MasukLyn mendongak menatap gedung tinggi di depannya. Terlihat mengkilap di siang hari yang cerah, karena ditutupi oleh kaca. Sangat tinggi, membuat leher Lyn terasa sakit setelah menatap cukup lama. Namun, dia memilih untuk tidak langsung masuk.
Kepala Lyn menengok ke area di dekat pintu masuk gedung tinggi itu. Dia sedang mencari tempat yang cocok untuk menunggu, dan kalau bisa sambil duduk. Berdiri terus juga akan membuatnya lelah. "Baiklah," ucap Lyn setelah mendapat tempat untuk duduk yang lumayan sejuk. Itu pun dia hanya duduk di atas beton, yang juga berfungsi sebagai pot. "Strategi pertama," gumam Lyn mencatat pada ponselnya yang terlihat agak usang. "Menunggu Julian Vale datang dan berusaha cari kesempatan untuk bicara." Strategi yang diucapkan Lyn terdengar terlalu frontal, tapi kalau dia pergi menanyakan Julian Vale pada resepsionis, dirinya pasti akan diusir dengan sangat menggenaskan. "Sebelumnya, aku coba baca lagi apa yang aku temukan di internet." Lyn kembali bergumam pada dirinya sendiri. Hal itu membuat beberapa orang menoleh, tapi Lyn tidak peduli. Dari kehidupan sebelumnya pun, dia sudah sering mendapat tatapan seperti itu karena suka bicara sendiri. Lagi pula, Lyn sekarang sibuk membaca apa pun yang bisa dia temukan tentang Julian Vale. "Katanya hari ini Tuan Vale datang terlambat." Mata Lyn langsung melirik naik ketika mendengar ucapan barusan. Ada dua orang lelaki berjas yang baru saja melintas di depannya, sambil membawa tas laptop. "Aku dengar Nona Mira membuat masalah lagi, jadi sepertinya mood Tuan Vale tidak akan baik." Tatapan Lyn kembali tertuju pada ponselnya. Dia menggulir layar dengan cepat, untuk menemukan informasi yang baru saja dia dengar. "Julian Vale adalah ayah satu anak." Lyn mengangguk pelan. "Pasti lucu, tapi aku hanya mengincar bapaknya." Kepala Lyn kembali menunduk. Dia mencoba menyusun strategi baru lagi, ketika merasakan kehadiran seseorang di dekatnya. "Maaf, tapi kenapa kamu duduk di sini?" Seorang petugas keamanan bertanya. "Oh, saya hanya istirahat sebentar saja." Lyn menjawab dengan senyum lebar dan tenang. Bisa seperti itu, karena dia memang sudah mengantisipasi hal seperti itu. "Istirahat di tempat lain saja." Sayangnya, si petugas keamanan malah mengusir. "Tuan Vale akan segera datang dan saya tidak mau kena masalah." "Sebentar saja, Pak." Lyn berusaha membujuk. "Kalau Tuan Vale yang Bapak sebut sudah datang, saya bakal pindah kok." Si petugas keamanan berdecak pelan, sudah mau melangkah pergi. Tapi deru mesin mobil yang terdengar makin mendekat, membuat tubuhnya menegang. Apalagi setelah kemunculan mobil sedan hitam tak lama kemudian. "Minggir sana." Si petugas keamanan mendorong tubuh kurus Lyn, nyaris membuat perempuan itu terjungkal. Lyn bisa melihat seorang lelaki berkacamata keluar dari pintu penumpang mobil itu. Inginnya dia langsung mengejar, tapi tidak bisa. Lyn masih harus berusaha untuk meluruskan badan dan berdiri, dan langkah Julian Vale terlihat sangat cepat. Baru dua langkah, tapi lelaki yang Lyn incar sudah berada di dalam gedung. Padahal rasanya baru lima detik lalu mobil hitam di depannya tiba. "Sekarang pergi sana." Si petugas keamanan mengusir lagi. Lyn tidak menjawab, tapi dia pada akhirnya beranjak. Masih sempat menengok ke dalam gedung, tapi pada akhirnya memilih untuk pergi saja. "Mungkin, nanti bisa dicoba lagi." Lalu saat bersamaan, Julian yang sudah menyeberangi lobi, malah berbalik. Dia menatap ke arah pintu otomatis yang baru saja terbuka lagi, dan masih bisa melihat punggung Lyn. "Apa ada sesuatu, Tuan?" Seseorang bertanya. "Tidak ada," jawab Julian dengan ekspresi datar, sebelum akhirnya meneruskan langkah. *** "Aduh, kenapa kakiku sakit sih." Lyn mengeluh, sambil sesekali berusaha memijat betisnya. "Padahal hidupku sebelum ini penuh dengan jalan kaki, tapi sekarang baru jalan sedikit sudah lelah." Lyn kembali mengeluh. Perempuan itu mengembuskan napas. Cukup berat, karena merasa memang harinya cukup berat. Tapi, pemandangan yang ada di sekitarnya membuat Lyn merasa perlu berhenti. Tatapannya tertuju pada pohon-pohon rindang yang hanya tumbuh di depan sebuah bangunan yang dikelilingi tembok tinggi. Hal yang membuat Lyn penasaran dan ingin tahu bangunan apa itu. "Oh, taman kanak-kanak," ucap Lyn ketika bisa membaca papan yang tertera. "Apa aku boleh lihat ke dalam?" "Bibi tidak boleh masuk." Suara melengking yang terdengar, membuat Lyn sedikit tersentak. Dia refleks saja menunduk, mencari sumber suara dan menemukan anak kecil yang berdiri di luar pagar yang sedikit terbuka. Anak perempuan dengan seragam sekolah lucu berwarna pink. "Halo, apa kamu murid sekolah ini?" Lyn bertanya dengan sedikit sopan, sedikit membungkuk. "Itu bukan urusan Bibi." Anak perempuan itu menghardik. Lyn refleks saja memegang dada karena terkejut dengan cara bicara anak di depannya itu. Tapi, gertakan tadi tidak membuatnya langsung mundur. Lyn malah berjongkok. "Nama kamu siapa adik kecil?" "Kenapa tanya-tanya? Kamu penculik ya?" "Namaku Lyn dan aku bukan penculik anak. Aku hanya bertanya karena sepertinya kamu tersesat dan butuh diantar masuk ke dalam. Anak baik, tidak akan bolos sekolah kan?" Anak perempuan tadi malah cemberut dan membuang muka. Dia bahkan menggembungkan pipi dan itu terlihat menggemaskan. "Aku tidak mau sekolah," ucap anak itu. "Kalau Papa tidak mau berhenti kerja, Mira tidak mau." "Tunggu dulu, namamu Mira?"Kerutan di dahi Lyn belum pudar, walau sekarang dia sudah kembali ke kamar. Masih menatap ponsel, sambil menyendok kentang tumbuk sisa makan malam semua orang. Tatapan Lyn tertuju pada nomor asing yang mengirim pesan padanya. Dia belum membuka pesan itu, tapi bisa membacanya dari luar. Hanya saja, Lyn masih merasa bingung dengan isi pesan itu. [+00xxxxxxxx: Kaka pekawai baru.] [+00xxxxxxxx: Beso lagi.] Senyum Lyn mengembang tanpa sadar, ketika membaca pesan itu. Dari caranya menulis saja, dia sudah tahu siapa yang mengirim. "Tapi, bagaimana aku harus kasih tahu dia?" gumam Lyn mengembuskan napas. "Aku kan tidak bekerja di sekolah itu." Lyn berdecak pelan. Dia tidak tega untuk menolak si pengirim pesan, tapi juga tidak bisa memaksa untuk pergi ke taman kanak-kanak dan memohon pekerjaan. "Tapi kan aku butuh pekerjaan." Lyn mengembuskan napas pelan. "Sayangnya, keluar saja aku masih butuh izin. Bagaimana bisa kerja?" Jemari Lyn mengetuk pinggiran ponsel. Hanya sebentar,
"Haruskah aku kirim pesan ke dia?" gumam Lyn menatap secarik kartu nama yang tadi diberikan sang guru.Tadi, si guru ini sempat memberikan kartu nama dan meminta Lyn mengirim pesan padanya. Tapi, sekarang Lyn merasa ragu. Dia tidak yakin kalau itu perlu."Untuk jaga-jaga saja," gumam Lyn pelan, sambil mengetik. "LYNETTE."Suara teriakan barusan membuat yang empunya nama terlonjak. Dia bahkan nyaris saja menjatuhkan ponsel yang dia pegang. Untung saja dia sudah selesai mengirim pesan pada pak guru."Kenapa kau baru pulang sekarang?" Seorang perempuan paruh baya, melangkah turun dari teras. "Apa kau tidak lihat sekarang sudah jam berapa?""Baru jam enam," jawab Lyn terlihat bingung."Baru jam enam katamu?" hardik perempuan paruh baya tadi dengan mata melotot. "Apa kau tahu kalau ini sudah malam? Memalukan sekali seorang gadis muda sepertimu keluar sampai malam begini."Kedua alis Lyn terangkat. Bagaimana mungkin jam enam dianggap sudah terlalu malam untuk anak gadis? Apalagi,
Lyn menatap lelaki yang sekarang ini memeluk Mira dengan senyum hangat. Terasa sangat berbeda dengan lelaki yang kemarin menatapnya saat tenggelam.Sayangnya, tatapan itu berubah drastis dengan cepat. Itu adalah tatapan yang sama dengan sebelumnya. Sanggup membuat tubuh Lyn merinding, bahkan nyaris saja terlonjak pelan. Kacamata pun tak sanggup meredam tatapan itu."Kau pegawai sekolah?" tanya lelaki berkacamata itu dengan nada datar."Oh, bukan. Aku .... Maksudku saya, hanya orang yang kebetulan lewat saja.""Kebetulan, tapi bermain dengan putriku?" tanya Tuan Vale, setelah menurunkan Mira kembali ke atas tanah."Tadi Mira berdiri di depan pintu pagar tanpa pengawasan." Lyn berusaha tenang. "Saya bawa dia masuk ke area sekolah dan menemani, sepengetahuan guru. Tadi ada seorang guru lelaki yang bicara dengan saya."Tuan Vale tidak mengatakan apa-apa, dan hanya menoleh menatap seseorang di belakangnya. Memberi perintah tanpa mengatakan apa pun.Herannya, lelaki yang mendampingi
"Jauh-jauh dariku dasar penjahat." Mira kecil mendorong Lyn yang masih berjongkok, walau tentunya itu tidak ada artinya."Bagaimana kalau aku ajak kamu masuk ke dalam sekolah saja?" Lyn bertanya dengan tenang, sambil mengulurkan tangan. Melupakan kemungkinan anak di depannya adalah milik Julian Vale. "Nanti gurumu khawatir loh."Alih-alih menerima uluran tangan itu dengan benar, Mira malah memegang dengan kedua tangan. Namun, itu dia lakukan untuk menggigit tangan Lyn.Lyn berdesis pelan, lalu menarik tangannya dengan cepat. Itu membuat si anak kecil sedikit tersentak, sampai nyaris jatuh. Untungnya, Lyn dengan cepat menarik tangan Mira."Demi, Tuhan." Lyn refleks saja bicara. "Itu bukan tindakan yang baik.""Itu urusanku." Bukannya merasa menyesal, Mira malah makin jutek.Jujur saja, Lyn sudah melotot. Mau anak di depannya anak siapa, rasanya dia mau sekali memarahi orang tua yang tidak bisa mengajarkan sopan santun. Tapi, sekarang dia jelas tidak bisa melakukan itu. Untungnya
Lyn mendongak menatap gedung tinggi di depannya. Terlihat mengkilap di siang hari yang cerah, karena ditutupi oleh kaca. Sangat tinggi, membuat leher Lyn terasa sakit setelah menatap cukup lama. Namun, dia memilih untuk tidak langsung masuk. Kepala Lyn menengok ke area di dekat pintu masuk gedung tinggi itu. Dia sedang mencari tempat yang cocok untuk menunggu, dan kalau bisa sambil duduk. Berdiri terus juga akan membuatnya lelah. "Baiklah," ucap Lyn setelah mendapat tempat untuk duduk yang lumayan sejuk. Itu pun dia hanya duduk di atas beton, yang juga berfungsi sebagai pot. "Strategi pertama," gumam Lyn mencatat pada ponselnya yang terlihat agak usang. "Menunggu Julian Vale datang dan berusaha cari kesempatan untuk bicara." Strategi yang diucapkan Lyn terdengar terlalu frontal, tapi kalau dia pergi menanyakan Julian Vale pada resepsionis, dirinya pasti akan diusir dengan sangat menggenaskan. "Sebelumnya, aku coba baca lagi apa yang aku temukan di internet." Lyn kembali berg
"Aku sepertinya masuk ke dalam short drama Angel Heart," gumam Lyn pelan, menatap cermin yang terlihat sedikit kusam pada pinggirannya.Dia terus menatap wajah yang terpantul pada cermin dengan kening berkerut. Wajah itu terasa familier, tapi juga asing untuk disebut miliknya."Tapi kenapa wajahku tidak sama dengan artis yang berperan ya?"Dengan kening berkerut, Lyn melangkah kembali ke dalam area kamar. Napasnya sedikit tertahan, tapi mencoba untuk bergerak mencari jawaban dan membuka laci meja belajar. Lyn butuh sesuatu untuk menuangkan isi kepalanya yang terlalu penuh. Buku kosong dan pulpen pun, terasa seperti penyelamat baginya. "Katakan saja aku yang di dunia nyata mati dan entah bagaimana arwahku masuk ke cerita ini." Lyn mulai menulis, bahkan membuatnya seperti bagan acak."Dalam cerita kan pasti ada aktor yang berperan ...." Tangan Lyn berhenti sesaat, kemudian mencoret kata yang barusan dia tulis."Tidak, aku rasa ini bukan soal siapa yang berperan jadi siapa, karen







