Share

Bunga yang Layu Sebelum Ujung Jalan
Bunga yang Layu Sebelum Ujung Jalan
Author: ZZ

Bab 1

Author: ZZ
SMA Nogara, jam pelajaran olahraga kelas tiga.

Guru olahraga sedang ada urusan mendadak, jadi dia menyuruh ketua kelas pelajaran olahraga untuk mengorganisasi kegiatan.

Alhasil, beberapa pria di kelas yang suka merundung Shania mulai beraksi kembali menjalankan "rutinitas" mereka.

"Shania, sini! Gendong kantong pasir ini, terus lari keliling lapangan! Nggak boleh berhenti sebelum jam pelajaran selesai!" Ketua kelas pelajaran olahraga menunjuk kantong pasir militer yang berat di lantai dengan nada ketus.

Shania menghampiri tanpa sepatah kata pun untuk membantah, lalu dengan susah payah menggendong beban berat itu dan mulai melangkah ke lintasan lari.

Sejak kejadian itu, satu kelas, bahkan satu sekolah, hampir semua orang memakai cara seperti ini untuk melampiaskan kekesalan Yuga.

Keringat langsung membasahi seragamnya, poni di dahinya menempel di wajah yang pucat, dan parunya terasa sakit berderit seperti kipas angin rusak. Tepat di saat dia merasa akan mati megap-megap di detik berikutnya, sudut matanya menangkap pemandangan di bawah rindangnya pohon di pinggir lapangan.

Yuga sedang bersandar di pohon beringin, postur tubuhnya masih kelihatan keren dan tegap.

Sedangkan di pelukannya, ada pacar barunya yang sedang bersandar manja, Velen Sintia.

Velen tidak tahu sedang membicarakan apa sampai membuat sudut bibir Yuga agak terangkat, Yuga tertawa kecil lalu menoleh untuk mengecup bibir perempuan itu pelan.

Sinar matahari yang menembus celah dedaunan jatuh berbercak-bercak di tubuh mereka, kelihatan indah sekali seperti lukisan, tapi detik itu juga langsung membuat mata Shania perih.

Jantungnya rasanya seperti diremas kuat oleh tangan tidak kasat mata, sempat berhenti berdetak sedetik, rasa sakitnya membuat dia hampir limbung lalu terjatuh.

Dulu, orang yang berdiri di samping pria itu dan menikmati semua kelembutan serta kebaikan Yuga adalah dia, Shania.

Mereka tumbuh besar bersama sebagai teman masa kecil.

Yuga adalah idola sekolah, impian yang tidak akan bisa digapai oleh semua perempuan di SMA Nogara, tetapi di hati pria itu hanya ada Shania seorang.

Yuga akan membawakan dia susu hangat setiap hari, begadang demi merapikan catatan untuk Shania. Saat perut Shania sakit sampai mengeluarkan keringat dingin karena datang bulan, Yuga akan dengan canggung mengusap perutnya sambil memasang muka galak mengancam tidak boleh sering-sering makan es.

Mereka berjanji mau masuk universitas yang sama, bahkan sudah menyiapkan nama untuk anak mereka nanti, yang satu ikut marga Adrian dari Yuga, yang satu lagi ikut marga Nando dari Shania.

Yuga pernah menangkup wajahnya dengan tatapan mata yang berbinar seperti bintang, lalu bilang, "Nia, di setiap langkah rencana masa depanku, selalu ada kamu."

Namun, semua ini hancur berkeping-keping di satu siang yang memuakkan itu.

Ayah Yuga dan ibu Shania tidur bersama.

Sialnya, kejadian ini langsung dipergoki oleh ibu Yuga. Tidak lama setelah itu, ibu Yuga bunuh diri.

Kemudian ayah Yuga juga kabur membawa ibu Shania setelah skandal mereka terbongkar.

Hanya dalam semalam, Yuga kehilangan segalanya. Luapan kebenciannya tidak tahu harus ditumpahkan ke mana, sehingga dia benar-benar membenci Shania.

Sama seperti sekarang, Yuga jelas-jelas melihat Shania yang berjalan sempoyongan, berantakan, dan hampir pingsan, tapi dia hanya memasang senyum ejekan yang dingin, lalu memeluk Velen lebih erat lagi.

Senyuman itu rasanya seperti pecahan es beracun yang menusuk tepat ke hati Shania.

Shania paham dengan kebencian pria itu.

Tetapi ... kalau keluarga Yuga hancur, keluarga dia juga sudah tidak ada.

Dia juga sama-sama kehilangan ibu satu-satunya.

Di belakang mereka, sekarang sama-sama sudah tidak ada siapa-siapa lagi.

Shania sakit sekali sampai hampir tidak bisa berdiri tegap, tapi dia tetap menggigit bibir bawahnya kuat-kuat hingga terasa anyir darah, memaksa dirinya untuk bangun dan melanjutkan lari seperti robot.

Begitu bel tanda pelajaran selesai berbunyi layaknya sebuah pertolongan, Shania baru ambruk ke tanah seolah semua tenaganya sudah dikuras habis.

Dia berusaha merangkak ke bawah bayangan tiang basket, hanya ingin bernapas sebentar.

Namun, Velen malah datang menghampiri sambil membawa sebotol air mineral dan tersenyum manis.

"Shania, udah lari lama banget, pasti gerah, 'kan? Sini aku bantu ademin."

Sambil berbicara begitu, dia membalikkan pergelangan tangannya, lalu sebotol air mineral dingin langsung disiram dari atas kepala Shania!

"Ah!"

Shania kaget setengah mati karena kedinginan, airnya masuk ke mata sampai terasa perih dan sepat, rambutnya yang basah kuyup menempel di wajah, membuatnya makin kelihatan mengenaskan.

Velen membungkuk, lalu dengan suara yang cuma bisa didengar mereka berdua, dia memprovokasi dengan nada manis tetapi kejam, "Gimana? Menderita banget, 'kan? Lagian siapa suruh kamu punya ibu pelacur yang pintar banget goda orang? Kalau bukan karena ibumu, mana mungkin Yuga kehilangan kedua orang tuanya sekaligus? Ibumu sih enak ya, kabur bareng pria, terus ninggalin kamu ... kamu harus nebus dosa buat ibumu, tebus dosa selamanya!"

Shania memejamkan mata, membiarkan aliran air bercampur keringat menetes dari pipinya.

Dia tidak punya tenaga untuk berdebat, tidak punya kekuatan juga untuk melawan, hanya bisa pasrah menerima hinaan yang datang bertubi-tubi ini.

Begitu Velen selesai berbicara, Shania bertumpu memakai tangannya ke tanah, berniat bangun untuk pergi dari tempat yang membuat sesak napas ini.

Tepat di saat itu ....

"Krieeet!"

Tiang basket raksasa di samping mereka tiba-tiba goyang tanpa ada tanda-tanda apa pun, lalu langsung roboh ke arah mereka!

Hampir di waktu yang bersamaan, sebuah bayangan tegap melesat cepat dari arah samping!

Itu Yuga!

Raut wajahnya kelihatan panik dan cemas yang tidak pernah sekhawatir itu sebelumnya. Tujuannya jelas, tanpa ragu sedikit pun dia langsung menerjang Velen, mendekap perempuan itu erat-erat dalam pelukannya, lalu dengan posisi melindungi penuh, dia berguling cepat ke area aman yang jaraknya beberapa meter!

Hampir berbarengan dengan itu ....

"Braakkk!!!"

Tiang basket besar itu ambruk keras, kerangka besinya menghantam kaki dan tubuh Shania dengan telak!

"Kreeek."

Suara tulang retak terdengar jelas sekali.

Rasa sakit yang luar biasa langsung menyerang seluruh sarafnya, pandangan Shania menggelap, dia sakit sekali sampai hampir pingsan, tapi di tengah pandangannya yang kabur itu, dia bisa melihat dengan jelas ....

Yuga sedang memeluk Velen yang masih syok, berdiri di tempat yang aman sambil melihat dia diam saja.

Tatapan mata Yuga sempat tertuju ke kakinya yang luka parah mengenaskan, ada kilatan emosi yang samar sekali dan susah ditangkap, tetapi di detik berikutnya, emosi itu langsung tertutup oleh tatapan yang lebih dingin dan penuh kebencian.

Yuga tidak maju mendekat.

Tidak bertanya apa-apa.

Bahkan tidak berbicara sepatah kata pun.

Dia hanya melihat Shania untuk terakhir kalinya dengan tatapan dingin, kemudian tanpa ragu sedikit pun langsung balik badan, menggandeng tangan Velen dan pergi begitu saja.

Seolah-olah Shania hanya seekor kucing liar di pinggir jalan yang tertabrak mobil dan tidak penting sama sekali.

Shania menatap punggung Yuga yang pergi tanpa perasaan, luka robek di hatinya rasanya seperti ditusuk lagi kuat-kuat, membuat dia sampai susah bernapas karena saking sakitnya.

Pria itu benar-benar tidak mau ... berbicara dengan dia lagi, ya?

Padahal dia sudah sampai seperti ini, terkapar bersimbah darah di sini ....

Mereka ... benar-benar sudah tidak bisa kembali seperti dulu lagi, ya?

Sebelum kesadarannya benar-benar tenggelam dalam kegelapan, bayangan terakhir yang terlintas di otaknya adalah kejadian di siang itu, waktu Yuga memeluk mayat ibunya yang sudah dingin dengan tubuh penuh darah, sambil menatap Shania memakai mata yang merah padam penuh kebencian mendalam, lalu berbicara dengan penuh penekanan.

"Iya, Shania, kita nggak bisa balik kayak dulu lagi."

....

Saat bangun lagi, dia sudah ada di kamar rawat rumah sakit dengan bau menyengat cairan disinfektan.

"Anda udah sadar?" Suster sedang mencatat sesuatu, "Bagus deh kalau udah sadar, cepat kabari orang tua Anda buat datang ke sini."

Shania melihat sekelilingnya dengan bingung, suaranya parau, "Saya kenapa?"

Dokter yang memakai jas putih masuk, lalu menatap Shania dengan muka serius, "Shania, hasil pemeriksaan Anda yang tadi udah keluar. Anda ... kena kanker lambung, udah stadium akhir. Harus segera kabari orang tua Anda, kita perlu secepatnya diskusiin rencana pengobatan Anda."

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Bunga yang Layu Sebelum Ujung Jalan   Bab 22

    Di hari-hari setelahnya, dia tetap berjalan membuntuti di belakang Shania, tapi tidak lagi berani maju mendekat secara gegabah.Dia menatap Shania yang selalu datang sangat pagi untuk membaca buku di kelas, melihat gadis itu fokus mengerjakan soal saat jam istirahat, dengan seluruh pikirannya yang hanya tercurah untuk belajar.Saat ada siswa pria yang memanfaatkan kesempatan ketika Shania sedang keluar untuk menyelundupkan surat cinta ke dalam laci mejanya, Yuga akan langsung mengambil surat tersebut pada kesempatan pertama untuk dibuang ke tempat sampah.Saat ada siswi yang sengaja menyembunyikan buku pelajaran milik Shania, Yuga akan mencarinya secara diam-diam lalu meletakkannya kembali ke dalam laci meja Shania.Bahkan saat Velen tidak terima dan berniat mencari masalah dengan Shania, Yuga langsung menghadangnya dengan tatapan dingin."Jauh-jauh dari dia, atau jangan salahin kalau aku nggak bakal tinggal diam."Velen merasa sangat kesal sekaligus kecewa, "Yuga, kamu sebenarnya kena

  • Bunga yang Layu Sebelum Ujung Jalan   Bab 21

    Tetangga itu ... bukankah adalah ayahnya sendiri?Dan tante itu, tidak lain adalah ibunya Shania!Ternyata kejadian di masa lalu sama sekali bukan kesalahan ibu Shania!Ayahnyalah yang sudah memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan untuk memperkosa ibu Shania. Ayahnyalah yang sudah menghancurkan dua keluarga sekaligus!Sementara dirinya, justru karena pengecut dan tidak berani menghadapi aksi kejahatan sang ayah, tega melimpahkan seluruh kebenciannya kepada Shania.Membiarkan korban yang sesungguhnya menanggung seluruh penderitaan itu!"Ayah ... Shania ...." Yuga terduduk lemas di atas lantai sembari kedua tangannya mencengkeram rambutnya sendiri dengan kuat, melontarkan raungan kepedihan yang teramat parah.Dia sudah salah dengan teramat parah, salah hingga tidak bisa dimaafkan lagi!Dia membeli seikat bunga krisan putih, lalu berdasarkan alamat yang pernah diucapkan oleh teman sekelasnya dulu, dia berhasil menemukan area pemakaman Shania.Di atas batu nisan tidak tertera foto apa pun

  • Bunga yang Layu Sebelum Ujung Jalan   Bab 20

    Setelah Velen pergi, Yuga membawa pulang semua barang miliknya, menyisakan kesunyian yang memenuhi seisi rumah megah itu.Dia meletakkan foto kematian serta buku harian Shania di atas meja teh ruang tamu, lalu mengeluarkan seluruh persediaan alkohol dari lemari minumannya.Anggur merah, alkohol tradisional, hingga wiski.Apa pun jenis minuman yang bisa mematikan fungsi sarafnya, semua dia keluarkan.Tutup botol minuman berjatuhan ke atas lantai dengan suara "buk, buk". Dia mengambil sebotol alkohol tradisional, lalu menenggaknya dalam sekali tegukan besar langsung dari mulut botol.Cairan yang terasa membakar itu menyengat kerongkongannya, namun tidak mampu meredakan rasa sakit yang merajai lubuk hatinya.Dia menenggak minumannya gelas demi gelas, membuat tumpukan botol kosong di atas lantai kian hari kian bertambah banyak, menumpuk dari ruang tamu hingga ke area balkon.Tumpahan cairan alkohol membasahi lantai di mana-mana, membuat udara di sekelilingnya dipenuhi aroma alkohol yang te

  • Bunga yang Layu Sebelum Ujung Jalan   Bab 19

    Di dalam kamar tidur Shania, gorden tampak tertutup rapat, hanya menyisakan berkas cahaya samar yang menyelinap masuk dari celah kain.Yuga meringkuk di atas lantai sembari mendekap erat buku harian serta foto kematian Shania di dalam pelukannya, sudah tidak bergerak sama sekali selama tiga hari penuh.Selama tiga hari ini, dia tidak makan dan minum, juga tidak tidur ataupun beristirahat, membuat air matanya sudah lama mengering tanpa sisa.Di dalam otaknya terus memutar kembali setiap rekaman gambar dari kamera pengawas, memutar kembali untaian kalimat di dalam buku harian Shania, serta memutar kembali seluruh tindakan kejam yang pernah dilancarkannya kepada Shania.Mendorong gadis itu dari tangga, memaksa lari keliling lapangan sambil menggendong kantong pasir, mendiamkan gadis itu disiram air kotor tanpa berbuat apa-apa ....Setiap kali kenangan itu melintas, rasa sakit di hatinya kian bertambah hebat, seolah-olah hendak mencabik-cabik tubuhnya sampai hancur."Nia ... maaf ...." uca

  • Bunga yang Layu Sebelum Ujung Jalan   Bab 18

    Dia akhirnya paham kenapa Shania tidak pernah lagi membela diri setelah itu.Shania tahu dia tidak akan percaya, tahu bahwa di dalam benak pria itu, dirinya akan selalu menjadi anak dari seorang "pendosa" yang selamanya harus dihukum.Sementara Velen, wanita yang selama ini dia kira lemah lembut dan baik hati.Tidak hanya memfitnah Shania menyontek, bahkan masalah kartu ujian pun ternyata hasil rekayasanya sendiri!Perempuan itu sengaja menyembunyikan sobekan kartu ujian di dalam tas Shania, lalu sengaja menangis di hadapannya sambil bersikap seolah sudah dizalimi oleh Shania.Semua itu karena Velen sudah memperhitungkan bahwa dia membenci Shania, sehingga pasti akan langsung berpihak kepadanya tanpa ragu.Dia ternyata sudah dibodohi oleh Velen selama 10 tahun, bahkan ikut mendorong Shania ke dalam neraka yang lebih dalam!"Velen ...." Yuga mengatupkan giginya kuat-kuat dengan bagian putih mata yang sudah dipenuhi guratan darah, seiring dengan amarah yang bergolak hebat di dalam dada.

  • Bunga yang Layu Sebelum Ujung Jalan   Bab 17

    Dia bahkan buat berdiri saja sudah kesusahan, bahkan sudah tidak punya tenaga untuk sekadar bertahan hidup, bagaimana mungkin dia punya energi buat mencuri dan menyobek kartu ujian?Bagaimana mungkin dia ada pikiran untuk mencelakai Velen?"Aku benar-benar bodoh ...." Yuga mengangkat tangan untuk menangkup wajahnya, nadanya dipenuhi keputusasaan dan penyesalan mendalam.Dia mengeluarkan ponselnya. Jemarinya yang gemetaran membuat dia beberapa kali salah menekan nomor, hingga akhirnya berhasil menghubungi asistennya."Segera cari tahu! Selidiki masalah Shania yang dituduh menyobek kartu ujiannya Velen sebelum ujian kelulusan 10 tahun yang lalu!"Nada suara Yuga terdengar parau, tapi menyiratkan perintah yang tidak boleh dibantah."Periksa rekaman kamera pengawas di rumah Shania dulu. Nggak peduli pakai cara apa pun, kamu harus temukan rekamannya!"Asistennya belum pernah mendengar Yuga berbicara dengan nada seperti ini, sehingga tidak berani menunda dan bergegas menyahut."Baik, Pak Yug

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status