Home / Romansa / Bunga Biru / Chapter 50: Sidang

Share

Chapter 50: Sidang

Author: Feyaa
last update publish date: 2026-04-05 22:49:01

Pagi itu terasa lebih sunyi dibanding hari sebelumnya, seolah kota pelabuhan menahan napas menunggu sesuatu yang akan terjadi.

Di dalam kamar penginapan, tidak ada yang banyak bicara. Alira hanya duduk diam, menggenggam tangannya sendiri. Elian berdiri dekat jendela, mengamati jalan. Neriel bersandar di dinding, tetapi matanya sesekali tertuju pada Evelune.

Evelune berdiri di depan meja, membuka peti kayu itu sekali lagi.

Ia menyentuh dokumen-dokumen itu satu per satu, lalu berhenti pada cincin
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Bunga Biru   Chapter 50: Sidang

    Pagi itu terasa lebih sunyi dibanding hari sebelumnya, seolah kota pelabuhan menahan napas menunggu sesuatu yang akan terjadi.Di dalam kamar penginapan, tidak ada yang banyak bicara. Alira hanya duduk diam, menggenggam tangannya sendiri. Elian berdiri dekat jendela, mengamati jalan. Neriel bersandar di dinding, tetapi matanya sesekali tertuju pada Evelune.Evelune berdiri di depan meja, membuka peti kayu itu sekali lagi.Ia menyentuh dokumen-dokumen itu satu per satu, lalu berhenti pada cincin dengan lambang keluarganya.Ia memakainya kembali.Bukan karena simbol.Tetapi karena ia ingin mengingat siapa dirinya sebelum semua ini, dan siapa yang ia perjuangkan sekarang.“Aku tidak akan mengambil tawaran itu,” katanya akhirnya, suaranya tenang.Alira langsung mengangguk. “Bagus.”Elian menarik napas panjang. “Berarti hari ini kita benar-benar bergantung pada bukti dan keberanian.”Neriel tidak berkata apa-apa. Ia hanya mendekat sedikit ke Evelune. “Kau siap?”Evelune menatapnya. Ada ras

  • Bunga Biru   Chapter 49: Rasa

    Malam turun perlahan di kota pelabuhan itu. Lampu-lampu mulai menyala di sepanjang jalan batu, dan udara terasa lebih dingin dibanding kota pesisir tempat Evelune tinggal. Jalan Arthen tidak seramai jalan utama. Rumah-rumah di sana besar, berpagar, dan terlihat seperti milik orang-orang yang memiliki banyak uang dan lebih banyak rahasia.Mereka berhenti di ujung jalan.“Nomor 17 di sana,” bisik Elian.Rumah itu besar, tetapi tidak terlalu terang. Hanya beberapa lampu yang menyala. Tidak terlihat seperti rumah kosong, tetapi juga tidak terlihat seperti rumah yang sedang menerima tamu.“Rencananya,” kata Alira pelan, “Evelune dan aku masuk dari depan. Neriel dan Elian di belakang. Kalau ada apa-apa…”“Aku akan masuk tanpa mengetuk,” lanjut Neriel.Evelune menatapnya. “Jangan sampai tertangkap duluan.”Neriel tersenyum tipis. “Aku ini pelaut, bukan pencuri amatir.”Evelune dan Alira berjalan ke pintu depan. Evelune mengetuk pintu tiga kali.Beberapa detik kemudian, pintu terbuka oleh seo

  • Bunga Biru   Chapter 48: Pengadilan 2

    Ia berpakaian rapi, rambutnya disisir rapi ke belakang, dan wajahnya tenang seperti seseorang yang yakin akan menang. Di sampingnya ada seorang pengacara dan dua pria tua yang pasti anggota dewan dagang.Saat melihat Evelune masuk, Elmar tersenyum tipis.Senyum yang sama seperti di atas kapal kemarin.“Keponakanku,” katanya ketika Evelune mendekat. “Aku senang kau datang. Aku khawatir kau akan memilih bersembunyi selamanya.”Evelune menatapnya tanpa senyum. “Aku tidak datang untuk bersembunyi. Aku datang untuk mengambil kembali apa yang kau curi.”Beberapa orang di sekitar mulai berbisik.Elmar tetap tersenyum. “Kau selalu keras kepala. Sama seperti ayahmu.”Neriel berdiri sedikit di belakang Evelune, tidak ikut bicara, tetapi jelas tidak akan pergi ke mana-mana.Elmar melirik ke arah Neriel. “Dan kau membawa pelaut sebagai pelindungmu sekarang? Seberapa rendah kau jatuh, Evelune?”Sebelum Evelune sempat menjawab, Neriel berkata tenang, “Cukup rendah untuk masih bisa melihat orang-ora

  • Bunga Biru   Chapter 47: Pengadilan

    Pelabuhan barat jauh lebih bising dari yang dibayangkan Evelune. Orang-orang berjalan cepat, para buruh mengangkat peti, pedagang berteriak menawarkan barang, dan kapal datang pergi tanpa henti. Tidak ada yang benar-benar peduli pada satu kapal kecil yang baru datang, dan itu justru menguntungkan mereka.Elian turun lebih dulu, memastikan tidak ada orang yang langsung mengawasi mereka. Alira menyusul, lalu Neriel membantu Evelune turun sambil tetap memperhatikan sekitar.“Pertama kita cari penginapan kecil,” kata Elian pelan. “Kita tidak bisa langsung ke pengadilan begitu saja. Mereka pasti sudah lebih dulu sampai dan menyiapkan sesuatu.”Neriel mengangguk. “Kita istirahat, lalu sore atau besok pagi kita ke pengadilan.”Evelune memeluk peti kayu itu. “Dokumen ini harus tetap bersamaku.”Alira menatapnya. “Kau tidak tidur sambil memeluk itu juga kan?”Evelune menjawab serius, “Iya.”Alira mengangkat tangan menyerah. “Baiklah. Aku tidak akan bertanya lagi.”Mereka berjalan meninggalkan

  • Bunga Biru   Chapter 46: Pengakuan

    Neriel tidak langsung menjawab. Ia terlihat berpikir lama, seolah ingin memastikan jawabannya bukan sesuatu yang akan ia sesali.“Aku sudah hidup lama di laut,” katanya akhirnya. “Aku tidak pernah tinggal lama di satu tempat, tidak pernah menunggu siapa pun, dan tidak pernah ada yang menunggu aku. Hidupku selalu tentang berlayar, bekerja, dibayar, lalu pergi lagi.”Ia berhenti sebentar, lalu melanjutkan lebih pelan, “Tapi sejak aku mulai berjalan ke toko itu hanya untuk membeli bunga yang sebenarnya tidak aku butuhkan… sepertinya ada sesuatu yang berubah.”Evelune menatapnya, tetapi tidak berkata apa-apa.Neriel menoleh padanya sekarang. “Aku tidak tahu apa yang akan terjadi setelah semua ini selesai. Mungkin kau akan menjadi pemilik perusahaan besar, mungkin kau akan sibuk dengan pengadilan dan kapal-kapalmu. Tapi satu hal yang aku tahu…”Ia berhenti sebentar.“Aku tidak ingin menghilang dari hidupmu setelah semua ini selesai.”Angin laut berhembus pelan di antara mereka. Kapal terus

  • Bunga Biru   Chapter 45: Hari yang Panjang

    Angin semakin kencang menjelang sore. Ombak mulai meninggi, membuat kapal kecil mereka naik turun cukup keras. Kapal di belakang masih terlihat, dan jaraknya perlahan semakin dekat.Elian menghitung cepat sambil melihat layar dan arah angin. “Kalau begini terus, dua jam lagi mereka bisa menyusul.”Alira langsung berdiri. “Kita tidak mungkin menang kalau mereka naik ke kapal kita. Kapal kita kecil.”Neriel tetap tenang, tetapi jelas ia sedang berpikir cepat. Matanya melihat peta, lalu melihat ke arah langit, lalu ke arah laut di depan.“Ada gugusan karang di depan,” katanya akhirnya.Elian langsung mengerti. “Kau mau lewat sana?”“Itu satu-satunya cara,” jawab Neriel. “Kapal kecil bisa lewat di antara karang. Kapal yang lebih besar atau yang tidak tahu jalurnya bisa kandas.”Alira menatapnya tidak percaya. “Dan kalau kita yang kandas?”Neriel menjawab singkat, “Berarti kita berenang lagi.”“Jawabanmu selalu menenangkan sekali,” kata Alira datar.Evelune berdiri di samping Neriel. “Kata

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status