Itulah sisi lain daripada yang namanya sebuah reputasi. Bahkan Alisa sendiri jelas bisa dijadikan contoh nyata. Beberapa perawat yang awalnya cukup tertegun dengan kecantikannya Alisa mulai perlahan-lahan membencinya karena lisannya Alisa begitu pedas.Alisa tidak peduli dengan semua itu dan hanya bisa melihat beberapa kesimpulan berupa data-data acak terkait kondisi tubuhnya. Tatapan matanya sedikit bergetar beberapa kali berkedip hingga bahkan dia sendiri mulai merasa tak berdaya meragukan kondisi tubuhnya.“Tidak mungkin…! Bagaimana bisa ada partikel aura yang aneh dan tidak saya ketahui mencoba keras menghalangi proses pemeriksaan?! Kalau seperti ini, lantas apa yang harus saya lakukan? Berpura-pura tidak sakit? Omong kosong! Bagaimana kalau penyakit hilang ingatan saya akan tiba-tiba menyerang lagi nantinya?” ujar Alisa terdengar cukup kesal dan ada sedikit kepanikan.Helena tersenyum licik mendengar perkataan Alisa sebelum balas berkata, “Masalah ini telah berada di luar jangkau
Pria bejat sepertinya memang layak marah karena latar belakang dan kedudukannya. Adapun Alisa, dia tidak layak sama sekali marah-marah di tempat rumah sakit mewah ini. Kalau terus dibiarkan, Alisa hanya akan semakin menjadi-jadi yang mana membuat Rensakar sangat malu sekali.“Sikap yang sopan? Hmph! Dokter dan perawat di tempat ini memang tidak bisa diandalkan dan kamu ingin saya bersikap sopan? Di mana letak keadilannya? Apa kamu juga tidak bisa berpikir jernih menggunakan logika, hah?!” sahut Alisa dengan sindiran yang tegas dan tajam mengarah langsung menusuk ke dalam hatinya Rensakar.Rensakar langsung terdiam dengan segudang amarah yang hanya bisa ditahannya. Perasaan dipermalukan oleh orang lain berulang kali, hanya Alisa seorang saja yang senantiasa berhasil melakukan ini kepadanya yang jelas membuat Rensakar tak lagi bisa bersabar.Para perawat juga mempunyai ekspresi jelek mendengar perkataannya Alisa tanpa seorang pun yang bisa mencoba untuk membalasnya satu patah kata pun.
Beberapa membawa handuk dan yang lainnya membawa air minum. Ada juga yang membawa roti dan tentu saja mereka semua berusaha keras agar kondisi tubuhnya Alisa kembali stabil. Beberapa pil penyembuhan hingga pil pemulihan dengan perlahan-lahan disodorkan kepada Alisa untuk dikonsumsi secepat mungkin.Tanpa basa-basi, Alisa jelas memakan dan meminum apa pun yang diberikan kepadanya. Kondisi tubuhnya benar-benar lemas hingga tak berdaya bahkan untuk menggerakkan jarinya saja terasa begitu sulit. Untungnya, para perawat itu sudah sangat berpengalaman dan membantu semuanya.Beberapa saat berlalu hingga Alisa lanjut bergumam, “Huh…, lumayan baik kondisiku sekarang! Namun, aku bersumpah tidak akan pernah kembali melakukan proses pemeriksaan menyakitkan ini lagi dalam hidupku!”Kondisi tubuhnya Alisa perlahan-lahan kembali pulih. Efek pil penyembuhan dan pil pemulihan jelas mulai menyebarkan dampaknya secara bertahap-tahap membuat Alisa kembali bugar. Meski begitu, rasa laparnya juga meningkat
Tatapan matanya yang tajam dengan sengit melihat wajahnya Rensakar. Kali ini, Rensakar tak lagi ragu apalagi takut. Dirinya yang sejati memang sosok pria angkuh sekaligus bejat.Hanya sebatas tatapan tajam saja tidak akan mampu memaksanya untuk gentar sedikit pun. Pada akhirnya, Helena yang kembali memalingkan wajahnya menghadap layar proyektor. Ada rasa sakit dan sedih di dalam hatinya sebelum dengan cepat dialihkan olehnya.“Rensakar, kamu benar-benar sudah berubah terlalu jauh! Apa memang begitu sikapmu terhadap mantan kekasihmu ini? Mungkinkah kamu sudah merasa senang telah mendapatkan wanita lainnya seperti wanita jelek itu?” tanya Helena yang kali ini ditransmisikan melalui pesan telepati langsung masuk ke dalam pikirannya Rensakar tanpa ada pihak ketiga yang mendengarnya.Seketika, pikiran berkecamuk berkeliaran bebas di dalam otaknya Rensakar. Pria bejat itu langsung canggung ketika kembali tersadar kalau wanita yang berprofesi dokter ini adalah mantan kekasihnya. Sama dengan
Rensakar merenung dalam pikirannya sendiri yang acak-acakan. Namun, pria bejat tersebut tetap diam dan membiarkan Helena serta para perawat yang berkewenangan untuk melakukan analisis mereka sendiri. Cukup baginya untuk perlahan-lahan mendengarkan dan tentu saja tetap fokus melihat Alisa dari layar proyektor.“Be–benar, Dokter! Kami kira juga itu masalahnya. Walaupun kami sendiri tidak tahu apa yang membuat proses pemeriksaan menjadi aneh, tapi pasti ada hubungannya dengan sang pasien. Haruskah kita mengakhiri proses pemeriksaan kesehatan ini?” ujar salah satu perawat dengan ragu-ragu.Helena terdiam dan terus mengamati Alisa dari layar proyektor sebelum berkata, “Biarkan dahulu prosesnya selesai! Setelahnya, tetap lanjutkan seperti yang saya katakan sebelumnya proses pemeriksaan ini sampai tuntas. Baru setelahnya kita bisa melanjutkan untuk pemeriksaan lainnya sampai berhasil menemukan akar masalahnya!”Helena sangat tegas dengan sikap dan keputusannya sebagai seorang dokter. Meski d
Ibarat sebuah proses akupuntur yang dihasilkan tanpa menggunakan satu jarum pun. Semua alurnya sangat mengandalkan Energi Adidaya yang terkonsentrasi dan tentu saja terkendali dengan baik sesuai kebutuhan sehingga tidak akan melukai pasien walaupun resikonya jelas terasa sangat menyakitkan. Tentu saja Helena tahu betul akan proses menyakitkan ini, tapi sengaja membuatnya seolah tidak ada masalah agar Alisa tertipu dengan sendirinya merasakan setiap siksaan yang sebenarnya bukan siksaan. Kata pepatah gadungan, proses pengobatan yang benar terkadang sangat menyakitkan. Kurang lebih, itulah yang diyakini oleh Helena.“He-he-he! Pasti menyakitkan, bukan? Inilah akibatnya ketika wanita jelek sepertimu berlagak angkuh di hadapanku. Alat ajaib ini memang luar biasa dan seakan cocok diciptakan khusus untuk diriku ketika menyiksa orang lain,” pikir Helena merasa puas dengan kelicikannya.Senyum liciknya terbesit sejenak sebelum lenyap dalam ketenangan. Rensakar masih merinding sendiri melihat