LOGIN"Haruskah aku kirim pesan ke dia?" gumam Lyn menatap secarik kartu nama yang tadi diberikan sang guru.
Tadi, si guru ini sempat memberikan kartu nama dan meminta Lyn mengirim pesan padanya. Tapi, sekarang Lyn merasa ragu. Dia tidak yakin kalau itu perlu. "Untuk jaga-jaga saja," gumam Lyn pelan, sambil mengetik. "LYNETTE." Suara teriakan barusan membuat yang empunya nama terlonjak. Dia bahkan nyaris saja menjatuhkan ponsel yang dia pegang. Untung saja dia sudah selesai mengirim pesan pada pak guru. "Kenapa kau baru pulang sekarang?" Seorang perempuan paruh baya, melangkah turun dari teras. "Apa kau tidak lihat sekarang sudah jam berapa?" "Baru jam enam," jawab Lyn terlihat bingung. "Baru jam enam katamu?" hardik perempuan paruh baya tadi dengan mata melotot. "Apa kau tahu kalau ini sudah malam? Memalukan sekali seorang gadis muda sepertimu keluar sampai malam begini." Kedua alis Lyn terangkat. Bagaimana mungkin jam enam dianggap sudah terlalu malam untuk anak gadis? Apalagi, ini kan zaman modern, walau sekarang Lyn berada di dunia yang berbeda. "Tapi, Bu aku kan jalan kaki." Lyn mencoba untuk menjelaskan. "Jalan dari pintu pagar ke sini saja lumayan lama, apalagi kalau aku di luar rumah ini." "Jangan suka cari alasan. Kau pasti cuma ...." "Ma." Tiba-tiba saja Iris muncul. "Sudah dong, jangan marahain Lyn terus. Kan kasihan, dia baru pulang. Pasti capek." "Capek bergaul dengan orang tidak benar," hardik perempuan paruh baya itu. "Tidak ada yang begitu, Ma. Lyn hanya pergi jalan-jalan saja. Tapi kalau memang Mama merasa tidak senang, biar aku yang nanti bicara sama Lyn." "Kau lihat itu. Iris jauh lebih baik darimu. Seharusnya kau belajar dari dia." "Aku akan berusaha." Lyn mengangguk pelan. "Berusaha saja tidak cukup. Kau juga harus dihukum." "Jangan kurung dia lagi ya." Iris segera menyela, sebelum mamanya bicara lebih banyak. "Kasih hukuman yang lain, tapi jangan kurung. Jangan lupa, Lyn juga harus makan." Perempuan paruh baya tadi hanya menatap Lyn dari atas sampai bawah. Dia bisa melihat kalau pakaian yang dipakai Lyn memang terlihat longgar, dengan pipi yang terlihat lebih cekung. "Kalau kau seperti ini, tidak akan ada yang mau menikah denganmu. Mulai sekarang, kau harus belajar urus rumah tangga. Biar jelek, setidaknya kau punya sedikit kemampuan." Lyn hanya mengangguk pelan, memilih untuk tidak banyak membantah untuk sekarang. Bukannya tidak bisa, tapi dia memilih untuk menyusun rencana dulu. Mau melarikan diri dari rumah pun, butuh banyak persiapan. Setidaknya, bagi Lyn yang tidak punya apa-apa itu. "Bajuku saja bekas dari Iris kan?" gumam Lyn sambil mencuci piring. "Si Clarissa itu pelit sekali. Baju bekas, makanan sisa, uang pun rasanya seperti dosa besar kalau diberi padaku." Tangan Lyn terus bergerak, walau mulutnya terus mengoceh. Biar bagaimana, dia harus selesai dulu baru bisa mendapat jatah makanan sisa. Hal yang sebenarnya sangat tidak masuk akal baginya. "Kenapa ya si Lynette yang asli tidak pernah melawan?" gumam Lyn dengan sangat pelan dan kening berkerut. "Tapi sudahlah, sekarang lebih baik aku pikirkan cara untuk keluar dari rumah ini." Lyn mengelap tangannya pada serbet kering terdekat. Dia sudah selesai mencuci piring yang lumayan banyak itu, kemudian memilih untuk melihat ponsel. Lyn butuh catatan untuk menulis rencananya. "Pertama, cari cara untuk kabur." Lyn mengetik apa yang dia ucapkan. "Sepertinya, Julian Vale jalur yang sulit. Tapi, aku juga tidak punya banyak pilihan. Apalagi, aku juga harus mengambil kekayaan dari keluarga Moore, walau hanya sedikit." Jempol Lyn, menggerus pingiran jari telunjuknya. Sebuah kebiasaan buruk yang tidak pernah Lyn sadari, setidaknya sampai dia merasakan sakit. Hanya saja kali ini, gerakan itu berhenti bukan karena rasa sakit. Lyn berhenti ketika melihat ada pesan masuk dari nomor yang tidak dia kenali. Namun, pesan itu cukup untuk membuatnya menggigit bibir bawah dan mengerutkan kening lebih dalam lagi.Kerutan di dahi Lyn belum pudar, walau sekarang dia sudah kembali ke kamar. Masih menatap ponsel, sambil menyendok kentang tumbuk sisa makan malam semua orang. Tatapan Lyn tertuju pada nomor asing yang mengirim pesan padanya. Dia belum membuka pesan itu, tapi bisa membacanya dari luar. Hanya saja, Lyn masih merasa bingung dengan isi pesan itu. [+00xxxxxxxx: Kaka pekawai baru.] [+00xxxxxxxx: Beso lagi.] Senyum Lyn mengembang tanpa sadar, ketika membaca pesan itu. Dari caranya menulis saja, dia sudah tahu siapa yang mengirim. "Tapi, bagaimana aku harus kasih tahu dia?" gumam Lyn mengembuskan napas. "Aku kan tidak bekerja di sekolah itu." Lyn berdecak pelan. Dia tidak tega untuk menolak si pengirim pesan, tapi juga tidak bisa memaksa untuk pergi ke taman kanak-kanak dan memohon pekerjaan. "Tapi kan aku butuh pekerjaan." Lyn mengembuskan napas pelan. "Sayangnya, keluar saja aku masih butuh izin. Bagaimana bisa kerja?" Jemari Lyn mengetuk pinggiran ponsel. Hanya sebentar,
"Haruskah aku kirim pesan ke dia?" gumam Lyn menatap secarik kartu nama yang tadi diberikan sang guru.Tadi, si guru ini sempat memberikan kartu nama dan meminta Lyn mengirim pesan padanya. Tapi, sekarang Lyn merasa ragu. Dia tidak yakin kalau itu perlu."Untuk jaga-jaga saja," gumam Lyn pelan, sambil mengetik. "LYNETTE."Suara teriakan barusan membuat yang empunya nama terlonjak. Dia bahkan nyaris saja menjatuhkan ponsel yang dia pegang. Untung saja dia sudah selesai mengirim pesan pada pak guru."Kenapa kau baru pulang sekarang?" Seorang perempuan paruh baya, melangkah turun dari teras. "Apa kau tidak lihat sekarang sudah jam berapa?""Baru jam enam," jawab Lyn terlihat bingung."Baru jam enam katamu?" hardik perempuan paruh baya tadi dengan mata melotot. "Apa kau tahu kalau ini sudah malam? Memalukan sekali seorang gadis muda sepertimu keluar sampai malam begini."Kedua alis Lyn terangkat. Bagaimana mungkin jam enam dianggap sudah terlalu malam untuk anak gadis? Apalagi,
Lyn menatap lelaki yang sekarang ini memeluk Mira dengan senyum hangat. Terasa sangat berbeda dengan lelaki yang kemarin menatapnya saat tenggelam.Sayangnya, tatapan itu berubah drastis dengan cepat. Itu adalah tatapan yang sama dengan sebelumnya. Sanggup membuat tubuh Lyn merinding, bahkan nyaris saja terlonjak pelan. Kacamata pun tak sanggup meredam tatapan itu."Kau pegawai sekolah?" tanya lelaki berkacamata itu dengan nada datar."Oh, bukan. Aku .... Maksudku saya, hanya orang yang kebetulan lewat saja.""Kebetulan, tapi bermain dengan putriku?" tanya Tuan Vale, setelah menurunkan Mira kembali ke atas tanah."Tadi Mira berdiri di depan pintu pagar tanpa pengawasan." Lyn berusaha tenang. "Saya bawa dia masuk ke area sekolah dan menemani, sepengetahuan guru. Tadi ada seorang guru lelaki yang bicara dengan saya."Tuan Vale tidak mengatakan apa-apa, dan hanya menoleh menatap seseorang di belakangnya. Memberi perintah tanpa mengatakan apa pun.Herannya, lelaki yang mendampingi
"Jauh-jauh dariku dasar penjahat." Mira kecil mendorong Lyn yang masih berjongkok, walau tentunya itu tidak ada artinya."Bagaimana kalau aku ajak kamu masuk ke dalam sekolah saja?" Lyn bertanya dengan tenang, sambil mengulurkan tangan. Melupakan kemungkinan anak di depannya adalah milik Julian Vale. "Nanti gurumu khawatir loh."Alih-alih menerima uluran tangan itu dengan benar, Mira malah memegang dengan kedua tangan. Namun, itu dia lakukan untuk menggigit tangan Lyn.Lyn berdesis pelan, lalu menarik tangannya dengan cepat. Itu membuat si anak kecil sedikit tersentak, sampai nyaris jatuh. Untungnya, Lyn dengan cepat menarik tangan Mira."Demi, Tuhan." Lyn refleks saja bicara. "Itu bukan tindakan yang baik.""Itu urusanku." Bukannya merasa menyesal, Mira malah makin jutek.Jujur saja, Lyn sudah melotot. Mau anak di depannya anak siapa, rasanya dia mau sekali memarahi orang tua yang tidak bisa mengajarkan sopan santun. Tapi, sekarang dia jelas tidak bisa melakukan itu. Untungnya
Lyn mendongak menatap gedung tinggi di depannya. Terlihat mengkilap di siang hari yang cerah, karena ditutupi oleh kaca. Sangat tinggi, membuat leher Lyn terasa sakit setelah menatap cukup lama. Namun, dia memilih untuk tidak langsung masuk. Kepala Lyn menengok ke area di dekat pintu masuk gedung tinggi itu. Dia sedang mencari tempat yang cocok untuk menunggu, dan kalau bisa sambil duduk. Berdiri terus juga akan membuatnya lelah. "Baiklah," ucap Lyn setelah mendapat tempat untuk duduk yang lumayan sejuk. Itu pun dia hanya duduk di atas beton, yang juga berfungsi sebagai pot. "Strategi pertama," gumam Lyn mencatat pada ponselnya yang terlihat agak usang. "Menunggu Julian Vale datang dan berusaha cari kesempatan untuk bicara." Strategi yang diucapkan Lyn terdengar terlalu frontal, tapi kalau dia pergi menanyakan Julian Vale pada resepsionis, dirinya pasti akan diusir dengan sangat menggenaskan. "Sebelumnya, aku coba baca lagi apa yang aku temukan di internet." Lyn kembali berg
"Aku sepertinya masuk ke dalam short drama Angel Heart," gumam Lyn pelan, menatap cermin yang terlihat sedikit kusam pada pinggirannya.Dia terus menatap wajah yang terpantul pada cermin dengan kening berkerut. Wajah itu terasa familier, tapi juga asing untuk disebut miliknya."Tapi kenapa wajahku tidak sama dengan artis yang berperan ya?"Dengan kening berkerut, Lyn melangkah kembali ke dalam area kamar. Napasnya sedikit tertahan, tapi mencoba untuk bergerak mencari jawaban dan membuka laci meja belajar. Lyn butuh sesuatu untuk menuangkan isi kepalanya yang terlalu penuh. Buku kosong dan pulpen pun, terasa seperti penyelamat baginya. "Katakan saja aku yang di dunia nyata mati dan entah bagaimana arwahku masuk ke cerita ini." Lyn mulai menulis, bahkan membuatnya seperti bagan acak."Dalam cerita kan pasti ada aktor yang berperan ...." Tangan Lyn berhenti sesaat, kemudian mencoret kata yang barusan dia tulis."Tidak, aku rasa ini bukan soal siapa yang berperan jadi siapa, karen







