共有

16. BATAS TIPIS JIWA KITA

作者: Mystique
last update 公開日: 2026-08-04 21:00:04

"River... lo ngapain lagi di sini?"

Suara Paris terdengar serak, nyaris habis disapu angin malam kompleks yang dingin. Ia berdiri mematung di dekat pagar besi. Mencengkeram kantong plastik berisi obat dari apotek dengan sisa-sisa tenaga yang ia punya.

Pandangannya agak buram, namun siluet pria yang duduk di anak tangga teras rumahnya itu terlalu familier untuk dilewatkan.

River mendongakkan kepala. Mendengar suara parau itu, ia langsung bangkit berdiri. Jaket denim
この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード
ロックされたチャプター

最新チャプター

  • CANDU SENTUHAN PENGUASA KAMPUS    35. MAKAN SIANG YANG MANIS

    Langkah kaki Paris melambat begitu ia mendorong pintu kaca restoran milik Adrian. Bunyi denting lonceng kecil di atas pintu menyambutnya, seketika memotong kebisingan jalanan kota di siang hari yang padat. Harum aroma mentega yang dipanggang, seduhan kopi, dan samar-samar wangi kayu manis langsung menyergap indra penciumannya. Suasana hangat di dalam ruangan ini seketika menyelimuti Paris, mengusir sisa-sisa rasa sesak yang sempat mengimpit dadanya beberapa puluh menit lalu di taman kampus."Paris."Sebuah suara rendah dan familier memanggil namanya. Paris menoleh, mendapati Adrian yang baru saja keluar dari area bar. Pria berusia 24 tahun itu tidak lagi mengenakan celemek cokelatnya. Ia memakai kemeja katun hitam longgar dengan lengan yang digulung rapi hingga siku, dipadukan dengan celana kasual gelap. Penampilannya yang sederhana namun matang itu selalu berhasil memancarkan karisma tersendiri.Adrian berjalan menghampiri Paris dengan senyuman tipis yang tulus. "Kamu datang juga. S

  • CANDU SENTUHAN PENGUASA KAMPUS    34. LAGI DAN LAGI

    Pagi ini, langit menyisakan rona abu-abu yang tenang setelah hujan semalam. Paris berdiri di depan cermin kamarnya, mematut diri dengan sweter rajut berwarna cokelat susu dan celana jins yang pas di tubuhnya. Rambutnya ia biarkan tergerai bebas. Ia sengaja memoleskan pemerah bibir dengan warna yang sedikit lebih segar dari biasanya.Hari ini, Paris memutuskan untuk mengambil kembali kendali atas dirinya sendiri. Tidak ada lagi mata sembap, tidak ada lagi jemari yang gemetar karena menunggu kabar yang tak kunjung datang. Paris menarik napas dalam-dalam, menghembuskan perlahan, lalu menyandang tas bahunya dengan semangat. Langkahnya pagi ini terasa jauh lebih ringan.Di sudut lain kota ini, River baru saja menyelesaikan urusannya. Setelah memastikan keadaan Aruna cukup tenang sejak semalam, fokusnya langsung bergeser kembali pada Paris. Ia mengambil ponsel yang sempat ia abaikan, lalu mengetikkan sebuah pesan dengan rasa percaya diri yang biasa ia miliki.River: Pagi, Paris. Gue ke kamp

  • CANDU SENTUHAN PENGUASA KAMPUS    33. PELARIAN YANG MANIS

    Gerimis sore ini menemani langkah Paris menuju restoran milik Adrian. Sepanjang perjalanan dari kampus, bayang-bayang tentang pelukan River dan Aruna di lantai satu terus menghantui.Paris butuh tempat untuk melarikan diri dari bayang-bayang itu. Ia butuh oksigen untuk bernafas. Dan restoran milik Adrian adalah tempat yang paling tempat untuk menjadi pengalih perhatiannya.Paris mendorong pintu kaca restoran, memicu denting lonceng kecil yang manis di atasnya. Suasana di dalam belum terlalu ramai karena jam makan malam masih satu atau dua jam lagi. Beberapa pelayan yang sedang merapikan meja menoleh dan menyapanya dengan ramah."Sore, Kak. Sudah reservasi atau mau langsung cari tempat?" tanya seorang pelayan perempuan dengan celemek linen cokelat."Sore. Saya ada janji bertemu dengan Adrian. Tadi sempat berkirim pesan," jawab Paris, mencoba tersenyum se-normal mungkin.Pelayan itu langsung melebarkan senyum. "Oh, Kak Paris, ya? Mas Adrian sudah berpesan tadi. Mari, Kak, saya antar ke

  • CANDU SENTUHAN PENGUASA KAMPUS    32. DIA MASIH SAMA

    Paris tidak menoleh lagi. Dadanya bergemuruh hebat, antara puas telah menjatuhkan bom mental pada Aruna, dan rasa perih yang perlahan merayap naik ke tenggorokan setelah mengetahui bahwa bagi River ia memang tidak spesial. Hanya mainan, sama seperti para gadis yang selalu terjebak pada pesonanya.Paris melangkah naik menuju lantai dua, tempat kelasnya berada. Begitu sampai di beranda lantai dua, ia melihat River berjalan menemui Aruna. Paris bisa melihat dengan jelas kebersamaan antara dua orang itu. Meski tidak bisa mendengar apa yang mereka berdua bicarakan."Lo ngapain ke sini?" Suara River sinis dan dingin begitu ia sampai di hadapan Aruna. Matanya menatap Aruna dengan sorot menuntut penjelasan. "Gue udah bilang berkali-kali, Aruna. Jangan pernah datang ke kampus gue."Aruna menatap River dengan mata berkaca-kaca. Ia memilin ujung sweater, menampilkan gestur rapuh yang  membuat siapa pun tidak tega untuk membentaknya."Karena lo nggak pernah a

  • CANDU SENTUHAN PENGUASA KAMPUS    31. PERTEMUAN PARIS & ARUNA

    "Mau lanjut lihat apa? Kita ke sana," River menunjuk pusat game center tak jauh dari tempatnya. Paris tersenyum, mengangguk patuh seraya membiarkan jemarinya kembali tenggelam dalam genggaman hangat River. Sisa malam itu dihabiskan dengan penuh tawa. Aruna kembali berusaha menelfon River namun panggilannya gagal karena River mematikan ponselnya. Sampai di rumah setelah kencan manis sore itu. Mereka seperti tidak ingin berpisah. Di rumah masing-masing mereka saling berkirim pesan. River : Gue udah sampai rumah. Langsung mau mandi. Paris : Gue justru udah mandi. Makasih yaa buat hari ini. River : Anytime. Nanti kita main lagi kayak tadi. Gue traktir pizza. Paris : Okeee banget 🥰🥰 River : Yaudah, gue mandi dulu. Selesai mandi gue chat lagi. Mereka saling berkirim pesan hingga tengah malam. Berkali-kali Aruna masih mencoba menelfon River. Namun pemuda itu sengaja men

  • CANDU SENTUHAN PENGUASA KAMPUS    30. HARI-HARI MANIS BERSAMANYA

    "Besok gue jemput kuliah. Jangan hindarin gue lagi, ya."Permintaan River yang posesif itu, menyempurnakan kencan manis mereka malam ini, River benar-benar membuktikan bahwa ia peduli pada Paris.Seolah ingin menebus dosa-dosanya di masa lalu, perilaku River berubah drastis. Tidak ada lagi sosok River yang sulit dijangkau, penuh rahasia, atau tiba-tiba menghilang karena panggilan misterius. Yang ada hanyalah River yang selalu hadir untuk Paris.Perubahan itu paling terasa di kampus. Siang itu, Paris baru saja keluar dari ruang seminar ketika ia melihat sosok tinggi tegap sedang bersandar di pilar gedung fakultas, mengabaikan tatapan kagum beberapa mahasiswi junior yang lewat di depannya."Udah selesai kelasnya?" tanya River begitu Paris mendekat. Senyumannya tipis namun pandangan matanya begitu mengunci. Tanpa ragu, di depan banyak pasang mata, River mengacak rambut Paris pelan.Paris sempat tersentak, masih belum terbiasa dengan pamer ke

続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status