LOGINIa adalah bulan yang pernah padam, ia adalah laut yang menampung cahaya dari langit yang retak. Dalam tatapan Neriel Calian Merovyn, Evelune Arséline D’Amour menemukan bahwa hidup bukan tentang melupakan luka melainkan belajar tumbuh di atasnya. Dan di antara kedalaman laut dan cahaya bulan, tumbuhlah satu bunga biru: Fleur Bleue cinta yang menumbuhkan jiwa yang nyaris mati.
View MoreMalam itu aku bermimpi tentang bunga biru.
Ia tumbuh di antara reruntuhan basah, rapuh namun menolak mati. Aku terbangun dengan perasaan yang sama seperti setiap pagi. Kosong. Tanganku kotor oleh tanah saat merapikan pot di rumah kaca. Daun-daun kering menempel di jemari dan kubersihkan tanpa benar-benar melihat. Bau lembap tanah basah memenuhi napas, menenangkan sekaligus menyesakkan. Aku tidak percaya pada cinta. Bukan karena ia tak ada, tetapi karena terlalu banyak orang hancur karenanya. Rumah kaca itu sunyi seperti biasa. Cahaya sore jatuh miring di kelopak bunga yang mulai layu. Tetes air dari atap kaca berdetak pelan, teratur, seperti jam yang hampir habis. Di tempat ini, waktu berhenti sejak ibuku pergi. Aku menatap tanganku sendiri lalu menggenggamnya erat, seolah ada sesuatu yang harus kutahan agar tidak lepas, entah bunga atau diriku sendiri. Sudah lama aku tidak merasa hidup. Hari-hariku hanya tanah, pot, dan sunyi. Di balik kaca yang berembun, laut terlihat jauh di sana. Tenang dan pucat di bawah cahaya senja, seakan menyimpan sesuatu yang belum terjadi. Garisnya samar di cakrawala, namun selalu terasa dekat, seperti panggilan yang tak pernah benar-benar terdengar. Sesuatu yang kelak akan mengusik kesendirianku. “Evelune, sayang… sudah waktunya makan malam.” Suara Madam Rouselle membuatku tersentak. Aku menoleh cepat, napas sedikit tercekat. “Madam… Anda mengagetkanku.” Ia berdiri di ambang pintu rumah kaca dengan senyum lembut yang selalu sama sejak aku kecil. Rambut peraknya disanggul rapi, dan gaun tuanya beraroma sabun yang bersih. Perempuan itu telah lebih lama mengenalku daripada siapa pun di dunia ini. “Kau hampir tidak pernah keluar dari rumah kaca lagi,” katanya pelan. Aku menunduk pada bunga-bunga di depanku, merapikan satu kelopak yang hampir lepas. “Tempat ini lebih memahami aku.” Madam tidak segera menjawab. Ia hanya menatapku lama, seperti seseorang yang melihat retakan yang tak terlihat orang lain. “Bahkan bunga pun butuh dunia luar untuk hidup, Evelune.” Kata-kata itu tinggal di udara di antara kami. Aku tidak membantah. Di dalam diriku selalu ada sesuatu yang menolak melangkah, ketakutan yang tak bernama, gelap seperti dasar laut yang tak pernah tersentuh cahaya. Aku meletakkan gunting kecil di meja kayu lalu mengikuti Madam keluar. Udara sore di luar rumah kaca terasa lebih dingin. Aroma laut yang jauh bercampur dengan wangi rumput basah. Langit mulai meredup ke warna biru pucat yang hampir kelabu. Rumah tua keluarga D’Amour berdiri diam di antara pepohonan tua. Dinding batunya memudar dimakan waktu, namun jendelanya selalu bersih. Madam menjaganya seperti menjaga kenangan. Di ruang makan, lampu kecil sudah dinyalakan. Cahaya kuningnya lembut dan hangat, memantul di permukaan meja kayu yang telah aus oleh tahun-tahun panjang. Sup hangat mengepul di mangkuk, dan roti panggang tersusun rapi di piring. Aku duduk di kursiku seperti setiap hari. Kursi yang sama sejak aku cukup tinggi untuk mencapainya sendiri. Madam menuangkan sup ke mangkukku. Gerakannya pelan dan hati-hati, seperti semua hal yang ia lakukan di rumah ini. “Sudah lama aku tidak melihatmu berjalan ke pantai,” katanya setelah beberapa saat. Aku mengaduk sup tanpa benar-benar melihatnya. Uapnya naik perlahan, mengaburkan pandanganku sesaat. “Aku tidak punya alasan ke sana.” “Dulu kau suka sekali laut,” kata Madam. “Kau berlari ke ombak bahkan sebelum belajar berjalan lurus.” Aku tersenyum samar. Ingatan itu terasa seperti milik orang lain. “Itu dulu.” Madam duduk di seberangku. Matanya tetap lembut, tetapi ada sesuatu yang lebih dalam di sana malam ini, sesuatu yang seperti kekhawatiran yang tak lagi bisa disembunyikan. “Evelune,” katanya pelan, “rumah ini tidak akan menyakitimu. Tapi dunia di luar juga tidak selalu menyakitkan.” Aku mengangkat wajahku. “Dunia luar selalu mengambil sesuatu, Madam.” Ia tidak menyangkal. Hanya mengangguk kecil. “Benar. Tetapi ia juga memberi.” Aku menatap cahaya lilin yang bergetar di meja. Bayangannya bergerak di dinding, tipis dan rapuh. “Aku tidak tahu harus menginginkan apa dari dunia,” kataku pelan. Madam mengulurkan tangan dan menutup tanganku dengan jemarinya yang hangat. “Kadang kita tidak perlu tahu dulu. Kita hanya perlu berani melihat.” Aku diam. Kata-kata itu terasa terlalu besar untuk sesuatu yang begitu kecil seperti diriku. Di luar jendela ruang makan, langit telah berubah gelap. Laut di kejauhan hampir tak terlihat, hanya kilau pucat yang bergerak pelan di antara bayang malam. Namun entah mengapa, kehadirannya terasa lebih kuat daripada siang tadi. Seperti sesuatu yang menunggu. Aku menarik napas panjang. “Mungkin… suatu hari nanti aku akan mencoba berjalan ke sana lagi.” Madam tersenyum. Tidak lebar, hanya cukup untuk membuat garis halus di sudut matanya tampak lebih dalam. “Itu sudah cukup untuk malam ini.” Kami makan dalam tenang setelah itu. Hanya suara sendok menyentuh mangkuk dan detik jam tua di dinding. Namun kesunyian malam itu terasa berbeda, tidak sepenuhnya berat seperti biasanya. Saat aku berdiri untuk kembali ke kamar, langkahku melambat di dekat jendela. Tanpa sadar aku menoleh keluar. Gelap menyelimuti kebun. Pohon-pohon hanya bayangan. Tetapi di baliknya, jauh di sana, laut berkilau redup di bawah cahaya bulan yang baru naik. Aku menatapnya lama. Dan untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, ada perasaan kecil yang bergerak di dalam dadaku. Bukan harapan. Belum. Namun sesuatu yang mendekatinya. Perasaan bahwa kesunyian ini mungkin tidak akan tinggal selamanya. Di luar sana, ombak bergerak perlahan menuju pantai yang tak terlihat dari rumah ini. Seakan suatu saat nanti, ia juga akan sampai kepadaku.Kata-kata itu menggantung di udara.Bukan barang.Seseorang.Evelune menatap Madam Rouselle, napasnya terasa tertahan di dada.“Maksud Anda… manusia?” tanyanya pelan.Madam Rouselle mengangguk. “Ya.”Sunyi jatuh di antara mereka, hanya diisi suara pelan daun-daun yang bergesekan karena angin dari jendela.Evelune mencoba mencerna. “Pengiriman… manusia… untuk apa?”Madam Rouselle tidak langsung menjawab. Ia berjalan perlahan ke dekat jendela, memandang keluar sejenak sebelum kembali berbicara.“Dua puluh tahun lalu, laut bukan hanya soal perdagangan barang,” katanya. “Ada informasi. Ada rahasia. Dan ada orang-orang… yang lebih berharga dari emas.”Evelune mendekat sedikit. “Orang seperti apa?”Madam Rouselle menoleh. “Anak.”Jantung Evelune langsung berdegup lebih keras.“Seorang anak yang membawa sesuatu,” lanjutnya. “Bukan di tangannya… tapi dalam dirinya.”Evelune menggeleng pelan, masih belum sepenuhnya mengerti. “Saya tidak mengerti.”Madam Rouselle menatapnya dalam-dalam. “Anak i
Dan untuk pertama kalinya, ada sedikit keraguan yang muncul di matanya. “Evelune…” katanya pelan. “Kalau semua ini melibatkan ayah kita… kau siap untuk mengetahui hal-hal yang mungkin tidak ingin kau tahu?” Evelune menatapnya balik. “Aku sudah kehilangan terlalu banyak karena tidak tahu,” katanya. “Aku tidak mau hidup dalam kebohongan lagi.” Kata-kata itu tegas. Tapi juga berat. Neriel terdiam beberapa detik. Lalu mengangguk pelan. “Kalau begitu,” katanya, “kita cari tahu semuanya.” — Keesokan harinya, mereka tidak menuju pelabuhan. Mereka menuju tempat yang lebih sunyi. Arsip lama kota. Bangunan tua dengan dinding batu dan jendela tinggi. Tempat di mana dokumen-dokumen lama disimpan. Perjanjian, catatan kapal, dan sejarah yang hampir dilupakan. Seorang penjaga tua menatap mereka curiga. “Tempat ini tidak untuk sembarang orang.” Evelune melangkah maju. Ia menunjukkan cincin keluarganya. “Aku mencari catatan tentang Jacques D’Amour, Aedron Merovyn, dan Elric Marquette.”
Sore itu, langit pelabuhan berwarna keemasan. Cahaya matahari jatuh miring di antara tiang-tiang kapal, menciptakan bayangan panjang di atas air yang bergerak pelan.Evelune berdiri di balkon kantor sementara yang diberikan dewan dagang. Tangannya bertumpu ringan di pagar besi, matanya menatap kapal-kapal yang keluar masuk pelabuhan.Sekarang, sebagian dari semua itu… adalah miliknya.Namun rasa tenang itu tidak benar-benar datang.Di belakangnya, pintu terbuka pelan.Neriel masuk tanpa suara.“Aku sudah bicara dengan beberapa awak kapal,” katanya. “Serangan tadi pagi bukan kebetulan. Mereka tahu jadwal keberangkatan kita.”Evelune tidak langsung menoleh. “Orang dalam?”“Bisa jadi,” jawab Neriel.Beberapa detik mereka diam.“Ini baru beberapa hari,” kata Evelune pelan. “Dan mereka sudah mulai masuk.”Neriel mendekat sedikit. “Karena mereka tahu kau bukan ancaman kecil lagi.”Evelune akhirnya menoleh. “Dan itu membuat semuanya lebih berbahaya.”Neriel menatapnya. “Dan membuatmu lebih p
Evelune mendekati meja, menyentuh kelopak bunga yang baru saja dirangkai. Kali ini bukan mawar saja. Ada lily putih, anyelir pucat, bunga liar kecil dari bukit, dan beberapa tangkai lavender.Tangannya bergerak pelan, hampir refleks, memperbaiki posisi satu batang bunga.Dan untuk pertama kalinya setelah semua kekacauan itu, napasnya terasa benar-benar tenang.Pintu kembali terbuka.Lonceng berbunyi.Neriel masuk.Ia tidak berkata apa-apa dulu. Hanya berdiri beberapa detik di dekat pintu, memandang Evelune di antara bunga-bunga.Seperti pertama kali ia melihatnya.“Jadi ini tempatmu kembali,” katanya pelan.Evelune menoleh. “Ini tempatku tetap.”Neriel berjalan mendekat, matanya memperhatikan setiap sudut ruangan. “Aku mulai mengerti kenapa kau tidak mau meninggalkan ini.”Alira menyenggol Elian yang baru masuk di belakang. “Lihat. Ini fase ‘aku mengerti duniamu’.”Elian berbisik, “Diam.”Evelune tersenyum tipis, lalu kembali ke meja. “Aku tidak bisa terus berada di kantor dagang. Kal
Pelukan itu tidak lama, tetapi cukup untuk menahan semua emosi yang sejak tadi Evelune tahan.Ketika ia melepaskan pelukan itu, ruangan masih ramai oleh suara orang-orang yang membicarakan keputusan tadi. Namun bagi mereka berempat, dunia seolah mengecil hanya pada lingkar kecil di sekitar mereka.
Pagi itu terasa lebih sunyi dibanding hari sebelumnya, seolah kota pelabuhan menahan napas menunggu sesuatu yang akan terjadi.Di dalam kamar penginapan, tidak ada yang banyak bicara. Alira hanya duduk diam, menggenggam tangannya sendiri. Elian berdiri dekat jendela, mengamati jalan. Neriel bersand
Pelabuhan barat jauh lebih bising dari yang dibayangkan Evelune. Orang-orang berjalan cepat, para buruh mengangkat peti, pedagang berteriak menawarkan barang, dan kapal datang pergi tanpa henti. Tidak ada yang benar-benar peduli pada satu kapal kecil yang baru datang, dan itu justru menguntungkan m
Mereka berangkat dua hari kemudian, saat langit masih berwarna abu-abu pucat dan kota belum sepenuhnya bangun. Pelabuhan masih sepi, hanya beberapa nelayan yang bersiap dengan jaring mereka, dan suara kayu kapal yang berderit pelan terdengar di antara kabut pagi.Kapal kecil milik Neriel tidak terl












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews