LOGINWhen a sudden 10-hour flight delay leaves Rosie scrambling for a hotel, she and Carter find themselves at the same place at the same time. With only one room available, Carter gives it up for Rosie. As the night unfolds, their chance encounter turns into something more. Sharing a flight to New York, Carter upgrades Rosie to business class. Amidst casual conversation, Rosie reveals her journey to interview at SweetHarvest Delights. Carter conceals his identity, presenting himself as a simple engineer to avoid any professional favoritism. Rosie, skeptical but accepting, lands the job at SweetHarvest Delights. On her first day, the truth unravels—Carter's deception exposed. Hurt and betrayed, Rosie confronts Carter, setting the stage for a tense confrontation. Carter, realizing the gravity of his mistake, grovels in an earnest attempt to salvage their connection. Carter pours his regrets and vulnerabilities, yet the question looms large: Can Rosie forgive a well-intentioned deception that blurred the lines between truth and lies? Will this unexpected connection lead to a sweet love story? Dive into the pages, where trust is tested, hearts are laid bare, and Carter's sincere grovel sets the stage for a resolution that remains tantalizingly uncertain.
View MoreLOVE ME, SERSAN
Bagian 1
“Bapak tidak berhak mengatur saya seperti itu! Bapak bukan orang tua atau suami saya yang ....”
“Ya, sudah! Kalau begitu saya akan jadi suami kamu. Kita menikah malam ini!”
-----------------
Dia melamarku!
Laki-laki arogan itu melamarku dengan cara yang arogan. Sialnya aku menerima. Tepatnya tidak bisa menolak.
“Bu guru, besok Nadin merayakan ulang tahun di sekolah. Bu guru temenin, ya,” pinta gadis mungil usia lima tahun itu.
“Di sekolah? Pagi berarti, ya?” tanyaku.
Ya, iya lah pagi. Anak TK sekolahnya, ya, pagi.
“Iya,” jawabnya.
“Kalau pagi, gak bisa, Sayang. Bu guru kalau pagi ngajar di sekolah, Bu guru,” balasku meminta pengertian. Dia adalah siswa bimbingan les privatku.
“Terus Nadin sama siapa, dong, besok? Ayah gak bisa nemenin.” Anak ini mulai menangis. Aku mulai kelabakan. Mencari cara membujuknya.
Aku cuma guru les. Seharusnya hanya bertugas mengajarinya calistung. Namun, aku selalu dilibatkan dalam setiap pelik masalah rumah tangga ini.
Nadin seorang anak dari tentara yang setiap waktunya tidak bisa diprediksi. Lima menit menentukan, begitulah ucapannya yang sering aku dengar. Dia tidak bisa memastikan apakah akan punya waktu untuk anaknya besok, karena meskipun sedang libur, jika tiba-tiba ada panggilan dari atasan, harus segera dipenuhi. Istri pertamanya adalah senjata. Perintah atasan harus dijalankan tanpa membantah.
Sudah satu tahun aku membimbing anak ini, jadi sedikit tahu seluk beluk keluarganya. Ibunya memutuskan pergi dan menikah lagi. Kenapa mereka bercerai, aku tidak tahu dan tidak mau tahu.
Laki-laki itu sangat menyayangi putrinya. Ini adalah satu-satunya hal positif yang aku tangkap darinya. Selebihnya, yang kutahu dia laki-laki paling menyebalkan karena sikap arogan dan pengatur. Apapun akan diberikan untuk Nadin. Jika dia mengatakan tidak bisa pada gadis kecil itu, berarti memang tidak bisa. Bukan sekedar alasan.
“Nadin masuk dulu, ya. Sama Eyang di dalam. Ayah mau bicara sama, Bu guru.” Tiba-tiba lelaki yang baru saja kupikirkan itu telah berdiri di dekat kami.
Gadis kecil yang sebenarnya sangat menggemaskan itu berlalu dengan air mata mengurai di pipi.
“Bisa 'kan, besok temani anak saya ulang tahun di sekolahnya?” tanyanya to the point, dengan wajah datar tanpa ekspresi. Sorot mata tajam dan dingin. Tidak terukir satu senyum pun di bibirnya. Tidak ada raut yang menggambarkan bahwa dia sedang meminta tolong. Yang ada justru aku menangkap dia sedang memerintahku. Dasar arogan.
Aku menghela napas. Kesal. Dia memang arogan. Apa pun keinginannya harus dituruti. Seolah aku ini bawahannya. Padahal aku adalah guru anaknya. Yang seharusnya dia hormati. Bukan diperintah seenaknya.
Untung saja honor yang dia berikan lebih besar dari orang tua siswa lain. Jika tidak, aku enggan menerima Nadin sebagai bimbinganku. Aku mata duitan, ya? Ya, iya lah. Karena aku sedang bekerja, bukan sedang beramal atau menjadi sukarelawan.
“Gak bisa, Pak. Kalau pagi saya mengajar,” sahutku sambil menahan diri agar tidak terpancing emosi oleh sikap arogannya.
“Hanya satu hari, apa gak bisa ijin?” Seharusnya itu susunan kalimat tanya, tapi dia lontarkan dengan nada memerintah supaya aku ijin.
“Gak bisa seenaknya ijin, Pak. Kecuali hal darurat dan penting.”
“Kamu pikir anak saya tidak penting?” Aku tersentak. Masyaa Allah. Suaranya pelan, tapi terdengar dalam menekan. Ada nada marah atau tersinggung di dalamnya.
“Bu-bu-bukan be-gi-tu, Pak.” Nah, kan? Aku menjadi gugup, takut, dan seperti terhipnotis untuk tunduk padanya. Begitu takut ia marah, padahal dia siapa? Seharusnya dia menghormatiku. Guru anaknya. Meskipun Cuma guru les.
“Alasannya akan kurang kuat, Pak. Saya dan Nadin tidak ada hubungan apapun kecuali guru dan murid. Orang akan memandang, tidak ada kepentingan saya untuk menemaninya merayakan ulang tahun di sekolah dan meninggalkan tanggung jawab,” tuturku panjang lebar. Semoga dia mengerti.
“Kalau begitu bolos saja. Tidak usah ijin!” titahnya. Gila!
“Saya bisa dipecat nanti, Pak,” timpalku cepat.
“Ya, sudah! Berenti saja sekalian!” Dia emosi. Kenapa jadi dia yang emosi? Harusnya aku!
“Pak, pekerjaan itu penting untuk saya. Tidak mudah mencari tempat kosong untuk guru honor seperti saya,” tukasku kesal. Seenaknya dia bicara. Aku mendengkus kasar. Kalau dia mau memberiku makan, it's okay. Honor dari anaknya privat, mana cukup untuk hidup sebulan.
“Sepenting apa?” tanyanya datar. Dingin menusuk. Melihat ekspresinya membuatku emosi dan terus mengumpat, “Dasar manusia arogan!”
“Sepenting hidup saya yang butuh makan,” sahutku asal.
“Hanya masalah makan? Saya akan memberimu makan. Besok temani anak saya,” ucapnya memerintah. What? Dasar manusia arogan! Sombong! Angkuh! Pengatur! Napasku serasa ngos-ngosan menahan kesal dan emosi. Bisa-bisanya dia merendahkanku seperti itu. Memberiku makan? Walaupun sebelumnya aku bilang it’ s okay kalau dia mau memberiku makan, tapi bukan berarti itu harus jadi kenyataan. Astagfirullah ....
“Bapak tidak berhak mengatur saya seperti itu! Bapak bukan orang tua atau suami saya yang ....”
“Ya, sudah! Kalau begitu saya akan jadi suami kamu. Kita menikah malam ini!”
“Hah?”
“Orang tuamu tidak perlu datang. Yakinkan saja mereka agar mau mengalihkan hak wali kepada pihak hakim. Ini hanya peresmian agar saya berhak memintamu menemani Nadin besok. Setelah malam ini, kita akan menikah lagi nanti. Saat itu, baru membawa orang tuamu.”
Aku melongo. Ini apa, sih? Dia ingin menikahiku, tapi tidak melamarku sebagaimana harusnya orang-orang melamar.
“Will you marry me?”
“Mau kah kamu menikah denganku?”
Jadi melamar itu ada tahap menanyakan kesediaan. Kemudian ada tahap menanti jawaban. Sedangkan dia? Tidak ada pertanyaan bersedia atau tidak. Tidak ada kesepakatan.
Semua sepihak darinya. Secara sepihak dia bilang akan jadi suamiku, tidak bertanya kesediaanku apakah mau menjadi istrinya. Secara sepihak melarangku memberitahu orang tuaku. Secara sepihak pula menentukan pernikahan malam ini.
“Aku antar pulang ke kos. Ambil semua barangmu.”
Aku terdiam. Masih kesal, kaget, bingung, marah, dan entah apa lagi perasaan yang ada di dalam hati. Yang jelas aku tidak habis pikir. Benakku belum bisa mencerna.
“Ayo!” titahnya yang telah berdiri dan membawa kunci mobil. Seperti terhipnotis, aku menurut mengikuti langkahnya. Masuk ke dalam mobil ketika ia membukakan pintu. Menyebutkan alamat ketika ia bertanya di mana kosku.
Aku Anindyaswari. Seperti nama orang Jawa, tapi Melayu tulen Kalimantan Barat. Satu tahun lalu, menyelesaikan pendidikan S-1 di kota Khatulistiwa ini. Dengan alasan pekerjaan, aku memutuskan tetap tinggal di kota ini dan menunda pulang ke kampung halaman.
Barangkali, takdir akan membuatku tetap tinggal di sini selamanya.
Martha is thankfully not so grumpy. She didn’t introduce me to everyone or show me to my table for that matter but at least she seemed pleased with the new helping hand.I have a small cubicle with a PC and three frosted glass walls that I’m allowed to decorate on my own accord. I got a new laptop (employee benefits) and a credit card to purchase custom brushes if the team already doesn’t have them.“Use this carefully,” Christian instructed while handing me the yellow credit card. “Once an employee used it to pay in Walmart thinking that nobody would find out. She was fired 2 hours later with a bad recommendation. Poor thing didn’t get a job after and had to run to her hometown with her tail between her legs.”“That- that’s bad. I don’t know what to say,” I exclaim.“You’ll have to be careful. Our CEO is very particular about employee ethics. Once, he fired a man for wearing his tie the wrong way.”“Oh my god- That’s awful.”“And he fired another woman because she asked for a 2 day l
“Hey,” Kiara squeals, engulfing me in a tight hug and I return the gesture.“It’s been so long,” I commented.“I know right.”We break the hug and walk into the apartment, the place that I will be sharing with Kiara for the foreseeable future. It is not big but at least there are two rooms and enough space for both of us.“Kiara you didn’t have to do the rent part.” Kiara offered to pay the complete rent for the next two months so that I would be able to get a stable income without worrying about it. I am extremely grateful for the help.“We went over this Rosie. I am doing well financially. It’s your time to shine now,” she says and moves to the kitchen to cook. I unpack my stuff and arrange my room.“You’re glowing,” she notes during dinner.“No,” I quickly say and mentally slap myself for being so eager to refuse.She narrows her eyes.“I got a job interview. As much anyone can glow with that-”“You had sex,” she cuts me. “Of course, this is the after sex glow.” She smiles mischiev
I can’t tell her. For the first time, I meet someone who’s good to me without asking for favours and this happens. What kind of sick joke fate is playing with me?“I-uh-work in a small firm. You wouldn’t know it,” I lied. She nods but it’s not with understanding. I’m wearing a Brioni and Rolex watch. People who work in small firms don’t wear them.I’m sorry Rosie. I have to lie to you.Just when I started to like someone…But now I'll have to let her go.“What happened?” she asks, noting the change in my demeanour. “Nothing,” I try to be assuring. What I am and who I am is outside of this flight. Inside, I am only Carter West. I refuse to let this revelation take away my fun.“Tell me more about yourself,” I urged.“I grew up in Chicago. I was in London meeting a friend when I got the interview. Now I’m going to New York and if things don’t work out, then I’m in grave trouble.”“How?”“My money is gone. Freelancing gave me side income for a while but it's not enough to survive in a
“Last night was intense,” I say to Carter’s behind. He’s shuffling through his suitcase, looking for another expensive suit to wear today.“Those are not the only words that I’ll use to describe last night, baby,” he returns to the bed and claims my lips again. I’m still sprawled half naked under the bed sheet and my flight is in 2 hours.“Care to join me while I shower?” He extends a hand with a sheepish grin on his face. If I didn’t know any better, I’d say it’s just a shower. However, after last night, it is bound to go sideways.But who’s complaining?Certainly not me.“Sure.” I take his hand and prepare myself for another round.“Where are you going?” I ask, slipping on my black stockings. I pair it with a pale brown skirt, black sweater and chocolaty brown overcoat. It’s bound to be cold after last night.“New York. You?” I gape at him. “The same flight that’s in an hour?”“Yup,” he enunciates, still oblivious.“We’re on the same flight.”“Woah,” he remarks. “More time to spend






Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.