu aku bicarakan dengan mu, Marvin. Kau boleh mengunci tubuhku, tapi hatiku sudah mati untukmu. Kau membuatku muak.""Aku tidak peduli! Kau boleh marah denganku, meluapkan kesal mu kepadaku, tapi tolong jangan acuhkan aku, Alina!" raung Marvin frustrasi, memukul sandaran kursi di depannya hingga Leo yang menyetir tersentak kaget. "Walaupun hatimu mati, tubuh mu dan hidup mu tetap milikku! Kau tidak akan pernah bisa lepas dariku! Aku peduli dengan mu, Alina. Aku mencintai mu," ucap Marvin dengan wajah frustasi."Jangan katakan itu cinta, Marvin. Aku sudah muak dengan semua itu. Selama ini kau tidak benar-benar mencintai aku.""Bagaimana caranya aku membuktikan kepadamu, Alina?"
Brak!Marvin memukul kaca mobil dengan telapak tangannya dari luar, menatap Alina yang masih terisak di dalam sebelum berbalik menghadapi Daniar yang ditahan dua pengawalnya."Tuan Vance! Tindakan mu ini sudah masuk pidana penculikan! Kau akan menghadapi tindakan hukum!" teriak Daniar murka, mencoba melepaskan cengkeraman para pengawal.Marvin berjalan santai mendekati Daniar, melipat kedua tangannya di dada dengan senyum sinis."Penculikan? Apa kau sudah tidak waras?" Marvin terkekeh dingin. "Aku membawa istri sah ku pulang ke rumah. Polisi mana yang mau mengurus urusan rumah tangga orang lain, Daniar? Sebaiknya kau jangan pernah ikut campur dengan urusan rumah tanggaku!""Dia sudah mengajukan gugatan cerai, Tuan Vance! Kau tidak berhak untuk memaksanya!" gertak Daniar tajam."Gugatan yang tidak akan pernah sampai ke meja hakim, kau pikir akan aku biarkan hal itu terjadi?" potong Marvin cepat. Ia mencondongkan tubuhnya, berbisik tepat di samping telinga Daniar. "Ingat, kau hanya peng
"Pergi! Aku tidak butuh belas kasihan dari sipir penjara sepertimu!" teriak Alina, tangannya meraba udara dan menjatuhkan nampan bubur hingga isinya berserakan di lantai. Hari-hari di rumah persembunyian menjadi neraka baru bagi Alina. Kegelapan yang menyelimutinya bukan hanya di mata, tapi juga di
Tubuh Marvin terasa semakin lemas, beratnya seperti menarik seluruh kekuatannya pergi perlahan. Dia hampir saja terjatuh, namun masih bisa menahan Alina yang terdiam di pelukannya.Suaranya, suara Leo yang penuh kekhawatiran, menyentuh telinganya. "Marvin... Apa kau baik-baik saja?"Marvin bisa me
Kapal logistik itu membelah ombak di tengah kegelapan malam. Suara mesin kapal yang menderu konstan menjadi satu-satunya musik latar di dek yang dingin itu. Alina masih terduduk di samping Marvin, jemarinya yang gemetar terlihat bersimbah darah oleh darah Marvin.Marvin meringis, kelopak matanya b
Marvin mencoba mengatur napasnya yang mulai berat. Darah yang merembes di punggungnya membuat kesadarannya perlahan menipis, namun ia berusaha untuk tidak tumbang di depan Alina. "Dengarkan aku, Nona Sterling," bisik Marvin, suaranya kembali sedingin es meski wajahnya pucat pasi. Alina memusatka


















Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews