Mag-log inMalam hari, Renee berbaring di tempat tidur, memikirkan kata-kata yang baru saja Arvin ucapkan di ruang kerja.Hatinya melembut. Dia lalu berbalik dan memeluk Arvin erat-erat. Arvin tertegun ketika dipeluknya, lalu menunduk menatapnya."Ada apa?"Biasanya Renee tidak akan memeluknya seperti ini karena takut api dalam tubuh Arvin tersulut. Kalau begitu, Arvin harus mandi air dingin lagi dan kembali menderita. Jadi, setiap kali Renee ingin menjauh darinya.Setiap kali, justru Arvin yang tidak bisa menahan diri untuk memeluk Renee, menciumnya, dan akhirnya membuat tubuhnya sendiri dipenuhi api.Malam ini, Renee malah memeluknya lebih dulu? Arvin tersenyum, lalu menunduk dan mencium keningnya."Mau?"Sebenarnya Renee sangat menginginkannya, tetapi dia tidak berani mengatakannya. Dia takut dirinya akan mundur di saat terakhir dan malah membuat Arvin menderita lagi. Jadi, dia hanya menggeleng pelan di dalam pelukan Arvin."Nggak, aku nggak mau. Aku cuma ingin memelukmu seperti ini dengan ten
Tentu saja, bahkan kalau melihat pun, Renji sudah terbiasa.Di dapur masih ada sepanci dendeng sapi yang sedang dipanggang. Renee berniat masuk ke dapur untuk mengurusnya. Saat melewati ruang tamu lantai satu, dia tanpa sengaja melihat televisi yang masih menyala sedang menayangkan penampilan Nissa.Tanpa sadar, langkahnya terhenti.Melihat wanita di layar yang masih tetap bersinar, dia tidak menyangka bahwa baru saja keluar dari penjara, Nissa sudah bisa kembali berdiri di atas panggung secepat itu.Tanpa dukungan yang sangat kuat di belakangnya, dia tidak mungkin bisa melakukan hal seperti itu. Sepertinya Juwita benar-benar berniat mengangkat derajatnya kembali.Hati Renee terasa seperti tertusuk jarum, tetapi ketika dia teringat suami dan anaknya yang masih menunggunya untuk minum teh susu bersama, dia segera menggelengkan kepala dan mengingatkan dirinya sendiri agar tidak memedulikan hal-hal itu.Renee mematikan api. Ketika keluar, dia melihat entah sejak kapan Arvin juga sudah mas
Setelah pulang dari rumah lama, Renee akhirnya benar-benar percaya dengan kata-kata Arvin. Walaupun di dalam hatinya masih terasa seperti tertusuk duri ... hatinya tetap terasa agak sakit setiap kali mengingat Nissa. Namun, begitu memikirkan bahwa Arvin berada di pihaknya ....Renee tidak lagi merasa panik.Nissa mengatakan, kali ini berbeda dari sebelumnya.Memang benar.Dulu Arvin sama sekali tidak memiliki perasaan untuknya. Setiap kali terjadi sesuatu, dia selalu melindungi Nissa. Namun, sekarang sudah terbalik. Yang dilindungi Arvin adalah dirinya. Dia seharusnya percaya pada Arvin dan juga memberi dirinya sendiri kepercayaan.Hari Minggu.Sesuai rencana, Renee membuat teh susu dan dendeng sapi di rumah.Arvin yang berada di samping mencoba untuk membantu, tetapi malah semakin membuat berantakan, sampai akhirnya Renee mengusirnya keluar. Arvin pun terpaksa kembali ke ruang kerja.Renee membawa dendeng yang sudah dipanggang dan teh susu ke taman. Arvin yang mencium aromanya, langsu
Renee tidak berkata apa-apa lagi.Juwita memang sedang berada di rumah kaca, sibuk merawat bunga-bunganya. Melihat mereka berdua masuk, dia hanya mengangkat kelopak mata dan melirik sekilas, lalu kembali menundukkan kepala.Setelah menyuruh Renee duduk di kursi di samping, Arvin berjalan menghampiri Juwita."Ibu, kamu yang bebaskan Nissa dari penjara?" tanyanya langsung.Juwita meliriknya dan berkata dengan nada datar, "Kalau iya, memangnya kenapa?""Nggak kenapa-kenapa. Aku hanya ingin Renee mendengarnya langsung, supaya dia nggak mengira aku yang membebaskannya." Nada dan ekspresi Arvin tetap lembut.Namun, gerakan Juwita berhenti. Dia mengangkat kepala dan menatap Arvin. "Arvin, kamu sengaja datang ke rumah lama hanya supaya gadis tuli itu mendengar kalimat ini?""Iya." Arvin mengangguk, lalu berbalik kepada Renee."Sayang, sekarang kamu percaya 'kan bukan aku yang mengeluarkan Nissa?"Renee merasa canggung. Dia buru-buru melirik Juwita, lalu menundukkan kepala.'Si Arvin ini ... ap
"Aku nggak perhatikan," jawab Arvin."Jadi kamu nggak tahu dia sudah keluar dari penjara, benar?""Nggak tahu."Arvin menggeleng, lalu bertanya dengan bingung, "Dia sudah keluar? Siapa yang kasih tahu kamu?""Aku baru saja melihatnya." Renee masih menatap Arvin dengan saksama, tidak melewatkan sedikit pun perubahan ekspresi di wajahnya. "Lebih tepatnya, dia baru saja menungguku di toilet.""Apa yang terjadi?" Arvin langsung tegang. Kedua tangannya memegang bahu Renee sambil menatapnya dari atas ke bawah. "Apa dia melakukan sesuatu padamu? Kamu terluka?""Nggak." Renee menggeleng pelan."Dia nggak melakukan apa-apa padaku. Tapi, dia bilang kamulah yang membebaskannya dari penjara.""Arvin, aku nggak percaya kamu akan melakukan itu. Tapi dia mengatakannya dengan sangat serius. Dia bahkan menyuruhku datang untuk tanyakan langsung sama kamu kalau aku nggak percaya.""Jadi, aku datang."Nissa mengira dia masih Renee yang dulu, gadis tuli yang tidak berani berkata apa-apa dan tidak berani be
"Kenapa? Nyonya Suryana secepat itu sudah nggak kenal aku lagi?" Nissa menyunggingkan senyum sinis, matanya penuh kebencian."Kamu ...."Renee membuka mulutnya, tetapi tidak mampu mengucapkan sepatah kata pun. Kedua tangannya yang bertumpu di wastafel perlahan mengepal semakin erat.Wanita menyebalkan ini muncul lagi. Mana mungkin dia tidak khawatir? Mana mungkin dia tidak takut kehidupan yang baru saja kembali tenang itu akan hancur lagi?Namun, Nissa malah sangat menikmati reaksinya. Senyum di sudut bibirnya semakin terlihat jahat. Dia melangkah mendekat sedikit demi sedikit dan menatap Renee, lalu berkata dengan jelas satu per satu, "Renee, masa-masa bahagiamu sudah berakhir."Tubuh Renee tanpa sadar gemetar, kedua kakinya melemah hingga hampir jatuh ke lantai."Nyonya Suryana, apa perlu setegang itu? Aku keluar dari sana memang hanya soal waktu. Atau kamu kira aku akan tinggal di dalam selamanya?"Nissa melangkah semakin dekat. "Kalau aku bilang Arvin yang membebaskanku, apakah kam
Renee menahan air mata sambil tersenyum.Tadinya dia masih bertanya-tanya. Siang bolong begini, ditambah hujan deras, mana mungkin ada banyak pemabuk berkeliaran? Ternyata, Arvin yang menyuruh orang mencarinya. Kalau tidak memaksa dirinya sampai ke ujung jurang, Arvin memang tidak berniat melepaskan
"Bu, aku sudah bilang. Aku nggak berniat bercerai sama Renee."Juwita meliriknya sekilas, lalu mengangkat dagu menunjuk kursi di seberangnya. "Ke sini, minum teh dulu."Arvin tetap berdiri, tidak bergerak sedikit pun.Juwita mengambil cangkir teh, menyeruput sedikit, lalu kemudian berkata, "Lihat ka
Renee tersenyum tipis, menandakan bahwa dia menyetujui ucapan tersebut. Lia lalu memberi isyarat dengan tangan.[ Renee, mana ada suami-istri yang nggak bertengkar? Kalau dia memang masih sayang sama kamu dan bukan orang yang benar-benar buruk, maafkan saja. Pulanglah dan jalani hidup baik-baik lagi
"Arvin sedang rapat, bukan?"Renee terisak pelan. Sebenarnya dia sempat terpikir untuk menelepon Arvin, tetapi dia ingat Arvin tidak suka diganggu saat bekerja. Dia takut membuat Arvin marah.Andre mewakili Arvin. Menurutnya, menelpon Andre juga sama saja."Bu Renee, meskipun Pak Arvin sedang rapat,







