MasukLyn menatap lelaki yang sekarang ini memeluk Mira dengan senyum hangat. Terasa sangat berbeda dengan lelaki yang kemarin menatapnya saat tenggelam.
Sayangnya, tatapan itu berubah drastis dengan cepat. Itu adalah tatapan yang sama dengan sebelumnya. Sanggup membuat tubuh Lyn merinding, bahkan nyaris saja terlonjak pelan. Kacamata pun tak sanggup meredam tatapan itu. "Kau pegawai sekolah?" tanya lelaki berkacamata itu dengan nada datar. "Oh, bukan. Aku .... Maksudku saya, hanya orang yang kebetulan lewat saja." "Kebetulan, tapi bermain dengan putriku?" tanya Tuan Vale, setelah menurunkan Mira kembali ke atas tanah. "Tadi Mira berdiri di depan pintu pagar tanpa pengawasan." Lyn berusaha tenang. "Saya bawa dia masuk ke area sekolah dan menemani, sepengetahuan guru. Tadi ada seorang guru lelaki yang bicara dengan saya." Tuan Vale tidak mengatakan apa-apa, dan hanya menoleh menatap seseorang di belakangnya. Memberi perintah tanpa mengatakan apa pun. Herannya, lelaki yang mendampingi Tuan Vale ini seolah mengerti. Dia berlari kecil menuju ke gedung sekolah, mungkin ingin mengkonfirmasi apa yang Lyn katakan. "Saya mengerti kalau Anda mau mengecek." Lyn memilih terus bicara. Dia butuh melakukan itu untuk bisa menjalin relasi dengan lelaki di depannya. "Tapi saya adalah Lyn. Lynette Arwyn Moore." Sayang sekali, Tuan Vale sama sekali tidak bereaksi. Dia hanya menatap Lyn untuk sesaat, kemudian beralih menatap Mira yang menarik-narik celananya. Mau tidak mau, Tuan Vale berjongkok juga. "Bibi itu melihatku selama main." "Kakak." Lyn dengan cepat memperbaiki. "Seharusnya umurku masih dua puluh empat." Salah satu alis Tuan Vale terangkat. Dia seolah baru saja mendengar hal aneh dari ucapan Lyn, bahkan sampai harus berdiri untuk menatap perempuan di depannya. "Seharusnya?" ucap lelaki itu terlihat sedikit mengerutkan kening. Lyn meringis pelan, ketika sadar akan kesalahannya. Dia ingin mencari pembelaan, tapi sepertinya itu tidak akan berguna. Untung saja penyelamat datang tepat waktu. "Tuan Vale." Guru lelaki tadi datang dengan senyuman. "Senang melihat Anda bisa menjemput Mira." "Tuanku mau tahu tentang nona ini." Lelaki yang sepertinya asisten Tuan Vale, menunjuk Lyn dengan sopan. "Oh, dia ini pegawai baru." Si guru dengan lincahnya berbohong. "Baru diterima bekerja hari ini dan saya minta dia mengawasi Mira." Lyn refleks menoleh dengan mata melotot pada guru lelaki itu. Dia ingin sekali protes, tapi si guru malah menatap balik pada dirinya. Seolah ingin meminta Lyn untuk diam saja. "Kau tahu aku tidak suka kebohongan kan?" ucap Tuan Vale, kini menatap ke arah sang guru. Guru lelaki itu pun tidak langsung menjawab. Dia terlebih dulu menarik napas panjang, dengan tatapan yang lurus ke arah lawan bicaranya. Cukup berani, tapi juga bisa dibilang gegabah. "Saya tahu Tuan Julian Vale tidak suka hal-hal seperti itu." Si guru melanjutkan. "Tapi saya bisa pastikan kalau ini adalah kenyataan." Lyn bisa melihat kalau rahang Tuan Vale sedikit mengeras, tanda lelaki itu tidak puas dengan penjelasan barusan. Namun, ekspresi itu berubah ketika tiba-tiba saja lelaki itu menunduk. "Papa pulang," ucap Mira pelan. "Baiklah." Tuan Vale tidak segan mengangguk. "Tapi aku tidak akan membiarkan ini begitu saja." Tuan Vale sedikit membungkuk, untuk menggendong putrinya. Mira pun terlihat sangat nyaman dalam pelukan sang papa, bahkan bersandar di bahunya. Namun, tatapan anak itu tertuju pada Lyn. Yang ditatap hanya bisa membalas dengan senyuman dan lambaian pelan. Lagi pula, tidak ada yang bisa Lyn lakukan, setidaknya sampai orang-orang elit itu masuk ke dalam mobil. "Pegawai baru ya," desis Lyn, menoleh dengan pelan ke arah si guru. "Kalau aku bilang kau orang asing, itu akan jadi lebih merepotkan untuk orang Julian Vale," balas si guru, menatap lawan bicaranya dengan cukup tenang. "Tapi setidaknya itu lebih jujur." "Aku lebih sayang nyawaku." "Lantas bagaimana kalau dia cari tahu?" hardik Lyn. "Itu akan lebih bahaya lagi tahu." "Untuk yang satu itu, aku akan mencari cara. Kau tidak usah khawatir." "Tentu saja aku akan khawatir," bentak Lyn makin kesal saja. "Aku tidak berniat sampai sejauh ini." "Tapi kau sudah terlanjur masuk." Si guru menarik napas panjang. "Sekalian saja menceburkan diri." Lyn melotot pada guru lelaki yang sudah beranjak itu. Yang dia dengar barusan, tidak terdengar seperti solusi yang cukup bagus untuk menghadapi Julian Vale. Apalagi, kalau harus sampai melibatkan pihak internal sekolah.Kerutan di dahi Lyn belum pudar, walau sekarang dia sudah kembali ke kamar. Masih menatap ponsel, sambil menyendok kentang tumbuk sisa makan malam semua orang. Tatapan Lyn tertuju pada nomor asing yang mengirim pesan padanya. Dia belum membuka pesan itu, tapi bisa membacanya dari luar. Hanya saja, Lyn masih merasa bingung dengan isi pesan itu. [+00xxxxxxxx: Kaka pekawai baru.] [+00xxxxxxxx: Beso lagi.] Senyum Lyn mengembang tanpa sadar, ketika membaca pesan itu. Dari caranya menulis saja, dia sudah tahu siapa yang mengirim. "Tapi, bagaimana aku harus kasih tahu dia?" gumam Lyn mengembuskan napas. "Aku kan tidak bekerja di sekolah itu." Lyn berdecak pelan. Dia tidak tega untuk menolak si pengirim pesan, tapi juga tidak bisa memaksa untuk pergi ke taman kanak-kanak dan memohon pekerjaan. "Tapi kan aku butuh pekerjaan." Lyn mengembuskan napas pelan. "Sayangnya, keluar saja aku masih butuh izin. Bagaimana bisa kerja?" Jemari Lyn mengetuk pinggiran ponsel. Hanya sebentar,
"Haruskah aku kirim pesan ke dia?" gumam Lyn menatap secarik kartu nama yang tadi diberikan sang guru.Tadi, si guru ini sempat memberikan kartu nama dan meminta Lyn mengirim pesan padanya. Tapi, sekarang Lyn merasa ragu. Dia tidak yakin kalau itu perlu."Untuk jaga-jaga saja," gumam Lyn pelan, sambil mengetik. "LYNETTE."Suara teriakan barusan membuat yang empunya nama terlonjak. Dia bahkan nyaris saja menjatuhkan ponsel yang dia pegang. Untung saja dia sudah selesai mengirim pesan pada pak guru."Kenapa kau baru pulang sekarang?" Seorang perempuan paruh baya, melangkah turun dari teras. "Apa kau tidak lihat sekarang sudah jam berapa?""Baru jam enam," jawab Lyn terlihat bingung."Baru jam enam katamu?" hardik perempuan paruh baya tadi dengan mata melotot. "Apa kau tahu kalau ini sudah malam? Memalukan sekali seorang gadis muda sepertimu keluar sampai malam begini."Kedua alis Lyn terangkat. Bagaimana mungkin jam enam dianggap sudah terlalu malam untuk anak gadis? Apalagi,
Lyn menatap lelaki yang sekarang ini memeluk Mira dengan senyum hangat. Terasa sangat berbeda dengan lelaki yang kemarin menatapnya saat tenggelam.Sayangnya, tatapan itu berubah drastis dengan cepat. Itu adalah tatapan yang sama dengan sebelumnya. Sanggup membuat tubuh Lyn merinding, bahkan nyaris saja terlonjak pelan. Kacamata pun tak sanggup meredam tatapan itu."Kau pegawai sekolah?" tanya lelaki berkacamata itu dengan nada datar."Oh, bukan. Aku .... Maksudku saya, hanya orang yang kebetulan lewat saja.""Kebetulan, tapi bermain dengan putriku?" tanya Tuan Vale, setelah menurunkan Mira kembali ke atas tanah."Tadi Mira berdiri di depan pintu pagar tanpa pengawasan." Lyn berusaha tenang. "Saya bawa dia masuk ke area sekolah dan menemani, sepengetahuan guru. Tadi ada seorang guru lelaki yang bicara dengan saya."Tuan Vale tidak mengatakan apa-apa, dan hanya menoleh menatap seseorang di belakangnya. Memberi perintah tanpa mengatakan apa pun.Herannya, lelaki yang mendampingi
"Jauh-jauh dariku dasar penjahat." Mira kecil mendorong Lyn yang masih berjongkok, walau tentunya itu tidak ada artinya."Bagaimana kalau aku ajak kamu masuk ke dalam sekolah saja?" Lyn bertanya dengan tenang, sambil mengulurkan tangan. Melupakan kemungkinan anak di depannya adalah milik Julian Vale. "Nanti gurumu khawatir loh."Alih-alih menerima uluran tangan itu dengan benar, Mira malah memegang dengan kedua tangan. Namun, itu dia lakukan untuk menggigit tangan Lyn.Lyn berdesis pelan, lalu menarik tangannya dengan cepat. Itu membuat si anak kecil sedikit tersentak, sampai nyaris jatuh. Untungnya, Lyn dengan cepat menarik tangan Mira."Demi, Tuhan." Lyn refleks saja bicara. "Itu bukan tindakan yang baik.""Itu urusanku." Bukannya merasa menyesal, Mira malah makin jutek.Jujur saja, Lyn sudah melotot. Mau anak di depannya anak siapa, rasanya dia mau sekali memarahi orang tua yang tidak bisa mengajarkan sopan santun. Tapi, sekarang dia jelas tidak bisa melakukan itu. Untungnya
Lyn mendongak menatap gedung tinggi di depannya. Terlihat mengkilap di siang hari yang cerah, karena ditutupi oleh kaca. Sangat tinggi, membuat leher Lyn terasa sakit setelah menatap cukup lama. Namun, dia memilih untuk tidak langsung masuk. Kepala Lyn menengok ke area di dekat pintu masuk gedung tinggi itu. Dia sedang mencari tempat yang cocok untuk menunggu, dan kalau bisa sambil duduk. Berdiri terus juga akan membuatnya lelah. "Baiklah," ucap Lyn setelah mendapat tempat untuk duduk yang lumayan sejuk. Itu pun dia hanya duduk di atas beton, yang juga berfungsi sebagai pot. "Strategi pertama," gumam Lyn mencatat pada ponselnya yang terlihat agak usang. "Menunggu Julian Vale datang dan berusaha cari kesempatan untuk bicara." Strategi yang diucapkan Lyn terdengar terlalu frontal, tapi kalau dia pergi menanyakan Julian Vale pada resepsionis, dirinya pasti akan diusir dengan sangat menggenaskan. "Sebelumnya, aku coba baca lagi apa yang aku temukan di internet." Lyn kembali berg
"Aku sepertinya masuk ke dalam short drama Angel Heart," gumam Lyn pelan, menatap cermin yang terlihat sedikit kusam pada pinggirannya.Dia terus menatap wajah yang terpantul pada cermin dengan kening berkerut. Wajah itu terasa familier, tapi juga asing untuk disebut miliknya."Tapi kenapa wajahku tidak sama dengan artis yang berperan ya?"Dengan kening berkerut, Lyn melangkah kembali ke dalam area kamar. Napasnya sedikit tertahan, tapi mencoba untuk bergerak mencari jawaban dan membuka laci meja belajar. Lyn butuh sesuatu untuk menuangkan isi kepalanya yang terlalu penuh. Buku kosong dan pulpen pun, terasa seperti penyelamat baginya. "Katakan saja aku yang di dunia nyata mati dan entah bagaimana arwahku masuk ke cerita ini." Lyn mulai menulis, bahkan membuatnya seperti bagan acak."Dalam cerita kan pasti ada aktor yang berperan ...." Tangan Lyn berhenti sesaat, kemudian mencoret kata yang barusan dia tulis."Tidak, aku rasa ini bukan soal siapa yang berperan jadi siapa, karen







