LOGINWajah Clara langsung merah padam. Kalimat Lexi tepat menghantam titik paling memalukan dalam sejarah hidupnya. Dia melirik cemas ke arah pria gempal yang menunggunya di dekat lobi, takut kalau pria kaya yang sedang menjadi target dompetnya itu mendengar ucapan Lexi.
"Jaga mulut kamu ya, Lexi! Itu masa lalu!" desis Clara dengan suara tertahan, matanya melotot tajam. "Lagian, keputusan aku buat ninggalin kamu dulu itu ternyata emang bener seratus persen! Coba bayangin kalau aku masih sama kamu? Aku pasti bakal ikut melarat, hidup susah, dan nggak bakal bisa belanja di butik mewah kayak gini! Keputusan aku milih cowok lain yang punya modal itu udah paling tepat!" Lexi mengangguk-angguk kecil, wajahnya sama sekali tidak memperlihatkan rasa sakit hati. Kebenaran tentang siapa dirinya yang sebenarnya membuat seluruh hinaan Clara terasa seperti lawakan garing di siang bolong. "Oh, jadi standar kebahagiaanmu sekarang cuma sebatas bisa belanja di butik ini pakai duit bapak-bapak itu? Baguslah kalau begitu. Semoga langgeng ya, sebelum dia tahu hobi lamamu yang suka berbagi lendir di atas kasur." "Kamu—" Clara mengangkat telunjuknya, hendak memaki Lexi lebih keras karena merasa kalah telak dalam adu mulut. Namun, sebelum Clara sempat melontarkan makian tambahannya, sebuah suara langkah kaki yang anggun namun tegas terdengar mendekat dari arah belakang mereka. Aroma parfum mahal yang sangat familier di hidung Lexi mendadak merebak, mengalahkan bau asap tembakau. "Lexi! Siapa perempuan ini? Kenapa kamu malah asyik mengobrol dan bikin aku nunggu sih!" Lexi dan Clara spontan menoleh. Angel Van Holden sudah berdiri di sana. Wanita itu tampaknya batal masuk ke dalam butik karena ada barangnya yang tertinggal di mobil, atau mungkin dia sengaja keluar lagi setelah melihat supir pribadinya sedang didekati wanita lain dari kaca jendela butik. Angel berdiri dengan gayanya yang angkuh, kacamata hitam sudah bertengger di hidungnya, dan tangannya terlipat di dada, memancarkan aura intimidasi yang sangat pekat sebagai Nyonya besar. Clara sempat tertegun melihat penampilan Angel yang luar biasa cantik dan mengenakan pakaian serta aksesoris yang jauh lebih mahal daripada miliknya. Ada rasa minder yang mendadak menyerang mental Clara secara instan. "Nyonya Angel," Lexi langsung mengubah posisinya menjadi membungkuk sopan, kembali ke mode supir penurut. "Maafkan saya. Ini cuma orang asing yang kebetulan salah alamat dan nanya jalan ke saya." "Salah alamat?" Angel menurunkan sedikit kacamata hitamnya, menatap Clara dari ujung kepala sampai ujung kaki dengan pandangan menilai yang sangat dingin dan merendahkan. Sebagai wanita sosialita kelas atas, Angel tahu betul mana barang bermerek asli dan mana wanita yang berdandan berlebihan demi terlihat kaya seperti Clara. "Selera bertanyanya aneh sekali. Kenapa harus bertanya pada supirku? Dan kamu, perempuan asing, kenapa melihat supirku dengan tatapan seperti itu? Kamu mau menggoda supir pribadiku, ya?" tuduh Angel tanpa permisi. Clara yang merasa harga dirinya diinjak-injak di depan Lexi mencoba membela diri dengan terbata-bata, "E-eh, bukan begitu, Mbak... maksud saya, Nyonya. Saya kenal sama dia, dia ini cuma mantan saya yang—" "Aku tidak peduli dia mantanmu atau bukan," potong Angel dengan nada ketus yang sanggup membekukan udara siang itu. Dia melangkah maju, berdiri tepat di samping Lexi seolah sedang menandai wilayah kekuasaannya, lalu jari telunjuk mengarah ke dada Clara, ditekannya dengan cukup kuat. "Sekarang yang jelas, dia adalah supir pribadiku. Waktunya adalah milikku karena aku yang membayarnya. Jadi, jangan lancang mengganggunya saat dia sedang bertugas untukku. Mengerti?" Clara menggigit bibir bawahnya kuat-kuat. Rasa malu dan dongkolnya sudah mencapai puncaknya. Dia melirik Lexi yang saat ini malah sedang menunduk sambil menyembunyikan senyum gelinya di balik punggung Angel. ‘Halah, paling juga si Lexi jual diri sama tante-tante kaya raya. Supir katanya? Iya, nyupirin di ranjang,’ umpat Clara dalam hati. "Baik, maaf mengganggu," ujar Clara ketus, lalu berbalik dan berjalan cepat kembali ke arah pria gempalnya dengan perasaan malu yang luar biasa. Setelah Clara pergi jauh, Angel membalikkan tubuhnya menghadap Lexi. Dia melipat tangannya kembali, menatap supirnya dengan pandangan menginterogasi. "Mantan kekasih, hm? Seleramu murahan sekali, Lexi. Perempuan seperti itu yang dulu membuatmu jatuh cinta?" Lexi mendongak, menatap mata indah Angel di balik kacamata hitamnya dengan senyuman jahil yang perlahan kembali muncul. Sumpah, kenapa Angel makin cantik ya, kalau lagi marah-marah begini? Hati Abang jadi deg-degan, Dek! ‘Jangan-jangan si Nyonya beneran suka sama gue kali ya? Sama Clara nyolot-nyolot posesif gitu,’ pikir Lexi dengan pedenya. "Namanya juga masa lalu, Nyonya. Dulu saya belum pintar memilih. Tapi sekarang, setelah bekerja dengan Nyonya, standar saya kan langsung naik drastis. Apalagi sekarang saya sudah mendaftar jadi calon simpanan tetap Nyonya yang seksi ini," sahut Lexi asal, tidak peduli dengan kedua mata bulat nan indah milik Angel yang kembali memelototinya. "Lexi! Tutup mulut lancangmu itu atau kupotong gajimu!" pekik Angel, wajahnya yang tadi putih bersih langsung merona merah akibat godaan sialan dari Lexi. Dia berbalik dengan cepat untuk menyembunyikan salah tingkahnya, "ambilkan tas kecilku yang tertinggal di bawah jok tengah! Cepat!" "Siap, Nyonya Calon Sugar Mommy-ku yang galak," sahut Lexi setengah berbisik, berjalan menuju pintu mobil dengan hati yang luar biasa puas.Lexi mematung di kursinya, menatap nanar pintu ruang rapat yang baru saja tertutup rapat.Keheningan yang ditinggalkan oleh Bramantya dan Kevin terasa begitu pekat, seolah mencekik seluruh pasokan oksigen di dalam dadanya. Urat-urat di pelipisnya menegang hebat seiring dengan rasa pening yang kembali menghantam kepalanya dengan brutal.Lagi-lagi dia gagal. Selisih waktu, benteng hukum, dan barikade proteksi Bramantya selalu berhasil memotong jalurnya tepat sebelum dia bisa menjangkau Angel."Lex." Tasya menyentuh lengan adiknya dengan lembut, matanya memancarkan rasa khawatir yang mendalam melihat tubuh Lexi yang perlahan bergetar menahan gejolak emosi."Kita balik ke Dharmahusada dulu, ya? Kamu butuh istirahat.""Nggak, Mbak," desis Lexi, suaranya terdengar begitu parau, serak, dan pecah akibat keputusasaan yang sudah berada di ambang batas. Ia menepis tangan Tasya perlahan, lalu mencengkeram tepi meja oval mahoni itu dengan sangat erat hingga buku-buku jarinya memutih sempurna.Tiba
Malam itu, di dalam ruang tengah rumah singgah Dharmahusada, suasana terasa begitu sunyi dan dingin.Jam digital di dinding sudah menunjukkan pukul dua dini hari, namun Lexi masih duduk tegak di depan laptopnya. Berkas-berkas legalitas Permana Infrastructure berserakan di atas meja, menjadi satu-satunya senjata hukum yang ia miliki untuk memaksa Angel keluar besok pagi.Di kursi seberang, Tasya menatap adiknya dengan tatapan iba. Dia bisa melihat dengan jelas bagaimana gurat kelelahan dan frustrasi yang amat mendalam mencengkeram wajah tampan Lexi. Pria itu berulang kali memijat pangkal hidungnya, menahan denyut nyeri di kepala yang kian menyiksa setiap kali dia mencoba menggali ingatan masa lalunya yang kosong."Lex, mending kamu tidur dua jam," tegur Tasya lembut, menggeser segelas air putih hangat ke dekat Lexi. "Kalau besok kamu tumbang di meja pleno, Bramantya bakal dengan mudah menguliti kamu hidup-hidup di depan umum."Lexi mengepalkan tangannya di atas meja, napasnya keluar
Lexi memutar tubuhnya, berjalan keluar dari restoran dengan langkah lebar yang dipenuhi kemurkaan. Rasa frustrasi karena selalu berselisih waktu beberapa menit dari Angel mulai membakar habis sisa-sisa kesabarannya. Di dalam mobil sewaan, Tasya hanya bisa diam, memperhatikan adiknya yang kini menatap lurus ke depan dengan rahang yang mengatup rapat. "Mbak, kita nggak bisa main kucing-tikus kayak gini terus," desis Lexi, suaranya terdengar begitu rendah dan berbahaya. "Bramantya punya jaringan perimeter yang terlalu rapi di kota ini. Setiap kali gue mengendus keberadaan Angel, cowok itu pasti langsung memindahkan dia lewat pintu belakang." Tasya memundurkan sandaran kursinya, menatap Lexi dengan sebelah alis terangkat. "Terus rencana kamu apa, Lex? Waktu kamu sisa dua hari sebelum pemecatan dan pencabutan hak waris kamu di Jakarta resmi ditandatangani Bapak." Lexi tersenyum sinis, sebuah kilatan taktik bisnis yang kejam mendadak muncul di sepasang mata kelamnya. "Kalau Angel teru
Tasya tertegun, lalu perlahan mengulas senyum tipis melihat binar liar di sepasang mata adiknya. Karakter asli Lexi yang keras kepala dan tak tertundukkan akhirnya kembali, persis seperti sebelum kecelakaan terkutuk itu merenggut kepingan jiwanya. "Oke. Kalau itu mau kamu, Mbak dukung penuh," sahut Tasya, ikut menyambar tasnya. "Informan Mbak bilang, hari ini Angel dijadwalkan meninjau lokasi pembersihan lahan di Surabaya Barat jam sepuluh pagi. Kita ke sana sekarang sebelum Bramantya memperketat barikade pengawalan." Namun, takdir tampaknya gemar mempermainkan garis hidup mereka. Tepat pukul 10.15 WIB, mobil sewaan Lexi dan Tasya tiba di perimeter luar area proyek Surabaya Barat. Gerbang proyek tampak dijaga ketat oleh dua baris pengawal berbadan tegap dengan rompi hitam. Lexi menurunkan kaca mobil, matanya menatap tajam ke arah tenda utama di dalam area sterilisasi. "Maaf, Pak. Area ini tertutup untuk umum atas perintah Bramantya Group," hadang seorang kepala keamanan dengan
Pukul sebelas malam lewat, roda pesawat komersial yang membawa Lexi dan Tasya akhirnya menyentuh aspal landasan pacu Bandara Internasional Juanda. Begitu melangkah keluar dari garbarata, hawa Surabaya yang cenderung hangat menyergap mereka, namun bagi Lexi, atmosfer kota ini terasa begitu dingin semenjak penolakan keras Angel tempo hari. Tasya bergerak gesit. Berbeda dengan Lexi yang berjalan dalam diam dengan topi hitamnya yang diturunkan rendah, Tasya sibuk memeriksa ponselnya.Dia sengaja tidak memesan hotel berbintang atas nama mereka atau menggunakan fasilitas korporasi yang biasa diakses oleh keluarga Permana. "Kita tidur di rumah singgah milik sahabatku di daerah Dharmahusada, Lex," bisik Tasya seraya menuntun adiknya menuju ke mobil sewaan yang sudah terparkir di area drop-off. "Tempatnya privat, aman dari endusan intel-intelnya Mbak Vio, dan yang paling penting... Bramantya nggak akan tahu kita ada di sana." Lexi hanya mengangguk samar, langsung masuk ke dalam mobil. S
Dari balik pembatas kaca steril, Lexi membalikkan tubuhnya sesaat. Ia menurunkan topinya sedikit, menatap lurus ke arah Hendra yang sedang berdebat kusir dengan petugas dengan sorot mata yang penuh kemenangan dan determinasi mutlak."Bilang sama Mbak Vio dan Bapak, Hendra," desis Lexi dari kejauhan, meski suaranya tidak terdengar, namun gerakan bibirnya terbaca jelas oleh Hendra, "aku kembali ke Surabaya."Lexi memutar tubuhnya kembali, melangkah lebar berdampingan dengan Tasya menuju gate keberangkatan pesawat mereka. Langkah kakinya kini terasa jauh lebih mantap. Malam ini, dia akan kembali ke Jawa Timur, siap menembus dinding es milik Angel.....Sementara itu, di waktu yang bersamaan di Jakarta.Atmosfer di dalam salah satu restoran mewah di kawasan mentereng Menteng, Jakarta Pusat, terasa begitu pekat dan mencekam. Di dalam ruangan VIP yang kedap suara, Viona Permana duduk dengan keanggunan yang dingin. Di hadapannya, Clarissa Kensington tampak mengaduk-aduk makanan di piringnya
"Kamu—" Kalimat Angel menggantung begitu saja di udara.Kata-kata makian yang sudah mengantre di ujung lidahnya mendadak menguar tanpa sisa. Lexi sendiri tidak mundur selangkah pun.Sebaliknya, pria itu justru sengaja memajukan tubuhnya satu senti lagi, lalu sedikit menunduk, membuat dada bidangnya
Baron tertegun mendengar pertanyaan Lexi. Pria kekar itu mengerjapkan matanya beberapa kali, seolah baru saja disadarkan dari lamunan panjang oleh pertanyaan polos dari supir pribadinya. Dia melirik dokumen di tangannya, lalu menatap Angel yang wajahnya kini makin merah padam menahan dongkol."Ya su
Malam harinya, kediaman megah Keluarga Van Holden tampak sunyi. Sinar lampu kristal berpendar temaram, menyinari koridor-koridor sepi rumah mewah berarsitektur kolonial modern tersebut.Lexi, yang baru saja selesai membersihkan diri di paviliun belakang khusus kacung macam dirinya, berjalan santai
Mobil Mercedes-Benz hitam itu akhirnya masuk ke area parkir sebuah butik mewah di kawasan elit pusat kota. Begitu mobil berhenti mulus, Angel tidak langsung turun. Dia melirik Lexi lewat spion tengah, merapikan rambutnya sebentar, lalu berdehem pelan."Lexi," panggil Angel. Nadanya sedikit canggung







