登入Jtak! Rian memukul meja komputer dengan kepalan tangannya yang kuat, matanya membelalak saat data pelacakan satelit selesai memproses sinkronisasi akhir. Namun, detik berikutnya, senyum smirk di wajah Rian lenyap tanpa sisa. Keningnya berkerut dalam, menatap baris kode enkripsi yang tiba-tiba berubah warna menjadi merah di layar monitor. "Sialan! Ini data fiktif!" umpat Rian beringas, giginya bergemeletuk menahan dongkol. Rupanya, nomor ponsel rahasia yang sempat terhubung dengan menara pemancar jalan layang Pusat itu sengaja dirancang menggunakan sistem pengalihan IP ganda dari London. Begitu Rian mencoba membongkar server intinya, seluruh data digital itu hancur secara otomatis dan memantulkan identitas acak yang sama sekali tidak merujuk pada nama Clarissa Kensington ataupun pengawal pribadinya. Tim hacker bayaran dari Inggris benar-benar sudah membersihkan seluruh jejak pembantaian tersebut dengan sangat rapi tanpa cacat. "Hebat banget lo, Kensington. Bersih banget mainnya,
"Cukup! Jaga mulut kalian berdua!" potong Viona tegas, melayangkan tatapan sedingin es yang membuat Clarissa dan Angel bungkam seketika. "Kalian berdua sama saja. Hanya peduli pada ego masing-masing saat Alexis bertaruh nyawa di dalam."Viona memutar tubuhnya menghadap Hendra. Wajahnya mengeras tanpa kompromi. "Hendra, amankan koridor ini. Mulai detik ini, tidak ada satu pun orang luar yang boleh mendekati ruang ICU tanpa izin tertulis dariku atau Bapak. Siapa pun itu."Mendengar perintah mutlak The Ice Queen, Clarissa menyeringai menang ke arah Angel. Namun, senyumnya langsung lenyap saat Viona berbalik menatapnya dengan tajam."Itu termasuk kamu, Clarissa," sambung Viona kaku, suaranya ketat tanpa keraguan. "Statusmu belum resmi. Jadi, kamu juga orang luar di sini. Lebih baik kamu kembali ke hotel bersama ayahmu sampai tim dokter memberikan perkembangan terbaru mengenai Alexis."Clarissa melongo tidak percaya, wajah cantiknya memerah menahan malu. "Tapi Mbak Vio, aku ini calon tun
"Clarissa! Cukup!" bentak Viona Permana, memotong pekikan histeris gadis London itu dengan suara yang menggelegar dingin bak hantaman badai es.Aura tiran The Ice Queen bangkit sepenuhnya, membuat koridor VIP rumah sakit seketika senyap mencekam. Sepasang mata jernih Viona berkilat murka, menatap tajam tepat ke arah mata Clarissa yang seketika menciut ketakutan."Ini rumah sakit, tempat adikku sedang bertaruh nyawa di dalam, bukan panggung sirkus atau pasar malam tempat kamu bisa berteriak histeris seperti wanita kurang didikan!" desis Viona ketus, nadanya begitu menusuk, menguliti seluruh sisa keangkuhan aristokrat milik Clarissa dalam satu kedipan mata."Mbak Vio... aku tidak bermaksud—""Diam!" potong Viona mutlak, tidak memberikan celah sedikit pun bagi Clarissa untuk berkelit. "Aku tidak peduli seberapa tinggi kastamu di London, tapi jika kamu berani mengeluarkan satu suara melengking lagi yang mengganggu ketenangan area ICU ini, aku sendiri yang akan menyeretmu keluar dari gedu
"Jika dia memang berniat berjuang, maka dipastikan Tuan Muda bisa sadar kembali. Kita hanya bisa berdoa agar dunianya di bawah alam sadar memicu keinginannya untuk pulang," tambah dokter itu pelan sebelum membungkuk penuh hormat dan berjalan mundur kembali ke area steril.Mendengar penjelasan itu, isak tangis Angel semakin pecah. Dia merosot ke lantai marmer yang dingin, menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangan. Hatinya hancur lebur. Pria yang baru saja memberikan kehangatan dan janji masa depan yang begitu manis semalam, kini harus terbujur kaku tak berdaya di balik dinding kaca ruang ICU.Viona mengepalkan tangannya kuat-kuat hingga buku jarinya memutih, menahan gejolak emosi di balik wajah dinginnya. Sementara itu, wajah Abraham Permana mengeras kaku bak pahatan batu. Amarah seorang penguasa mencuat pekat, mengalahkan rasa sedih yang sempat mampir di hatinya.Abraham merogoh saku kemejanya, menarik keluar ponsel satelit khusus miliknya. Dengan jemari tua yang bergetar hebat
"Semalaman bersamamu?" ulang Viona dengan nada suara yang perlahan merendah. Nada itu sangat dingin, seperti embusan angin malam di kuburan. Langkah kaki Viona maju satu tindak lagi, menekan posisi berdiri Angel hingga wanita berusia 32 tahun itu terpaksa memundurkan punggungnya sampai mepet ke dinding koridor rumah sakit. Sepasang mata jernih Viona yang begitu tajam dan menusuk menatap lurus ke dalam mata Angel, menguliti seluruh sisa keberanian pertahanan mental Angel, hingga dia tidak tahu harus berkata apa saat ini. . "Kamu pikir dengan menyerahkan tubuhmu semalaman di rumah itu, kamu berhak mencampuri urusan hidup dan mati Alexis Permana, Angel?" desis Viona ketus, setiap kata yang keluar dari bibirnya terdengar kejam dan menusuk tepat di ulu hati. "Jangan bermimpi terlalu tinggi. Di mata keluarga kami, kamu tidak lebih dari sekadar pelampiasan nafsu dan mainan pengalih perhatian adikku setelah dia lelah menyamar menjadi orang susah. Statusmu masih istri sah Baron Van Holden
Sirine ambulans memekik bising menembus jalanan Jakarta yang padat, membawa tubuh Alexis Permana yang bersimbah darah. Detak jantung di layar monitor medis berbunyi tidak beraturan. Keadaan di dalam kabin benar-benar menegangkan.Sementara itu, panggilan dari petugas medis akhirnya tersambung ke ruang kontrol Permana Group. Rian, yang sedang memantau pergerakan bursa efek, langsung menyambar panggilan masuk tersebut dengan kening berkerut."Halo, dengan ruang kontrol pusat," sapa Rian formal."Halo! Tolong dengarkan saya! Ini darurat nasional!" suara petugas medis di seberang telepon terdengar sangat bergetar dan histeris. "Kami dari tim medis Rumah Sakit Pusat Jakarta. Tuan Muda Alexis Permana baru saja mengalami kecelakaan mobil parah di bawah jalan layang Pusat! Kondisinya kritis, pendarahan di kepala hebat! Kami sedang menuju rumah sakit sekarang!"Prak!Ponsel di tangan Rian seketika terlepas dan menghantam lantai. Seluruh darah di wajahnya serasa menguap tanpa sisa. Wajahnya puc
"Kamu—" Kalimat Angel menggantung begitu saja di udara.Kata-kata makian yang sudah mengantre di ujung lidahnya mendadak menguar tanpa sisa. Lexi sendiri tidak mundur selangkah pun.Sebaliknya, pria itu justru sengaja memajukan tubuhnya satu senti lagi, lalu sedikit menunduk, membuat dada bidangnya
Baron tertegun mendengar pertanyaan Lexi. Pria kekar itu mengerjapkan matanya beberapa kali, seolah baru saja disadarkan dari lamunan panjang oleh pertanyaan polos dari supir pribadinya. Dia melirik dokumen di tangannya, lalu menatap Angel yang wajahnya kini makin merah padam menahan dongkol."Ya su
Malam harinya, kediaman megah Keluarga Van Holden tampak sunyi. Sinar lampu kristal berpendar temaram, menyinari koridor-koridor sepi rumah mewah berarsitektur kolonial modern tersebut.Lexi, yang baru saja selesai membersihkan diri di paviliun belakang khusus kacung macam dirinya, berjalan santai
Wajah Clara langsung merah padam. Kalimat Lexi tepat menghantam titik paling memalukan dalam sejarah hidupnya. Dia melirik cemas ke arah pria gempal yang menunggunya di dekat lobi, takut kalau pria kaya yang sedang menjadi target dompetnya itu mendengar ucapan Lexi."Jaga mulut kamu ya, Lexi! Itu m