Compartilhar

Bab 5. Sugar Mommy

Autor: Nona Muda
last update Data de publicação: 2026-05-25 23:42:06

Wajah Clara langsung merah padam. Kalimat Lexi tepat menghantam titik paling memalukan dalam sejarah hidupnya. Dia melirik cemas ke arah pria gempal yang menunggunya di dekat lobi, takut kalau pria kaya yang sedang menjadi target dompetnya itu mendengar ucapan Lexi.

"Jaga mulut kamu ya, Lexi! Itu masa lalu!" desis Clara dengan suara tertahan, matanya melotot tajam.

"Lagian, keputusan aku buat ninggalin kamu dulu itu ternyata emang bener seratus persen! Coba bayangin kalau aku masih sama kamu? Aku pasti bakal ikut melarat, hidup susah, dan nggak bakal bisa belanja di butik mewah kayak gini! Keputusan aku milih cowok lain yang punya modal itu udah paling tepat!"

Lexi mengangguk-angguk kecil, wajahnya sama sekali tidak memperlihatkan rasa sakit hati.

Kebenaran tentang siapa dirinya yang sebenarnya membuat seluruh hinaan Clara terasa seperti lawakan garing di siang bolong.

"Oh, jadi standar kebahagiaanmu sekarang cuma sebatas bisa belanja di butik ini pakai duit bapak-bapak itu? Baguslah kalau begitu. Semoga langgeng ya, sebelum dia tahu hobi lamamu yang suka berbagi lendir di atas kasur."

"Kamu—" Clara mengangkat telunjuknya, hendak memaki Lexi lebih keras karena merasa kalah telak dalam adu mulut.

Namun, sebelum Clara sempat melontarkan makian tambahannya, sebuah suara langkah kaki yang anggun namun tegas terdengar mendekat dari arah belakang mereka.

Aroma parfum mahal yang sangat familier di hidung Lexi mendadak merebak, mengalahkan bau asap tembakau.

"Lexi! Siapa perempuan ini? Kenapa kamu malah asyik mengobrol dan bikin aku nunggu sih!"

Lexi dan Clara spontan menoleh. Angel Van Holden sudah berdiri di sana. Wanita itu tampaknya batal masuk ke dalam butik karena ada barangnya yang tertinggal di mobil, atau mungkin dia sengaja keluar lagi setelah melihat supir pribadinya sedang didekati wanita lain dari kaca jendela butik.

Angel berdiri dengan gayanya yang angkuh, kacamata hitam sudah bertengger di hidungnya, dan tangannya terlipat di dada, memancarkan aura intimidasi yang sangat pekat sebagai Nyonya besar.

Clara sempat tertegun melihat penampilan Angel yang luar biasa cantik dan mengenakan pakaian serta aksesoris yang jauh lebih mahal daripada miliknya. Ada rasa minder yang mendadak menyerang mental Clara secara instan.

"Nyonya Angel," Lexi langsung mengubah posisinya menjadi membungkuk sopan, kembali ke mode supir penurut. "Maafkan saya. Ini cuma orang asing yang kebetulan salah alamat dan nanya jalan ke saya."

"Salah alamat?" Angel menurunkan sedikit kacamata hitamnya, menatap Clara dari ujung kepala sampai ujung kaki dengan pandangan menilai yang sangat dingin dan merendahkan.

Sebagai wanita sosialita kelas atas, Angel tahu betul mana barang bermerek asli dan mana wanita yang berdandan berlebihan demi terlihat kaya seperti Clara.

"Selera bertanyanya aneh sekali. Kenapa harus bertanya pada supirku? Dan kamu, perempuan asing, kenapa melihat supirku dengan tatapan seperti itu? Kamu mau menggoda supir pribadiku, ya?" tuduh Angel tanpa permisi.

Clara yang merasa harga dirinya diinjak-injak di depan Lexi mencoba membela diri dengan terbata-bata, "E-eh, bukan begitu, Mbak... maksud saya, Nyonya. Saya kenal sama dia, dia ini cuma mantan saya yang—"

"Aku tidak peduli dia mantanmu atau bukan," potong Angel dengan nada ketus yang sanggup membekukan udara siang itu. Dia melangkah maju, berdiri tepat di samping Lexi seolah sedang menandai wilayah kekuasaannya, lalu jari telunjuk mengarah ke dada Clara, ditekannya dengan cukup kuat.

"Sekarang yang jelas, dia adalah supir pribadiku. Waktunya adalah milikku karena aku yang membayarnya. Jadi, jangan lancang mengganggunya saat dia sedang bertugas untukku. Mengerti?"

Clara menggigit bibir bawahnya kuat-kuat. Rasa malu dan dongkolnya sudah mencapai puncaknya.

Dia melirik Lexi yang saat ini malah sedang menunduk sambil menyembunyikan senyum gelinya di balik punggung Angel.

‘Halah, paling juga si Lexi jual diri sama tante-tante kaya raya. Supir katanya? Iya, nyupirin di ranjang,’ umpat Clara dalam hati.

"Baik, maaf mengganggu," ujar Clara ketus, lalu berbalik dan berjalan cepat kembali ke arah pria gempalnya dengan perasaan malu yang luar biasa.

Setelah Clara pergi jauh, Angel membalikkan tubuhnya menghadap Lexi. Dia melipat tangannya kembali, menatap supirnya dengan pandangan menginterogasi.

"Mantan kekasih, hm? Seleramu murahan sekali, Lexi. Perempuan seperti itu yang dulu membuatmu jatuh cinta?"

Lexi mendongak, menatap mata indah Angel di balik kacamata hitamnya dengan senyuman jahil yang perlahan kembali muncul. Sumpah, kenapa Angel makin cantik ya, kalau lagi marah-marah begini?

Hati Abang jadi deg-degan, Dek!

‘Jangan-jangan si Nyonya beneran suka sama gue kali ya? Sama Clara nyolot-nyolot posesif gitu,’ pikir Lexi dengan pedenya.

"Namanya juga masa lalu, Nyonya. Dulu saya belum pintar memilih. Tapi sekarang, setelah bekerja dengan Nyonya, standar saya kan langsung naik drastis. Apalagi sekarang saya sudah mendaftar jadi calon simpanan tetap Nyonya yang seksi ini," sahut Lexi asal, tidak peduli dengan kedua mata bulat nan indah milik Angel yang kembali memelototinya.

"Lexi! Tutup mulut lancangmu itu atau kupotong gajimu!" pekik Angel, wajahnya yang tadi putih bersih langsung merona merah akibat godaan sialan dari Lexi. Dia berbalik dengan cepat untuk menyembunyikan salah tingkahnya, "ambilkan tas kecilku yang tertinggal di bawah jok tengah! Cepat!"

"Siap, Nyonya Calon Sugar Mommy-ku yang galak," sahut Lexi setengah berbisik, berjalan menuju pintu mobil dengan hati yang luar biasa puas.

Continue a ler este livro gratuitamente
Escaneie o código para baixar o App

Último capítulo

  • (Bukan) Selingkuhan Biasa   Bab 180. Digrebek

    Di belahan kota Singapura yang diguyur hujan deras, Alexis Permana tidak lagi memedulikan jalannya rapat pleno bersama Temasek yang seharusnya menjadi tonggak sejarah ekspansi Axis International. Pria itu duduk di ruang tengah apartemen privatnya di Claymore District dengan mata merah menyala, memandangi layar laptop yang terhubung langsung dengan sistem cadangan peretas independen sewaan Tasya [Freshness Guidelines]."Lex, kuncinya udah kebuka," suara Tasya bergetar hebat di samping adiknya. Jemarinya yang gemetar menunjuk ke arah baris rekam medis digital Mount Elizabeth Hospital yang baru saja ditembus paksa.Di sana tertera dengan sangat jelas: Nama Pasien: AngelUsia Kandungan: 28 Minggu (Trimester Ketiga).Deg!Hantaman fakta medis itu seketika meruntuhkan sisa-sisa amnesia di ulu hati Lexi. Logika bisnisnya kini berganti menjadi naluri seorang ayah yang mendadak bangkit secara brutal."Dia... dia bohong," bisik Lexi, suaranya parau, rendah, namun sarat akan kemurkaan tertinggi

  • (Bukan) Selingkuhan Biasa   Bab 179. Murka

    Lexi mematung di tengah koridor rumah sakit, napasnya memburu pendek dan kasar. Kedua telapak tangannya mengepal begitu kuat hingga buku-buku jarinya memutih, menahan gemuruh di dadanya yang serasa mau meledak. Hantaman kalimat Angel—dan visual perut buncitnya—bagaikan bom atom yang meruntuhkan seluruh dominasi dan ketenangan yang ia bangun selama enam bulan ini."Pak Lexi, Anda baik-baik saja?" perawat senior di sampingnya bertanya dengan raut cemas yang pekat, melihat perubahan drastis pada wajah sang CEO."Minggir," desis Lexi dingin, suaranya terdengar begitu rendah namun bergetar hebat oleh amarah.Tanpa memedulikan jadwal pemeriksaan kesehatannya yang batal total, Lexi memutar tubuhnya kasar. Langkah kakinya yang tegap kini menghentak lantai koridor dengan cepat, membelah lobi rumah sakit dan langsung menerobos keluar menuju area parkir VIP drop-off."Lex! Lo kenapa? Rapat sama Temasek satu jam lagi—" Rian yang sedang memeriksa draf di lobi bawah langsung bangkit berdiri panik,

  • (Bukan) Selingkuhan Biasa   Bab 178. Diacuhkan

    Pertanyaan Lexi yang bergetar hebat itu menggantung di udara koridor rumah sakit yang dingin. Atmosfer sunyi di lantai VIP Mount Elizabeth Hospital mendadak terasa begitu pekat dan mencekik.Angel menatap Lexi lurus-lurus. Detik-detik awal keterkejutan di matanya dengan sangat cepat digantikan oleh dinding pertahanan yang luar biasa kokoh. Keangkuhan alaminya sebagai mantan majikan juga putri seorang pengusaha kaya, dipaksa bangkit sepenuhnya untuk menutupi gemuruh di dadanya. Wajah cantiknya kembali berubah menjadi sedingin es, tanpa riak emosi sedikit pun. Dengan gerakan yang anggun, ia menurunkan tangannya dari perut buncitnya, berdiri tegak di hadapan pria yang kini telah menjelma menjadi penguasa baru di Jakarta itu."Bukan urusan Anda, Pak Lexi Permana," jawab Angel, suaranya terdengar begitu datar, formal, dan kosong dari getaran luka masa lalu. "Saya rasa, status medis maupun kehidupan pribadi saya di Singapura sama sekali tidak ada hubungannya dengan ekspansi bisnis Axis I

  • (Bukan) Selingkuhan Biasa   Bab 177. Anak Siapa?

    Pagi itu, Mount Elizabeth Hospital tampak begitu tenang dengan arsitektur modernnya yang megah. Jam dinding di lobi utama menunjukkan pukul sepuluh kurang lima belas menit ketika mobil sedan mewah milik Axis International berhenti tepat di depan lobi VIP drop-off.Lexi Permana melangkah turun dengan setelan jas hitamnya yang rapi dan potongan rambut yang klimis, memancarkan aura wibawa seorang penguasa bisnis baru yang disegani. Tidak ada raut kelelahan di wajah tampannya, meski dia hanya tidur beberapa jam setelah memikirkan strategi ekspansi Axis semalam."Pak Lexi, perwakilan manajemen rumah sakit sudah menunggu di lantai atas untuk mengantar Anda ke ruang Executive Screening," ujar sekretaris lokalnya yang membukakan pintu mobil dengan sikap hormat."Baik. Rian, kamu tunggu di lobi bawah bersama tim legal. Jika ada pesan yang masuk dari tim, langsung kabari saya," perintah Lexi dingin, suaranya yang bariton terdengar begitu tegas tanpa bantahan.Lexi melangkah masuk menembus pintu

  • (Bukan) Selingkuhan Biasa   Bab 176. Singapura

    Viona Permana tidak membuang waktu. Kejengkelannya yang memuncak setelah ditegur keras oleh Abraham justru memicu kepanikan yang membuatnya bertindak nekat. Baginya, jika Lexi dibiarkan terus mendominasi pasar Jakarta dan memperluas cakar bisnisnya hingga ke Singapura, posisinya di Permana Group akan runtuh total dalam hitungan bulan."Hendra, kamu berangkat ke Singapura malam ini juga," perintah Viona dingin, suaranya merendah menjadi bisikan yang sarat akan racun."Gunakan paspor sekundermu. Jangan sampai ada satu pun mata-mata Tasya atau Rian di bandara yang mencium keberangkatanmu."Hendra menegakkan posisinya, menatap Viona dengan patuh. "Baik, Ibu Viona. Apa fokus utama saya di sana?""Wanita bernama Angel," desis Viona, matanya berkilat kejam. "Cari tahu di mana apartemennya, apa saja aktivitasnya, dan siapa saja yang dia temui selain Bramantya.""Mantan Nyonya Van Holden itu tidak mungkin mendadak pindah ke Singapura dan melepas proyek Surabaya begitu saja tanpa ada alasan yan

  • (Bukan) Selingkuhan Biasa   Bab 175. Lexi Mulai Bangkit

    Di dalam ruang kerja utama kantor pusat Permana Group di Jakarta, suasana terasa begitu mencekam hingga para staf administrasi di luar ruangan tidak ada yang berani bernapas terlalu keras.BRAK!Viona Permana membanting sebuah map dokumen tebal ke atas meja kerja mahoninya dengan sangat kasar, membuat cangkir teh porselen di sudut meja berdenting nyaring. Wajah cantiknya yang biasa terpoles rapi dengan ekspresi sedingin es kini tampak memerah, menyiratkan kejengkelan dan kemurkaan yang sudah berada di ambang batas."Bagaimana mungkin kita bisa kalah lagi dari Axis Infrastructure, Hendra?!" suara Viona mendesis tajam, matanya menyipit dengan kilatan amarah yang membakar. "Ini proyek tender perluasan sirkuit logistik nasional! Kita sudah memegang jalur ini selama lima tahun! Kenapa kementerian justru meloloskan proposal perusahaan bentukan kemarin sore itu?!"Hendra yang berdiri tegak di hadapan Viona hanya bisa menundukkan kepalanya sedalam-dalamnya. Pelipis kepala keamanan itu tampak

  • (Bukan) Selingkuhan Biasa   Bab 3. Rahasia Baron

    Sementara Mercedes-Benz hitam yang membawa Angel dan Lexi melaju pergi meninggalkan rumah, di belahan kota yang lain, suasana di dalam ruangan kerja Direktur Utama Van Holden Group justru terasa sangat sunyi seperti berada di area kuburan.Ruangan luas itu dilapisi dinding kaca besar yang langsung

  • (Bukan) Selingkuhan Biasa   Bab 2. Pejantan Tangguh!

    Setelah keluar dari ruang kerja Baron, Lexi berjalan menuju area belakang yang sepi, di dekat garasi mobil mewah.Dia merogoh kantong celananya, mengeluarkan ponsel yang layarnya sudah sedikit retak, lalu menekan sebuah nomor yang sengaja dia simpan untuk keadaan darurat tertentu terkait masa lalun

  • (Bukan) Selingkuhan Biasa   Bab 1. Diminta Menghamili Nyonya Muda

    "Lexi, kalau kau bisa menghamili istriku, aku akan memberikan sejumlah uang yang cukup untuk biaya hidupmu seumur hidup!” Sesuara yang familier tiba-tiba saja berteriak ke arah Lexi, supir pribadi yang tampan milik Keluarga Van Holden.Lexi yang sedang mencuci mobil di halaman, langsung menoleh ke

  • (Bukan) Selingkuhan Biasa   Bab 8. Salah Remas

    "Kamu—" Kalimat Angel menggantung begitu saja di udara.Kata-kata makian yang sudah mengantre di ujung lidahnya mendadak menguar tanpa sisa. Lexi sendiri tidak mundur selangkah pun.Sebaliknya, pria itu justru sengaja memajukan tubuhnya satu senti lagi, lalu sedikit menunduk, membuat dada bidangnya

Mais capítulos
Explore e leia bons romances gratuitamente
Acesso gratuito a um vasto número de bons romances no app GoodNovel. Baixe os livros que você gosta e leia em qualquer lugar e a qualquer hora.
Leia livros gratuitamente no app
ESCANEIE O CÓDIGO PARA LER NO APP
DMCA.com Protection Status