Share

Bab 124. Amnesia?

Author: Nona Muda
last update publish date: 2026-08-18 23:04:37

Jtak!

Rian memukul meja komputer dengan kepalan tangannya yang kuat, matanya membelalak saat data pelacakan satelit selesai memproses sinkronisasi akhir. Namun, detik berikutnya, senyum smirk di wajah Rian lenyap tanpa sisa. Keningnya berkerut dalam, menatap baris kode enkripsi yang tiba-tiba berubah warna menjadi merah di layar monitor.

"Sialan! Ini data fiktif!" umpat Rian beringas, giginya bergemeletuk menahan dongkol.

Rupanya, nomor ponsel rahasia yang sempat terhubung dengan menara pema
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • (Bukan) Selingkuhan Biasa   Bab 164. Lexi Makin Gila

    Lexi memutar tubuhnya, berjalan keluar dari restoran dengan langkah lebar yang dipenuhi kemurkaan. Rasa frustrasi karena selalu berselisih waktu beberapa menit dari Angel mulai membakar habis sisa-sisa kesabarannya. Di dalam mobil sewaan, Tasya hanya bisa diam, memperhatikan adiknya yang kini menatap lurus ke depan dengan rahang yang mengatup rapat. "Mbak, kita nggak bisa main kucing-tikus kayak gini terus," desis Lexi, suaranya terdengar begitu rendah dan berbahaya. "Bramantya punya jaringan perimeter yang terlalu rapi di kota ini. Setiap kali gue mengendus keberadaan Angel, cowok itu pasti langsung memindahkan dia lewat pintu belakang." Tasya memundurkan sandaran kursinya, menatap Lexi dengan sebelah alis terangkat. "Terus rencana kamu apa, Lex? Waktu kamu sisa dua hari sebelum pemecatan dan pencabutan hak waris kamu di Jakarta resmi ditandatangani Bapak." Lexi tersenyum sinis, sebuah kilatan taktik bisnis yang kejam mendadak muncul di sepasang mata kelamnya. "Kalau Angel teru

  • (Bukan) Selingkuhan Biasa   Bab 163. Permainan Takdir

    Tasya tertegun, lalu perlahan mengulas senyum tipis melihat binar liar di sepasang mata adiknya. Karakter asli Lexi yang keras kepala dan tak tertundukkan akhirnya kembali, persis seperti sebelum kecelakaan terkutuk itu merenggut kepingan jiwanya. "Oke. Kalau itu mau kamu, Mbak dukung penuh," sahut Tasya, ikut menyambar tasnya. "Informan Mbak bilang, hari ini Angel dijadwalkan meninjau lokasi pembersihan lahan di Surabaya Barat jam sepuluh pagi. Kita ke sana sekarang sebelum Bramantya memperketat barikade pengawalan." Namun, takdir tampaknya gemar mempermainkan garis hidup mereka. Tepat pukul 10.15 WIB, mobil sewaan Lexi dan Tasya tiba di perimeter luar area proyek Surabaya Barat. Gerbang proyek tampak dijaga ketat oleh dua baris pengawal berbadan tegap dengan rompi hitam. Lexi menurunkan kaca mobil, matanya menatap tajam ke arah tenda utama di dalam area sterilisasi. "Maaf, Pak. Area ini tertutup untuk umum atas perintah Bramantya Group," hadang seorang kepala keamanan dengan

  • (Bukan) Selingkuhan Biasa   Bab 162. Ultimatum

    Pukul sebelas malam lewat, roda pesawat komersial yang membawa Lexi dan Tasya akhirnya menyentuh aspal landasan pacu Bandara Internasional Juanda. Begitu melangkah keluar dari garbarata, hawa Surabaya yang cenderung hangat menyergap mereka, namun bagi Lexi, atmosfer kota ini terasa begitu dingin semenjak penolakan keras Angel tempo hari. Tasya bergerak gesit. Berbeda dengan Lexi yang berjalan dalam diam dengan topi hitamnya yang diturunkan rendah, Tasya sibuk memeriksa ponselnya.Dia sengaja tidak memesan hotel berbintang atas nama mereka atau menggunakan fasilitas korporasi yang biasa diakses oleh keluarga Permana. "Kita tidur di rumah singgah milik sahabatku di daerah Dharmahusada, Lex," bisik Tasya seraya menuntun adiknya menuju ke mobil sewaan yang sudah terparkir di area drop-off. "Tempatnya privat, aman dari endusan intel-intelnya Mbak Vio, dan yang paling penting... Bramantya nggak akan tahu kita ada di sana." Lexi hanya mengangguk samar, langsung masuk ke dalam mobil. S

  • (Bukan) Selingkuhan Biasa   Bab 161. Lexi Tetap Milikku!

    Dari balik pembatas kaca steril, Lexi membalikkan tubuhnya sesaat. Ia menurunkan topinya sedikit, menatap lurus ke arah Hendra yang sedang berdebat kusir dengan petugas dengan sorot mata yang penuh kemenangan dan determinasi mutlak."Bilang sama Mbak Vio dan Bapak, Hendra," desis Lexi dari kejauhan, meski suaranya tidak terdengar, namun gerakan bibirnya terbaca jelas oleh Hendra, "aku kembali ke Surabaya."Lexi memutar tubuhnya kembali, melangkah lebar berdampingan dengan Tasya menuju gate keberangkatan pesawat mereka. Langkah kakinya kini terasa jauh lebih mantap. Malam ini, dia akan kembali ke Jawa Timur, siap menembus dinding es milik Angel.....Sementara itu, di waktu yang bersamaan di Jakarta.Atmosfer di dalam salah satu restoran mewah di kawasan mentereng Menteng, Jakarta Pusat, terasa begitu pekat dan mencekam. Di dalam ruangan VIP yang kedap suara, Viona Permana duduk dengan keanggunan yang dingin. Di hadapannya, Clarissa Kensington tampak mengaduk-aduk makanan di piringnya

  • (Bukan) Selingkuhan Biasa   Bab 160. Kabur

    Lexi mendecak ketus, melempar pandangan gusar ke arah jendela Mini Cooper yang mulai berembun. Wajah tampannya tertekuk sempurna, menyiratkan kekesalan yang mendalam akibat ledakan tawa di sampingnya. "Mbak Tasya bisa nggak sih, sehariii aja nggak usah ngeledek aku?" gerutu Lexi dengan nada dongkol yang kentara. " Adiknya lagi pusing setengah mati, terombang-ambing kayak orang bego, malah dijadikan bahan ketawaan. Bagus banget ya punya kakak kayak Mbak." Tasya justru semakin melebarkan senyumannya, sama sekali tidak merasa bersalah setelah puas memojokkan adik lak-lakinya itu. Ia menopang dagu dengan satu tangan di atas setir, menatap Lexi dengan binar mata yang sarat akan kejahilan. "Ya habisnya muka kamu itu lucu banget kalau lagi frustrasi begini, Lex," balas Tasya santai, menepuk bahu tegap Lexi dengan gemas. "Dulu aja sok keren pas pasang badan di depan Bapak demi Angel. Sekarang giliran dikasih dinding es sama dia, langsung ciut dan bingung mau ngapain. Mana Alexis P

  • (Bukan) Selingkuhan Biasa   Bab 159. Aku Harus Bagaimana?

    "Tapi Mbak." Lexi menyela, dahinya berkerut dalam seiring ingatan tentang wajah angkuh Angel di Surabaya kembali berputar di dalam benaknya."Kemarin waktu aku nekat samperin dia langsung di lokasi proyeknya di Surabaya Barat, dia bilang... kami sama sekali nggak saling kenal sebelumnya. Dia bahkan manggil aku 'Pak Alexis' dengan nada yang formal dan datar banget. Pandangan matanya sedingin es, bener-bener kayak orang asing yang lagi keganggu sama krisis identitas aku. Kalau dia emang perempuan yang aku perjuangkan dulu, kenapa dia harus bohong kayak gitu?"Mendengar penuturan adiknya, Tasya bukannya ikut bingung, melainkan justru tertawa renyah. Suara tawa khasnya bergema di dalam kabin Mini Cooper yang sempit itu, memecah ketegangan yang sejak tadi menyelimuti Lexi. Tasya menggeleng-gelengkan kepalanya pelan seolah sudah menduga respons tersebut dari awal."Ya jelaslah dia bakal ngomong kayak gitu, Alexis Permana!" seru Tasya setelah tawanya mereda, menatap Lexi dengan tatapan gemas

  • (Bukan) Selingkuhan Biasa   Bab 8. Salah Remas

    "Kamu—" Kalimat Angel menggantung begitu saja di udara.Kata-kata makian yang sudah mengantre di ujung lidahnya mendadak menguar tanpa sisa. Lexi sendiri tidak mundur selangkah pun.Sebaliknya, pria itu justru sengaja memajukan tubuhnya satu senti lagi, lalu sedikit menunduk, membuat dada bidangnya

  • (Bukan) Selingkuhan Biasa   Bab 7. Tinggal Ngadon Lagi, Enak Kan?

    Baron tertegun mendengar pertanyaan Lexi. Pria kekar itu mengerjapkan matanya beberapa kali, seolah baru saja disadarkan dari lamunan panjang oleh pertanyaan polos dari supir pribadinya. Dia melirik dokumen di tangannya, lalu menatap Angel yang wajahnya kini makin merah padam menahan dongkol."Ya su

  • (Bukan) Selingkuhan Biasa   Bab 6. Surat Perjanjian Menghamili

    Malam harinya, kediaman megah Keluarga Van Holden tampak sunyi. Sinar lampu kristal berpendar temaram, menyinari koridor-koridor sepi rumah mewah berarsitektur kolonial modern tersebut.Lexi, yang baru saja selesai membersihkan diri di paviliun belakang khusus kacung macam dirinya, berjalan santai

  • (Bukan) Selingkuhan Biasa   Bab 5. Sugar Mommy

    Wajah Clara langsung merah padam. Kalimat Lexi tepat menghantam titik paling memalukan dalam sejarah hidupnya. Dia melirik cemas ke arah pria gempal yang menunggunya di dekat lobi, takut kalau pria kaya yang sedang menjadi target dompetnya itu mendengar ucapan Lexi."Jaga mulut kamu ya, Lexi! Itu m

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status