Compartir

5. Sebelum Papa Datang

Autor: 5Lluna
last update Fecha de publicación: 2026-01-25 14:00:13

"Jauh-jauh dariku dasar penjahat." Mira kecil mendorong Lyn yang masih berjongkok, walau tentunya itu tidak ada artinya.

"Bagaimana kalau aku ajak kamu masuk ke dalam sekolah saja?" Lyn bertanya dengan tenang, sambil mengulurkan tangan. Melupakan kemungkinan anak di depannya adalah milik Julian Vale. "Nanti gurumu khawatir loh."

Alih-alih menerima uluran tangan itu dengan benar, Mira malah memegang dengan kedua tangan. Namun, itu dia lakukan untuk menggigit tangan Lyn.

Lyn berdesis pelan, lalu menarik tangannya dengan cepat. Itu membuat si anak kecil sedikit tersentak, sampai nyaris jatuh. Untungnya, Lyn dengan cepat menarik tangan Mira.

"Demi, Tuhan." Lyn refleks saja bicara. "Itu bukan tindakan yang baik."

"Itu urusanku." Bukannya merasa menyesal, Mira malah makin jutek.

Jujur saja, Lyn sudah melotot. Mau anak di depannya anak siapa, rasanya dia mau sekali memarahi orang tua yang tidak bisa mengajarkan sopan santun. Tapi, sekarang dia jelas tidak bisa melakukan itu. Untungnya, penyelamat datang.

"Mireille." Seorang lelaki muda datang mendekat. "Apa yang kau lakukan di sana?"

Mira, melirik ke arah lelaki yang datang. Keningnya berkerut, sebelum memilih mendekat ke arah Lyn. Dia bahkan memegang kaki yang terbalut dengan kain jeans itu.

"Mira kemarilah." Lelaki tadi mengulurkan tangan, tapi sama sekali tidak disambut.

"Maaf, apa Anda gurunya?" tanya Lyn mencoba untuk sopan.

"Ya dan kau siapa?"

Nada suara yang terdengar datar dan dingin itu, membuat sebelah alis Lyn terangkat naik. Dia sama sekali tidak menyangka ada guru taman kanak-kanak yang berbicara sekasar itu.

"Saya hanya seseorang yang kebetulan lewat dan menemukan anak ini berdiri di luar pagar." Lyn tetap menjelaskan. "Saya sudah coba ajak masuk kembali ke gedung sekolah, tapi dia tidak mau."

"Itu terlalu mencurigakan." Si guru malah melipat tangan di depan dada. "Kau terdengar seperti penculik."

"Penculik bodoh mana yang mau menjelaskan seperti tadi?" tanya Lyn menaikkan kedua alisnya. "Apalagi, ada CCTV sebesar semangka di atas sana."

"Itu tidak seperti semangka." Tanpa terduga, Mira bersuara.

"Oke." Lyn berdehem pelan, menahan tawa. "Maksudnya terlihat dengan jelas."

"Tapi kau jelas bukan wali anak ini." Si guru tetap saja mendebat, dan Lyn mengerti itu.

"Makanya, saya berniat memberikan anak yang mengaku bernama Mira ini ...."

"Aku tidak pernah mengaku," hardik Mira, malah mencubit kaki Lyn.

"Kamu tadi menyebut namamu, Sayang." Lyn hanya bisa tersenyum, walau cubitan itu terasa agak sakit.

"Maksud saya, Anda boleh mengambil Mira." Lyn kembali menatap sang guru, bahkan berusaha mendorong pelan anak yang dia maksud.

Sayangnya, Mira berusaha bertahan pada posisinya. Dia bahkan memeluk kaki Lyn dengan erat. Benar-benar memeluk dengan dua tangan mungilnya.

"Kau apakan dia?" Si guru bertanya.

"Tidak ada." Lyn menjawabnya dengan kening berkerut.

"Kalau begitu, kenapa dia tidak mau lepas darimu."

"Saya juga tidak tahu. Dia tiba-tiba saja seperti ini, padahal tadinya galak. Bapak bisa cek CCTV kalau tidak percaya."

Pak guru itu menatap ke arah benda yang dibicarakan Lyn, kemudian mengembuskan napas dengan keras. Dia kemudian beralih pada dua perempuan beda usia di depannya dan kembali menghela napas.

"Coba kau masuk ke dalam." Si guru pada akhirnya meminta.

Lyn mengerutkan kening. Dia menatap anak yang masih menempel padanya, kemudian menatap ke arah halaman sekolah yang terlalu besar untuk taman kanak-kanak itu.

"Aku akan masuk, apa kamu ikut?" Lyn bertanya lebih dulu, tapi dia sama sekali tidak mendapatkan jawaban. Hanya tatapan dari mata bulat besar, yang entah berarti apa.

"Kalau begitu, ayo masuk bersama saja." Lyn mengulurkan tangan.

Uluran tangan itu tidak langsung bersambut, dan hanya dilihat saja oleh Mira. Cukup lama, sampai akhirnya gadis kecil itu memilih untuk memegang jari telunjuk Lyn saja, kemudian menarik perempuan yang lebih besar darinya itu.

Terkejut karena tiba-tiba ditarik, Lyn sedikit limbung. Namun, dia bisa dengan mudah mengimbangi langkah bocah di depannya.

Sang guru mengangkat kedua alis melihat anak didiknya dengan mudah dibujuk oleh orang asing. Tapi, dia tidak bisa terus diam begitu saja, hanya karena Mira sudah aman di dalam halaman sekolah.

"Harusnya Mireille dijadwalkan untuk les tambahan, tapi sepertinya dia tidak mau ikut." Si guru tiba-tiba berbicara.

Lyn mengalihkan tatapan ke arah anak yang sudah berlari untuk bermain ayunan, kemudian kembali menatap lelaki di depannya. Menunggu sang guru untuk menyelesaikan kalimatnya.

"Dia baru diantar sekitar empat puluh lima menit lalu, tapi aku akan telepon orang tuanya lagi." Si guru mengembuskan napas, sebelum melangkah masuk ke dalam gedung.

Lyn tidak memberi reaksi dan hanya menatap ke arah Mira. Dia mendekati anak yang tengah berayun itu.

"Apa nama depanmu Mireille dan nama panggilanmu Mira?" Lyn bertanya, berjongkok di samping ayunan yang lebih aman. Sayangnya, dia tidak mendapat jawaban.

"Kenapa dari tadi kamu kok cemberut sih?" Lyn kembali bersuara. "Anak cantik jangan cemberut dong."

Sayangnya, Mira tidak menjawab. Dia sempat melirik sekilas ke arah perempuan di sebelahnya, tapi itu saja. Anak kecil itu tidak lagi mau berinteraksi setelahnya, bahkan setelah Lyn terus berusaha untuk mengajak bicara.

Lalu tanpa sadar, waktu sudah berlalu lebih dari satu jam. Itu pun baru disadari Lyn ketika perutnya berbunyi karena lapar.

"Adik kecil, bagaimana kalau kamu pergi panggil gurumu dulu?" tanya Lyn memegang perutnya. "Atau apa kamu bisa mengantarku? Soalnya aku harus pamit sekarang."

"Mau pulang?" tanya Mira dengan kening berkerut.

"Iya, soalnya aku belum makan dari pagi." Lyn meringis mengingat roti kering yang sudah tidak layak makan pagi tadi.

Kening Mira makin berkerut dan bibirnya makin maju mendengar hal itu. Namun, itu tidak berlangsung lama, karena suara yang tiba-tiba terdengar membuatnya riang.

"Mira, apa yang kau lakukan di sana?"

"PAPA." Si kecil Mira langsung berlari melewati Lyn, membuat perempuan itu ikut menoleh.

Lyn bisa melihat kedatangan seorang lelaki jangkung yang menggunakan kacamata. Lelaki yang pernah dia tatap matanya, saat dirinya tercebur di kolam renang kemarin dan saat tadi siang.

"Julian Vale," gumam Lyn pelan.

Continúa leyendo este libro gratis
Escanea el código para descargar la App

Último capítulo

  • CEO Jahat untuk Gadis Tertindas   75. Bukan Bawahan

    "Mira." Lyn langsung mendekati anak yang sedari tadi membuatnya bingung itu. Dia mengulurkan tangan, mengambil Mira dari gendongan sang ayah begitu saja. Bahkan, itu sempat membuat Julian menaikkan alis."Kau ke mana?" tanya Lyn lembut. "Kenapa tidak bilang?""Jemput Papa," jawab Mira pelan. "Mira tidak bilang karena cuma sebentar.""Lain kali jangan begitu ya. Miss panik loh."Mira tidak menjawab. Dia hanya mengangguk, kemudian memeluk pengasuhnya dengan erat.Julian pun tidak banyak bicara. Dia hanya menatap pemandangan di depannya dalam diam. Membiarkan Lyn berinteraksi dengan murid lain, sambil memeluk Mira."Tuan Julian." Suara manis Melissa terdengar lembut. "Saya tidak tahu Anda akan datang.""Benar." Seorang wali murid ikut menimpali. "Kalau tahu kami kan bisa menyambut dengan benar."Alih-alih menanggapi, Julian melepas jasnya. Dia memberikannya pada Sebastian, melepas dasi dan kancing teratas kemeja, juga menggulung lengan kemeja panjangnya. Hal yang membuat beber

  • CEO Jahat untuk Gadis Tertindas   74. Suara dari Balik Kerumunan

    "Mira," panggil Lyn sekali lagi.Tatapan Lyn menyapu ke segala arah. Tidak ada Mira dia lihat, bahkan Sebastian pun tidak terlihat."Miss kenapa?" Arga bertanya."Arga lihat Mira tidak?"Anak lelaki tambun itu tidak langsung menjawab. Dia menatap sekitar terlebih dulu, kemudian menggeleng pelan."Tadi ada di sebelah sana, tapi sekarang tidak ada lagi." Arga menunjuk ke sebelahnya."Saya tadi lihat wali Mira pergi ke arah sana." Ibu dari Arga tiba-tiba saja bersuara. "Mungkin sedang mengejar anak itu."Lyn menoleh ke arah yang ditunjuk, tapi tidak menemukan orang yang dicari. Kakinya bahkan sudah melangkah, tapi tertahan. Dia menatap kelompok kecilnya, merasa bimbang.Lyn menggigit pelan bagian dalam bibirnya. Dadanya mulai terasa tidak nyaman. Namun, dia tidak bisa langsung pergi begitu saja. Masih ada Arga dan Rafi bersamanya."Miss?" Rafi memanggil pelan. Anak itu terlihat mulai ikut cemas dan membuat Lyn menarik napas panjang."Oke." Pada akhirnya, dia jongkok di depan k

  • CEO Jahat untuk Gadis Tertindas   73. Hilang

    Lyn menatap ketiga anak di depannya yang berjalan ceria. Arga bahkan sudah berbalik dan menarik lengannya."Mau lihat singa!" pekik Arga kegirangan."Kita jalan pelan-pelan ya," ucap Lyn. "Tidak boleh lari."Arga mengangguk cepat, lalu tetap melangkah lebih dulu. Berbeda dengan Mira yang jalan paling belakang, masih saja terus diam sejak tadi."Arga." Lyn menegur dan anak itu langsung berhenti. "Bareng," ucapnya pelan.Arga kembali mendekat ke arah Lyn, menggenggam tangan sang guru dengan senyum cerah. Membuat ibu anak itu sedikit kebingungan, sekaligus terlihat sedikit cemas. Sudah bisa menguasai Arga, kini menoleh ke anak berkacamata. Dia menatap anak itu sedikit lebih lama, mencoba untuk mengingat anak pendiam itu."Kalau tidak salah, Rafi di kelas mawar kan?" Lyn bertanya dengan pelan."Miss Lyn ingat aku?" Anak yang dipanggil Rafi melebarkan mata, menatap gurunya dengan binar."Tentu saja Miss ingat kamu." Lyn mengulurkan tangan untuk mengelus rambut anak berkacamata i

  • CEO Jahat untuk Gadis Tertindas   72. Tidak Terpilih

    "Kita sudah sampai!" teriak salah satu anak dengan penuh semangat."Semua tetap duduk ya," ucap Lyn dengan suara lebih tegas dari sebelumnya. "Turun satu-satu. Tidak boleh dorong-dorongan."Namun, beberapa anak sudah mulai berdiri di kursi. Bahkan, ada beberapa wali murid yang juga sudah berdiri. Melihat situasi mulai tidak terkendali, Lyn langsung bergerak ke depan pintu bus."Pelan-pelan, satu baris," ucap Lyn sambil menahan satu anak yang hampir melangkah turun tanpa menunggu.Tidak lama kemudian, pintu bus terbuka. Beberapa wali murid ikut berdiri, sebagian membantu anaknya, sebagian lagi justru ikut terburu-buru."Anaknya duluan," ucap Lyn, berusaha menjaga alur. "Wali menyusul di belakang anaknya ya.""Tidak usah diatur seperti itu," ucap seorang wali dengan nada kurang senang. "Saya bisa pegang anak saya sendiri."Kedua alis Lyn sedikit terangkat mendengar hal barusan. Dia bahkan hanya bisa melihat wali murid yang protes tadi, berlalu begitu saja dengan bibir terbuka. S

  • CEO Jahat untuk Gadis Tertindas   71. Kedekatan yang Salah

    Lyn menatap seisi bus. Suara ocehan nyaring anak-anak memenuhi bus. Semua sudah duduk bersama wali masing-masing. Bus pun mulai berjalan, tapi Lyn masih belum bisa tenang."Miss, sini." Seorang anak memanggil. "Duduk sini."Tatapan Lyn tertuju pada kursi kosong di seberang anak itu. Kebetulan dua kursi itu tidak ada yang menduduki."Eh, kenapa panggil dia sih." Sayangnya, wali anak itu tampak kurang senang.Senyum Lyn yang sempat mengembang pun hilang seketika. Dia menatap wali murid tadi, kemudian beralih pada wali murid lain di sekitar. Beberapa di antaranya menatapnya dengan ekspresi tidak suka."Miss Lyn tidak duduk di depan saja?"Lyn menoleh. Dia bisa melihat Melissa berdiri di antara dua kursi, menatapnya dengan senyum tipis yang tidak benar-benar hangat. "Biasanya guru duduk di depan," lanjut Melissa santai. "Lebih mudah mengawasi.""Kalau untuk mengawasi, bukankah lebih baik di belakang?" Lyn menjawab dengan nada tanya. "Tidak perlu menoleh ke belakang untuk melihat

  • CEO Jahat untuk Gadis Tertindas   70. Aku Harap Kau Bertahan

    "Tuan Julian serius tidak bisa ikut?" tanya Lyn dengan kening berkerut dan ponsel tertempel di telinga."Tidak bisa." Suara Julian dari sambungan telepon. "Ada kejadian tak terduga yang harus aku urus di kantor, makanya aku mengirim Sebastian dulu."Lyn menoleh, pada pria paruh baya yang berdiri tidak jauh darinya itu. Dia membalas senyuman Sebastian, kemudian kembali berbicara lagi."Apa rapatnya tidak bisa ditunda?" tanya Lyn."Aku tidak rapat." Julian berucap tegas. "Ada yang perlu diurus dan itu penting."Lyn menatap jam tangan pintar yang dia pakai. Waktu terus berjalan, sementara anak-anak dan para wali mulai berdatangan satu per satu."Baiklah." Pada akhirnya hanya itu yang bisa Lyn ucapkan. "Tapi kalau Tuan Julian selesai lebih cepat, tolong menyusul ke kebun binatang. Nanti saya kirim lokasinya.""Aku tidak janji," balas Julian sebelum menutup sambungan telepon.Embusan napas Lyn terdengar cukup keras. Suara anak-anak yang mulai rama

  • CEO Jahat untuk Gadis Tertindas   24. Janji Tak Terucap

    "Papa peluk Miss Lyn."Suara bernada imut itu membuat dua orang dewasa di puncak tangga menunduk. Mereka masih dalam posisi yang aneh, tapi ketika melihat wajah tersenyum Mira, Lyn bergegas menjauh."Terima kasih sudah menahanku," ucap Lyn menjauhi tangga."Sama-sama." Julian terlihat cukup ten

  • CEO Jahat untuk Gadis Tertindas   23. Menunggu di Ujung Tangga

    Cahaya matahari pagi baru masuk ke kamar ketika Lyn sudah selesai bersiap. Tidak banyak, tapi setidaknya lumayan untuk membuat ruangan sedikit lebih hangat. Benar-benar hanya sedikit saja. "Di sini benar-benar suram," gumam Lyn menatap seisi kamarnya. "Tapi, bukan itu yang penting," lanjutnya mem

  • CEO Jahat untuk Gadis Tertindas   22. Racun yang Dibungkus Manis

    "Hari ini kau pulang malam lagi?" Itu adalah kalimat pertama yang Lyn dengar, saat masuk ke dalam rumah. Membuatnya mengembuskan napas lelah, bahkan rasanya mau memutar bola mata. Namun, Lyn berusaha menahan diri. "Aku punya dua pekerjaan, Tante." Lyn membalas dengan tenang. "Wajar kalau pulang

  • CEO Jahat untuk Gadis Tertindas   13. Orang Berbahaya

    "Baby," panggil Lyn karena gadis kecil di depannya belum memberikan jawaban. "Yes or no?" Mira masih belum menjawab. Dia hanya terus menatap Lyn, dan masih sempat menatap ke arah Elena juga, walau itu hanya terjadi sekilas. "Berhenti menekan Mira." Elena memberanikan diri untuk bicara lagi. "Ja

Más capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status