Mag-log inGak enak. Kaku. Tegang.
Begitulah suasana kantor Kilaara seharian ini karena bos mereka yang terlihat dingin nan kejam itu terus mengawasi gerak-gerik mereka seperti harimau yang mengintai rusa sebagai mangsanya. Satu sama lain mulai menyalahkan masing-masing atas tingkah aneh dari CEO Sachdev tersebut, dan mereka mulai berpikir jika ada seseorang yang membuat beliau marah pada pesta tadi malam. Tanpa sepengetahuan Adrian yang berdiri di depan pintu dengan gaya angkuh—kedua tangan terlipat di depan dada dan kakinya yang menyilang—beberapa karyawan yang sepertinya tampak sibuk akan pekerjaan mereka di depan komputer, ternyata heboh mengetik hujatan dan tuduhan di grup. "Ngaku aja deh siapa yang bikin bos marah? Sumpah daritadi gue gak tenang!" "Bukannya lo yang paling kurang ajar semalem? Kan lo yang ngajak pak bos karoke?" "Gue ajak beliau juga kan ditolak." "Gue sama sekali gak ngapa-ngapain ya. Gue cuman nyapa beliau. Udah." "Iyaaaa!! Bukannya bos juga ngilang setelah hampir seluruh staf pada mabuk?" "Ngomong-ngomong, Ara juga ngilang gak lama dari bos pergi kan?" "Eh bener juga. Ara kan gak keliatan batang hidungnya sampe acara bubar." Kilaara yang awalnya cuma nyimak saja kehebohan di dalam grup, kini siap bertarung melalui jarinya. Enak saja mereka mau mengkambing-hitamkan dirinya. Ya memang benar sih kalau dia pulang duluan daripada mereka karena insiden satu malam bersama pria asing yang tidak dia ingat, tapi Kilaara tidak mau menjadi bahan salahan atas keanehan CEO mereka hari ini. Kilaara pun hendak membalas pesan dari teman-temannya itu, namun Leo lebih dulu yang mewakilinya. "Ara dijemput gebetannya guys semalem. Gue yang anter dia sampe depan karena dia mabok." "Ciyeee Araaa dah ada gebetan." "Oh ya udah berarti Ara bukan pelakunya." Kilaara langsung mendesah lega. Memang Leo adalah teman terbaiknya—well, meskipun dia agak nyebelin sih. Sebagai award, dia bakal traktir Leo makan bakso di pinggir jalan deh saat pulang kerja nanti. "Tapi kalian pada sadar gak sih kalo pak bos sering liatin Ara?" Jantung Kilaara mendadak ingin keluar dari tempatnya. Setelah merasa yakin namanya sudah keluar dari prasangka, chat dari Winda, temannya yang paling ngefans pada Adrian, sukses membuat Kilaara ketar-ketir. Ia pun segera menutup akses obrolan dan fokus kembali pada pekerjaannya yang ternyata sudah lama selesai. Ia tidak mau panik atau salah tingkah ketika ditatap oleh temannya yang lain. Kalau dia panik, semua orang pasti akan beranggapan seperti Winda. Tidak mungkin. Tidak mungkin Adrian sering memperhatikannya. Winda sepertinya sedang sakit mata deh, batin Kilaara. Kilaara pun diam-diam mengintip dari balik layar komputernya ke arah ruangan manajer yang diambil alih oleh Adrian seharian ini. And—crap! Kilaara sontak menunduk dalam seperkian detik. Gila, benar kata Winda. Kenapa pak bos melihat dia sambil menyeringai sinis seperti itu sih? Memangnya dia salah apa? Dia sudah menurut perintah beliau tadi siang untuk membayar ojek online, dan kembaliannya sebesar tujuh ribu lima ratus juga buat driver tersebut. Kilaara gak ambil korupsi kok. Sungguh. Jangan-jangan... Pak bos naksir padanya? Kilaara menggeleng dengan heboh. Adrian duda keren sih, tajir pula, dan wajahnya tipe Kilaara banget. Tapi Kilaara masih doyan sama perjaka ting-ting. Jadi, Adrian tidak termasuk incarannya. Maaf ya Pak bos. Delapan menit lagi sebelum waktu pulang, Kilaara harus bertahan di bawah tekanan dari tatapan Adrian yang kini terang-terangan tertuju padanya. Namun selang tiga puluh detik, Adrian melengos masuk ke dalam ruangan sehingga seluruh staf mendesah lega secara bersamaan. "Hush. Ara, lo beneran gak ngapa-apain bos kan? Gue takut lo muntah di baju mahal beliau semalem?" bisik Leo yang biliknya bersebrangan dengan Kilaara. "Enak aja. Enggak! Gue juga baru ketemu pak bos di sini," balas Kilaara tak acuh. Semoga saja dugaan Leo salah. Meskipun dia mabuk berat dan tak ingat apapun soal semalam—selain terbangun di kamar hotel bersama pria dengan tubuh berotot yang indah—Kilaara yakin dia tidak muntah di pakaian Adrian yang harganya melebihi gajinya sebulan itu. ***** Kilaara pulang lebih telat dari teman-temannya karena Bu Jani, supervisor di kantornya, menyuruh Kilaara untuk merekap hasil penjualan dalam sepekan. Biasanya itu tugas Nusi, tetapi Bu SPV tersebut entah kenapa menyuruhnya hari ini. Ya, dia memang bisa melakukannya sih, tapi kan itu tidak termasuk dalam job desk-nya. Mau menolak perintah tersebut, namun Kilaara sadar diri karena dia masih kacung di kantor ini. Ugh, Kilaara tidak sabar untuk pulang. Tubuhnya letih, dan bagian intimnya juga masih nyut-nyutan seharian ini. Oh satu lagi, pahanya juga nyeri seolah habis squad-jump seratus kali. Ia pun heran, memangnya apa yang dia lakukan tadi malam sampai tubuhnya terasa remuk dan pegal-pegal. Kilaara ingin cepat rebahan, bobok cantik, dan memeluk bantal gulingnya. "Satu lagi. Satu baris lagi. Dan... dan... yes!! Kelar!" Kilaara bersorak gembira, lalu meluruskan punggung dan merenggangkan tangannya ke atas. Ia tersenyum puas melihat hasil kerjaannya sebelum mengirimkan laporan tersebut melalui e-mail. Setelah itu, Kilaara mematikan komputernya dan bersiap-siap pergi dari ruangan kerja yang sekarang mirip seperti kuburan. Sepi, gelap, dan bikin merinding. "Demi apa udah jam tujuh?! Jadi gue udah dua jam lembur nih?!" Kilaara geleng-geleng kepala membayangkan jerih payahnya yang tidak digaji itu. Oke, ini yang terakhir. Kalau Bu Jani menyuruhnya lagi di lain waktu, Kilaara akan—ofc, tetap mematuhinya dan mengerjakannya di rumah saja. Kilaara berjalan sedikit cepat menuju lift. Tanpa perlu menunggu lama, karena mungkin di jam malam ini sudah tidak ada lagi yang kerja bagai kuda sepertinya, lift pun datang dalam hitungan detik saja. Ia lalu masuk ke dalamnya, dan hendak menutup pintu. "Tunggu." Mata Kilaara melotot sempurna melihat tangan kuat khas lelaki jantan yang menghalangi dua sisi pintu lift yang akan tertutup. "Pak Adrian..." Suara Kilaara mengecil seiring masuknya bos mereka yang tampan namun duda beranak satu itu. Ia menekan tombol buka supaya Adrian bisa leluasa masuk tanpa takut terjepit. Sesuai dugaan Kilaara, Adrian tidak mungkin berterima kasih padanya karena sudah dibukakan pintu lift tersebut. Canggung! Canggung banget. Kilaara berdiri di belakang Adrian. Dia sudah tahu sih kalau Adrian itu orangnya tinggi besar, tapi dia baru sadar saat berada di belakangnya. Geeezzz, seratus delapan puluh lewat nih, kata Kilaara dalam hati. Untuk yang tingginya hanya seratus enam puluh senti, Kilaara cuma bisa diam saja. "Cepetan sampe dong. Cepetan sampe." Kilaara terus membatin seperti itu karena suasana kaku ini. Ia tidak berani mengajak bicara duluan dengan Adrian, sehingga dia hanya menatap pintu lift yang memantulkan sosok Adrian dan dirinya. Adrian menyadari jika Kilaara menatap kaca di depannya dan membalas tatapan Kilaara di sana. "Baru pulang?" Tanpa disangka oleh Kilaara, Adrian membuka pembicaraan lebih dulu! Ya ampun, syukurlah. Apalagi tinggal empat lantai lagi untuk mencapai lantai dasar. "Iya Pak, ada kerjaan yang belum selesai. Bapak juga kenapa baru pulang?" tanya balik Kilaara dengan hati-hati. "Saya menunggu seseorang," jawab Adrian sambil melihat Kilaara dari pintu kaca lift. "Oh gitu." Kilaara menganggukkan kepalanya pura-pura paham. Menunggu seseorang, mungkin menunggu sopir jemputan kali? Atau menunggu adiknya yang lagi pergi entah kemana—Kilaara tak begitu peduli. Sesampainya di lantai dasar, mereka pun berpisah tanpa ucapan basa-basi, dan membuat Kilaara sedikit kecewa. Ya, kecewa saja sih. Setidaknya Adrian bisa kan bilang, "saya duluan"; atau "kamu hati-hati dijalan.", mengingat dia adalah karyawannya yang lembur tanpa digaji ini. Oke, Kilaara tidak mau merasa sedih. Adrian tidak mungkin memberikan perhatian lebih selain pertanyaan remeh seperti di dalam lift tadi untuk karyawannya. Ia cukup merasa puas setelah disapa duluan oleh bos besar. Kilaara pun pergi menuju parkiran motor yang berada di samping kanan bangunan kantor. Meskipun tidak ada orang lagi yang bekerja, tetapi untung saja masih ada satpam yang berjaga hingga pukul sembilan malam. Setelah tiba di parkiran, ia pun mengeluarkan kunci motor dari tas slempangnya, dan menaiki motor matic yang sudah lama menemaninya itu. Setelah mesin dihidupkan dan dipanaskan beberapa saat, Kilaara mulai menjalankan motornya. Tetapi ada yang terasa aneh. Kenapa berat sekali? "Oh sial! Gak mungkin bannya pecah?!" Kilaara segera mematikan mesin motornya dan menurunkan standar samping. Mulutnya seketika menganga melihat ban motornya kempis—dua-duanya pula! "Gak bener ini. Ada yang sengaja ngeprank gue nih. Tapi pranknya kelewatan woy." Kilaara mendumel sendirian sambil menatap pilu ke arah ban motornya. Gimana bisa buat pulang sampai rumah kalau motornya sama sekali gak bisa berjalan? Kilaara ingin menangis rasanya. Ia menoleh ke kanan dan ke kiri, dan melihat dua satpam di pos mereka, tetapi Kilaara takut untuk meminta tolong. Bagaimana tidak? Mereka laki-laki jomblo, dua orang pula, dan dia gadis lugu sendirian malam-malam begini. Uhhh, pikiran negatif Kilaara mulai aktif berimajinasi. Ketika Kilaara menemukan ide yang bagus yaitu menelepon Leo dan meminta tolong pada temannya itu, mobil Chevrolet Camaro berhenti di sampingnya. Siapa lagi di kantor ini yang punya mobil semewah itu kalau bukan Adrian, sang CEO? Adrian membuka kaca mobilnya dan melihat Kilaara yang hanya berdiri mematung sambil menatap mobil kinclong itu dengan tatapan bingung. "Motor kamu kenapa?" tanya Adrian dengan wajah datar. Ia tidak terlihat kasihan atau simpati melihat mata Kilaara yang seperti ingin menangis itu. "Oh gak apa-apa kok Pak. Cuman masalah kecil," jawab Kilaara sok tenang. Padahal hatinya sudah gundah gulana memikirkan nasib rebahannya yang tertunda lebih lama. Adrian mengalihkan tatapannya ke arah ban motor Kilaara yang kempis dua-duanya. Ia tersenyum kecil melihat itu, namun Kilaara tidak menyadarinya. "Saya antar kamu pulang," kata Adrian kemudian. Kilaara sungguh terkejut mendengarnya. Ia pun menggelengkan kepalanya dengan kuat, "tidak usah Pak. Saya mau minta tolong teman saya kemari." "Itu memakan waktu lama." Akhirnya, Adrian keluar dari mobil tanpa mematikan mesinnya terlebih dahulu. Tanpa seizin Kilaara, Adrian lalu memanggil salah satu satpam dengan suara sedikit keras dan menyuruh orang itu untuk mengurus motor Kilaara. Ia juga memberikan uang yang cukup untuk reparasi ban motor tersebut. "Pak. Gak usah. Saya bisa pulang sendiri kok." Kilaara dengan susah payah menolak bantuan dari bosnya itu karena dia sadar diri bahwa Adrian terlalu banyak menolongnya. Bahkan uang untuk benerin ban motornya saja, Adrian yang kasih. "Tidak apa-apa. Itu sudah kewajiban saya," ucap Adrian seraya tersenyum teduh pada Kilaara. Kilaara cukup tersentuh mendengarnya. Ya Tuhan, Adrian memang pemimpin sejati. Apapun masalah karyawannya akan menjadi tanggung jawabnya. Kilaara akan beri dua jempol untuk Adrian. "Bukanlah tidak baik kalau terus menolak bantuan dari orang lain, Ara?" Adrian berdiri dengan tangannya bersandar pada pintu mobil yang terbuka. "Maksud bapak?" Kilaara merasa asing dipanggil Ara oleh bosnya sendiri. Daripada itu, bagaimana bisa beliau tahu nama panggilannya? Ah, mungkin ia mendengar saat teman-temannya memanggilnya begitu saat rapat tadi. Bisa jadi. "Saya sudah menawarkan untuk mengantar kamu pulang daritadi." "Ahhh... kalo itu saya bisa pesan ojol Pak." "Ara..." panggil Adrian pelan. "Ara... Ara.. Ahh..." Kilaara mengerjapkan mata saat suara desahan sambil memanggil namanya dengan nada seksi dan berat tiba-tiba terlintas diingatannya. Ya ampun, kenapa dia seperti merasakan de javu saat Adrian memanggilnya tadi? "Iya Pak? Tapi saya beneran bisa—" "Masuk ya. Saya mohon." Adrian segera memotong ucapan Kilaara. Kilaara mendadak tak enak hati saat mendengar bosnya memohon seperti itu. "Baik Pak. Maaf sudah merepotkan bapak." Kilaara berjalan linglung menuju mobil. Ia membuka pintu dan masuk ke dalam mobil. Ia baru menyadari kalau ia masih memakai helm. Sebelum Adrian melihat kebodohannya, Kilaara cepat-cepat melepaskan helm itu dan menaruhnya di dekat kakinya. Adrian tersenyum pada Kilaara sebelum melajukan mobilnya. Kilaara hanya diam dengan bahu tegak, bahkan punggungnya tidak menyentuh punggung jok mobil saking tegangnya. Ia takut menodai mobil seharga miliaran rupiah ini. "Apa tubuhmu baik-baik saja?" tanya Adrian tanpa melihat ke arah Kilaara. Kilaara cukup bingung dengan pertanyaan itu, tetapi ia berusaha untuk menjawabnya, "saya sedikit lelah sih Pak. Tapi selain itu, ya baik-baik saja." "Saya takut kamu akan kesakitan sampai tidak bisa berjalan hari ini," jawab Adrian semakin membuat Kilaara keheranan. "Saya kagum melihat kamu masih bisa masuk kerja." Adrian tertawa kecil setelah berkata seperti itu. Karena tidak mengerti apapun maksud dari ucapan Adrian, ia pun ikut tertawa. Haha haha, begitu. Hanya tertawa canggung saja. Pak bos ngomong apa sih? Gak sampe nih ke otak gue." Batin Kilaara meringis tetapi mulutnya masih tertawa mengikuti alur Adrian. Ketika mobil mereka tiba di lampu merah yang baru mulai, Adrian meraih tangan Kilaara dan mencium telapaknya. "Kamu. Apakah itu masih mengeluarkan darah? Semalam kamu menangis saat saya menerobosnya." Kilaara membelalakkan matanya—mulai mengerti kemana arah pembicaraan Adrian. Alisnya mulai mengerut dan bibirnya bergetar ketakutan. Ini semua tidak mungkin terjadi. Jangan-jangan Pak Adrian adalah partner seks satu malamnya? Kilaara menggelengkan kepalanya dengan pelan sambil menarik pelan tangannya yang tengah digenggam oleh Adrian. Adrian menahan tangan Kilaara supaya wanita itu tidak bisa lepas darinya, "saya kira, kamu marah sehingga meninggalkan saya sendirian tadi pagi. Tapi melihat reaksi kamu seharian ini, saya ragu kamu akan mengingat ini." Kilaara tidak bisa menggerakkan tubuhnya sendiri saat Adrian menarik wajahnya dan mengigit bibirnya dengan sedikit kuat. Kilaara meringis pelan sebelum Adrian memberikan kecupan lainnya. "Kamu tidak lupa kan kalau kamulah yang menyerangku tadi malam?"Kilaara merasakan sesuatu benda basah yang sedang menjilati bagian leher belakangnya. Ia melenguh tak nyaman sebab tidur lelapnya terganggu karena itu. Kilaara menepis benda basah itu dan menamparnya keras. Ia pun kaget saat mendengar suara pekikan sakit dari seseorang setelahnya. Kilaara spontan membuka mata dan menoleh ke belakang. Ia melihat Adrian sedang meringis sambil memegang wajahnya. "Maaf Sayang. Aku refleks." Kilaara membalikkan badan dan mengusap wajah suaminya, "sakit ya?" "Lumayan." Adrian terkekeh pelan, "padahal kamu lagi tidur, tapi tenaga kamu masih kuat aja ya Yang." "Hehehehe. Aku kira tadi ada apaan basah-basah di leher. Kirain ada lintah—secara kan deket sama kebun, makanya aku takut." Kilaara bangkit dari posisinya. "Memangnya sering ada lintah sampai masuk kamar?" tanya Adrian sambil mengernyitkan dahinya. "Dulu pas aku masih kecil sering, entah kalo sekarang. Makanya aku agak trauma," kata Kilaara mengusap lengan Adrian yang memang dia ti
Rasanya begitu tenang. Lancar. Tanpa hambatan dan rintangan. Setidaknya itulah yang dirasakan Kilaara tentang proses menuju pernikahannya dengan Adrian. Semuanya berjalan dengan baik seolah memang dipermudah oleh Sang Pencipta. Apakah mungkin memang beginilah sepatutnya jika kita bertemu jodoh sejati? Kedua keluarga masing-masing setuju, teman-teman setuju, hingga orang lain pun ikutan senang melihat mereka bersama. Hanya berselang dua hari sejak kedatangan Adrian, Halimah dan Jonathan, beserta Reno, anak kedua mereka, lalu yang terakhir yang tak kalah pentingnya, Imo, menyusul ke rumah Kilaara di Jombang. Keluarga Adrian pun melamar Kilaara secara resmi. Setelah menentukan tanggal baik untuk melangsungkan pernikahan—yang diadakan pada bulan Januari 2023, hanya berselang satu minggu setelah lamaran mereka diterima oleh keluarga Kilaara—akhirnya hari ini Adrian dan Kilaara telah resmi menjadi suami istri. Pesta pernikahan mereka berdua diadakan di sebuah lapang
"Ra, Ara, bantuin Ibuk ke belakang ya." Ningsih menyenggol sikut Kilaara. "Lho sekarang buk? Tapi kan bapak sama Adrian lagi ngobrol seru gitu," ujar Kilaada tak paham. Namun setelah diberi isyarat kedipan mata oleh Ningsih, ia pun akhirnya mengerti. Ibu tirinya itu ingin membicarakan sesuatu yang lebih private. "Ayo buruan." Ningsih yang tak sabaran langsung menarik tangan Kilaara hingga wanita itu sontak berdiri. Adrian yang kaget melihat pergerakan mendadak itu menoleh dan memandang Kilaara dengan alis berkerut. "Kami ke dapur dulu, buat masak makan malem nanti." Kilaara seolah tahu apa yang ada di pikiran Adrian sehingga dia bicara lebih dulu sebelum pria itu menanyakannya. "Betul. Kami mau masak. Kalian ngobrol dulu ya." Ningsih tersenyum canggung, lalu menepuk pundak suaminya, "Pak jangan dimarahin ya calon mantuku," lanjutnya. Hartono hanya memasang muka datar setelah mendengar ucapan Ningsih. Ternyata istrinya sudah memberikan kode kalau dia setuju Kila
Kilaara susah payah menjelaskan kepada orang tuanya, bagaimana idealnya Adrian menjadi calon suami idaman. Bagi Kilaara, Adrian telah memenuhi semua kriteria yang ia dambakan selama ini; tampan, mapan, dan penyayang. Terlebih lagi, Adrian sudah dewasa, dan maksud dewasa di sini, ialah dia mampu mengendalikan emosi saat marah dan tidak mengedepankan ego saat menghadapi masalah.Namun di mata bapak maupun ibunya, kekurangan terbesar Adrian adalah statusnya sebagai duda. Oke, si bapak tidak masalah kalau Adrian itu duda tanpa anak. Namun sayangnya, Adrian sudah memiliki buntut satu. Tentu saja orang tuanya menolak mentah-mentah.Kamu baru nikah tapi sudah ngurus anak? Anak orang lagi?!Apa kata tetangga nanti? Kamu pasti dicap orang sebagai gadis matre yang hanya mengincar harta saja.Tuh laki cuma mau manfaatin kamu aja buat jagain anaknya. Mau jadi babysitter gratis hah?Gimana kalau mantan istri pertamanya cari ribut sama kamu?Kilaara dicecar berbagai pertanyaan intimidasi yang terde
Bagi Kilaara, keluarganya hanya keluarga yang biasa-biasa saja. Bapaknya petani padi, ibu tirinya adalah ibu rumah tangga biasa yang membuka toko kelontong di rumah mereka. Ibu kandungnya meninggal saat dia kelas delapan. Setahun dari ibunya wafat, bapaknya menikah lagi dengan janda beranak satu laki-laki yang berusia tiga tahun lebih muda dari Kilaara. Hasil pernikahan bapaknya dan ibu tirinya juga mendapatkan satu anak perempuan. Tidak seperti ibu tiri di sinetron, ibu tiri Kilaara justru sangat sayang padanya. Dia baik dan lembut. Bahkan ibu tirinya yang sering membela Kilaara kalau si bapak sedang memarahinya. Maka dari itu, Kilaara bersyukur memiliki ibu tiri yang selayaknya ibu kandung. "Jadi kamu anak pertama di keluargamu?" tanya Adrian. "Ya betul. Kata bapak sih dulu aku punya kakak laki-laki, tapi dia meninggal pas masih bayi." Kilaara menunjukkan foto lain dari keluarganya. "Nah ini foto yang paling terbaru, tapi aku gak ada karena waktunya gak cocok.
Meskipun Adrian hanya menceritakan secara garis besarnya saja, namun Kilaara masih tidak yakin kalau wanita di dalam cerita itu adalah dirinya. Adrian menggambarkan sosok Ara dalam ceritanya adalah wanita yang agresif, dominan, dan liar. "Kamu yakin itu aku?" tanya Kilaara sekali lagi. Entah sudah berapa kali dia menanyakan hal yang sama. "Ya ampun Sayang. Iya itu kamu. Kamu bilang namamu Ara. Lagipula aku gak mungkin lupa dengan wajah kamu. Aku gak mabuk malam itu," ujar Adrian sembari membasahi lengan Kilaara dengan air. Sudah dua puluh menit terlewati, namun mereka masih betah bergumul di dalam bathtub. "Hmmm..." Kilaara menaruh busa sabun ke hidung Adrian, "ya sudahlah, mau bagaimana lagi? Sudah terjadi, tidak bisa diulangi lagi." "Apa kamu menyesal?" tanya Adrian. Meski pertanyaannya tidak detail, tapi Kilaara paham maksudnya. "Nyesal?" ulang Kilaara, dan Adrian mengangguk, "ya gak lah! Ngapain? Malah aku bersyukur karena dapetin kamu. Hehhe, gak munafik
Sungguh membagongkan. Sepertinya pindah ke apartemen Adrian menjadi penyesalan baru bagi Kilaara. Dia merasa bukan wanita single lagi, melainkan sebagai wanita yang sudah bersuami. Sejak pindah ke sana, entah sudah berapa kali Adrian menggempurnya, entah itu di kamar, di sofa ruang tamu,
Kilaara membatu. Tepat di depannya kini, tengah berdiri seseorang yang paling menakutkan baginya. Apalagi sekarang, Kilaara merasa tatapan sinis dan geraman rendah dari suara seksi yang berasal dari pria itu, tertuju spesial untuknya. Hati Kilaara mendadak berdesir melihat pria itu, namun bukanny
Adrian mengerjapkan matanya saat mendengar suara ketukan pintu yang terus berbunyi tanpa henti, hingga bisa menjemputnya dari alam mimpi. Ia mengerang seraya membalikkan badan—merasa lemas luar biasa setelah pelepasan seks semalam sampai tiga ronde. Sudah lama dia tidak bercinta lagi sejak Cecil
Dengan pencahayaan yang minim dan beban berat yang menumpu tubuhnya, Kilaara membuka mata pelan-pelan sembari beradaptasi dengan suasana yang agak asing dan dingin. Ya, tentu saja kamar ini terasa dingin hingga membuatnya menggigil karena—Kilaara menunduk ke bawah dan menyadari bahwa ia sedang te







