مشاركة

BAB 10

مؤلف: Jw Hasya
last update تاريخ النشر: 2026-09-23 08:09:31

Amira menggantung ucapannya. Kalimat itu membeku di udara, menyisakan keheningan yang makin mencekik. Matanya menatap tajam ke arah potret di dinding—menatap ukiran senyum Arthur yang kini terasa sangat asing yang penuh dengan kebohongan.

Atau jangan-jangan, sejak awal pernikahan ini memang sekadar topeng?

Pertanyaan itu terus berputar, merayap bagai racun yang menggerogoti sisa-sisa kesabarannya. Dengan jemari gemetar dan dada sesak oleh emosi yang membuncah, Amira meraih pigura foto berukuran
استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق
الفصل مغلق

أحدث فصل

  • Bukan Salahku, Jika Salah Ranjang!   BAB 10

    Amira menggantung ucapannya. Kalimat itu membeku di udara, menyisakan keheningan yang makin mencekik. Matanya menatap tajam ke arah potret di dinding—menatap ukiran senyum Arthur yang kini terasa sangat asing yang penuh dengan kebohongan.Atau jangan-jangan, sejak awal pernikahan ini memang sekadar topeng?Pertanyaan itu terus berputar, merayap bagai racun yang menggerogoti sisa-sisa kesabarannya. Dengan jemari gemetar dan dada sesak oleh emosi yang membuncah, Amira meraih pigura foto berukuran sedang di atas meja rias. Potret mereka ketika masih prewedding. Ia menatap wajah Arthur sekali lagi, mencari jejak kehangatan yang mungkin pernah ada, tapi yang ia temukan hanyalah kebohongan yang rapi.PRANG!Pigura itu terlepas, menghantam lantai marmer hingga kacanya berkeping-keping. Amira meremas dadanya yang teramat nyeri, berlutut di antara pecahan kaca yang berserakan. Di tengah isolasi dan ketidakpedulian sang suami, ingatan tentang sentuhan Maxime semalam yang penuh gairah, kehang

  • Bukan Salahku, Jika Salah Ranjang!   BAB 9

    Amira masih berdiri menatap berbagai macam bunga hias di taman belakang. Sesekali ia merutuki ketidakmampuan dirinya dalam mengendalikan diri. Ia membenci kenyataan bahwa dirinya secara sadar, telah melakukan hal melampaui batas dengan kakak iparnya sendiri saat pria itu mabuk berat.Di satu sisi rasa bersalah terus menggerogoti jiwanya, namun di sisi lain ia merasa sosok Arthur tak pernah benar-benar ada untuknya—padahal status mereka adalah sepasang suami istri yang baru saja menikah, bahkan belum genap seminggu.“Kenapa perasaan itu selalu hadir saat melihat dirinya?”“Perasaan apa?”Amira terperanjat mendengar suara yang mendadak menyahuti gumamannya. Ia refleks menoleh, dan lagi-lagi, pandangannya tertambat pada sosok Maxime.Pria itu melangkah mendekat. “Maaf untuk perkataan kasarku tadi,” ucapnya pelan seraya menyodorkan segelas susu hangat. “Minumlah. Aku tahu kau belum makan.”Amira tak langsung menyambutnya. Matanya tertahan pada gelas di tangan Maxime. “Terima kasih, tapi

  • Bukan Salahku, Jika Salah Ranjang!   BAB 8

    Cahaya matahari pagi menyelinap halus melalui celah tirai, jatuh tepat di atas kelopak mata Maxime yang masih terpejam. Pria itu mengernyit ketika rasa hangat yang menusuk mengusik tidurnya, lalu menggerakkan kepala dengan malas sebelum akhirnya kelopak matanya perlahan terbuka. “Aaarrgh …” Maxime mengerang pelan, suara seraknya memecah kesunyian kamar. Kepalanya terasa begitu berat seolah ada godam yang menghantam bagian dalam tengkoraknya tanpa ampun. “Di mana aku?” katanya sambil mencoba melihat sekeliling ruangan. Ia memejamkan mata kembali, berusaha meredakan pening yang makin menjadi-jadi saat memorinya dipaksa bekerja mengingat kejadian semalam. Perlahan, pria itu mengangkat tangan dan memijat pelipisnya yang berdenyut kencang. “Brengsek …” decihnya rendah, napasnya tersengal menahan sakit. Ia baru sadar jika dirinya saat ini tengah berada di dalam kamar pribadinya sendiri. Tenggorokannya tarasa kering. Tubuhnya terasa remuk dan lemas, sementara memori tentang malam t

  • Bukan Salahku, Jika Salah Ranjang!   BAB 7

    Maxime semakin menghimpit tubuh Amira hingga dada lebar pria itu menempel ketat pada bagian depan tubuhnya. Hawa panas yang memancar dari kulit Maxime menembus kain tipis lingerie Amira, membuat napas wanita itu tersengal. “Maxime, lepas! Sadar, Maxime!” seru Amira panik, kedua tangannya berusaha mendorong bahu kekar sang kakak ipar. “Kau mabuk berat! Ingat siapa aku!” Namun, Maxime seolah kehilangan pendengarannya. Matanya yang sayu dipenuhi kabut gairah membara. Pria itu menyusupkan jemarinya yang gemetar ke sela-sela rambut Amira, menariknya perlahan agar wajah wanita itu tetap menengadah ke hadapanya. “Panas ... tolong aku ....” bisik Maxime serak, suara beratnya bergetar tepat di depan bibir Amira. “Siapa pun kau ... bantu aku ....” Pria itu sama sekali tidak menyebut nama Amira, kesadarannya telah hilang sepenuhnya terkikis oleh racun obat perangsang. Tanpa membiarkan Amira membalas, Maxime mendaratkan ciuman liar di ceruk leher Amira. Tali lingerie yang longgar lu

  • Bukan Salahku, Jika Salah Ranjang!   BAB 6

    “Keluarlah. Suamimu sudah pergi.”Maxime masih berdiri santai di ambang pintu, seolah tidak terjadi apa-apa. Tatapannya tetap tenang, tetapi nada suaranya cukup untuk membuat Amira tahu bahwa situasi di luar kamar telah benar-benar berubah.Amira perlahan keluar dari tempat persembunyiannya. Beberapa detik sebelumnya, pendengarannya sempat menangkap percakapan antara Arthur dan Maxime, bahkan ancaman yang dilontarkan suaminya kepada pria itu. Namun, semakin ia mencoba memahami apa yang sebenarnya terjadi, semakin banyak pertanyaan yang justru bermunculan di kepalanya.Begitu sampai di ambang pintu, Amira menghentikan langkah. Tatapannya langsung tertuju pada Maxime yang masih berdiri di hadapannya.“Apa sebenarnya yang kalian sembunyikan dariku?”Tatapan Amira tajam, penuh kecurigaan. Wanita itu berusaha mengembalikan sikapnya seperti semula. Namun, sorot matanya justru mengkhianati kegelisahan yang sejak tadi berusaha ia sembunyikan.Maxime membetulkan posisi berdirinya. Sebelum me

  • Bukan Salahku, Jika Salah Ranjang!   BAB 5

    Amira berusaha mempertahankan ekspresi tenangnya, meskipun jantungnya berdegup semakin tidak beraturan. Wanita itu segera menyelipkan tangan kanannya ke belakang tubuh, menggenggam kancing kecil yang ditemukannya dengan begitu erat hingga ujung-ujung jarinya terasa sakit. Benda kecil itu tidak boleh sampai terlihat oleh Maxime, setidaknya sebelum ia mengetahui apa sebenarnya yang sedang terjadi.Maxime mengangkat sebelah alis. “Memastikan kamarku bersih?”Amira mengangguk. “Ak–aku hanya kebetulan lewat.” Nada suara Amira mendadak sedikit naik.“Lalu, kenapa kau masuk?”Amira menghembuskan napas perlahan, berusaha mengusir kegugupan yang mulai merayapi dadanya. “Karena ada… milikku yang jatuh di kamarmu! Iya!”Maxime bukan orang bodoh. Dari caranya memandang, Amira tahu bahwa pria itu sama sekali belum mempercayai alasannya.“Apa kau sudah selesai melihat-lihat?” tanya Maxime.“Sudah. Aku memang berniat keluar.”“Kalau begitu, kenapa tidak keluar sekarang?”Amira menahan napas sesaat

فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status