Share

Part 6 - Ketahuan

Author: Atika
last update publish date: 2026-05-21 13:34:40

Gak enak. Kaku. Tegang.

Begitulah suasana kantor Kilaara seharian ini karena bos mereka yang terlihat dingin nan kejam itu terus mengawasi gerak-gerik mereka seperti harimau yang mengintai rusa sebagai mangsanya. Satu sama lain mulai menyalahkan masing-masing atas tingkah aneh dari CEO Sachdev tersebut, dan mereka mulai berpikir jika ada seseorang yang membuat beliau marah pada pesta tadi malam.

Tanpa sepengetahuan Adrian yang berdiri di depan pintu dengan gaya angkuh—kedua tangan terlipat di depan dada dan kakinya yang menyilang—beberapa karyawan yang sepertinya tampak sibuk akan pekerjaan mereka di depan komputer, ternyata heboh mengetik hujatan dan tuduhan di grup.

"Ngaku aja deh siapa yang bikin bos marah? Sumpah daritadi gue gak tenang!"

"Bukannya lo yang paling kurang ajar semalem? Kan lo yang ngajak pak bos karoke?"

"Gue ajak beliau juga kan ditolak."

"Gue sama sekali gak ngapa-ngapain ya. Gue cuman nyapa beliau. Udah."

"Iyaaaa!! Bukannya bos juga ngilang setelah hampir seluruh staf pada mabuk?"

"Ngomong-ngomong, Ara juga ngilang gak lama dari bos pergi kan?"

"Eh bener juga. Ara kan gak keliatan batang hidungnya sampe acara bubar."

Kilaara yang awalnya cuma nyimak saja kehebohan di dalam grup, kini siap bertarung melalui jarinya. Enak saja mereka mau mengkambing-hitamkan dirinya. Ya memang benar sih kalau dia pulang duluan daripada mereka karena insiden satu malam bersama pria asing yang tidak dia ingat, tapi Kilaara tidak mau menjadi bahan salahan atas keanehan CEO mereka hari ini.

Kilaara pun hendak membalas pesan dari teman-temannya itu, namun Leo lebih dulu yang mewakilinya.

"Ara dijemput gebetannya guys semalem. Gue yang anter dia sampe depan karena dia mabok."

"Ciyeee Araaa dah ada gebetan."

"Oh ya udah berarti Ara bukan pelakunya."

Kilaara langsung mendesah lega. Memang Leo adalah teman terbaiknya—well, meskipun dia agak nyebelin sih. Sebagai award, dia bakal traktir Leo makan bakso di pinggir jalan deh saat pulang kerja nanti.

"Tapi kalian pada sadar gak sih kalo pak bos sering liatin Ara?"

Jantung Kilaara mendadak ingin keluar dari tempatnya. Setelah merasa yakin namanya sudah keluar dari prasangka, chat dari Winda, temannya yang paling ngefans pada Adrian, sukses membuat Kilaara ketar-ketir. Ia pun segera menutup akses obrolan dan fokus kembali pada pekerjaannya yang ternyata sudah lama selesai. Ia tidak mau panik atau salah tingkah ketika ditatap oleh temannya yang lain. Kalau dia panik, semua orang pasti akan beranggapan seperti Winda.

Tidak mungkin. Tidak mungkin Adrian sering memperhatikannya. Winda sepertinya sedang sakit mata deh, batin Kilaara. Kilaara pun diam-diam mengintip dari balik layar komputernya ke arah ruangan manajer yang diambil alih oleh Adrian seharian ini.

And—crap! Kilaara sontak menunduk dalam seperkian detik. Gila, benar kata Winda. Kenapa pak bos melihat dia sambil menyeringai sinis seperti itu sih? Memangnya dia salah apa? Dia sudah menurut perintah beliau tadi siang untuk membayar ojek online, dan kembaliannya sebesar tujuh ribu lima ratus juga buat driver tersebut. Kilaara gak ambil korupsi kok. Sungguh.

Jangan-jangan...

Pak bos naksir padanya? Kilaara menggeleng dengan heboh. Adrian duda keren sih, tajir pula, dan wajahnya tipe Kilaara banget. Tapi Kilaara masih doyan sama perjaka ting-ting. Jadi, Adrian tidak termasuk incarannya.

Maaf ya Pak bos.

Delapan menit lagi sebelum waktu pulang, Kilaara harus bertahan di bawah tekanan dari tatapan Adrian yang kini terang-terangan tertuju padanya. Namun selang tiga puluh detik, Adrian melengos masuk ke dalam ruangan sehingga seluruh staf mendesah lega secara bersamaan.

"Hush. Ara, lo beneran gak ngapa-apain bos kan? Gue takut lo muntah di baju mahal beliau semalem?" bisik Leo yang biliknya bersebrangan dengan Kilaara.

"Enak aja. Enggak! Gue juga baru ketemu pak bos di sini," balas Kilaara tak acuh.

Semoga saja dugaan Leo salah. Meskipun dia mabuk berat dan tak ingat apapun soal semalam—selain terbangun di kamar hotel bersama pria dengan tubuh berotot yang indah—Kilaara yakin dia tidak muntah di pakaian Adrian yang harganya melebihi gajinya sebulan itu.

*****

Kilaara pulang lebih telat dari teman-temannya karena Bu Jani, supervisor di kantornya, menyuruh Kilaara untuk merekap hasil penjualan dalam sepekan. Biasanya itu tugas Nusi, tetapi Bu SPV tersebut entah kenapa menyuruhnya hari ini. Ya, dia memang bisa melakukannya sih, tapi kan itu tidak termasuk dalam job desk-nya. Mau menolak perintah tersebut, namun Kilaara sadar diri karena dia masih kacung di kantor ini.

Ugh, Kilaara tidak sabar untuk pulang. Tubuhnya letih, dan bagian intimnya juga masih nyut-nyutan seharian ini. Oh satu lagi, pahanya juga nyeri seolah habis squad-jump seratus kali. Ia pun heran, memangnya apa yang dia lakukan tadi malam sampai tubuhnya terasa remuk dan pegal-pegal. Kilaara ingin cepat rebahan, bobok cantik, dan memeluk bantal gulingnya.

"Satu lagi. Satu baris lagi. Dan... dan... yes!! Kelar!" Kilaara bersorak gembira, lalu meluruskan punggung dan merenggangkan tangannya ke atas. Ia tersenyum puas melihat hasil kerjaannya sebelum mengirimkan laporan tersebut melalui e-mail. Setelah itu, Kilaara mematikan komputernya dan bersiap-siap pergi dari ruangan kerja yang sekarang mirip seperti kuburan. Sepi, gelap, dan bikin merinding.

"Demi apa udah jam tujuh?! Jadi gue udah dua jam lembur nih?!" Kilaara geleng-geleng kepala membayangkan jerih payahnya yang tidak digaji itu. Oke, ini yang terakhir. Kalau Bu Jani menyuruhnya lagi di lain waktu, Kilaara akan—ofc, tetap mematuhinya dan mengerjakannya di rumah saja.

Kilaara berjalan sedikit cepat menuju lift. Tanpa perlu menunggu lama, karena mungkin di jam malam ini sudah tidak ada lagi yang kerja bagai kuda sepertinya, lift pun datang dalam hitungan detik saja. Ia lalu masuk ke dalamnya, dan hendak menutup pintu.

"Tunggu."

Mata Kilaara melotot sempurna melihat tangan kuat khas lelaki jantan yang menghalangi dua sisi pintu lift yang akan tertutup.

"Pak Adrian..." Suara Kilaara mengecil seiring masuknya bos mereka yang tampan namun duda beranak satu itu. Ia menekan tombol buka supaya Adrian bisa leluasa masuk tanpa takut terjepit.

Sesuai dugaan Kilaara, Adrian tidak mungkin berterima kasih padanya karena sudah dibukakan pintu lift tersebut.

Canggung! Canggung banget. Kilaara berdiri di belakang Adrian. Dia sudah tahu sih kalau Adrian itu orangnya tinggi besar, tapi dia baru sadar saat berada di belakangnya. Geeezzz, seratus delapan puluh lewat nih, kata Kilaara dalam hati. Untuk yang tingginya hanya seratus enam puluh senti, Kilaara cuma bisa diam saja.

"Cepetan sampe dong. Cepetan sampe." Kilaara terus membatin seperti itu karena suasana kaku ini. Ia tidak berani mengajak bicara duluan dengan Adrian, sehingga dia hanya menatap pintu lift yang memantulkan sosok Adrian dan dirinya. Adrian menyadari jika Kilaara menatap kaca di depannya dan membalas tatapan Kilaara di sana.

"Baru pulang?"

Tanpa disangka oleh Kilaara, Adrian membuka pembicaraan lebih dulu! Ya ampun, syukurlah. Apalagi tinggal empat lantai lagi untuk mencapai lantai dasar.

"Iya Pak, ada kerjaan yang belum selesai. Bapak juga kenapa baru pulang?" tanya balik Kilaara dengan hati-hati.

"Saya menunggu seseorang," jawab Adrian sambil melihat Kilaara dari pintu kaca lift.

"Oh gitu." Kilaara menganggukkan kepalanya pura-pura paham. Menunggu seseorang, mungkin menunggu sopir jemputan kali? Atau menunggu adiknya yang lagi pergi entah kemana—Kilaara tak begitu peduli.

Sesampainya di lantai dasar, mereka pun berpisah tanpa ucapan basa-basi, dan membuat Kilaara sedikit kecewa. Ya, kecewa saja sih. Setidaknya Adrian bisa kan bilang, "saya duluan"; atau "kamu hati-hati dijalan.", mengingat dia adalah karyawannya yang lembur tanpa digaji ini.

Oke, Kilaara tidak mau merasa sedih. Adrian tidak mungkin memberikan perhatian lebih selain pertanyaan remeh seperti di dalam lift tadi untuk karyawannya. Ia cukup merasa puas setelah disapa duluan oleh bos besar.

Kilaara pun pergi menuju parkiran motor yang berada di samping kanan bangunan kantor. Meskipun tidak ada orang lagi yang bekerja, tetapi untung saja masih ada satpam yang berjaga hingga pukul sembilan malam.

Setelah tiba di parkiran, ia pun mengeluarkan kunci motor dari tas slempangnya, dan menaiki motor matic yang sudah lama menemaninya itu. Setelah mesin dihidupkan dan dipanaskan beberapa saat, Kilaara mulai menjalankan motornya. Tetapi ada yang terasa aneh. Kenapa berat sekali?

"Oh sial! Gak mungkin bannya pecah?!" Kilaara segera mematikan mesin motornya dan menurunkan standar samping. Mulutnya seketika menganga melihat ban motornya kempis—dua-duanya pula!

"Gak bener ini. Ada yang sengaja ngeprank gue nih. Tapi pranknya kelewatan woy." Kilaara mendumel sendirian sambil menatap pilu ke arah ban motornya.

Gimana bisa buat pulang sampai rumah kalau motornya sama sekali gak bisa berjalan? Kilaara ingin menangis rasanya. Ia menoleh ke kanan dan ke kiri, dan melihat dua satpam di pos mereka, tetapi Kilaara takut untuk meminta tolong. Bagaimana tidak? Mereka laki-laki jomblo, dua orang pula, dan dia gadis lugu sendirian malam-malam begini. Uhhh, pikiran negatif Kilaara mulai aktif berimajinasi.

Ketika Kilaara menemukan ide yang bagus yaitu menelepon Leo dan meminta tolong pada temannya itu, mobil Chevrolet Camaro berhenti di sampingnya. Siapa lagi di kantor ini yang punya mobil semewah itu kalau bukan Adrian, sang CEO?

Adrian membuka kaca mobilnya dan melihat Kilaara  yang hanya berdiri mematung sambil menatap mobil kinclong itu dengan tatapan bingung.

"Motor kamu kenapa?" tanya Adrian dengan wajah datar. Ia tidak terlihat kasihan atau simpati melihat mata Kilaara yang seperti ingin menangis itu.

"Oh gak apa-apa kok Pak. Cuman masalah kecil," jawab Kilaara sok tenang. Padahal hatinya sudah gundah gulana memikirkan nasib rebahannya yang tertunda lebih lama.

Adrian mengalihkan tatapannya ke arah ban motor Kilaara yang kempis dua-duanya. Ia tersenyum kecil melihat itu, namun Kilaara tidak menyadarinya.

"Saya antar kamu pulang," kata Adrian kemudian.

Kilaara sungguh terkejut mendengarnya. Ia pun menggelengkan kepalanya dengan kuat, "tidak usah Pak. Saya mau minta tolong teman saya kemari."

"Itu memakan waktu lama." Akhirnya, Adrian keluar dari mobil tanpa mematikan mesinnya terlebih dahulu. Tanpa seizin Kilaara, Adrian lalu memanggil salah satu satpam dengan suara sedikit keras dan menyuruh orang itu untuk mengurus motor Kilaara. Ia juga memberikan uang yang cukup untuk reparasi ban motor tersebut.

"Pak. Gak usah. Saya bisa pulang sendiri kok." Kilaara dengan susah payah menolak bantuan dari bosnya itu karena dia sadar diri bahwa Adrian terlalu banyak menolongnya. Bahkan uang untuk benerin ban motornya saja, Adrian yang kasih.

"Tidak apa-apa. Itu sudah kewajiban saya," ucap Adrian seraya tersenyum teduh pada Kilaara. Kilaara cukup tersentuh mendengarnya. Ya Tuhan, Adrian memang pemimpin sejati. Apapun masalah karyawannya akan menjadi tanggung jawabnya. Kilaara akan beri dua jempol untuk Adrian.

"Bukanlah tidak baik kalau terus menolak bantuan dari orang lain, Ara?" Adrian berdiri dengan tangannya bersandar pada pintu mobil yang terbuka.

"Maksud bapak?" Kilaara merasa asing dipanggil Ara oleh bosnya sendiri. Daripada itu, bagaimana bisa beliau tahu nama panggilannya? Ah, mungkin ia mendengar saat teman-temannya memanggilnya begitu saat rapat tadi. Bisa jadi.

"Saya sudah menawarkan untuk mengantar kamu pulang daritadi."

"Ahhh... kalo itu saya bisa pesan ojol Pak."

"Ara..." panggil Adrian pelan.

"Ara... Ara.. Ahh..."

Kilaara mengerjapkan mata saat suara desahan sambil memanggil namanya dengan nada seksi dan berat tiba-tiba terlintas diingatannya. Ya ampun, kenapa dia seperti merasakan de javu saat Adrian memanggilnya tadi?

"Iya Pak? Tapi saya beneran bisa—"

"Masuk ya. Saya mohon." Adrian segera memotong ucapan Kilaara. Kilaara mendadak tak enak hati saat mendengar bosnya memohon seperti itu.

"Baik Pak. Maaf sudah merepotkan bapak."

Kilaara berjalan linglung menuju mobil. Ia membuka pintu dan masuk ke dalam mobil. Ia baru menyadari kalau ia masih memakai helm. Sebelum Adrian melihat kebodohannya, Kilaara cepat-cepat melepaskan helm itu dan menaruhnya di dekat kakinya.

Adrian tersenyum pada Kilaara sebelum melajukan mobilnya. Kilaara hanya diam dengan bahu tegak, bahkan punggungnya tidak menyentuh punggung jok mobil saking tegangnya. Ia takut menodai mobil seharga miliaran rupiah ini.

"Apa tubuhmu baik-baik saja?" tanya Adrian tanpa melihat ke arah Kilaara.

Kilaara cukup bingung dengan pertanyaan itu, tetapi ia berusaha untuk menjawabnya, "saya sedikit lelah sih Pak. Tapi selain itu, ya baik-baik saja."

"Saya takut kamu akan kesakitan sampai tidak bisa berjalan hari ini," jawab Adrian semakin membuat Kilaara keheranan. "Saya kagum melihat kamu masih bisa masuk kerja." Adrian tertawa kecil setelah berkata seperti itu.

Karena tidak mengerti apapun maksud dari ucapan Adrian, ia pun ikut tertawa. Haha haha, begitu. Hanya tertawa canggung saja.

Pak bos ngomong apa sih? Gak sampe nih ke otak gue." Batin Kilaara meringis tetapi mulutnya masih tertawa mengikuti alur Adrian.

Ketika mobil mereka tiba di lampu merah yang baru mulai, Adrian meraih tangan Kilaara dan mencium telapaknya. "Kamu. Apakah itu masih mengeluarkan darah? Semalam kamu menangis saat saya menerobosnya."

Kilaara membelalakkan matanya—mulai mengerti kemana arah pembicaraan Adrian. Alisnya mulai mengerut dan bibirnya bergetar ketakutan. Ini semua tidak mungkin terjadi. Jangan-jangan Pak Adrian adalah partner seks satu malamnya? Kilaara menggelengkan kepalanya dengan pelan sambil menarik pelan tangannya yang tengah digenggam oleh Adrian.

Adrian menahan tangan Kilaara supaya wanita itu tidak bisa lepas darinya, "saya kira, kamu marah sehingga meninggalkan saya sendirian tadi pagi. Tapi melihat reaksi kamu seharian ini, saya ragu kamu akan mengingat ini."

Kilaara tidak bisa menggerakkan tubuhnya sendiri saat Adrian menarik wajahnya dan mengigit bibirnya dengan sedikit kuat. Kilaara meringis pelan sebelum Adrian memberikan kecupan lainnya.

"Kamu tidak lupa kan kalau kamulah yang menyerangku tadi malam?"

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • CEO yang Kubayar Setelah Semalam   Part 19 Di dalam Lift

    "Capek.... arghhh!!" Kilaara bergerak tak semrawut seperti orang gila di atas ranjang di dalam kantor Adrian, sendirian dengan hanya memakai pakaian dalam saja. Sedangkan setelan kerja yang ia pakai sebelumnya tampak tergantung rapi di lemari dekat kaca. Kilaara rasanya tidak punya tenaga lagi untuk beranjak dari kasur. Selama dua jam penuh, Adrian menggempur tubuhnya hingga rasanya tidak bertulang lagi. Memang gila sekali tenaga pria itu sampai Kilaara tidak sanggup mengimbanginya. Apakah Adrian minum obat kuat? Tapi, selama Kilaara berada di sampingnya, Adrian tidak pernah meminum obat-obatan aneh. Hah, mungkin saja tenaga Adrian baru keluar setelah terpendam selama puasa bertahun-tahun. Bukankah orang tua Adrian sendiri yang bilang padanya tadi kalau baru sekarang inilah Adrian memiliki kekasih sejak kematian istrinya? Hmmm, bisa jadi seperti itu. Berbeda dengan Kilaara yang masih leyeh-leyeh di kamar, Adrian sudah sibuk berkutat dengan dokumen yang harus dia tand

  • CEO yang Kubayar Setelah Semalam   Part 18 Nafsu Adrian

    "Kapan kalian akan menikah?" Pertanyaan menohok itu sukses membuat Kilaara membulatkan matanya. Pengakuannya sebagai kekasih Adrian pun kini menjadi penyesalan baginya. Boro-boro mau menikah, kepikiran buat membina rumah tangga bersama Adrian saja tidak ada sama sekali di pikiran Kilaara. Jonathan maupun Halimah masih menunggu jawaban Kilaara yang mendadak bungkam. Mereka akui kalau mereka memang bersikap tiba-tiba menanyakan hal itu, namun mereka terlalu senang setelah mengetahui Adrian mulai membuka hati untuk wanita lain sejak kematian istriya. Menuju lima tahun, itu sudah terlalu lama buat Adrian menduda. Mumpung sudah ada calonnya, kenapa tidak? "Jangan-jangan kalian tidak memikirkan sama sekali untuk menikah? Padahal kalian sudah tinggal bersama," kata Jonathan dengan kata menusuknya. "Meskipun kalian mungkin tidak akan mengaku, saya yakin pasti kalian sudah campur kan?" sahut Halimah. Kata campur itu merujuk pada arti hubungan suami istri, alias wik-wik, alias ena-ena kal

  • CEO yang Kubayar Setelah Semalam   Part 17 Papa makan bibir Mama?!!

    Kedatangan Adrian dengan menggandeng tangan Imo membuat seluruh penghuni kantor heboh. Tidak heran karena bos mereka yang merupakan duda anak satu itu jarang sekali membawa Imo ke sana, mungkin hanya satu bulan sekali. Selain itu, sosok Kilaara yang berjalan berdampingan dengan sang CEO pun tak luput dari perhatian para pegawai. Semenjak kematian istrinya, bos mereka hampir tidak pernah terlihat dekat dengan wanita, sehingga apa yang mereka lihat sekarang tampak begitu ganjal. Apakah wanita itu adalah kekasih Pak Adrian? "Kalau gak salah, tuh cewek pindahan dari cabang kan? Kemarin baru dateng." "Tapi kok bisa jalan bareng Pak Adrian? Memang dia se-spesial itu?" "Dari cara bicara Pak Adrian ke dia aja udah beda. Gak kayak lagi ngomong sama karyawannya." "Bener. Jangan-jangan dia simpenannya?!" Kilaara langsung tersedak mendengar bisik-bisik-bisik yang cukup keras dari orang di sekitarnya. Dia sudah bicara dengan Adrian kalau nanti mereka harus pura-pura tidak kenal, tap

  • CEO yang Kubayar Setelah Semalam   Part 16 - Kepergok

    Kalau tidak ada Kilaara, mungkin Adrian bakal gila karena mengurus Imo sendirian. Peran Kilaara sangat membantunya, memberikan pendapat yang bermanfaat, sampai diujung hari dia juga membantu menidurkan Imo dengan membacakan dongeng. Kalau Adrian yang membacakannya, dijamin cerita dongeng yang lucu akan menjadi cerita horor yang mencekam. Pukul sembilan, Imo sudah tidur nyenyak di kamar tamu. Awalnya dia meminta tidur bersama Papanya, namun Adrian menolak tegas dengan alasan anak cowok harus tidur sendiri. Imo tidak bisa membantah karena dia takut akan dipulangkan ke rumah neneknya. Untung saja ada Kilaara yang membujuk Imo dengan iming-iming besok dia akan bermain ke kantor Papanya sehari penuh. Jangan ditanya reaksi Imo, malaikat mungil itu sangat senang. "Padahal gak apa-apa kalo Imo tidur bareng kamu malem ini aja, Yang. Kasian dia pasti kesepian di tempat baru," ujar Kilaara seraya bersandar di dada bidang milik Adrian. Mereka sedang bermesraan di atas ranjang, dimana Ad

  • CEO yang Kubayar Setelah Semalam   Part 15 Cocok juga Jadi Istriku

    Adrian bingung tujuh keliling. Selama tiga puluh lima tahun hidupnya, dia tidak pernah merawat balita. Dia lebih memilih berkutat dengan berkas atau dokumen seharian daripada bersama dengan bocah sebentar saja. Ibunya yang tega meninggalkannya sendiri bersama Imo kini sudah pulang setelah dijemput oleh Papanya. Adrian bahkan masih ingat dengan senyuman mengejek dari sang Papa yang seolah meremehkannya tidak bisa mengurus Imo, meski cuma sehari. Ya memang Adrian tidak bisa, jadi bisakah kalian membawa kembali Imo ke rumah kalian? Namun pertanyaan itu tidak mungkin dijawab karena anaknya ini sudah berada di apartemennya, duduk anteng di sofa sambil menatap lurus ke arahnya seolah sedang menunggu Papanya untuk segera mengurusnya. Argh, Adrian sudah menyerah. Apa yang harus dia lakukan sekarang? "Kamu sudah makan siang?" tanya Adrian sambil menatap jam di tangannya. Pukul dua belas lewat lima belas menit. Seharusnya ibunya pergi setelah memberi Imo makan

  • CEO yang Kubayar Setelah Semalam   Part 14 - Ketemu Anak Adrian

    Sungguh membagongkan. Sepertinya pindah ke apartemen Adrian menjadi penyesalan baru bagi Kilaara. Dia merasa bukan wanita single lagi, melainkan sebagai wanita yang sudah bersuami. Sejak pindah ke sana, entah sudah berapa kali Adrian menggempurnya, entah itu di kamar, di sofa ruang tamu, di dapur, dan sudut lainnya di dalam apartemen tersebut. Mereka persis seperti pengantin baru yang haus akan bercinta! Bedanya, Kilaara cuma kekasih simpanan Adrian. Dia bahkan tak bisa marah kalau disebut sebagai jalang. Hah. Kilaara sungguh lelah—lelah hati dan pikiran, jangan lupakan tubuhnya juga. Untung saja hari ini adalah hari Minggu sehingga Kilaara bisa bersantai seharian tanpa mengeluarkan tenaga sia-sia untuk bekerja. "Udah lama banget gak nonton tipi," gumam Kilaara sembari berguling malas-malasan di sofa ruang tengah apartemen Adrian. Sedangkan pria itu sedang disuruh Kilaara untuk pergi ke minimarket di lobi, membelikannya berbagai camilan seperti ciki, es krim, cokla

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status