FAZER LOGIN"Capek.... arghhh!!" Kilaara bergerak tak semrawut seperti orang gila di atas ranjang di dalam kantor Adrian, sendirian dengan hanya memakai pakaian dalam saja. Sedangkan setelan kerja yang ia pakai sebelumnya tampak tergantung rapi di lemari dekat kaca. Kilaara rasanya tidak punya tenaga lagi untuk beranjak dari kasur. Selama dua jam penuh, Adrian menggempur tubuhnya hingga rasanya tidak bertulang lagi. Memang gila sekali tenaga pria itu sampai Kilaara tidak sanggup mengimbanginya. Apakah Adrian minum obat kuat? Tapi, selama Kilaara berada di sampingnya, Adrian tidak pernah meminum obat-obatan aneh. Hah, mungkin saja tenaga Adrian baru keluar setelah terpendam selama puasa bertahun-tahun. Bukankah orang tua Adrian sendiri yang bilang padanya tadi kalau baru sekarang inilah Adrian memiliki kekasih sejak kematian istrinya? Hmmm, bisa jadi seperti itu. Berbeda dengan Kilaara yang masih leyeh-leyeh di kamar, Adrian sudah sibuk berkutat dengan dokumen yang harus dia tand
"Kapan kalian akan menikah?" Pertanyaan menohok itu sukses membuat Kilaara membulatkan matanya. Pengakuannya sebagai kekasih Adrian pun kini menjadi penyesalan baginya. Boro-boro mau menikah, kepikiran buat membina rumah tangga bersama Adrian saja tidak ada sama sekali di pikiran Kilaara. Jonathan maupun Halimah masih menunggu jawaban Kilaara yang mendadak bungkam. Mereka akui kalau mereka memang bersikap tiba-tiba menanyakan hal itu, namun mereka terlalu senang setelah mengetahui Adrian mulai membuka hati untuk wanita lain sejak kematian istriya. Menuju lima tahun, itu sudah terlalu lama buat Adrian menduda. Mumpung sudah ada calonnya, kenapa tidak? "Jangan-jangan kalian tidak memikirkan sama sekali untuk menikah? Padahal kalian sudah tinggal bersama," kata Jonathan dengan kata menusuknya. "Meskipun kalian mungkin tidak akan mengaku, saya yakin pasti kalian sudah campur kan?" sahut Halimah. Kata campur itu merujuk pada arti hubungan suami istri, alias wik-wik, alias ena-ena kal
Kedatangan Adrian dengan menggandeng tangan Imo membuat seluruh penghuni kantor heboh. Tidak heran karena bos mereka yang merupakan duda anak satu itu jarang sekali membawa Imo ke sana, mungkin hanya satu bulan sekali. Selain itu, sosok Kilaara yang berjalan berdampingan dengan sang CEO pun tak luput dari perhatian para pegawai. Semenjak kematian istrinya, bos mereka hampir tidak pernah terlihat dekat dengan wanita, sehingga apa yang mereka lihat sekarang tampak begitu ganjal. Apakah wanita itu adalah kekasih Pak Adrian? "Kalau gak salah, tuh cewek pindahan dari cabang kan? Kemarin baru dateng." "Tapi kok bisa jalan bareng Pak Adrian? Memang dia se-spesial itu?" "Dari cara bicara Pak Adrian ke dia aja udah beda. Gak kayak lagi ngomong sama karyawannya." "Bener. Jangan-jangan dia simpenannya?!" Kilaara langsung tersedak mendengar bisik-bisik-bisik yang cukup keras dari orang di sekitarnya. Dia sudah bicara dengan Adrian kalau nanti mereka harus pura-pura tidak kenal, tap
Kalau tidak ada Kilaara, mungkin Adrian bakal gila karena mengurus Imo sendirian. Peran Kilaara sangat membantunya, memberikan pendapat yang bermanfaat, sampai diujung hari dia juga membantu menidurkan Imo dengan membacakan dongeng. Kalau Adrian yang membacakannya, dijamin cerita dongeng yang lucu akan menjadi cerita horor yang mencekam. Pukul sembilan, Imo sudah tidur nyenyak di kamar tamu. Awalnya dia meminta tidur bersama Papanya, namun Adrian menolak tegas dengan alasan anak cowok harus tidur sendiri. Imo tidak bisa membantah karena dia takut akan dipulangkan ke rumah neneknya. Untung saja ada Kilaara yang membujuk Imo dengan iming-iming besok dia akan bermain ke kantor Papanya sehari penuh. Jangan ditanya reaksi Imo, malaikat mungil itu sangat senang. "Padahal gak apa-apa kalo Imo tidur bareng kamu malem ini aja, Yang. Kasian dia pasti kesepian di tempat baru," ujar Kilaara seraya bersandar di dada bidang milik Adrian. Mereka sedang bermesraan di atas ranjang, dimana Ad
Adrian bingung tujuh keliling. Selama tiga puluh lima tahun hidupnya, dia tidak pernah merawat balita. Dia lebih memilih berkutat dengan berkas atau dokumen seharian daripada bersama dengan bocah sebentar saja. Ibunya yang tega meninggalkannya sendiri bersama Imo kini sudah pulang setelah dijemput oleh Papanya. Adrian bahkan masih ingat dengan senyuman mengejek dari sang Papa yang seolah meremehkannya tidak bisa mengurus Imo, meski cuma sehari. Ya memang Adrian tidak bisa, jadi bisakah kalian membawa kembali Imo ke rumah kalian? Namun pertanyaan itu tidak mungkin dijawab karena anaknya ini sudah berada di apartemennya, duduk anteng di sofa sambil menatap lurus ke arahnya seolah sedang menunggu Papanya untuk segera mengurusnya. Argh, Adrian sudah menyerah. Apa yang harus dia lakukan sekarang? "Kamu sudah makan siang?" tanya Adrian sambil menatap jam di tangannya. Pukul dua belas lewat lima belas menit. Seharusnya ibunya pergi setelah memberi Imo makan
Sungguh membagongkan. Sepertinya pindah ke apartemen Adrian menjadi penyesalan baru bagi Kilaara. Dia merasa bukan wanita single lagi, melainkan sebagai wanita yang sudah bersuami. Sejak pindah ke sana, entah sudah berapa kali Adrian menggempurnya, entah itu di kamar, di sofa ruang tamu, di dapur, dan sudut lainnya di dalam apartemen tersebut. Mereka persis seperti pengantin baru yang haus akan bercinta! Bedanya, Kilaara cuma kekasih simpanan Adrian. Dia bahkan tak bisa marah kalau disebut sebagai jalang. Hah. Kilaara sungguh lelah—lelah hati dan pikiran, jangan lupakan tubuhnya juga. Untung saja hari ini adalah hari Minggu sehingga Kilaara bisa bersantai seharian tanpa mengeluarkan tenaga sia-sia untuk bekerja. "Udah lama banget gak nonton tipi," gumam Kilaara sembari berguling malas-malasan di sofa ruang tengah apartemen Adrian. Sedangkan pria itu sedang disuruh Kilaara untuk pergi ke minimarket di lobi, membelikannya berbagai camilan seperti ciki, es krim, cokla







