Inicio / Romansa / Bunga Biru / Chapter 35: Pria Surat

Compartir

Chapter 35: Pria Surat

Autor: Feyaa
last update Fecha de publicación: 2026-03-25 22:39:19

Pria itu berdiri membelakangi mereka, menghadap laut yang gelap. Mantelnya panjang, tertiup angin pelan, dan topinya menutupi sebagian wajahnya. Ia tidak bergerak ketika mendengar langkah kaki mendekat, seolah ia sudah tahu mereka akan datang.

Evelune berhenti beberapa langkah sebelum mendekat lebih jauh.

“Aku datang,” kata Evelune.

Pria itu akhirnya berbalik perlahan.

Wajahnya tidak sepenuhnya tua, tetapi jelas lebih tua dari Neriel dan Elian. Matanya tajam, seperti orang yang sudah melihat ba
Continúa leyendo este libro gratis
Escanea el código para descargar la App
Capítulo bloqueado

Último capítulo

  • Bunga Biru   Chapter 36: Kapten Rhon

    Angin laut berembus lebih kencang, membuat ujung mantel Evelune bergerak pelan. Ia menatap Neriel cukup lama, seolah baru menyadari bahwa pertemuan mereka mungkin bukan kebetulan sederhana.“Jadi sejak awal,” kata Evelune pelan, “keluargaku dan keluargamu sudah saling terlibat dalam semua ini.”Neriel tidak menghindari tatapannya. “Sepertinya begitu.”Pria di dermaga itu mengeluarkan sesuatu dari dalam mantelnya, sebuah benda kecil yang dibungkus kain gelap.“Aku tidak memanggilmu ke sini hanya untuk bercerita,” katanya. “Ada sesuatu yang ayahmu titipkan padaku, untuk diberikan kepada keluarganya jika suatu hari keluarganya datang mencarinya.”Ia menyerahkan bungkusan itu kepada Evelune.Perlahan Evelune membukanya.Di dalamnya ada sebuah kompas tua, terbuat dari logam berwarna perak yang sudah sedikit kusam. Di bagian belakangnya ada ukiran kecil.Lambang keluarga D’Amour.Dan di bawahnya, ukiran huruf kecil:Pour trouver ce qui est perdu.“Apa artinya?” tanya Elian.“Itu bahasa Pran

  • Bunga Biru   Chapter 35: Pria Surat

    Pria itu berdiri membelakangi mereka, menghadap laut yang gelap. Mantelnya panjang, tertiup angin pelan, dan topinya menutupi sebagian wajahnya. Ia tidak bergerak ketika mendengar langkah kaki mendekat, seolah ia sudah tahu mereka akan datang.Evelune berhenti beberapa langkah sebelum mendekat lebih jauh.“Aku datang,” kata Evelune.Pria itu akhirnya berbalik perlahan.Wajahnya tidak sepenuhnya tua, tetapi jelas lebih tua dari Neriel dan Elian. Matanya tajam, seperti orang yang sudah melihat banyak hal dalam hidupnya.“Evelune Arséline D’Amour,” katanya pelan. “Kau sangat mirip ibumu.”Nama itu terdengar asing dan akrab di saat yang bersamaan.“Anda yang menulis surat itu?” tanya Evelune.Pria itu mengangguk. “Ya.”“Anda bilang mengenal ayah saya.”“Aku tidak hanya mengenalnya,” jawab pria itu. “Aku bekerja untuknya.”Elian dan Neriel tetap berdiri sedikit di belakang Evelune, tidak terlalu dekat, tetapi cukup untuk melihat dan mendengar semuanya.Pria itu melirik mereka sebentar. “Ka

  • Bunga Biru   Chapter 34: Malam yang Panjang

    Mereka tidak langsung pulang setelah percakapan itu.Untuk beberapa waktu, mereka hanya berdiri di sana, memandang laut yang gelap dan mendengarkan suara ombak yang datang dan pergi seperti napas yang panjang. Tidak ada yang berbicara, tetapi keheningan di antara mereka tidak lagi terasa canggung.Evelune menyandarkan kedua tangannya pada pagar kayu, menatap garis cahaya di kejauhan.“Dulu aku berpikir hidupku akan selalu sederhana,” katanya pelan. “Merangkai bunga, membuka toko setiap pagi, berbicara dengan pelanggan, lalu pulang. Aku pikir hidupku akan berhenti di situ saja.”Neriel menoleh sedikit ke arahnya. “Dan sekarang?”“Sekarang rasanya seperti aku membuka pintu yang tidak pernah aku tahu ada di hidupku,” jawab Evelune. “Dan aku tidak tahu di balik pintu itu ada apa.”“Kalau kau takut dengan apa yang ada di balik pintu itu,” kata Neriel pelan, “aku akan berdiri di belakangmu. Kalau kau ingin membukanya, aku di sana. Kalau kau ingin menutupnya lagi, aku juga di sana.”Evelune

  • Bunga Biru   Chapter 33: Hubungan

    Malam itu, Evelune tidak langsung pulang ke rumah.Ia meminta Neriel dan Elian berhenti sebentar di jalan yang menghadap laut. Dari sana, lampu-lampu pelabuhan terlihat seperti garis cahaya panjang yang mengambang di atas air hitam.Angin malam cukup dingin, membuat rambut Evelune berantakan tertiup pelan.“Aku ingin bertanya sesuatu,” kata Evelune tiba-tiba.Neriel menoleh sedikit ke arahnya. “Tanyakan.”Evelune terdiam beberapa detik, seperti menyusun kalimat yang tepat.“Waktu di surat itu tertulis jangan percaya terlalu mudah, bahkan pada orang yang berdiri di dekatku sekarang… aku tidak tahu kenapa, tapi kalimat itu terus terngiang di kepalaku.”Elian menyandarkan punggungnya pada pagar kayu. Ia tidak menyela, tetapi jelas mendengarkan.Evelune melanjutkan, suaranya lebih pelan, “Aku tidak tahu harus percaya pada siapa. Pada orang yang tidak terlihat tapi tahu banyak tentang keluargaku, atau pada orang yang berdiri di sampingku sekarang.”Neriel tidak langsung menjawab. Ia menata

  • Bunga Biru   Chapter 32: Rahasia

    Untuk beberapa detik, tidak ada yang bergerak.Nama itu ditulis dengan tinta hitam, rapi, dan jelas. Bukan tulisan ibunya. Tulisan itu berbeda, lebih tegas, lebih tajam, seperti ditulis oleh seseorang yang terbiasa menulis dokumen, bukan surat pribadi.Evelune melangkah mendekat perlahan.Ia bisa mendengar suara langkahnya sendiri di lantai kayu yang kosong. Neriel berdiri tidak jauh di belakangnya, sementara Elian memperhatikan sekeliling, memastikan tidak ada orang lain di dalam gudang itu.Amplop itu terletak tepat di tengah meja, seolah memang sengaja ditinggalkan agar mudah ditemukan.Evelune menyentuhnya.Kertasnya tidak berdebu seperti meja di sekitarnya.Artinya benar, belum lama ini seseorang datang ke sini.Seseorang tahu Evelune akan datang.Perlahan ia membuka amplop itu.Di dalamnya hanya ada satu lembar surat.Ia membuka dan mulai membaca.Nona Evelune Arséline D’Amour,Jika Anda membaca surat ini, berarti Anda sudah menemukan gudang ini dan membuka apa yang ditinggalkan

  • Bunga Biru   Chapter 31: Gudang Tua

    Pagi datang lebih cepat dari yang ia harapkan.Evelune hampir tidak benar-benar tidur. Ia hanya berbaring dengan mata terpejam, sementara pikirannya berjalan ke mana-mana. Tentang ibunya. Tentang ayahnya. Tentang gudang di pelabuhan utara. Tentang orang yang datang ke tokonya beberapa waktu lalu. Dan entah kenapa, tentang Neriel.Ia bangun sebelum matahari benar-benar naik, merapikan rambutnya dengan sederhana, lalu mengenakan mantel tipis. Kota pesisir di pagi hari selalu memiliki udara yang berbeda, lebih dingin, lebih sepi, dan terasa seperti menyimpan rahasia sebelum orang-orang benar-benar bangun.Ketika ia sampai di depan toko, Alira sudah ada di sana.Alira sedang menyusun beberapa ember bunga di depan, bunga-bunga yang baru datang dari bukit dan dari kebun belakang rumah seorang langganan lama. Ada lili putih, anyelir pucat, chamomile kecil, dan beberapa tangkai lavender yang masih membawa aroma segar.Alira menoleh ketika mendengar langkah Evelune.“Kau tidak tidur, ya?” tany

Más capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status