LOGINIa adalah bulan yang pernah padam, ia adalah laut yang menampung cahaya dari langit yang retak. Dalam tatapan Neriel Calian Merovyn, Evelune Arséline D’Amour menemukan bahwa hidup bukan tentang melupakan luka melainkan belajar tumbuh di atasnya. Dan di antara kedalaman laut dan cahaya bulan, tumbuhlah satu bunga biru: Fleur Bleue cinta yang menumbuhkan jiwa yang nyaris mati.
View MoreKata-kata itu menggantung di udara.Bukan barang.Seseorang.Evelune menatap Madam Rouselle, napasnya terasa tertahan di dada.“Maksud Anda… manusia?” tanyanya pelan.Madam Rouselle mengangguk. “Ya.”Sunyi jatuh di antara mereka, hanya diisi suara pelan daun-daun yang bergesekan karena angin dari jendela.Evelune mencoba mencerna. “Pengiriman… manusia… untuk apa?”Madam Rouselle tidak langsung menjawab. Ia berjalan perlahan ke dekat jendela, memandang keluar sejenak sebelum kembali berbicara.“Dua puluh tahun lalu, laut bukan hanya soal perdagangan barang,” katanya. “Ada informasi. Ada rahasia. Dan ada orang-orang… yang lebih berharga dari emas.”Evelune mendekat sedikit. “Orang seperti apa?”Madam Rouselle menoleh. “Anak.”Jantung Evelune langsung berdegup lebih keras.“Seorang anak yang membawa sesuatu,” lanjutnya. “Bukan di tangannya… tapi dalam dirinya.”Evelune menggeleng pelan, masih belum sepenuhnya mengerti. “Saya tidak mengerti.”Madam Rouselle menatapnya dalam-dalam. “Anak i
Dan untuk pertama kalinya, ada sedikit keraguan yang muncul di matanya. “Evelune…” katanya pelan. “Kalau semua ini melibatkan ayah kita… kau siap untuk mengetahui hal-hal yang mungkin tidak ingin kau tahu?” Evelune menatapnya balik. “Aku sudah kehilangan terlalu banyak karena tidak tahu,” katanya. “Aku tidak mau hidup dalam kebohongan lagi.” Kata-kata itu tegas. Tapi juga berat. Neriel terdiam beberapa detik. Lalu mengangguk pelan. “Kalau begitu,” katanya, “kita cari tahu semuanya.” — Keesokan harinya, mereka tidak menuju pelabuhan. Mereka menuju tempat yang lebih sunyi. Arsip lama kota. Bangunan tua dengan dinding batu dan jendela tinggi. Tempat di mana dokumen-dokumen lama disimpan. Perjanjian, catatan kapal, dan sejarah yang hampir dilupakan. Seorang penjaga tua menatap mereka curiga. “Tempat ini tidak untuk sembarang orang.” Evelune melangkah maju. Ia menunjukkan cincin keluarganya. “Aku mencari catatan tentang Jacques D’Amour, Aedron Merovyn, dan Elric Marquette.”
Sore itu, langit pelabuhan berwarna keemasan. Cahaya matahari jatuh miring di antara tiang-tiang kapal, menciptakan bayangan panjang di atas air yang bergerak pelan.Evelune berdiri di balkon kantor sementara yang diberikan dewan dagang. Tangannya bertumpu ringan di pagar besi, matanya menatap kapal-kapal yang keluar masuk pelabuhan.Sekarang, sebagian dari semua itu… adalah miliknya.Namun rasa tenang itu tidak benar-benar datang.Di belakangnya, pintu terbuka pelan.Neriel masuk tanpa suara.“Aku sudah bicara dengan beberapa awak kapal,” katanya. “Serangan tadi pagi bukan kebetulan. Mereka tahu jadwal keberangkatan kita.”Evelune tidak langsung menoleh. “Orang dalam?”“Bisa jadi,” jawab Neriel.Beberapa detik mereka diam.“Ini baru beberapa hari,” kata Evelune pelan. “Dan mereka sudah mulai masuk.”Neriel mendekat sedikit. “Karena mereka tahu kau bukan ancaman kecil lagi.”Evelune akhirnya menoleh. “Dan itu membuat semuanya lebih berbahaya.”Neriel menatapnya. “Dan membuatmu lebih p
Evelune mendekati meja, menyentuh kelopak bunga yang baru saja dirangkai. Kali ini bukan mawar saja. Ada lily putih, anyelir pucat, bunga liar kecil dari bukit, dan beberapa tangkai lavender.Tangannya bergerak pelan, hampir refleks, memperbaiki posisi satu batang bunga.Dan untuk pertama kalinya setelah semua kekacauan itu, napasnya terasa benar-benar tenang.Pintu kembali terbuka.Lonceng berbunyi.Neriel masuk.Ia tidak berkata apa-apa dulu. Hanya berdiri beberapa detik di dekat pintu, memandang Evelune di antara bunga-bunga.Seperti pertama kali ia melihatnya.“Jadi ini tempatmu kembali,” katanya pelan.Evelune menoleh. “Ini tempatku tetap.”Neriel berjalan mendekat, matanya memperhatikan setiap sudut ruangan. “Aku mulai mengerti kenapa kau tidak mau meninggalkan ini.”Alira menyenggol Elian yang baru masuk di belakang. “Lihat. Ini fase ‘aku mengerti duniamu’.”Elian berbisik, “Diam.”Evelune tersenyum tipis, lalu kembali ke meja. “Aku tidak bisa terus berada di kantor dagang. Kal
Angin malam berembus lebih dingin ketika Evelune akhirnya berdiri dari batu tempatnya duduk. Ia menatap laut untuk beberapa detik terakhir, seolah memastikan sesuatu di dalam dirinya benar-benar telah tenang. Lalu ia turun perlahan menuju rumah kaca. Pintu kayu itu berderit pelan saat ia membuk
“Cinta bagiku hanyalah bayangan semu.Namun entah mengapa aku ingin tenggelam di dalamnya, seolah di balik semunya tersimpan kehangatan yang selama ini kucari.”Clairhaven adalah kota pesisir di utara Prancis yang indah, tenang, dan memikat siapa pun yang datang. Laut biru membentang luas di satu
Setiap jiwa terhubung oleh takdir pertemuan. Segala sesuatu seolah telah diatur oleh waktu yang tepat, seperti ada benang tak terlihat yang diam-diam menyatukan kehidupan.Tujuh tahun sebelum malam-malam sunyi di rumah kaca, dunia Evelune runtuh untuk pertama kalinya.Menjelang ulang tahunnya yang
Malam itu aku bermimpi tentang bunga biru.Ia tumbuh di antara reruntuhan basah, rapuh namun menolak mati.Aku terbangun dengan perasaan yang sama seperti setiap pagi. Kosong.Tanganku kotor oleh tanah saat merapikan pot di rumah kaca. Daun-daun kering menempel di jemari dan kubersihkan tanpa benar












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews