LOGIN"Kamu—" Kalimat Angel menggantung begitu saja di udara.
Kata-kata makian yang sudah mengantre di ujung lidahnya mendadak menguar tanpa sisa. Lexi sendiri tidak mundur selangkah pun.
Sebaliknya, pria itu justru sengaja memajukan tubuhnya satu senti lagi, lalu sedikit menunduk, membuat dada bidangnya hampir menempel sempurna pada dada Angel yang masih naik-turun menahan emosi.
Aroma maskulin yang segar bercampur sisa wangi sabun mandi dari tubuh Lexi mendadak menyerbu indra penciuman Angel.
Sangat dekat.
Begitu dekat hingga Angel bisa merasakan embusan napas hangat Lexi menerpa kening dan permukaan kulit wajahnya.
"Nyonya mau aturan yang seperti apa, hm?" bisik Lexi, suaranya merendah, berubah menjadi menjadi sedikit serak dan berat, yang sialannya terdengar begitu seksi di telinga Angel.
Kedua mata bulat nan indah milik Angel berkedip lambat. Dia benar-benar terdiam untuk beberapa saat.
Seluruh saraf di tubuhnya seolah membeku, terkunci oleh tatapan mata Lexi yang tidak lagi memancarkan binar jahil seperti biasa, melainkan tatapan tajam dan dominan dari seorang pria dewasa.
Empat tahun menikah dengan Baron, Angel tidak pernah sekalipun berada di jarak sedekat ini dengan seorang pria.
Baron selalu bersikap dingin, menjaga jarak, dan memandangnya dengan tatapan penuh beban seolah Angel adalah pajangan rumah yang mengganggu.
Tapi malam ini, supir pribadinya sendiri justru menatapnya dengan tatapan yang begitu intim, sanggup membuat lutut Angel mendadak terasa lemas tak bertenaga.
Sudut mata Lexi turun, melirik sekilas ke arah bibir merah merona Angel yang sedikit terbuka karena syok, sebelum pandangannya kembali mengunci sepasang manik mata nyonya mudanya.
"Atau...," Lexi sengaja menjeda kalimatnya, tangannya yang kekar perlahan bergerak keluar dari saku celana jins, lalu dengan berani terangkat ke atas.
Jari-jari kokoh Lexi bergerak lembut, menyelipkan beberapa helai rambut panjang Angel yang berantakan ke belakang daun telinganya yang mulai memerah panas. Sentuhan kulit kasarnya pada permukaan kulit leher Angel yang halus seketika mengirimkan sengatan listrik tak kasat mata yang membuat tubuh Angel meremang hebat.
"Nyonya sebenarnya cuma gugup karena ini bakal jadi malam pertama kita?" goda Lexi lagi, seulas senyum yang sangat tipis terukir di sudut bibirnya.
Tuduhan telak itu seperti menyiramkan bensin ke dalam ego Angel yang sempat luruh. Kesadarannya ditarik paksa kembali ke kenyataan. Gengsinya yang setinggi langit langsung memberontak hebat.
Sialan, dia baru saja terpesona dan mati kutu di depan kacungnya sendiri!
"Lexi! Lancang sekali tanganmu!" pekik Angel panik, merapatkan tubuhnya ke pintu kamar demi menjauhkan wajahnya dari Lexi. Dia buru-buru menepis tangan Lexi dengan kasar, mencoba mengembalikan sisa-sisa wibawanya yang sudah runtuh berserakan di lantai koridor.
"Jangan bermimpi terlalu tinggi, Supir Bodoh! Aku tidak gugup, apalagi tertarik padamu! Minggir!" Angel mendorong dada bidang Lexi dengan kedua telapak tangannya. Dia bermaksud memutar tubuh dengan cepat untuk membuka pintu kamar tidurnya dan segera kabur dari atmosfer yang mencekik ini.
Namun, karena terburu-buru dan panik yang luar biasa, ujung selop rumah berbulu halus yang dikenakan Angel mendadak slip. Kakinya tergelincir di atas lantai marmer lantai dua yang kebetulan baru saja dipoles mengilat oleh pelayan rumah sore tadi.
Lebih sialnya lagi, gerakan memutar tubuhnya yang mendadak membuat kaki Angel justru menginjak kakinya yang lain.
"Ah—"
Keseimbangan tubuh Angel langsung hilang. Tubuh sintalnya limbung ke belakang dengan cepat, meluncur bebas bersiap menghantam kerasnya lantai marmer koridor yang dingin.
Sebagai pria dengan refleks yang sudah terlatih jauh di atas rata-rata pria lembek lainnya, otak Lexi langsung memproses bahaya dalam hitungan milidetik.
Melihat tubuh aduhai Nyonya mudanya mau jatuh dan bersiap menghantam lantai marmer yang keras, kaki Lexi refleks bergerak maju.
Grep!
Dengan satu gerakan kilat, tangan kanan Lexi melesat maju menyusup ke balik tengkuk Angel, menahan kepala dan punggung atas wanita itu agar tidak membentur dinding atau lantai.
Sementara itu, tangan kiri Lexi yang berniat mencengkeram pinggang Angel justru salah sasaran, justru meleset ke arah lain.
Telapak tangan kekar dan lebar milik Lexi mendarat dengan sangat pas, telak, dan mantap tepat di atas gundukan kenyal sebelah kanan bokong Angel yang padat berisi.
Lebih berengseknya lagi, karena gaun tidur satin merah marun yang dikenakan Angel itu berbahan sangat tipis dan licin, Lexi bisa merasakan dengan sangat jelas kehangatan, kelembutan, sekaligus bentuk bemper montok milik Nyonya mudanya tanpa sekat yang berarti. Jari-jari tangan Lexi bahkan sempat refleks meremas sedikit demi mempertahankan cengkeraman agar tubuh Angel tidak merosot ke bawah.
'Asu! Empuk bener!' batin Lexi menjerit histeris dalam hati. Imannya sebagai laki-laki yang kurang berakhlak pun langsung terguncang hebat sampai ke akar-akarnya.
Di sisi lain, Angel yang sudah memejamkan mata erat-erat sambil bersiap merasakan rasa sakit luar biasa pada punggungnya, mendadak merasa tubuhnya melayang. Sedetik kemudian, dia merasakan kehangatan yang amat sangat pekat mendekap tubuhnya. Alih-alih lantai marmer yang dingin, punggung dan kepalanya justru disangga oleh lengan yang kekar juga kokoh.
Namun, rasa lega Angel hanya bertahan tidak kurang dari satu detik.
Sebab, indra perasa di bagian bawah tubuhnya mendadak mengirimkan sinyal darurat ke otaknya. Ada sebuah telapak tangan besar, hangat, dan terasa sangat asing sedang menempel erat, bahkan keenakan meremas-remas aset berharganya di bagian belakang.
Angel membuka mata bulatnya dengan sempurna.
Wajahnya yang berjarak hanya tiga senti dari dada bidang Lexi langsung mendongak kaku. Detak jantungnya yang tadi berdegup kencang karena panik akibat jatuh, kini justru berdegup sepuluh kali lipat lebih brutal karena posisi mereka yang luar biasa mesum dan intim di koridor sepi itu.
"Lexi... kamu...." Suara Angel tercekat di tenggorokan. Matanya melotot tajam menatap Lexi, bergetar antara syok, malu, dan emosi yang sudah melampaui ubun-ubun.
Lexi sendiri sempat tertegun. Alih-alih buru-buru melepaskan tangan sialannya dari aset berharga sang Nyonya, pemuda itu justru sempat-sempatnya mengulum senyum jahil yang sangat menyebalkan.
"Aduh, Nyonya Angel, saya kan udah bilang tadi, jalannya pelan-pelan saja. Untung refleks supirmu ini sekelas pembalap F1. Kalau tidak, bokong indah Nyonya ini pasti sudah lebam menghantam marmer."
"Lexi, tanganmu... tangan sialanmu itu singkirkan dari bokongku sekarang juga, Supir kurang ajar!" pekik Angel dengan suara melengking tertahan, tidak berani berteriak terlalu kencang karena takut terdengar sampai ke lantai bawah.
Wajah cantiknya kini sudah sewarna dengan merah marun gaun tidurnya, benar-benar matang karena menanggung malu yang luar biasa.
Dia mencoba memberontak, namun cengkeraman tangan Lexi di bokong dan tengkuknya justru membuat tubuh mereka berdua semakin menempel rapat, membiarkan dadanya yang montok tertekan sempurna pada dada bidang Lexi.
"Wah, kalau saya lepas sekarang, Nyonya langsung jatuh bebas ke ubin, lho. Nyonya mau tanggung jawab kalau bokong montok ini kenapa-napa?" goda Lexi asal, urat malunya yang sudah putus membuatnya semakin gencar menikmati momen langka ini.
"Lepas—"
Tanpa membuang waktu satu detik pun, Lexi menghantam pintu besi tangga darurat dengan bahunya hingga terbuka kasar. Langkah kakinya yang dibungkus sepatu pantofel mahal berdentum brutal, menggema di sepanjang lorong tangga beton yang sunyi dan pengap.Napasnya memburu hebat. Jantungnya berdegup begitu kencang, bukan karena kelelahan mendaki belasan lantai, melainkan karena ketakutan setengah mati yang mendadak mencengkeram ulu hatinya. Bayangan perut buncit Angel di rumah sakit pagi tadi terus berputar di kepalanya bagai kaset rusak. Naluri seorang ayah yang baru saja bangkit dari kegelapan amnesia mendorong tubuh tegapnya melampaui batas fisik."Lex! Tunggu, Lex! Jangan nekat sendirian!" teriak Rian yang suaranya sudah terdengar tersengal-sengal, tertinggal beberapa lantai di bawahnya.Lexi tidak memedulikan seruan sahabatnya. Fokusnya terkunci mutlak pada lantai penthouse. Setiap kali kakinya menghentak anak tangga, kemurkaannya pada Abraham dan Viona kian membakar darahnya. Mere
Hendra menyeringai tipis di balik kegelapan ruangan, sama sekali tidak memedulikan rintihan Kevin yang masih terkapar di lantai marmer. Isyarat tangannya bergerak tegas, memerintahkan dua pria berbadan tegap untuk segera membopong Angel yang terus memberontak dengan sisa-sisa tenaganya."Bawa dia sekarang. Jangan buang-buang waktu," desis Hendra dingin.Cengkeraman di kedua pergelangan tangan Angel mengencang. Rasa sakit yang menjalar dari perut bawahnya kian menyiksa, memicu kepanikan yang sangat bagi keselamatan bayi di rahimnya. Namun, di tengah keputusasaan yang mencekik itu, sepasang mata Angel secara refleks melirik ke sudut atas langit-langit dekat pilar mahoni—pada sebuah lensa kecil dengan pendar lampu inframerah yang masih menyala samar berkat daya baterai cadangan independen.CCTV pemantau sensor gerak. Kamera privat yang dipasang khusus oleh Bramantya, langsung terhubung secara real-time ke ponsel pribadi sang penguasa Surabaya."Lepasin gue! Bajingan kalian semua!" teria
Di belahan kota Singapura yang diguyur hujan deras, Alexis Permana tidak lagi memedulikan jalannya rapat pleno bersama Temasek yang seharusnya menjadi tonggak sejarah ekspansi Axis International. Pria itu duduk di ruang tengah apartemen privatnya di Claymore District dengan mata merah menyala, memandangi layar laptop yang terhubung langsung dengan sistem cadangan peretas independen sewaan Tasya [Freshness Guidelines]."Lex, kuncinya udah kebuka," suara Tasya bergetar hebat di samping adiknya. Jemarinya yang gemetar menunjuk ke arah baris rekam medis digital Mount Elizabeth Hospital yang baru saja ditembus paksa.Di sana tertera dengan sangat jelas: Nama Pasien: AngelUsia Kandungan: 28 Minggu (Trimester Ketiga).Deg!Hantaman fakta medis itu seketika meruntuhkan sisa-sisa amnesia di ulu hati Lexi. Logika bisnisnya kini berganti menjadi naluri seorang ayah yang mendadak bangkit secara brutal."Dia... dia bohong," bisik Lexi, suaranya parau, rendah, namun sarat akan kemurkaan tertinggi
Lexi mematung di tengah koridor rumah sakit, napasnya memburu pendek dan kasar. Kedua telapak tangannya mengepal begitu kuat hingga buku-buku jarinya memutih, menahan gemuruh di dadanya yang serasa mau meledak. Hantaman kalimat Angel—dan visual perut buncitnya—bagaikan bom atom yang meruntuhkan seluruh dominasi dan ketenangan yang ia bangun selama enam bulan ini."Pak Lexi, Anda baik-baik saja?" perawat senior di sampingnya bertanya dengan raut cemas yang pekat, melihat perubahan drastis pada wajah sang CEO."Minggir," desis Lexi dingin, suaranya terdengar begitu rendah namun bergetar hebat oleh amarah.Tanpa memedulikan jadwal pemeriksaan kesehatannya yang batal total, Lexi memutar tubuhnya kasar. Langkah kakinya yang tegap kini menghentak lantai koridor dengan cepat, membelah lobi rumah sakit dan langsung menerobos keluar menuju area parkir VIP drop-off."Lex! Lo kenapa? Rapat sama Temasek satu jam lagi—" Rian yang sedang memeriksa draf di lobi bawah langsung bangkit berdiri panik,
Pertanyaan Lexi yang bergetar hebat itu menggantung di udara koridor rumah sakit yang dingin. Atmosfer sunyi di lantai VIP Mount Elizabeth Hospital mendadak terasa begitu pekat dan mencekik.Angel menatap Lexi lurus-lurus. Detik-detik awal keterkejutan di matanya dengan sangat cepat digantikan oleh dinding pertahanan yang luar biasa kokoh. Keangkuhan alaminya sebagai mantan majikan juga putri seorang pengusaha kaya, dipaksa bangkit sepenuhnya untuk menutupi gemuruh di dadanya. Wajah cantiknya kembali berubah menjadi sedingin es, tanpa riak emosi sedikit pun. Dengan gerakan yang anggun, ia menurunkan tangannya dari perut buncitnya, berdiri tegak di hadapan pria yang kini telah menjelma menjadi penguasa baru di Jakarta itu."Bukan urusan Anda, Pak Lexi Permana," jawab Angel, suaranya terdengar begitu datar, formal, dan kosong dari getaran luka masa lalu. "Saya rasa, status medis maupun kehidupan pribadi saya di Singapura sama sekali tidak ada hubungannya dengan ekspansi bisnis Axis I
Pagi itu, Mount Elizabeth Hospital tampak begitu tenang dengan arsitektur modernnya yang megah. Jam dinding di lobi utama menunjukkan pukul sepuluh kurang lima belas menit ketika mobil sedan mewah milik Axis International berhenti tepat di depan lobi VIP drop-off.Lexi Permana melangkah turun dengan setelan jas hitamnya yang rapi dan potongan rambut yang klimis, memancarkan aura wibawa seorang penguasa bisnis baru yang disegani. Tidak ada raut kelelahan di wajah tampannya, meski dia hanya tidur beberapa jam setelah memikirkan strategi ekspansi Axis semalam."Pak Lexi, perwakilan manajemen rumah sakit sudah menunggu di lantai atas untuk mengantar Anda ke ruang Executive Screening," ujar sekretaris lokalnya yang membukakan pintu mobil dengan sikap hormat."Baik. Rian, kamu tunggu di lobi bawah bersama tim legal. Jika ada pesan yang masuk dari tim, langsung kabari saya," perintah Lexi dingin, suaranya yang bariton terdengar begitu tegas tanpa bantahan.Lexi melangkah masuk menembus pintu
Baron tertegun mendengar pertanyaan Lexi. Pria kekar itu mengerjapkan matanya beberapa kali, seolah baru saja disadarkan dari lamunan panjang oleh pertanyaan polos dari supir pribadinya. Dia melirik dokumen di tangannya, lalu menatap Angel yang wajahnya kini makin merah padam menahan dongkol."Ya su
Malam harinya, kediaman megah Keluarga Van Holden tampak sunyi. Sinar lampu kristal berpendar temaram, menyinari koridor-koridor sepi rumah mewah berarsitektur kolonial modern tersebut.Lexi, yang baru saja selesai membersihkan diri di paviliun belakang khusus kacung macam dirinya, berjalan santai
Wajah Clara langsung merah padam. Kalimat Lexi tepat menghantam titik paling memalukan dalam sejarah hidupnya. Dia melirik cemas ke arah pria gempal yang menunggunya di dekat lobi, takut kalau pria kaya yang sedang menjadi target dompetnya itu mendengar ucapan Lexi."Jaga mulut kamu ya, Lexi! Itu m
Mobil Mercedes-Benz hitam itu akhirnya masuk ke area parkir sebuah butik mewah di kawasan elit pusat kota. Begitu mobil berhenti mulus, Angel tidak langsung turun. Dia melirik Lexi lewat spion tengah, merapikan rambutnya sebentar, lalu berdehem pelan."Lexi," panggil Angel. Nadanya sedikit canggung







