LOGINNatalia yang semula tidak punya apa-apa,, direndahkan, tiba-tiba berubah nasib setelah menjadi istri kedua dari pria yang asal mulanya beristri. Selama delapan tahun menikah, tante Diana yang penyakitan, menjadi lumpuh dan selalu berada di kursi roda. Karena tidak ingin suaminya kesepian dia meminta Natalia untuk jadi istri kedua suaminya. Awalnya Natalia menolak, tapi itu permintaan terakhir tante Diana, orang yang selama ini sangat baik pada dirinya juga keluarga Natalia. Awal pernikahan, Hady bersikap dingin padanya, ketika istrinya meninggalkan pun membutuhkan waktu yang cukup tuk bisa move on. Tapi lama-lama, cintanya pada Natalia berubah tulus, setulus kepada istri pertamanya.
View More"Lepaskan aku!" Teriak Natalia dengan wajah pucat ketakutan. Melihat pria dihadapannya seperti kucing kelaparan.
"Emangnya aku pegang kamu, aku gak apa-apain kamu," ucap pria itu sambil membuka kedua tangannya, bahunya terangkat. Alisnya naik turun. Talia, panggilan dari Natalia, berusaha membuka pintu, yang sengaja pria bernama Reza itu kunci. Matanya yang nakal, terus memperhatikan bagian-bagian tertentu milik Natalia yang begitu berisi. Reza adalah putra dari ayah tiri Talia. Tadi ketemu saat ia pulang kerja dari toko, pemuda itu mengajaknya pulang bareng. Eeh malah di bawa ke rumah yang lama kosong, Talia diseret paksa membuatnya tak berdaya untuk kabur. "Aku harus pulang sekarang!" Talia terus menggoyang handle pintu. Mendekat dan Reza tertawa lepas, tangannya yang kuat menarik baju bagian belakang Talia, hingga terdengar sobekannya. "Reza! Apa-apaan kamu?" bentak Talia berbalik, menyilangkan tangan di dada. Baju belakang sudah sobek, hingga terasa angin menyapa kulit di punggung. wajahnya merah padam, emosi kian menyulut bercampur rada takut. Melihat kulit punggung Natalia yang mulus. Tatapan Reza makin garang dan lapar, Apalagi depannya, pasti lebih .... "Saya sudah lama mendambakan tubuhmu yang molek itu," suaranya yang serak, terdengar sangat mengerikan. "Kamu, jangan macam-macam ya. Aku ini adik sambungmu!" Teriak Talia. Kilatan ketakutan terlukis jelas dari wajah cantiknya. Kaki Talia bergerak mundur, manik matanya yang indah itu, berusaha waspada dengan gerakan Reza yang bisa menyerangnya kapan saja. "Aku tidak akan macam-macam. Jika kau Terima cintaku, Talia." Langkahnya kian mendekat, tatapannya yang lapar kian terpancar jelas. "Itu tidak mungkin, Reza. Kamu anak pak Jul, dan aku gak cinta sama kamu," Sungut Talia. Manik matanya terus waspada, bergerak ketakutan. "Emangnya kenapa? Gak ada salahnya 'kan, toh bukan ksndung," ucap Reza sambil terus maju mendekati Natalia. "Jangan mendekat, kubilang jangan mendekat!" Sergah Talia sambil menggerakan tangannya agar Reza menahan diri. Akan tetapi permintaan Natalia tak diindahkan pemuda yang mengenakan jaket jeans biru itu. Terus saja maju, melihat Natalia ketakutan, nafsunya makin naik. Senyumnya menyeringai. Sambil berusaha menghindar, Talia berkelakar bahkan sumpah serapah, kalau Reza sampai menyentuhnya. Toh kemanapun Talia berlari, Reza ikutin hingga akhirnya ia terjatuh akibat kakinya tersandung. Membuat Reza menyeringai puas. Kian mendekat menangkap kaki Talia yang hendak berdiri cepat. "Tolong! Lepaskan aku ... Tolong ..." Teriak Natalia sambil menggerakan kakinya dari cengkraman Reza. "Teriak lah cantik. Sampai suaramu habispun percuma." Reza tertawa puas. Menarik baju Natalia sekuatnya hingga terlepas. Hingga tersisa dalaman saja yang berwarna biru muda. Menutupi dua daging yang tumbuh begitu indah. Natalia semakin panik, terus berteriak sekencangnya, berharap ada yang mendengar dan menolongnya. "Indah sekali, apalagi kalau semua terlepas!" Reza makin senang. Lidahnya melet-melet, tatapannya bak singa yang siap menerkam mangsa. Kini Talia berusaha memukul, menampar dan menendang-nendang. Namun, tak membuat dirinya terlepas dari kungkungan Reza yang makin menyeringai puas, menarik celana Talia yang terbuat dari bahan. Hingga terlepas sudah. Perasaan yang kian panik, takut dan was-was kian menyeruak dalam hati Talia, menangis. Menjerit juga kata-kata kasar pun terlontarkan, tak membuat dirinya dilepaskan. "Lepaskan, kurang ajar!" Teriak Talia yang hampir kehabisan suara. Bukan cuma suara, tenaga pun mulai melemah, dirinya tidak bisa melawan Reza yang lebih kuat, biarpun sudah banyak luka cakar di kulitnya. Wajahnya pun berkali kena tabok, tidak di rasanya. "Teriak lah, tidak akan ada yang mendengar suaramu ini. Berontaklah sampai kamu lemas hem. Aku suka itu," suara itu terdengar sangat mengerikan bagi Talia. Pemuda itu makin mendekatkan wajahnya untuk bisa menciumi wajah Talia yang berusaha menghindar, bolak-balik, kanan dan kiri. Demi tidak tersentuh, walau kedua tangan dikunci Reza di atas kepalanya. Beberapa meter dari rumah itu, tepatnya di pinggir jalan, terparkir sebuah mobil Mewah berwarna hitam mengkilat. Penumpangnya tampak kebingungan. "Kenapa mobilnya?" tanya seorang pria dari dalam, sambil melihat jarum jam tangan yang melingkar. "Aduh, ban nya kempes, Tuan. Mana gak bawa alat lagi," sahut sang supir sambil mengacak rambutnya yang tidak gatal. "Hubungi bengkel lah." Perintah pria itu yang tiada lain adalah Hady. Ayah sahabatnya Natalia. Supir pun. Segera menghubungi bengkel dan Hady turun dari mobilnya, tatapan pria itu mengarah ke bangunan yang tampak kosong. Perhatiannya tertarik ke arah sana, langkahnya bergerak menuju tempat tersebut. "Mau kemana, Tuan?" tanya sang supir, menatap heran. "Sebentar. Mau ke sana dulu, mau liat-liat," sahut Hady tanpa menoleh supirnya tersebut. Tatapan Hady tetap ke bangunan yang tampak sepi dan tidak terawat tersebut, namun gendang telinganya seolah mendengar sesuatu yang terus menariknya tuk berjalan ke sana. "Tolong ...." "Suara yang meminta tolong," gumamnya. Hingga berdiri di depan sebuah jendela. Hady menajamkan pendengarannya untuk memastikan suara itu. Benar, bukan halusinasi saja. "Lepaskan aku! Dasar keparat. Kurang ajar, an***g kau. Tolong?" Suara itu terdengar lagi. Membuat Hady gegas mendorong jendela, namun terkunci, lari ke pintu sama saja dan suara itu terdengar jauh. Akhirnya balik lagi ke jendela, dan mengambil sebuah kayu balok untuk mendobraknya. Reza terus berusaha biar bisa melancarkan aksinya pada Talia yang makin kehabisan tenaga untuk melawan, tubuhnya hanya mengenakan cd dan kacamata saja, dibawah kungkungan Reza yang tampak siap menyerang. "Tolong ..." Natalia berusaha mendorong wajah Reza dengan satu tangan, agar tak tersentuh oleh pemuda itu. "Cuiiih. Lepaskan aku!" Talia membuang ludahnya ke wajah Reza. Namun. Reza tidak perduli dengan pukulan, cakaran dan jambakkan, ludahan Talia. Tak perduli tangisannya. Malah hasratnya makin tinggi ke langit ke tujuh saja. Makin semangat tuk bisa menggagahi gadis itu, darahnya makin mendidih. Napasnya yang memburu semakin mengerikan buat Talia. Saat tangannya berhasil menarik kacamata penutup gunung Himalaya. Brok, brek. Brak! Seorang laki-laki melompat dari jendela. "Woy! Lepaskan dia!" suara itu dengan cepat menjambak rambut Reza. Ditariknya ke belakang, menjauhi tubuh Talia, DUGH. DUGH, pukulan mengenai dada Reza. Reza pun tak kalah membabibuta menyerang, namun, Hady lebih gesit menghindar. Alangkah kagetnya Hady, saat menajamkan pandangannya ke arah gadis yang kini memeluk lututnya ketakutan, tanpa pakaian, Natalia. Gadis yang cukup ia kenal dengan baik. "Hei, kurang ajar kau, kau apain dia, hah?" Sergah Hady sambil menyerang pemuda itu yang hanya mengenakan sempak bergambar SpongeBob. Sadar, ia tidak akan selamat, bahkan mungkin akan berakhir di terali besi, Reza tunggang langgang melalui jendela. Saat Hady lengah melihat ke arah Talia. Hady tidak perduli pemuda itu kabur begitu saja, saat ini ia utamakan gadis itu yang tampak shock. Mana gak pakai .... "Kamu gak kenapa-napa? Talia. Mana pakaianmu?" Hady mengedarkan pandangannya ke sekitar. Setelah sebelumnya beberapa saat terpaku, melihat keindahan yang terpampang jelas di depan matanya. Dengan cepat. Hady mengambil celana panjang, kacamata yang sudah putus talinya sebelah. Baju, namun baju sudah tidak layak pakai, banget. Talia yang berderai air mata, hanya menggeleng. Dalam hati mengucap syukur, Hady datang tepat waktu. Sebelum ia benar-benar habis riwayat. Hady memunggungi Talia, saat mengenakan pakaiannya. Tapi sadar dengan baju Talia yang sobek, Hady membuka kemejanya. "Pakai kemejaku saja," Titah Hady, berbalik pada Talia yang kebingungan dengan bajunya. "Makasih. Om," ucapnya lirih seraya mengambil kemeja Hady yang langsung berbalik kembali. Tubuh Talia masih shock. Lemas dan tak bertenaga, Hady mengajaknya keluar lewat jendela tadi tanpa banyak bertanya. "Pelan aja jalannya. Kuat gak?" tanyanya sambil merangkul bahu Talia. "Lututku, lemas sekali. Om, makasih ya Om," lirihnya kembali. "Jangan banyak bicara dulu," lirih Hady. Setelah berada di luar rumah, tanpa pikir panjang Hady menggendong tubuh Talia ala bridal style. Kaget, tapi Talia tak bersuara, refleks melingkarkan tangan di pundak Hady. Pikirannya masih kacau balau. Namun, sebelum sampai mobil, datang beberapa warga meneriaki Hady dan Talia. BERSAMBUNG"Aku baru tahu mantanmu itu," kata Galih sambil melirik Celia."Emangnya kenapa? Gantengan kamu, ya?" balas Celia dengan senyum jahil."Hahaha ... tahu aja aku mau bilang gitu," ujar Galih terkekeh."Huuuh, emang paling bisa ngejek orang kamu itu," gerutu Celia seraya mencubit pinggang Galih.Galih langsung meringis dibuatnya. Tak mau kalah, ia menjepit hidung Celia dengan gemas. Beberapa menit kemudian, Putri merengek meminta digendong oleh Galih."Hmm, udah capek, ya, mainnya?" ucap Galih sambil menggendong Putri.******Tempat pertama yang Icha kunjungi adalah makam sang kakak, Diana. Ia berlutut di hadapan pusara, lalu bersimpuh mencium batu nisan setelah menaburkan bunga di atasnya."Assalamu'alaikum. Kak Diana, maafin aku baru datang ke sini. Tapi aku sering mengirim hadiah untukmu," ucap Icha dengan suara lirih, diiringi deraian air mata yang sulit ia bendung."Kak, lihat aku. Adikmu ini sudah mulai mengubah diri dari yang sebelumnya. Insyaallah aku akan menjadi lebih baik, dan
Setelah berbincang soal pernikahan. Yang akan dilaksanakab beberapa bulan lagi, akhirnya mereka pun mengalihkan obrolan yang lebih santai. ----Di sebuah pondok pesantren yang jauh dari hiruk-pikuk kota, angin sejuk berembus lembut di antara pepohonan. Lantunan ayat suci Al-Qur'an terdengar dari berbagai sudut, menenangkan siapa saja yang mendengarnya.Rupanya, icha pun tinggal di sana. Tak ada lagi sosok Icha yang dahulu dikenal dengan amarah dan dendam. Kini ia tampil sederhana. Gamis longgar berwarna cokelat muda membalut tubuhnya, sementara hijab syar'i menutupi rambut hingga dadanya. Wajahnya tampak lebih teduh. Usai mengikuti halaqah, Icha duduk bersama beberapa santriwati di beranda masjid pondok."Alhamdulillah, hari ini kita bisa mengkhatamkan tafsir surat Yasin," ucap salah seorang santriwati sambil tersenyum."Masyaallah. Semoga Allah menjaga keistiqamahan kita, ya," sahut yang lain.Icha menganggukkan kepala pelan. "Aamiin."Seorang ustazah yang membimbing mereka mengham
Setelah mendengar kesungguhan hati Galih, Hady mengembuskan napas pelan. Tatapannya bergantian mengarah kepada Galih dan Celia, putrinya. "Galih," ucap Hady dengan tenang, "Om ini, sebagai orang tua hanya bisa memberikan restu dan doa. Tapi untuk menerima atau tidak lamaran ini, keputusan tetap ada di tangan Celia." Semua mata langsung tertuju pada Celia. Wanita itu tersenyum haru. Matanya berkaca-kaca menatap Galih yang nampak tulus. "Papah ..." suara Celia bergetar. "Aku sudah memikirkannya baik-baik." Hening, dan setiap orang yang berada di sana dengan jelas kerasa penasaran, diterima atau ditolak. Meskipun sepertinya sekitar 90% pasti diterima, tetap saja rasanya penasaran. Celia menarik napas sebelum melanjutkan perkataannya. "Aku menerima Galih. Dengan sepenuh hatiku." Seketika senyum lebar menghiasi wajah Galih. Talia yang duduk di samping Hady ikut mengusap sudut matanya yang mulai basah, jadi teeharu. "Alhamdulillah ..." bisik Talia penuh syukur. "Melihat Celia bah
Di sisi lain, Fatiya merangkak ke sana kemari sambil tertawa riang, bermain dengan macam boneka dan bola di sekitarnya, membuat suasana rumah terasa begitu berwarna. Tanpa Talia dan Hady sadari, dari balik pintu yang sedikit terbuka, berdiri seorang wanita dewasa dengan gaun elegan. Dia, adalah Sera. Sebuah tas bermerek menggantung di lengannya. Tatapannya terpaku pada pemandangan yang mampu membuat hatinya pilu. Pelukan hangat dan kecupan mesra Hady kepada Talia. Tatapan penuh cinta yang kini telah kembali. Semua itu menusuk hatinya tanpa ampun. Perlahan senyum tipis yang sejak tadi dipaksakan menghilang. Kedua matanya mulai berkaca-kaca. "Jadi ... ini akhirnya," batinnya lirih. "Ingatanmu benar-benar sudah kembali, Hady." Wanita itu menggenggam erat tali tasnya hingga buku-buku jarinya memutih. "Aku terlambat ... aku telah gagal." Suaranya bergetar pelan, nyaris tak terdengar. "Padahal aku kira ... masih ada kesempatan buat aku memiliki kamu." Ia menundukkan kepala, mem
Suara sebuah mobil yang berhenti mendadak. Namun karena kaget, tubuh Talia terjatuh di pinggir jalan. "Talia. Dirimu tidak kenapa-napa?" Suara itu dengan cepat turun dari mobil, tanpa perdulikan air hujan yang begitu deras. Talia mendongak, terkejut juga melihat sosok yang hendak ia cari malah
Sejenak. Talia menghentikan aktifitasnya. Kebetulan di sana hanya ada dirinya juga perempuan itu, yang tiada lain dan tiada bukan adalah adik dari Diana. Yang bernama Icha. "Tante Icha!" "Aku sangat kecewa. Kenapa Diana malah memilih dirimu tuk dijadikan madunya!" ujarnya dengan nada sangat sini
"Ibu," panggil Talia sambil mendudukan dirinya, mengusap wajah dengan kedua telapa tangan. "Sekarang bilang sama ibu, apa yang sebenarnya terjadi?" Selidik sang ibu menatap serius. "Apakah ibu akan percaya sama aku? Sementara ibu lebih memilih mereka," seru Talia dengan nada kecewa. "Talia. Ib
Tentunya bikin Hady dan Talia kaget, Hady dengan perlahan menurunkan tubuh Talia. Berusaha tenang menghadapi mereka semua. Warga, mengira kalau Hady lah yang berbuat mesum pada gadis itu, rupanya Reza sudah menghasut warga di sana dan membalikan fakta yang sebenarnya. "Kurang ajar, picik banget
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.