Home / Fantasi / CEO Jahat untuk Gadis Tertindas / 2. Nama yang Bukan Milikku

Share

2. Nama yang Bukan Milikku

Author: 5Lluna
last update Last Updated: 2025-12-23 19:59:02

"Kau akan dikurung di kamar, sampai kau sadar akan kesalahanmu."

Itu adalah kalimat terakhir yang Lyn dengar, setelah dirinya dilempar masuk ke sebuah kamar, dan tepat sebelum pintu kamarnya ditutup dan dikunci dari luar. Padahal, dia baru saja mau mengulurkan tangan untuk minta bantuan, tapi itu percuma.

"Sial."

Lyn bisa mendengar ada yang aneh dengan suaranya. Terdengar sedikit parau, tapi juga asing. Namun, untuk saat ini dia lebih memikirkan bagaimana cara menyingkirkan rasa dingin yang terasa menusuk di tubuhnya.

Dengan tubuh gemetaran, Lyn merangkak ke arah lemari yang berada tak jauh dari pintu masuk. Lantai yang dingin dan tubuh basah, membuatnya sedikit kesulitan. Namun, Lyn berhasil menemukan selimut tipis kusam dan berbau apek, di dasar lemari.

"Kenapa dingin sekali?" gumam Lyn masih saja gemetar.

Dari balik selimut itu, Lyn berusaha membuka bajunya yang basah. Itu jelas adalah hal terbaik yang bisa dia lakukan, dari pada nanti malah sakit. Setidaknya, lebih baik pakai baju kering dan kedingingan, dari pada baju basah dan kedinginan.

"Oh, air panas." Lyn tiba-tiba saja punya ide. "Kalau mandi air panas, mungkin akan lebih baik."

Tatapan Lyn beredar ke segala penjuru kamar yang kecil, tapi terasa asing itu. Dia bisa melihat ada pintu di depan lemari dan meyakini itu sebagai kamar mandi. Sangat dekat, tapi tetap butuh kekuatan baginya untuk melangkah dengan kaki bergetar.

Kamar mandi itu tidak besar, tapi bersih. Hanya ada wastafel, pancuran dan toilet duduk, tapi harusnya itu sudah cukup. Yang penting, keran air panas berfungsi dengan baik.

"God, aku hidup lagi." Lyn langsung berkomentar, ketika dia akhirnya bisa merasakan kehangatan menyentuh kulitnya.

Namun, karena lelah, Lyn memutuskan untuk duduk saja tepat di bawah pancuran. Toh, tidak ada masalah mandi sambil duduk. Walau hanya beberapa menit saja, dia merasa itu sudah lebih dari cukup.

Setelah cukup puas mandi dan mengeringkan diri, Lyn melangkah keluar masih ditutupi dengan selimut. Tentu saja selimut itu tidak basah, karena tadi diletakkan di tempat yang jauh dari pancuran. Lalu sekarang, Lyn butuh baju bersih.

"Ini, sebenarnya kamar siapa sih?" gumam Lyn dengan kening berkerut melihat isi lemari. "Baju di sini lebih sedikit dari bajuku di tempat kos, mana semua kelihatan kusam lagi."

Mau tidak mau, Lyn mengambil satu baju yang kelihatan paling bagus dan cukup hangat. Dia sudah merasa lebih baik, tapi pakai baju yang sedikit lebih hangat tentu tidak masalah. Apalagi, sekarang suara ketukan pintu pelan terdengar.

"Siapa?" Tentu saja Lyn akan bertanya, walau dengan kening berkerut karena merasa suaranya aneh. Dia sampai memegang leher saking anehnya.

Tangan Lyn masih menempel di leher ketika dia mendengar suara kunci terputar dari luar. Dia refleks saja menatap pintu keluar dengan kening berkerut, saat seorang pelayan lelaki masuk dengan langkah pelan dan hati-hati.

"Ada yang bisa aku bantu?" Lyn kembali bertanya, walau masih merasa kalau suaranya aneh.

Namun, si pelayan lelaki malah meletakkan jari telunjuk di bibir dengan panik. Itu tentu saja untuk meminta Lyn tidak ribut. Dia bahkan bergegas menaruh secangkir minuman panas di dalam lemari yang masih terbuka, lebih tepatnya di tempat yang tadinya berisi selimut.

"Hei, tunggu dulu." Lyn mau mencegah si pelayan tadi untuk pergi, tapi terlambat.

"Kenapa dia buru-buru seperti itu sih?" gumam Lyn masih dalam nada tanya, walau dia dengan senang hati mengambil cangkir yang rupanya berisi teh yang masih panas itu.

Dengan senang hati, Lyn menyesap teh panas dan sangat manis itu tanpa masalah berarti. Walau sudah mandi air yang bisa dibilang panas, dia masih butuh sesuatu yang bisa membantu menghangatkan dari dalam dan tentu saja sedikit mengisi energi.

"Aku benar-benar hidup lagi." Lyn mengangguk, sambil menatap ke arah cangkir teh tadi ditaruh dan menemukan secarik kertas yang terlipat.

Lyn mengambil kertas itu dan melangkah ke arah meja dan kursi kayu di depan ranjang. Dia perlu meletakkan cangkir lebih dulu, sebelum membuka dan membaca tulisan di kertas.

[Lynette Arwyn Moore, semoga kau beruntung dalam menjalani hidup di rumah ini. alu tolong jangan sampai ada yang tahu aku membawakanmu teh.]

"Lynette Arwyn Moore?" ucap Lyn membaca ulang nama itu.

Kening Lyn berkerut. Dia mencoba membaca ulang kertas tadi, kemudian berusaha berpikir dengan keras. Lyn bahkan sampai melihat tangannya dan memegang wajah, sebelum akhirnya berlari masuk ke dalam kamar mandi dan berdiri di depan kaca wastafel.

Uap air panas yang tadi dipakai lyn mandi, membuat kaca di atas wastafel jadi sedikit buram. Dia masih harus mengelap dengan tangannya, untuk bercermin.

"Oh, God." Lyn refleks menutup mulut dengan kedua tangan, bahkan sampai melotot ketika melihat cermin. "Bagaimana aku bisa berubah?"

Lyn kembali menatap kertas yang masih dia pegang, membaca kembali nama yang tertera di sana. Dia yakin pernah melihat nama itu tertulis di suatu tempat, tapi ingatannya sedikit samar dan tumpang tindih dengan ingatan lain yang tiba-tiba saja bermunculan.

"Tunggu, bukannya itu nama dari short drama yang kemarin aku nonton?" ucap Lyn makin melotot.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • CEO Jahat untuk Gadis Tertindas   8. Ketika Mereka Tertawa

    Kerutan di dahi Lyn belum pudar, walau sekarang dia sudah kembali ke kamar. Masih menatap ponsel, sambil menyendok kentang tumbuk sisa makan malam semua orang. Tatapan Lyn tertuju pada nomor asing yang mengirim pesan padanya. Dia belum membuka pesan itu, tapi bisa membacanya dari luar. Hanya saja, Lyn masih merasa bingung dengan isi pesan itu. [+00xxxxxxxx: Kaka pekawai baru.] [+00xxxxxxxx: Beso lagi.] Senyum Lyn mengembang tanpa sadar, ketika membaca pesan itu. Dari caranya menulis saja, dia sudah tahu siapa yang mengirim. "Tapi, bagaimana aku harus kasih tahu dia?" gumam Lyn mengembuskan napas. "Aku kan tidak bekerja di sekolah itu." Lyn berdecak pelan. Dia tidak tega untuk menolak si pengirim pesan, tapi juga tidak bisa memaksa untuk pergi ke taman kanak-kanak dan memohon pekerjaan. "Tapi kan aku butuh pekerjaan." Lyn mengembuskan napas pelan. "Sayangnya, keluar saja aku masih butuh izin. Bagaimana bisa kerja?" Jemari Lyn mengetuk pinggiran ponsel. Hanya sebentar,

  • CEO Jahat untuk Gadis Tertindas   7. Hukuman Tak Terasa Asing Lagi

    "Haruskah aku kirim pesan ke dia?" gumam Lyn menatap secarik kartu nama yang tadi diberikan sang guru.Tadi, si guru ini sempat memberikan kartu nama dan meminta Lyn mengirim pesan padanya. Tapi, sekarang Lyn merasa ragu. Dia tidak yakin kalau itu perlu."Untuk jaga-jaga saja," gumam Lyn pelan, sambil mengetik. "LYNETTE."Suara teriakan barusan membuat yang empunya nama terlonjak. Dia bahkan nyaris saja menjatuhkan ponsel yang dia pegang. Untung saja dia sudah selesai mengirim pesan pada pak guru."Kenapa kau baru pulang sekarang?" Seorang perempuan paruh baya, melangkah turun dari teras. "Apa kau tidak lihat sekarang sudah jam berapa?""Baru jam enam," jawab Lyn terlihat bingung."Baru jam enam katamu?" hardik perempuan paruh baya tadi dengan mata melotot. "Apa kau tahu kalau ini sudah malam? Memalukan sekali seorang gadis muda sepertimu keluar sampai malam begini."Kedua alis Lyn terangkat. Bagaimana mungkin jam enam dianggap sudah terlalu malam untuk anak gadis? Apalagi,

  • CEO Jahat untuk Gadis Tertindas   6. Terlanjur Masuk

    Lyn menatap lelaki yang sekarang ini memeluk Mira dengan senyum hangat. Terasa sangat berbeda dengan lelaki yang kemarin menatapnya saat tenggelam.Sayangnya, tatapan itu berubah drastis dengan cepat. Itu adalah tatapan yang sama dengan sebelumnya. Sanggup membuat tubuh Lyn merinding, bahkan nyaris saja terlonjak pelan. Kacamata pun tak sanggup meredam tatapan itu."Kau pegawai sekolah?" tanya lelaki berkacamata itu dengan nada datar."Oh, bukan. Aku .... Maksudku saya, hanya orang yang kebetulan lewat saja.""Kebetulan, tapi bermain dengan putriku?" tanya Tuan Vale, setelah menurunkan Mira kembali ke atas tanah."Tadi Mira berdiri di depan pintu pagar tanpa pengawasan." Lyn berusaha tenang. "Saya bawa dia masuk ke area sekolah dan menemani, sepengetahuan guru. Tadi ada seorang guru lelaki yang bicara dengan saya."Tuan Vale tidak mengatakan apa-apa, dan hanya menoleh menatap seseorang di belakangnya. Memberi perintah tanpa mengatakan apa pun.Herannya, lelaki yang mendampingi

  • CEO Jahat untuk Gadis Tertindas   5. Sebelum Papa Datang

    "Jauh-jauh dariku dasar penjahat." Mira kecil mendorong Lyn yang masih berjongkok, walau tentunya itu tidak ada artinya."Bagaimana kalau aku ajak kamu masuk ke dalam sekolah saja?" Lyn bertanya dengan tenang, sambil mengulurkan tangan. Melupakan kemungkinan anak di depannya adalah milik Julian Vale. "Nanti gurumu khawatir loh."Alih-alih menerima uluran tangan itu dengan benar, Mira malah memegang dengan kedua tangan. Namun, itu dia lakukan untuk menggigit tangan Lyn.Lyn berdesis pelan, lalu menarik tangannya dengan cepat. Itu membuat si anak kecil sedikit tersentak, sampai nyaris jatuh. Untungnya, Lyn dengan cepat menarik tangan Mira."Demi, Tuhan." Lyn refleks saja bicara. "Itu bukan tindakan yang baik.""Itu urusanku." Bukannya merasa menyesal, Mira malah makin jutek.Jujur saja, Lyn sudah melotot. Mau anak di depannya anak siapa, rasanya dia mau sekali memarahi orang tua yang tidak bisa mengajarkan sopan santun. Tapi, sekarang dia jelas tidak bisa melakukan itu. Untungnya

  • CEO Jahat untuk Gadis Tertindas   4. Tidak Sesuai Rencana

    Lyn mendongak menatap gedung tinggi di depannya. Terlihat mengkilap di siang hari yang cerah, karena ditutupi oleh kaca. Sangat tinggi, membuat leher Lyn terasa sakit setelah menatap cukup lama. Namun, dia memilih untuk tidak langsung masuk. Kepala Lyn menengok ke area di dekat pintu masuk gedung tinggi itu. Dia sedang mencari tempat yang cocok untuk menunggu, dan kalau bisa sambil duduk. Berdiri terus juga akan membuatnya lelah. "Baiklah," ucap Lyn setelah mendapat tempat untuk duduk yang lumayan sejuk. Itu pun dia hanya duduk di atas beton, yang juga berfungsi sebagai pot. "Strategi pertama," gumam Lyn mencatat pada ponselnya yang terlihat agak usang. "Menunggu Julian Vale datang dan berusaha cari kesempatan untuk bicara." Strategi yang diucapkan Lyn terdengar terlalu frontal, tapi kalau dia pergi menanyakan Julian Vale pada resepsionis, dirinya pasti akan diusir dengan sangat menggenaskan. "Sebelumnya, aku coba baca lagi apa yang aku temukan di internet." Lyn kembali berg

  • CEO Jahat untuk Gadis Tertindas   3. Langkah Pertama

    "Aku sepertinya masuk ke dalam short drama Angel Heart," gumam Lyn pelan, menatap cermin yang terlihat sedikit kusam pada pinggirannya.Dia terus menatap wajah yang terpantul pada cermin dengan kening berkerut. Wajah itu terasa familier, tapi juga asing untuk disebut miliknya."Tapi kenapa wajahku tidak sama dengan artis yang berperan ya?"Dengan kening berkerut, Lyn melangkah kembali ke dalam area kamar. Napasnya sedikit tertahan, tapi mencoba untuk bergerak mencari jawaban dan membuka laci meja belajar. Lyn butuh sesuatu untuk menuangkan isi kepalanya yang terlalu penuh. Buku kosong dan pulpen pun, terasa seperti penyelamat baginya. "Katakan saja aku yang di dunia nyata mati dan entah bagaimana arwahku masuk ke cerita ini." Lyn mulai menulis, bahkan membuatnya seperti bagan acak."Dalam cerita kan pasti ada aktor yang berperan ...." Tangan Lyn berhenti sesaat, kemudian mencoret kata yang barusan dia tulis."Tidak, aku rasa ini bukan soal siapa yang berperan jadi siapa, karen

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status