تسجيل الدخولKilaara membatu.
Tepat di depannya kini, tengah berdiri seseorang yang paling menakutkan baginya. Apalagi sekarang, Kilaara merasa tatapan sinis dan geraman rendah dari suara seksi yang berasal dari pria itu, tertuju spesial untuknya. Hati Kilaara mendadak berdesir melihat pria itu, namun bukannya berdesir karena jatuh hati, melainkan rasa takut. Yang benar saja, pahanya bergetar lirih saking ingin kabur dari lantai yang ia pijak saat ini. "Se-selamat pagi Pak Adrian," gagap Kilaara sembari menundukkan kepalanya dengan sopan. Dalam hati, dia berdoa dan berharap jika Adrian tidak menyadari betapa kusut penampilannya. Dibandingkan dengannya, sosok Adrian berhasil membuatnya terpukau. Kilaara akui, bosnya yang berstatus duda tampan ini memiliki kharisma yang luar biasa. Padahal Adrian hanya diam saja, tetapi auranya itu lho meluap-luap sampai tumpah. "You look different," ucap Adrian lirih sehingga Kilaara susah mendengarnya. "Hah?" Kilaara spontan menutup mulutnya. Bodoh! Bodoh! Kenapa bisa keceplosan sih? Ia pun langsung meneguk ludah kala Adrian melihatnya dari ujung kepala sampai ujung kaki. Mungkin sebentar lagi, ia akan disemprot oleh mulut kejam bosnya perihal pakaiannya yang semrawut ini. Namun ternyata, perkiraan Kilaara salah besar. Adrian justru melewatinya begitu saja seolah dia tidak melihat Kilaara di sampingnya. Melihat itu, Kilaara sontak mengembuskan napas lega. Rasanya beban berat seketika terangkat dari pundaknya. Ia tersenyum lebar memandangi punggung Adrian yang mulai menjauh, diikuti dengan adik kandungnya, Reno, dari belakang. Mereka berdua mungkin ingin menemui manajer kantor cabang yang telah menunggu mereka dari luar pintu dengan muka pucat. Tak beda dengan manajer, beberapa pegawai yang menyambut Adrian juga terlihat kaku. Kelihatan sekali bukan betapa besarnya kuasa Adrian di sini? Leo segera mendekati Kilaara saat para atasan memasuki ruangan manajer. Ia memukul lengan Kilaara dengan heboh seakan baru terkejut dengan kejadian aneh. "Sumpah demi apa?! Pak Adrian sama sekali gak permasalahin baju lo yang kusut ini?!" Leo menarik ujung pakaian Kilaara. "Gue juga gak nyangka. Apa di kehidupan sebelumnya gue sudah menyelamatkan negara?" Kilaara menutup mulutnya haru dengan kedua tangan. Pertanyaan itu dijawab oleh Leo dengan jitakan di kepalanya. "Gak usah lebay deh lo. Untung aja Pak Adrian gak peduli sama lo. Kalo gak, udah kena depak lo dari Sachdev Grup!" "Ya iyalah ngapain beliau harus peduli sama gue!" Kilaara menoyor kening Leo meskipun temannya itu jauh lebih tinggi daripada dia, "udahlah, ngabisin waktu aja ngobrol sama lo. Gue mau balik ke meja gue. Bye!" Kilaara pergi dengan langkah manja yang dibuat-buat hingga membuat Leo bergidik jijik. Meskipun kelakuan temannya agak nyeleneh, Leo tetap sayang sama Kilaara. **** Suasana hati Kilaara baik-baik saja sebelum manajernya mendadak saja mengajak seluruh staf untuk rapat. Rapat tersebut dipimpin dan dipantau langsung oleh sang CEO yang kebetulan belum pergi juga sejak pagi tadi. Kedatangannya saja sudah membuat geger satu kantor, sekarang beliau mengajak rapat pula? Demi wajahnya yang tampannya diluar nalar itu, Kilaara tidak bisa menebak apa tujuan CEO datang ke kantor cabang yang sering diabaikan ini. Jujur saja, Kilaara bahkan tak ingat kapan Adrian datang terakhir kali kemari. Mungkin saat peresmian kantor dibuka beberapa tahun lalu-yang berarti Kilaara belum bekerja di Sachdev Grup. Fakta itu menunjukkan bahwa Adrian sama sekali tak menyentuh kantor mereka setelah sekian lama. Tentu saja Kilaara paham soal itu, karena beliau memiliki banyak perwakilan yang bisa datang kemari demi menggantikan CEO super sibuk dengan pekerjaan segunungnya. Kalau dipikir-pikir lagi memang sungguh aneh. Apalagi rapat yang berlangsung sejak pukul sepuluh pagi hingga hampir memasuki jam makan siang ini bisa dibilang rapat paling mencekam yang pernah terjadi di hidupnya. Kilaara merasa sorot mata Adrian sering tertuju padanya tanpa alasan. Ketika mata mereka bertemu, Adrian langsung melengos ke arah lain atau berpura-pura seakan tidak terjadi apapun. "Ra.. sst.. Ra." "Eh." Kilaara sontak mengerjap ketika lengannya disikut oleh Nusi, staf bagian administrasi yang duduk di sampingnya. Mata Kilaara dengan cepat mengelilingi satu per satu anggota rapat yang tengah memandangnya dengan tatapan tak percaya. Ia pun segera mengerti situasi saat ini, yang mana hidupnya bergantung pada keputusan Adrian. "Kamu melamun saat rapat?" Suara Adrian membuat Kilaara meneguk ludah. Kilaara menegakkan punggungnya kaku, "Tidak Pak. Saya hanya membayangkan realisasi atas solusi permasalahan sebelumnya di lapangan, Pak." Kilaara menjawab tanpa gugup sehingga jawaban yang barusan ia lontarkan tidak terlihat ngawurnya. Padahal dia hanya melamun selama dua menit-tiga menit paling lama, tetapi kenapa Adrian sudah menyadarinya. Padahal Kilaara hanyalah sebutir debu bila dibandingkan para atasan yang berada di kanan dan kiri Adrian? Adrian menaikkan sebelah alisnya, membuat wajahnya yang tampak sinis menjadi lebih sinis lagi. Tanpa diminta, bulu kuduk Kilaara terasa merinding. Dia menjadi lebih takut pada CEO yang berstatus duda seksi itu. "Saya minta kamu fokus ke rapat ini meskipun mungkin kamu kurang tidur semalam," kata Adrian dengan tegas sebelum menyuruh yang lain membacakan laporan di tangannya. Kilaara tidak menjawab ucapan tersebut, namun dia menganggukkan kepala dengan sopan sebagai respon. Ia tersenyum canggung ke arah Leo yang seperti akan menertawainya. Memang dia teman jahanam, selalu bahagia di atas penderitaan orang lain. Tetapi Kilaara sudah sadar kalau jawabannya tadi memang terdengar ngaco. Untung saja Adrian tidak bertanya macam-macam lagi. Ketika menit-menit terakhir rapat akan usai, pintu ruangan diketuk pelan dari luar. Walaupun Adrian belum memberikan izin masuk, namun orang yang mengetuk pintu sudah lebih dulu membukanya. Sontak semua orang menoleh ke arah suara. "Kak-eh Pak. Ada ojol anterin makanan. Bapak yang pesan ya?" Kilaara mendesah lega setelah mengetahui orang dibalik pintu tersebut adalah adik kandung dari CEO mereka, Reno, yang sedang magang di perusahaan ini sebagai tugas kuliahnya. Kalau bukan, mungkin saja Adrian akan memecatnya karena sudah bertindak tidak sopan. "Ya, suruh dia tunggu di luar." Adrian mengeluarkan dompetnya dari balik jas mahalnya. "Kamu. Kemari." Kilaara membelalakkan matanya saat Adrian menunjuk tepat ke arahnya. "Saya Pak?" "Iya kamu. Tolong kamu bayar dulu ojeknya," kata Adrian mengeluarkan sejumlah uang, "itu untuk makan siang kalian." Raut wajah teman-temannya mendadak cerah kala mendengar makan siang itu. Apalagi ini dibayarin langsung oleh bos sehingga mereka tidak perlu mengeluarkan uang lagi buat makan hari ini. Kilaara juga ikutan senang sih, tapi dia terus bertanya-tanya dalam hati, kenapa harus dia yang membayar ke ojek online itu? Kilaara ingin menanyakannya langsung, tapi dia juga tak berani membantah perintah atasan. "Baik Pak." Kilaara berdiri dari kursinya dan berjalan menuju kursi Adrian yang berada di ujung tengah meja. Well, dia adalah bos. "Ini uangnya." Adrian memberikan tiga lembar uang seratus ribu rupiah yang agak leceh seolah habis diremuk dengan keras, lalu dirapikan kembali seadanya. Kilaara diam-diam membatin heran, orang seperti CEO punya uang selecek itu? Lagipula kenapa harus bayar tunai sih? Rachel Vennya saja punya saldo di aplikasi sampai satu juta lebih. Masa' Pak Adrian yang uangnya tak berseri itu tidak punya? "Bilang ke driver-nya, kembaliannya simpan saja." Entah kenapa, Kilaara merasakan sarkastik dari nada bicara Adrian. Ditambah lagi, senyuman miring yang seolah-oleh sedang mengejeknya secara langsung. Yang Kilaara pikirkan adalah CEO mereka ini memesan apa sampai-sampai uang tiga ratus ribu rupiah saja masih ada kembaliannya? Jangan-jangan, cuman nasi tempe harga sepuluh ribuan? Ya ampun, Kilaara tidak mengira kalau Adrian termasuk bos yang pelit. *****Kilaara tak percaya dengan apa yang terjadi padanya saat ini. Adrian terus menciuminya seolah-olah ciuman itu adalah napas terakhirnya untuk hidup. Ciumannya begitu menuntut, bergairah, dan membuatnya gerah. Kilaara kira, Adrian hanya berbohong saja saat dia bilang ciuman ini cuma permulaan, ternyata pria itu tidak main-main dengan ucapannya.Adrian mengecup kulit leher Kilaara berkali-kali namun dia tidak mencecapnya. Dia hanya mengecup dan menjilat sedikit demi sedikit hingga Kilaara menggelinjang geli. Entah sudah berapa kali Kilaara mendesah di dalam mobil yang terparkir di area basement sepi itu."Pak Adrian..." Kilaara meremas rambut Adrian yang lembut saat pria itu membuka kancing kemejanya satu per satu. Seolah sudah handal melakukannya, tangan Adrian merambat ke punggung Kilaara dan membuka pengait bra milik Kilaara. "Eh Pak Adrian. Gak. Saya malu.. Ahh..." Adrian tidak melepaskan bra Kilaara namun ia hanya menaruhny
Perkara satu malam saja, masalahnya bisa sepanjang ini. Kilaara akui, dari semua orang yang dia kenal selama dua puluh tiga tahun, Adrian Sachdev adalah pria yang paling merepotkan, menyebalkan, dan ingin menang sendiri. Pokoknya Kilaara serba salah menghadapinya. Belum cukup untuk membuatnya pusing memikirkan bagaimana cara bertanggung jawab atas malam itu, kini Kilaara semakin linglung karena Adrian seenaknya memindahkan dia ke kantor pusat. Kilaara tidak tahu maksud dan tujuan Adrian melakukan itu, mungkin memang benar dugaannya kalau Adrian sudah terlanjur jatuh cinta padanya. Jika tidak, alasan apa lagi coba? Tidak mungkin kan Adrian ingin mengikat dirinya supaya tidak lari kemana-mana. “Parah sih kalo bener, ngeri ah,” batin Kilaara. Dia ingin berpikir positif saja saat ini. Bahkan bagus dong kalau dia dipindahtugaskan ke kantor pusat, karirnya akan lebih berkembang dan ia bisa bertemu orang-orang baru yang lebih profesional. "Kenapa kamu senyum-senyum begitu?" Aduh, K
"Apa kamu sudah gila?" Adrian mendorong bahu Kilaara hingga punggung wanita itu menabrak pintu mobil di belakangnya. Adrian refleks melakukan itu karena Kilaara yang tiba-tiba mencium dirinya. "Aw, kasar banget sih." Kilaara mengaduh kesakitan sembari mengusap punggungnya sesekali. Dari sorot matanya yang khawatir, Adrian tampak merasa bersalah sudah menyakiti Kilaara, namun ia segera mengganti ekspresinya menjadi tak acuh. Adrian berdeham singkat sebelum melanjutkan ucapannya, "itu salah kamu sendiri yang tiba-tiba menyergap saya." "Tapi gak usah sekeras itu juga kali Pak dorong saya sampe kepentok pintu. Masih nyeri tau." Kilaara paham kalau tindakan Adrian terlalu spontan akibat dia terkejut setelah Kilaara menyerangnya. Namun tetap saja Adrian tak perlu sekasar itu. Adrian segera mengalihkan pembicaraan sebelum Kilaara mengoceh lagi, "saya tidak peduli caranya seperti apa, yang jelas kamu harus tanggung jawab." "Berarti bapak setuju kalau kita wik-wik lagi gitu?" timpa
Benarkah pria yang tidur dengannya malam itu adalah bosnya sendiri? Itu tidak mungkin terjadi kan. Bukankah kebetulan yang sangat menyenangkan—ah maksud Kilaara, kebetulan yang sangat sial itu hanya terjadi di novel romansa saja. Tetapi kalau mereka tidak melakukannya, tidak akan mungkin Adrian yang terkenal angkuh dan sombong ini berani mencium karyawannya sendiri. Apalagi Adrian memegang teguh pendirian bahwa tidak boleh ada skandal antara bos dan bawahnnya di kantor. Kepala Kilaara pusing memikirkan itu, ditambah lagi dengan sapuan lembut di bibirnya yang sudah lenyap saat tubuh Adrian menjauh dari sisinya. Kilaara hanya bisa menghirup rakus aroma parfum maskulin setelahnya. Entah perasaan darimana, Kilaara ingin dicium lagi. Astaga, tidak-tidak! Kilaara sontak menggelengkan kepalanya. Apa yang baru saja dia harapkan? "Hm. Ehmm.." Kilaara memulai percakapan karena Adrian memilih diam setelah mencium bibirnya, "maksud bapak— yang semalam itu, saya yang menghabiskan satu
Gak enak. Kaku. Tegang. Begitulah suasana kantor Kilaara seharian ini karena bos mereka yang terlihat dingin nan kejam itu terus mengawasi gerak-gerik mereka seperti harimau yang mengintai rusa sebagai mangsanya. Satu sama lain mulai menyalahkan masing-masing atas tingkah aneh dari CEO Sachdev tersebut, dan mereka mulai berpikir jika ada seseorang yang membuat beliau marah pada pesta tadi malam. Tanpa sepengetahuan Adrian yang berdiri di depan pintu dengan gaya angkuh—kedua tangan terlipat di depan dada dan kakinya yang menyilang—beberapa karyawan yang sepertinya tampak sibuk akan pekerjaan mereka di depan komputer, ternyata heboh mengetik hujatan dan tuduhan di grup. "Ngaku aja deh siapa yang bikin bos marah? Sumpah daritadi gue gak tenang!" "Bukannya lo yang paling kurang ajar semalem? Kan lo yang ngajak pak bos karoke?" "Gue ajak beliau juga kan ditolak." "Gue sama sekali gak ngapa-ngapain ya. Gue cuman nyapa beliau. Udah." "Iyaaaa!! Bukannya bos juga ngilang setelah hampi
Kilaara membatu. Tepat di depannya kini, tengah berdiri seseorang yang paling menakutkan baginya. Apalagi sekarang, Kilaara merasa tatapan sinis dan geraman rendah dari suara seksi yang berasal dari pria itu, tertuju spesial untuknya. Hati Kilaara mendadak berdesir melihat pria itu, namun bukannya berdesir karena jatuh hati, melainkan rasa takut. Yang benar saja, pahanya bergetar lirih saking ingin kabur dari lantai yang ia pijak saat ini. "Se-selamat pagi Pak Adrian," gagap Kilaara sembari menundukkan kepalanya dengan sopan. Dalam hati, dia berdoa dan berharap jika Adrian tidak menyadari betapa kusut penampilannya. Dibandingkan dengannya, sosok Adrian berhasil membuatnya terpukau. Kilaara akui, bosnya yang berstatus duda tampan ini memiliki kharisma yang luar biasa. Padahal Adrian hanya diam saja, tetapi auranya itu lho meluap-luap sampai tumpah."You look different," ucap Adrian lirih sehingga Kilaara susah mendengarnya."Hah?" Kilaara spontan menutup mulutnya. Bodoh! Bodoh! Ken







