تسجيل الدخولRoan berjalan cepat menyebrangi jalan. Dia terpaksa berhenti di tengah perjalanan ketika istrinya meminta dibelikan kue yang pernah dia berikan tempo hari. Roan tentu tidak akan menolak mengabulkannya. Dia justru senang karena Chelsea sudah kembali meminta sesuatu. Tampaknya, istrinya itu sudah kembali ceria."Sayang, mau kubelikan kue yang mana?" Roan menunjukkan kue yang berjajar si etalase lewat Videocall yang tersambung di handphonenya. Chelsea yang melihat itu seketika berbinar."Yang berhiaskan strawberry itu sepertinya enak, Roan. Dan aku ingin yang coklat itu juga," balas Chelsea, mengatakan apa yang ia inginkan."Tolong bungkus keduanya," pinta Roan, pada pelayan toko."Ada lagi?" Roan bertanya pada istrinya, sembari memperhatikan pelayan toko membungkus pesanan miliknya. "Selagi aku masih di sini.""Aku rasa tidak. Aku hanya ingin kamu cepat pulang.""Baiklah." Roan tersenyum kecil, mendengar nada manja istrinya. Dia jadi tidak sabar untuk memeluk istrinya itu ketika tiba di
Dua minggu telah berlalu, namun Roan tidak pernah berhenti mencari keberadaan Tristan. Meski telah mengerahkan pasukan orang-orang kepercayaannya, bahkan menyewa tenaga ahli yang sudah berpengalaman dalam melacak jejak seseorang, keberadaan pria itu tetap sulit ditemukan. Seolah-olah Tristan benar-benar hilang ditelan bumi, tanpa meninggalkan satu jejak pun yang bisa diikuti."Kenapa dunia seolah-olah berpihak padanya?" gerutu Roan dalam hati, perasaannya terasa tidak terima dan penuh kekesalan.Pria itu jelas orang yang jahat. Dia telah menyakiti istrinya, membuatnya trauma. Tapi mengapa dia bisa mendapatkan keberuntungan seperti ini? Bahkan ayah mertuanya pun belum berhasil menemukan sedikit informasi pun tentang keberadaannya. Mereka benar-benar berada dalam keadaan buntu, tidak tahu harus berbuat apa lagi.Meskipun pencarian yang dilakukan belum membuahkan hasil yang diharapkan, Roan sama sekali tidak berputus asa. Dia memilih untuk mengalihkan fokus perhatiannya sepenuhnya untuk
Roan bergegas karena merasa ada sesuatu yang terjadi saat mertuanya tiba-tiba meminta untuk bertemu secara pribadi dengannya. Roan khawatir jika ada masalah serius yang sedang terjadi.Dia masuk ke ruang kerja Argan setelah sekretaris pria itu membukakan pintu untuknya. Roan melihat ayah mertuanya yang tengah berdiri melihat pemandangan di luar jendela.Saat Roan melangkah masuk mendekatinya, pria itu berbalik, menyadari kedatangannya."Kamu datang dengan cepat," ucap Argan. Pria itu memberikan intruksi pada Roan untuk duduk di kursi. Sementara dirinya menduduki kursi kerja miliknya. Mereka kini saling berhadapan satu sama lain, hanya dibatasi dengan meja besar saja."Ada apa, Ayah?" Roan bertanya, khawatir. "Apa terjadi sesuatu?""Ya, aku tidak mungkin memanggilmu ke sini untuk sesuatu yang tidak penting." Argan tampak berat mengungkapkannya. Pria itu mengambil waktu sesaat untuk menarik napas panjang. "Tahanan itu ... dia berhasil melarikan diri."Roan terkejut.Ini bukan kabar yang
Terseok-seok melewati gang sempit, Tristan perlu usaha keras untuk melarikan diri dari penjagaan yang ketat. Tubuh babak belurnya tak membuat keinginan melarikan dirinya pudar. Dia hanya ingin lepas dari tangan anak buah Argan.Pria itu membuang ludah bercampur darah ke tanah. Lalu mengelap mulutnya dengan punggung tangan. Ekspresi wajahnya menggelap, bibirnya berdesis penuh amarah, "keparat!"Pandangannya menyiratkan dendam membara. Kejadian hari ini membuat Tristan semakin membenci Argan dan keluarganya.Tunggu saja, Tristan akan pastikan satu keluarga itu merasakan balasan berkali-kali lipat."Tristan!" Seseorang datang menghampirinya.Tristan menatap orang di depannya. Dia menoyor kepala orang itu dengan tenaganya yang lemah."Kau terlambat, bodoh!" seru Tristan.Sam berdecak kesal. Dia sudah cepat-cepat datang demi menjemput temannya itu. Tapi yang ia dapatkan malah makian."Tidak tahu diri! Sudah bagus aku ke sini menolongmu.""Aku hampir mati di tangan pria sialan itu!""Salahm
Chelsea memeluk Roan cukup lama. Setelah tiba di rumah dan selepas ia membersihkan diri yang tidak memakan waktu sebentar, Chelsea mendekap tubuh suaminya dengan erat.Roan sudah menegur dan meminta Chelsea melepaskan pelukannya. Bukan tak suka atau tak menginginkannya. Tapi mereka memiliki banyak hal yang harus dilakukan."Sayang!" Roan menegur sekali lagi. Dia sudah hampir menyerah untuk bicara pada istrinya.Namun, jawaban Chelsea masih sama. Perempuan itu tetap menggelengkan kepalanya. Tak ingin menuruti permintaan Roan."Biarkan seperti ini," rengek Chelsea. Dia mendongak, menatap Roan yang lebih tinggi darinya. "Aku masih merindukanmu."Roan terkekeh gemas. Dia mencubit puncuk hidung istrinya itu dan berceletuk, "ternyata kau itu sangat manja, ya?""Seharusnya, kamu sudah tahu itu," tanggap Chelsea. "Bukankah sikapku memang seperti ini? Apa kamu tidak memperhatikan?""Emm, tidak juga." Roan berusaha mengingat saat pertama kali dia mengenal Chelsea. Sejujurnya, ia memang tak meng
Roan meregangkan tangannya setelah ia merasa puas melampiaskan amarah yang sejak tadi berusaha ia tahan. Kini, orang yang baru saja menjadi pelampiasan amarahnya itu tergeletak tak sadarkan diri di lantai. Kondisinya mengenaskan. Wajahnya babak belur dan berlumuran darah. Giginya ada yang copot karena Roan yang memukulnya terlalu keras. Roan juga menendang perut korbannya itu hingga dia memuntahkan darah. Sepertinya, kondisinya sangat buruk setelah Roan menghajarnya kali ini."Ini mungkin akan menimbulkan masalah untukku. Tapi aku tidak peduli," gumam Roan. Dia terlalu berlebihan menghukum Tristan. Tapi Roan tak menyesal sedikit pun. Jika dia tak menerima peringatan dari ayah mertuanya, Roan akan memilih untuk membunuh pria ini."Sepertinya tidak akan, Tuan." Bodyguard Argan yang menemani Roan di sisinya menyahut. Dia berpendapat, "kau melakukan apa yang seharusnya kau lakukan. Saya rasa, Tuan Besar justru akan senang dengan tindakanmu ini."Pria itu berjongkok, memeriksa napas dan na
Argan masuk ke dalam setelah salah satu anak buahnya berhasil mendobrak pintu. Dia melangkah dengan santai. Kepalanya menoleh ke arah ranjang, tepat ke arah putrinya yang terlihat meringkuk ketakutan, menyembunyikan tubuhnya dengan selimut tebal.Argan melepas jasnya lalu melemparkannya ke arah Chels
Chelsea tersentak saat seseorang menarik tangannya begitu saja. Dia semakin terkejut ketika mengetahui jika ternyata orang yang menariknya adalah mantan kekasihnya yang baru ia campakkan."Lepaskan, Tristan!""Tidak, Chels!" Tristan menolak. Pria itu marah. Apalagi saat dia melihat hubungan Chelsea ya
Melisa merasa sangat cemburu saat melihat Roan dan Chelsea keluar dari ruangan dengan bergandengan tangan. Kemesraan mereka membuat dadanya panas. Melisa benar-benar ingin mendekati mereka dan memisahkan keduanya. Mereka tidak cocok! Karena Melisa berharap dirinyalah yang berada di sana, tepat di sa
Chelsea masih tak menyangka jika pria yang selama ini ia cintai ternyata tidak sebaik yang ia pikirkan selama ini. Chelsea sangat kecewa. Namun, sebenarnya hatinya tak begitu sakit. Sampai saat ini, ia bahkan tak meneteskan satu air mata pun. Entahlah, Chelsea sendiri tidak mengerti. Dia tak merasak







