Home / Fantasi / CEO Jahat untuk Gadis Tertindas / 4. Tidak Sesuai Rencana

Share

4. Tidak Sesuai Rencana

Author: 5Lluna
last update publish date: 2026-01-24 07:47:49

Lyn mendongak menatap gedung tinggi di depannya. Terlihat mengkilap di siang hari yang cerah, karena ditutupi oleh kaca. Sangat tinggi, membuat leher Lyn terasa sakit setelah menatap cukup lama. Namun, dia memilih untuk tidak langsung masuk.

Kepala Lyn menengok ke area di dekat pintu masuk gedung tinggi itu. Dia sedang mencari tempat yang cocok untuk menunggu, dan kalau bisa sambil duduk. Berdiri terus juga akan membuatnya lelah.

"Baiklah," ucap Lyn setelah mendapat tempat untuk duduk yang lumayan sejuk. Itu pun dia hanya duduk di atas beton, yang juga berfungsi sebagai pot.

"Strategi pertama," gumam Lyn mencatat pada ponselnya yang terlihat agak usang. "Menunggu Julian Vale datang dan berusaha cari kesempatan untuk bicara."

Strategi yang diucapkan Lyn terdengar terlalu frontal, tapi kalau dia pergi menanyakan Julian Vale pada resepsionis, dirinya pasti akan diusir dengan sangat menggenaskan.

"Sebelumnya, aku coba baca lagi apa yang aku temukan di internet." Lyn kembali bergumam pada dirinya sendiri.

Hal itu membuat beberapa orang menoleh, tapi Lyn tidak peduli. Dari kehidupan sebelumnya pun, dia sudah sering mendapat tatapan seperti itu karena suka bicara sendiri. Lagi pula, Lyn sekarang sibuk membaca apa pun yang bisa dia temukan tentang Julian Vale.

"Katanya hari ini Tuan Vale datang terlambat."

Mata Lyn langsung melirik naik ketika mendengar ucapan barusan. Ada dua orang lelaki berjas yang baru saja melintas di depannya, sambil membawa tas laptop.

"Aku dengar Nona Mira membuat masalah lagi, jadi sepertinya mood Tuan Vale tidak akan baik."

Tatapan Lyn kembali tertuju pada ponselnya. Dia menggulir layar dengan cepat, untuk menemukan informasi yang baru saja dia dengar.

"Julian Vale adalah ayah satu anak." Lyn mengangguk pelan. "Pasti lucu, tapi aku hanya mengincar bapaknya."

Kepala Lyn kembali menunduk. Dia mencoba menyusun strategi baru lagi, ketika merasakan kehadiran seseorang di dekatnya.

"Maaf, tapi kenapa kamu duduk di sini?" Seorang petugas keamanan bertanya.

"Oh, saya hanya istirahat sebentar saja." Lyn menjawab dengan senyum lebar dan tenang. Bisa seperti itu, karena dia memang sudah mengantisipasi hal seperti itu.

"Istirahat di tempat lain saja." Sayangnya, si petugas keamanan malah mengusir. "Tuan Vale akan segera datang dan saya tidak mau kena masalah."

"Sebentar saja, Pak." Lyn berusaha membujuk. "Kalau Tuan Vale yang Bapak sebut sudah datang, saya bakal pindah kok."

Si petugas keamanan berdecak pelan, sudah mau melangkah pergi. Tapi deru mesin mobil yang terdengar makin mendekat, membuat tubuhnya menegang. Apalagi setelah kemunculan mobil sedan hitam tak lama kemudian.

"Minggir sana." Si petugas keamanan mendorong tubuh kurus Lyn, nyaris membuat perempuan itu terjungkal.

Lyn bisa melihat seorang lelaki berkacamata keluar dari pintu penumpang mobil itu. Inginnya dia langsung mengejar, tapi tidak bisa. Lyn masih harus berusaha untuk meluruskan badan dan berdiri, dan langkah Julian Vale terlihat sangat cepat.

Baru dua langkah, tapi lelaki yang Lyn incar sudah berada di dalam gedung. Padahal rasanya baru lima detik lalu mobil hitam di depannya tiba.

"Sekarang pergi sana." Si petugas keamanan mengusir lagi.

Lyn tidak menjawab, tapi dia pada akhirnya beranjak. Masih sempat menengok ke dalam gedung, tapi pada akhirnya memilih untuk pergi saja.

"Mungkin, nanti bisa dicoba lagi."

Lalu saat bersamaan, Julian yang sudah menyeberangi lobi, malah berbalik. Dia menatap ke arah pintu otomatis yang baru saja terbuka lagi, dan masih bisa melihat punggung Lyn.

"Apa ada sesuatu, Tuan?" Seseorang bertanya.

"Tidak ada," jawab Julian dengan ekspresi datar, sebelum akhirnya meneruskan langkah.

***

"Aduh, kenapa kakiku sakit sih." Lyn mengeluh, sambil sesekali berusaha memijat betisnya.

"Padahal hidupku sebelum ini penuh dengan jalan kaki, tapi sekarang baru jalan sedikit sudah lelah." Lyn kembali mengeluh.

Perempuan itu mengembuskan napas. Cukup berat, karena merasa memang harinya cukup berat. Tapi, pemandangan yang ada di sekitarnya membuat Lyn merasa perlu berhenti.

Tatapannya tertuju pada pohon-pohon rindang yang hanya tumbuh di depan sebuah bangunan yang dikelilingi tembok tinggi. Hal yang membuat Lyn penasaran dan ingin tahu bangunan apa itu.

"Oh, taman kanak-kanak," ucap Lyn ketika bisa membaca papan yang tertera. "Apa aku boleh lihat ke dalam?"

"Bibi tidak boleh masuk."

Suara melengking yang terdengar, membuat Lyn sedikit tersentak. Dia refleks saja menunduk, mencari sumber suara dan menemukan anak kecil yang berdiri di luar pagar yang sedikit terbuka. Anak perempuan dengan seragam sekolah lucu berwarna pink.

"Halo, apa kamu murid sekolah ini?" Lyn bertanya dengan sedikit sopan, sedikit membungkuk.

"Itu bukan urusan Bibi." Anak perempuan itu menghardik.

Lyn refleks saja memegang dada karena terkejut dengan cara bicara anak di depannya itu. Tapi, gertakan tadi tidak membuatnya langsung mundur. Lyn malah berjongkok.

"Nama kamu siapa adik kecil?"

"Kenapa tanya-tanya? Kamu penculik ya?"

"Namaku Lyn dan aku bukan penculik anak. Aku hanya bertanya karena sepertinya kamu tersesat dan butuh diantar masuk ke dalam. Anak baik, tidak akan bolos sekolah kan?"

Anak perempuan tadi malah cemberut dan membuang muka. Dia bahkan menggembungkan pipi dan itu terlihat menggemaskan.

"Aku tidak mau sekolah," ucap anak itu. "Kalau Papa tidak mau berhenti kerja, Mira tidak mau."

"Tunggu dulu, namamu Mira?"

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • CEO Jahat untuk Gadis Tertindas   82. Go Public

    "Sekarang?" tanya Lyn dengan ponsel menempel di telinga."Sekarang." Suara Julian terdengar."Tapi sekarang saya masih kerja," bisik Lyn. Dia bahkan merasa perlu melirik ke sekitar, memastikan tidak ada yang mendengar. "Saya tidak bisa meninggalkan pekerjaan begitu saja," tambah Lyn masih berbisik."Aku akan bicara dengan Adrian. Aku sudah hampir sampai.""Tapi saya ...." Kalimat Lyn terputus. Dia menatap ponsel dengan mulut terbuka, tidak percaya kalau sambungan telepon itu diputus sepihak."Apa kau ada masalah?"Lyn refleks berbalik mendengar suara yang terdengar di belakangnya. Kedua alis Lyn terangkat melihat Adrian berdiri di belakangnya. Seolah lelaki itu sudah bekerja sama dengan Julian."Oh, tidak." Lyn menggeleng pelan. "Saya hanya ...."Lagi-lagi, kalimat Lyn terhenti begitu saja. Dia menggeram pelan, mengingat apa yang dikatakan Julian barusan."Maaf, Sir." Lyn menatap atasannya tanpa ragu. "Apa saya sudah bisa pulang?""Pulang sekarang?" Kening Adrian berker

  • CEO Jahat untuk Gadis Tertindas   81. Perlakuan Berbeda

    "Papa, mau makan es krim," pekik Mira sambil melompat-lompat. "Es krim stroberi.""Tidak bisa." Julian dengan tegas menolak. "Kita pulang,""Kau baru sembuh, Mira." Lyn menambahkan, kemudian menangkup wajah anak itu. "Apa kau mau ditusuk jarum infus lagi?""Tidak." Mira dengan cepat menggeleng. "Sakit.""Kalau begitu jangan bicara sembarangan lagi dan jangan makan es krim dulu deh. Besok saja ya." Lyn kembali menasihati."Miss temani?" tanya Mira dengan tatapan memohon."Kalau sesudah jam kerja, mungkin bisa." Lyn mengangguk pelan. "Tapi besok dilihat lagi ya. Sekarang saja, Miss sudah harus kembali ke sekolah.""Harus ya?" Mira jadi cemberut. "Tidak boleh pulang ke rumah saja? Bareng Mira dan papa?""Sayangnya tidak." Dengan terpaksa, Lyn menggeleng. "Miss punya tanggung jawab, harus kerja. Sama kayak papa kan. Jadi, hari ini Mira sama Papa dulu ya."Julian menaikkan sebelah alisnya. Dia menatap bergantian dua perempuan yang berjongkok tak jauh darinya itu, sebelum akhirnya

  • CEO Jahat untuk Gadis Tertindas   80. Yang Jadi Hakku

    "Mireille sebenarnya sudah bisa pulang, tapi kau akan menginap sehari dulu. Nanti kita sekalian medical check up ya." Dokter Oliver mengusap kepala si kecil Mira."Thank you uncle Oliver," ucap Mira dengan senyum lebar."Seharusnya kau berterima kasih pada Miss-mu." Oliver mengedikkan kepala ke arah Lyn. "Kalau bukan karena dia berpikir cepat, mungkin kau harus menginap beberapa hari."Lyn melirik sesaat ke arah sang dokter. Dia tersenyum tipis, sebelum teralihkan oleh Mira yang sudah mengulurkan kedua tangan. "Makasih banyak, Miss." Mira tanpa ragu memeluk dan tentu saja Lyn tanpa ragu membalas."Lalu tolong hindari yang namanya stroberi. Oke?" tambah Oliver sedikit lebih tegas."Tapi itu enak." Mira cemberut, masih menggenggam tangan pengasuhnya."Enak, tapi itu akan bikin aku repot. Uncle tidak mau dipelototi papamu sepanjang hari."Mira tertawa pelan, melihat sang dokter mengedipkan mata, Oliver bahkan tak segan menoleh ke arah Julian yang hanya bisa menatap ke arah mere

  • CEO Jahat untuk Gadis Tertindas   79. Tidak Ada Hubungan Denganku

    "Apa sebelumnya sudah ada yang memberikan Mireille obat?" Seorang lelaki dengan jas putih, bertanya dengan tatapan serius pada Julian. Hal itu membuat Lyn yang masih panik, jadi makin panik saja. Sang guru beranggapan ada yang salah dengan itu."Saya." Lyn memberanikan diri untuk bicara. "Saya yang meminta Julian untuk menyuntikkan EpiPen, karena berpikir Mira sedang alergi.""Kau bilang apa?" Sang dokter refleks menoleh ke arah perempuan di sebelah kirinya dengan mata membulat."Saya yang meminta Ju ...."Kalimat Lyn terhenti. Kedua matanya membulat, seolah baru tersadar dirinya sudah membuat kesalahan yang sangat fatal."Lanjutkan kalimatmu," pinta sang dokter terlihat sangat antusias. "Aku tidak mendengarnya dengan baik tadi.""Tuan Julian." Lyn dengan cepat memperbaiki kesalahannya. "Saya yang meminta Tuan Julian memberi Mira obat.""Oh, begitu?" Sang dokter kini tampak kecewa."Oliver," panggil Julian disertai embusan napas berat. "Sebaiknya kau memberitahu apa yang t

  • CEO Jahat untuk Gadis Tertindas   78. Tidak Akan Ada Masalah Besar

    "Mira." Lyn mendorong Melissa. Cukup keras, sampai perempuan itu nyaris terjungkal. "Sesak," ucap Mira mulai berkaca-kaca."Cepat bawa dia ke rumah sakit." Tiba-tiba saja, Melissa berinisiatif. "Biar aku bantu.""Sebaiknya kau menjauh," hardik Lyn melotot pada rekan kerja, sekaligus musuhnya."Hei, aku hanya mau bantu." Melissa ikut menghardik. "Dia sesak nafas, Lyn. Kalau dibiarkan bisa berbahaya."Lyn tidak menjawab. Dia menatap anak di pangkuannya dengan sekasama. Melihat area bibir, leher dan beberapa bagian lain yang mulai terlihat memerah. Lalu terakhir, Lyn menempelkan telinga di dada Mira."Sepertinya ini bukan sesak napas biasa. Apa ada EpiPen?" Lyn menatap ke arah lelaki di depannya.Kedua alis Julian terangkat. Dia terdiam untuk sekian detik, sebelum mengulurkan tangan ke belakang."Sebastian," panggil lelaki itu, masih menatap Lyn.Tanpa banyak bicara, Sebastian merogoh tas pinggang kecil yang dia bawa. Kebetulan, hari ini sang kepala pelayan memang menggunakan

  • CEO Jahat untuk Gadis Tertindas   77. Nama Depan

    Lyn melirik ke sekeliling meja makan, yang tidak terlalu ramai itu. Selain dirinya, ada Mira yang makan dengan cukup lahap. Lalu, ada juga dua lelaki yang sejak tadi diam saja. Bahkan, makanan mereka belum tersentuh."Apa makanannya sudah sesuai dengan selera Tuan Vale?" Melissa mendekat tanpa ragu dan langsung mendapat lirikan dari Adrian."Kau yang mengatur ini?" Adrian menoleh pada Lyn."Saya yang mengatur." Melissa dengan cepat menyambar, diikuti senyum lebar. "Tapi saya tidak tahu bagaimana Miss Lyn bisa duduk di sini.""Aku yang minta dia duduk di sini," ucap Julian, melirik Melissa. "Keberatan?"Rahang Melissa sedikit mengeras. Namun, sesaat kemudian senyumnya mengembang lebar. "Tentu saja tidak. Tapi itu artinya Tuan Vale tidak akan keberatan saya juga ikut duduk di sini kan?" tanya Melissa dengan percaya diri. "Aku keberatan."Lyn melirik ke arah suara. Tatapannya terlihat datar, tapi bibirnya nyaris saja membentuk lengkungan. Samar dan tidak lama, tapi Julian masi

  • CEO Jahat untuk Gadis Tertindas   7. Hukuman Tak Terasa Asing Lagi

    "Haruskah aku kirim pesan ke dia?" gumam Lyn menatap secarik kartu nama yang tadi diberikan sang guru. Tadi, si guru ini sempat memberikan kartu nama dan meminta Lyn mengirim pesan padanya. Tapi, sekarang Lyn merasa ragu. Dia tidak yakin kalau itu perlu. "Untuk jaga-jaga saja," gumam Lyn pelan,

  • CEO Jahat untuk Gadis Tertindas   6. Terlanjur Masuk

    Lyn menatap lelaki yang sekarang ini memeluk Mira dengan senyum hangat. Terasa sangat berbeda dengan lelaki yang kemarin menatapnya saat tenggelam.Sayangnya, tatapan itu berubah drastis dengan cepat. Itu adalah tatapan yang sama dengan sebelumnya. Sanggup membuat tubuh Lyn merinding, bahkan nyar

  • CEO Jahat untuk Gadis Tertindas   2. Nama yang Bukan Milikku

    "Kau akan dikurung di kamar, sampai kau sadar akan kesalahanmu."Itu adalah kalimat terakhir yang Lyn dengar, setelah dirinya dilempar masuk ke sebuah kamar, dan tepat sebelum pintu kamarnya ditutup dan dikunci dari luar. Padahal, dia baru saja mau mengulurkan tangan untuk minta bantuan, tapi itu

  • CEO Jahat untuk Gadis Tertindas   1. Tenggelam untuk Kedua Kalinya

    "Ada yang jatuh ke kolam." "Oh, tidak. Kedua nona muda Moore jatuh ke kolam." Suara riuh memenuhi kepala Lyn. Dia bisa mendengar teriakan beberapa orang dan semuanya terdengar panik. Tapi, itu semua terasa jauh dan yang lebih nyata adalah suara kecipak air di sekelilingnya. Air menelan tubuh

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status