Malam itu aku bermimpi tentang bunga biru.Ia tumbuh di antara reruntuhan basah, rapuh namun menolak mati.Aku terbangun dengan perasaan yang sama seperti setiap pagi. Kosong.Tanganku kotor oleh tanah saat merapikan pot di rumah kaca. Daun-daun kering menempel di jemari dan kubersihkan tanpa benar-benar melihat. Bau lembap tanah basah memenuhi napas, menenangkan sekaligus menyesakkan.Aku tidak percaya pada cinta.Bukan karena ia tak ada, tetapi karena terlalu banyak orang hancur karenanya.Rumah kaca itu sunyi seperti biasa. Cahaya sore jatuh miring di kelopak bunga yang mulai layu. Tetes air dari atap kaca berdetak pelan, teratur, seperti jam yang hampir habis.Di tempat ini, waktu berhenti sejak ibuku pergi.Aku menatap tanganku sendiri lalu menggenggamnya erat, seolah ada sesuatu yang harus kutahan agar tidak lepas, entah bunga atau diriku sendiri.Sudah lama aku tidak merasa hidup.Hari-hariku hanya tanah, pot, dan sunyi.Di balik kaca yang berembun, laut terlihat jauh di sana.
Dernière mise à jour : 2025-12-21 Read More