MasukMaid Lilis sering kali mencoba berbicara dengan Gideon, berusaha memahami apa yang ada di dalam pikirannya. Namun, sang tuan selalu menjawab dengan senyum misteriusnya, seolah-olah dia menikmati kebingungan Maid Lilis. Bagi Gideon, mungkin itu adalah bentuk hiburan, cara dia mengisi waktu luangnya yang selalu beraktivitas di dalam rumah mewah dan elegan milik Keluarga Mosha.Namun bagi Maid Lilis, hal itu adalah misteri yang belum terpecahkan. Dia terus mencoba untuk mengerti maunya Gideon, mencoba memahami apa yang ada dibalik sikapnya yang aneh. Maid Lilis berharap suatu hari nanti, dia akan bisa memahami sang tuan muda yang mungkin bisa membantu Pengasuh Septin.Namun, sampai saat itu tiba, Maid Lilis hanya bisa tetap bingung dan bertanya-tanya. Dia terus melakukan tugasnya sebagai pelayan, sambil mencoba memahami misteri atas sikap-sikap anak dari majikannya yang selalu berubah-ubah, dan sengaja diciptakan oleh Tuan Muda Gideon. Dia tahu bahwa itu mungkin bukan tugas yang mudah, n
Sementara di dalam kamarnya, Gideon terlihat senyum-senyum sendiri melihat kerepotan dari sang pengasuh membersihkan ruangan pribadinya.“Rasain kamu, Pengasuh Septin! Ha-ha-ha! Makanya jangan berani melawanku!” seru Gideon, sambil terus menonton pengasuhnya yang sedang beres-beres itu.Seringai licik mulai tergambar jelas di wajah pria tampan itu. Sepertinya Gideon punya rencana lain untuk semakin membuat sang pengasuh menjadi sangat repot.“Ada baiknya aku menambah pekerjaannya!” sergah sang tuan muda dari dalam hatinya.Lalu Gideon melangkah keluar dari kamarnya dan mulai berjalan menuju ke dalam ruang perpustakaan pribadinya.Gideon, pria yang selalu menunjukkan sikap tenang dan berwibawa, hari ini tampak berbeda. Dia berjalan masuk ke dalam ruang perpustakaan miliknya dengan langkah yang berbeda dari biasanya. Perpustakaan itu adalah tempat dia biasanya mencari ketenangan dan pengetahuan, akan tetapi hari ini, Gideon memiliki niat lain.“Ha-ha-ha! Atraksi mahakarya dari ku akan s
"Tidak, Septin. Masih belum pas. Rasa susu ini ... rasanya terlalu ... saya tidak tahu," ucap Gideon dengan suara yang terdengar kecewa.Septin merasa hatinya seketika menjadi panas. Dia telah mencoba sekuat tenaga untuk memenuhi permintaan Gideon, namun sepertinya tidak ada yang bisa membuatnya puas."Tuan Muda Gideon, saya... saya sungguh minta maaf. Saya tidak tahu apa yang harus saya lakukan lagi. Saya sudah berusaha untuk membuat segelas susu untuk Anda. Tapi Anda tetap tidak suka!" ucap Septin dengan suara yang penuh dengan rasa kesal yang ditahan.Gideon menatap Septin dengan senyum yang penuh dengan kepuasan karena berhasil membuat sang pengasuh marah. "Ya … sudah. Tidak apa-apa, Septin. Gue akan mencoba lagi lain kali. Terima kasih atas usaha Lo. Segera bereskan semua kekacauan ini! Gue mau tidur, jangan lupa bersihkan ruang belajar gue dan ruang exercise gue. Segera!”Setelah mengucapkan semua kalimat itu. Lalu dengan santainya Gideon menjatuhkan tubuhnya di atas ranjangnya
Tuan Muda Gideon masih duduk di atas ranjangnya dengan wajah yang dipenuhi dengan kekesalan dan keheranan dengan permintaan sang pengasuhnya. Dia menatap pengasuhnya, Septin, dengan ekspresi kemarahan yang hakiki. Septin, yang hampir sebaya dengannya, berdiri di depannya dengan pandangan mata penuh harap."Tuan Muda Gideon, bagaimana dengan tawaran saya tadi? Jika next saya akan menemani Anda berpetualang di malam hari?" ucap Septin dengan nada penuh antusiasme, demi untuk mematahkan keegoisan sang tuan muda.Gideon menatap Septin dengan matanya yang masih memancarkan kekesalan kepada gadis itu. "Cih! Memangnya Lo sanggup mengikuti kegiatan gue di malam hari di luar rumah? Serius Lo, Pengasuh Septin?"Septin mengangguk pasti, dan tetap mempertahankan keinginannya. "Ya … saya serius, Tuan Muda. Kenapa kita tidak menjelajahi malam bersama-sama, seperti yang selalu Anda lakukan sendiri sebelumnya?"Gideon menahan diri untuk tidak langsung menolak tawaran itu. Dia mencoba memahami apa
“Tuan Muda, saya tahu kok kalau kita hampir sebaya. Tapi Anda juga harus tahu jika saya adalah pengasuh yang ditunjuk langsung oleh Nyonya Kemala,” tutur Septin kepada Gideon yang sangat keras kepala.“Terus … maksud Lo apa, hah?” hardik Gideon.“Ya ampun … Tuan Muda. Hanya ada kita berdua di dalam ruangan ini. Anda tidak perlu membentak saya,” ucap Septin sambil balik menatap Gideon yang dari tadi melirik ke arahnya dengan sangat sinis.“Katakan mau Lo Septin! Jangan kebanyakan bacot, Lo! Jangan sok mengatur gue!” Gideon bukannya mengecilkan suaranya. Pria itu malah menambah satu oktaf nada suaranya saat ini.“OMG! Ternyata Tuan Muda Gideon, sangatlah pemarah. Sabar … sabar Septin. Tarik napas dalam-dalam lalu buang perlahan,” gumam sang gadis dari dalam hatinya.“Maksud saya, kita harus saling menghargai, Tuan Muda. Anda sebagai anak asuh saya, dan saya sebagai pengasuh Anda. Sesimpel itu kok,” ucapnya mencoba menjelaskan semuanya kepada Gideon.“Kalau gue nggak mau, Lo mau apa?” ta
Gideon dan Septin mulai meraba-raba di kegelapan gudang. Mereka bersembunyi di balik tumpukan kotak-kotak kardus dan barang-barang usang. Bunyi langkah kaki para sekuriti yang berpatroli di sekitar kediaman keluarga Mosha menggetarkan udara di dini hari itu. Gideon tahu bahwa jika dia tertangkap, pria itu tak hanya akan menimbulkan masalah bagi dirinya sendiri, akan tetapi juga bagi Septin. Pengasuh barunya yang baru saja direkrut oleh sang ibu, Nyonya Kemala."Dengar, Pengasuh Septin," bisik Arjuna dengan suara pelan yang hampir tidak terdengar di antara suara derap langkah kaki di luar gudang. "Kita harus bersabar. Jangan bergerak sampai mereka benar-benar pergi."Septin yang masih belum paham tentang situasi itu, hanya bisa mengangguk-anggukkan kepalanya kepada sang tuan muda.Gideon, dengan napasnya yang terengah-engah, berkata lagi, "Dengarkan, Pengasuh Septin. Kita harus tetap diam dan berharap mereka melewati gudang tanpa curiga."Lagi-lagi Septin menganggukkan kepalanya.







