LOGINMenjalani sebuah pernikahan tanpa dilandasi cinta memang tidaklah mudah. Disaat Zahwa berpikir untuk melepaskan semuanya, Devan malah berbalik arah menuju padanya. Akankah Zahwa benar-benar melepas rumah tangganya? Atau malah berakhir mempertahankan rumah tangganya?
View More[Aku minta maaf kalau harus kirim ini, tapi foto ini mulai ramai di media sosial. Bukannya ini suamimu, si Devan?]
Zahwa menatap nanar isi pesan yang dikirim oleh sahabatnya, Kinara. Ia menggeser layar ke bawah dan membaca judul dari tautan berita yang terlampir: "Arsitek Muda, Devan Buana Sakti, Tertangkap Kamera Gandeng Mesra Valerie Renata di Gala Dinner Semalam. Go Public?" Zahwa tak sengaja menekan tautan berita itu, tak lama muncul sebuah foto yang diambil secara candid tapi begitu estetik. Devan, dengan setelan tuksedo hitam, tampak menyunggingkan senyum tipis sambil merangkul pinggang Valerie. Kepala Valerie bersandar manja di bahu Devan. Zahwa menghela napasnya. Kedua matanya berair saat ingatannya tiba-tiba terlempar di hari setelah ia dan Devan menikah. Saat itu, Devan membuat kesepakatan dengannya. Ia menolak menyentuh Zahwa bahkan hanya untuk sekadar berjabat tangan. Ia ingin menjalani kehidupan masing-masing meski tinggal di bawah atap yang sama. Zahwa menutup matanya sejenak, membiarkan air mata mengalir membasahi wajahnya. Ia sudah menepati janjinya pada Devan. Ia tidak mengatakan pada siapapun bahwa ia adalah istri Devan, seorang arsitek muda sukses yang sedang mengencani model papan atas. Suara langkah sepatu dari anak tangga membuyarkan lamunan Zahwa. Devan muncul dengan kemeja abu-abu yang lengannya digulung hingga siku. Ia nampak tampan seperti biasa. Namun tatapannya lebih dingin dari biasanya. "Sarapan udah siap, Mas," ucap Zahwa lirih, tanpa menoleh. Devan berhenti sejenak di dekat meja makan, namun ia bahkan tidak melirik piring berisi sarapan yang sudah disiapkan Zahwa. Ia hanya mengambil kunci mobilnya. "Aku nggak pulang malam ini. Ada proyek di luar kota bersama tim... dan Valerie," ucap Devan dingin sebelum berlalu pergi. Zahwa berbalik, menatap punggung suaminya yang mulai menjauh. Pintu depan tertutup dengan dentuman keras. Zahwa kembali sendirian. Ia menarik piring nasi ayam hainan yang masih mengepul itu ke hadapannya, menyuapnya perlahan meski lidahnya terasa hambar. Saat suapan terakhir selesai, ponselnya yang ada di saku gamis berdering panjang. Itu panggilan dari Ayahnya Zahwa, Ibnu. "Assala-." "Wa'alaikumsalam," Ibnu langsung menjawab sebelum Zahwa sempat selesai mengucapkan salamnya. "Zahwa, Abi langsung saja. Kirimkan seratus juta ke rekening yayasan sekarang. Ada renovasi mendesak dan santunan yang harus dibayar hari ini juga." Zahwa tertegun, ia menyandarkan tubuhnya ke sandaran kursi. "Seratus juta? Tapi Bi, baru kemarin Zahwa kirim lima puluh juta dari tabungan pribadi Zahwa. Uang itu—" "Zahwa!" potong Ibnu, nadanya meninggi. "Kenapa sekarang kamu jadi perhitungan begini? Mentang-mentang hidupmu sudah enak, tinggal di rumah mewah dan jadi istri orang kaya, kamu jadi lupa sama Abi dan yayasan? Jangan jadi anak durhaka kamu!" "Bukan begitu, Bi. Devan memberiku jatah bulanan yang tetap, dan aku harus mengaturnya agar tidak terlihat mencurigakan kalau terus-terusan ditarik dalam jumlah besar," Zahwa mencoba menjelaskan. "Halah! Jangan banyak alasan. Ingat Zahwa, hidupmu enak sekarang berkat Abi. Kalau Abi tidak bertindak tegas malam itu untuk membuat Devan bertanggung jawab, hidupmu nggak akan seenak sekarang! Kirim uangnya sebelum sore, atau Abi sendiri yang akan datang ke kantor suamimu!" Bip. Sambungan diputus sepihak. Dada Zahwa seketika terasa terhimpit. Setiap kali Ibnu mengungkit jasa pernikahannya, Zahwa merasa ia hanyalah barang lelang yang sukses dijual kepada keluarga orang kaya. Dan ia sangat paham… Devan memang menikahinya karena paksaan kedua orang tua Zahwa. Pria malang itu hanya tak sengaja menemukan Zahwa pingsan di pinggir jalan saat hendak diperkosa oleh kakak tirinya. Setiap kali Zahwa mencoba membela Devan, Abinya selalu berdalih, "Kamu masih syok, Zahwa." Atau "Abi sudah urus semuanya, Devan harus tanggung jawab." Kebohongan itu terjadi karena ambisi Ibnu yang menginginkan menantu kaya, dan ketakutan Zahwa akan ancaman Faris. Mata Zahwa memanas. Bagaimana bisa Abinya mengatakan hal seperti itu? Bahkan sang Abi tak tahu bahwa putrinya sendiri tidak bahagia dengan kehidupan barunya. Seolah... hidupnya hanya berpindah dari penjara satu ke penjara lainnya. Zahwa menatap layar ponsel. Ia harus mencari cara mendapatkan seratus juta itu tanpa harus meminta pada Devan. Karena ia tahu, meminta uang pada Devan hanya akan menambah daftar dosa yang dituduhkan pria itu padanya. Zahwa terduduk lemas di atas sofa ruang tengah. Ia sudah menghubungi beberapa temannya untuk meminjam, namun jawaban mereka sama, uang seratus juta terlalu banyak untuk mereka pinjamkan. Beberapa dari mereka bahkan bertanya, mengapa Zahwa tak meminta pada Devan? Bagi arsitek muda itu, uang seratus juta bukanlah hal sulit. Zahwa hanya bisa tersenyum getir mendengar kalimat itu. Bagaimana mungkin ia meminta uang pada pria yang setiap pagi menatapnya penuh dendam? Rasa malu mulai merayap di tengkuk Zahwa. Ia merasa seperti seorang pengemis. Tak lama dari itu, pesan singkat kembali masuk dari Ibnu. [Kapan mau transfer? Jangan lama-lama. Abi butuh sebelum bank tutup.] Zahwa memejamkan mata erat-erat. Kepalanya berdenyut hebat. Ia menatap cincin pernikahan di jarinya. Lalu teringat satu-satunya benda berharga yang ia miliki, yaitu sebuah perhiasan warisan dari almarhumah Umminya yang ia simpan di dalam kotak beludru di kamarnya. Itu adalah satu-satunya kenangan dari sang Ummi yang tidak diketahui oleh Abinya. Jika ia menjualnya sekarang, mungkin nilainya cukup untuk menutupi sebagian besar tuntutan Ibnu. Namun, hatinya terasa tercabik. Menjual itu artinya ia kehilangan jejak terakhir Umminya demi memenuhi keserakahan Abinya. Suara pintu depan terbuka membuat jantung Zahwa mencelos. Devan kembali? Bukankah tadi katanya ia mau pergi ke luar kota dengan Valerie? Zahwa buru-buru menghapus jejak air mata dan mencoba berdiri. Devan berjalan masuk ke ruang tengah, wajahnya nampak tegang dari biasanya. Ia tampak mencari sesuatu di meja ruang tengah. Lalu pandangan mereka bertemu selama beberapa detik. Devan menyadari mata Zahwa yang sembab dan ponsel yang masih digenggam erat di tangan. "Kenapa wajahmu begitu?" tanya Devan dengan mata menyipit. "Keluargamu minta jatah lagi?”"Sakit tau, Wa!" Kinara meringis tertahan sembari mengusap-usap lengannya yang baru saja menjadi korban cubitan maut Zahwa."Ya kamu sih, suka asal bunyi gitu kalau bicara," sahut Zahwa, masih dengan sisa kegemasan yang tertahan. Ia meletakkan kembali cangkir kopinya, mencoba mengontrol volume suaranya agar tidak memancing perhatian pengunjung meja sebelah.Kinara mengerucutkan bibirnya, tampak membela diri dengan wajah tanpa dosa. "Aku kan cuman bercanda, Zahwa. Kamu kok nanggepinnya sampai serius gitu, sih?""Bercandamu itu taruhannya besar, Ra." Zahwa menatap Kinara lekat-lekat. "Kamu tahu sendiri gimana sifat Mas Devan. Kalau ucapanmu tadi sampai didengar sama dia, aku bisa bertengkar dengannya nanti. Dia itu... sensitif kalau menyangkut hal-hal kayak gini."Nyali Kinara perlahan ciut. Ia tahu betul bagaimana protektifnya suami sahabatnya itu. Ia menjadi merasa bersalah yang kikuk."Iyadeh, iya, aku minta maaf," gumamnua pelan, benar-benar menyesali gura
Sore harinya, Zahwa dan Kinara memasuki kafe langganan mereka untuk melepas penat.Setelah memesan dua gelas kopi susu dan dua potong cake cokelat berukuran besar, mereka langsung mencari tempat duduk di sudut jendela."Nanti jangan kamu yang bayar, ya! Pokoknya sore ini aku yang akan traktir," kata Kinara begitu mendudukkan pantatnya.Zahwa yang baru saja meletakkan tasnya di kursi terkekeh pelan. Ia menopang dagunya dengan sebelah tangan, menatap Kinara. "Kamu udah akhir-akhir ini sering mentraktirku, Ra. Kayaknya gaji yang dikasih Alex cukup besar dan bikin rekeningmu gendut, ya?" godanya sembari menaik-turunkan alisnya."Besar sih besar, Wa. Tapi tekanan kerjanya luar biasa!" balas Kinara dramatis sembari memijat kedua pelipisnya seolah kepalanya mendadak pening hanya karena mengingat tumpukan dokumen. "Belum lagi kalau harus menghadapi sifat Alex yang kadang-kadang rese dan nyebelin itu. Dia tuh kayaknya punya hobi baru, senang banget kalau melihat aku emos
Zahwa pun beranjak dari meja makan menuju ruang depan. Di sana, Ares tampak duduk di salah satu kursi. Melihat kehadiran Zahwa, Ares segera berdiri. "Pagi, Mbak Zahwa.""Pagi, Ares. Wah, cepat banget kamu menyelesaikannya," puji Zahwa sembari melangkah mendekat. "Mana keripiknya, Res?""Keripiknya saya taruh di dalam kardus ini dulu supaya tidak terguncang di jalan."Ares perlahan membuka penutup kardus, memperlihatkan tumpukan bungkusan keripik singkong yang tersusun rapi di dalamnya. Zahwa membungkuk sedikit, mengambil salah satu bungkusan untuk melihatnya lebih dekat. Ia membolak-balik bungkusan itu. Keripik singkong di dalamnya memang terlihat renyah dan bersih, tetapi perhatian Zahwa justru tertuju pada plastik pembungkusnya. Ares masih menggunakan kemasan plastik bening biasa yang tipis, dengan ujung yang direkatkan menggunakan mesin pres sederhana.Zahwa mengernyitkan keningnya tipis, lalu menatap Ares."Res, maaf ya sebelumnya. Tapi... apa kamu nggak bisa ganti kemasan plast
"Iya kan, Sayang?" Devan menoleh ke arah Zahwa, mencari dukungan.Pertanyaan itu membuat Zahwa tersentak. Ia mengerjapkan matanya cepat, mencoba menguasai diri agar riak emosinya tidak terbaca."E, eh... i-iya, Ma, Pa. Benar kata Mas Devan." Zahwa tersenyum sekilas, agak dipaksakan."Ish, kamu nih, Dev!" Debby bergumam kesal, menyandarkan punggungnya ke kursi dengan tangan terlipat. "Disuruh ini-itu kok susah banget, ada aja alasannya. Padahal semua udah dimudahin, loh. Kamu itu tinggal berangkat, nikmati suasana, pacaran lagi sama istri. Papa yang akan bayar dan urus semuanya, kalian tinggal terima beres!""Nanti kalau urusan proyek besar itu udah selesai dan gol, Insyaallah aku sendiri yang akan mengajak Zahwa liburan, Ma," balas Devan, mencoba menenangkan."Itu mah masih lama, Dev! Keburu lupa..." cibir Debby."Ya enggak dong, Ma. Lebih baik menunda sebentar sampai situasinya tepat, daripada kita terburu-buru pergi tapi malah dapat hasil nggak baik karena
Darah Zahwa seolah mendidih membaca kalimat itu. Ia tahu kalimat itu adalah sindiran tajam untuk status pernikahannya.Zahwa meremas ponselnya. Rasa panas menjalar dari dada hingga ke wajahnya. Penghinaan yang terjadi secara terus-menerus ini terasa begitu tidak adil.Memangnya ia suka dipaksa masu
Zahwa merasakan dadanya sesak. Ia meremas flashdisk di tangannya hingga pinggirannya yang tajam melukai telapak tangannya.Valerie yang sejak tadi diam, menyesap minumannya lalu menyandarkan kepala di sandaran sofa dengan anggun. "Sudahlah, jangan bahas itu. Aku nggak keberatan, kok. Bagiku, berad
Zahwa tersentak. Ia segera menyembunyikan ponselnya di balik punggung. "E... Enggak kok, enggak ada apa-apa."Devan melangkahkan kakinya mendekati Zahwa. Ia menarik paksa tangan Zahwa, merebut ponsel dari genggamannya sebelum Zahwa sempat mengunci layar.Mata kehitaman Devan menyapu layar ponsel Z
[Aku minta maaf kalau harus kirim ini, tapi foto ini mulai ramai di media sosial. Bukannya ini suamimu, si Devan?]Zahwa menatap nanar isi pesan yang dikirim oleh sahabatnya, Kinara. Ia menggeser layar ke bawah dan membaca judul dari tautan berita yang terlampir: "Arsitek Muda, Devan Buana Sakti,






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviewsMore