Share

3. Diterima Kerja

last update Terakhir Diperbarui: 2025-02-22 18:26:50

Setelah berhasil menenangkan putranya. Nyonya Kemala pun kembali meninggalkan rumah megahnya untuk menuju ke kantor.

Di dalam perjalanan, Nyonya Kemala segera mengirimkan pesan kepada Septin, gadis yang baru saja beberapa saat yang lalu dirinya wawancarai untuk menjadi pengasuh putranya, Gideon.

Sepertinya Nyonya Kemala ingin berbicara serius dengan gadis itu. Setelah meeting penting yang akan dirinya harus hadiri.

Septin yang masih berada di pasar, tepatnya di kios sembako milik keduanya orang tuanya, sungguh sangat kaget dengan pesan yang dirinya terima dari Nyonya Kemala. Jika wanita karier itu ingin menemuinya di perusahaan Mosha Corp, yang sangat terkenal itu.

Bahkan Septin bercita-cita jika lulus kuliah nanti, dia ingin melamar pekerjaan di perusahaan besar itu.

"Apa? Nyonya Kemala ingin menemuiku di sana?" kaget Septin.

Gadis itu segera menyelesaikan pekerjaannya dan ingin segera pulang ke kostnya untuk mempersiapkan dirinya menemui Nyonya Kemala. Septin ingin berpakaian lebih formil nantinya.

"Septin, kamu kok terlihat terburu-buru begitu?" tanya sang ibu heran melihat anaknya.

"Iya, Bunda. Bos baruku baru saja mengirimkan pesan kepada ku. Jika dia ingin bertemu dengan ku sekarang. Jadi aku harus segera ke sana," sahut Septin.

"Menjadi pengasuh Balita yang kamu bicarakan tadi?" tanya sang ibu lagi.

"Iya, Bunda."

"Ya sudah, kamu pergi saja. Biar sisanya Bunda yang membereskannya."

Mendengar perkataan ibunya. Septin segera menghentikan pekerjaannya lalu mulai bersiap-siap untuk pergi.

Ayah Yoga juga angkat bicara,

"Septin, kamu juga hati-hati saat berkendara. Jangan ngebut."

"Beres, Ayah."

"Ya sudah, aku pergi dulu Ayah, Bunda." pamitnya sambil menyalami tangan kedua orangtuanya.

"Jangan lupa telepon Ayah dan Bunda nanti."

"Siap, Bunda!"

Setelah berpamitan Septin pun mulai melajukan motor listriknya ke tempat kost. Gadis itu terpaksa tinggal terpisah dengan kedua orang tuanya karena jarak rumah mereka dengan kampusnya sangatlah jauh. Untuk itu Septin memilih untuk tinggal di kost sederhana di dekat tempat kuliahnya.

Setelah sampai di kostnya, Septin segera mandi dan mulai menyiapkan dirinya untuk menemui Nyonya Kemala di kantor Mosha Corp.

Setelah menempuh beberapa saat dalam perjalanan, akhirnya Septin sampai juga di sebuah gedung perkantoran yang sangat tinggi bertingkat. Gadis itu segera menunjukkan ponselnya kepada salah satu sekuriti jika dirinya adalah tamu dari Nyonya Kemala, pemilik perusahaan besar itu.

"Nona Septin mari ikut saya. Motor Anda biar rekan saya yang mengurusnya," sahut sekuriti tersebut.

"Baik, Pak."

Septin pun mengikuti sekuriti itu menuju ke dalam gedung.

Setelah masuk ke dalam gedung, Septin dapat merasakan aura elegan di sana.

Septin lalu diserahkan kepada seorang resepsionis yang akan menuntunnya ke lantai paling atas gedung ini untuk menemui Nyonya Kemala.

Di sebuah ruangan pribadi milik CEO, Mosha Corp.

"Septin, Anda sudah datang? Ayo silakan duduk," ucap Nyonya Kemala kepadanya.

"Iya, Nyonya. Saya baru saja sampai. Maaf jika saya agak telat, jalanan macet."

"Ya, tak masalah. Saya mau menyampaikan jika Anda diterima sebagai pengasuh putra saya, Gideon." ucap sang nyonya lagi.

"Apa? Jadi saya diterima, Nyonya?" tanyanya tak percaya.

"Ya, Anda diterima."

Dengan ekspresi wajah senang, Septin berkata,

"Terima kasih atas kepercayaan Anda kepada saya untuk mengasuh Tuan Muda Gideon yang masih balita, Nyonya. Saya akan bekerja dengan baik tanpa menimbulkan kesalahan sedikitpun," serunya penuh semangat.

Di sudut ruangan megah itu, tepatnya di belakang sebuah meja kebesarannya, Tuan Deris Mosha dari tadi menatap tak berkedip ke arah Septin. Wajah gadis itu mengingatkannya dengan seorang perempuan dari masa lalunya.

Bahkan wajah wanita itu masih terngiang jelas di pelupuk mata Tuan Deris. Namun sang CEO hanya bisa diam dan tidak mengatakan apapun saat ini. Dia takut istrinya mengetahui semuanya.

"Kenapa wajah gadis ini sangat mirip dengan Wita?" tuturnya tak berdaya.

Ternyata Tuan Deris Mosha masih sangat merindukan Wita, wanita kesayangannya saat dahulu kala.

Lalu tiba-tiba Nyonya Kemala berkata lagi,

"Septin, saya sangat menghargai kesediaan Anda untuk merawat putra saya Gideon," Nyonya Kemala memulai dengan nada khawatir. Karena dia sedikit ragu jika Septin akan menolak mengasuh Gideon yang hampir sebaya dengan umurnya.

"Tapi Anda perlu tahu, Gideon bukanlah seorang anak kecil. Dia adalah seorang pria berusia dua puluh dua tahun."

Septin seketika terperangah, matanya membesar, dan mulutnya terbuka lebar.

"Pria berusia dua puluh dua tahun tahun? Bagaimana mungkin? Saya pikir saya akan merawat seorang anak."

Nyonya Kemala mengangguk, lalu melanjutkan perkataannya dengan nada sedih,

"Gideon adalah pria dewasa. Putra saya sedikit memiliki kondisi kesehatan yang sangat langka. Dia kadang-kadang bertingkah seperti seorang anak kecil. Itulah sebabnya pengawasan ketat sangat penting. Gideon juga pernah diculik beberapa kali saat dia masih kecil. Yang membuat dirinya memiliki trauma yang mendalam."

Septin mencoba memahami situasinya.

"Bagaimana Tuan Muda bisa diculik? Bagaimana dia menghadapinya?"

Nyonya Kemala menjelaskan,

"Saat penculikan itu terjadi, Gideon masih sangat kecil dia masih belum bisa berkomunikasi dengan baik dan tidak dapat membela diri sendiri dengan efektif. Itulah sebabnya saya mengambil langkah-langkah ekstra untuk menjaga keamanannya. Sampai sekarang, ada tim keamanan yang selalu mengawasinya, dan kami mengantisipasi setiap kemungkinan situasi berbahaya. Apalagi Gideon adalah pewaris tunggal kerajaan bisnis ayahnya."

"Tapi, Nyonya. Saya hanya memiliki pengalaman mengasuh balita selama ini. Saya tidak pernah mengasuh orang dewasa sebelumnya," ujar Septin sedikit khawatir.

"Bagi saya itu tak masalah Septin, saya sangat yakin Anda bisa merawat putra saya dengan baik. Anda bisa mulai bekerja besok pagi. Jadi hari ini Anda mulai tinggal di kediaman Mosha. Di sana ada Maid Lilis yang akan mengajari Anda tentang semuanya."

Tapi ... Nyonya," sergahnya ragu-ragu.

Namun sebelum Septin melanjutkan kalimatnya. Nyonya Kemala memberikan sebuah cek di hadapan gadis itu dengan jumlah fantastis.

"Ini gaji mu, selama enam bulan. Saya bayar di muka," ucapnya santai.

Mata Septin seakan hendak keluar dari tempatnya saat melihat nominal uang yang berikan oleh Nyonya Kemala kepadanya yang berjumlah ratusan juta rupiah.

"Apa? Tapi Nyonya jumlah ini sangat banyak."

"Ini belum seberapa, Septin. Jika kamu bertahan lebih dari enam bulan. Gajimu akan saya naikkan dua kali lipat dari ini diluar bonus yang akan kamu dapatkan nantinya," ucap Nyonya Kemala lagi.

"Apa?" Lagi-lagi Septin terperangah tak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Nyonya Kemala barusan.

Gadis itu bagaikan sedang ketiban durian runtuh saat ini.

"Saya tidak menerima penolakan darimu, Septin." ujarnya lagi.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • CINTA ANTARA PENGASUH DAN TUAN MUDA    18. Liciknya Gideon

    Tuan Muda Gideon masih duduk di atas ranjangnya dengan wajah yang dipenuhi dengan kekesalan dan keheranan dengan permintaan sang pengasuhnya. Dia menatap pengasuhnya, Septin, dengan ekspresi kemarahan yang hakiki. Septin, yang hampir sebaya dengannya, berdiri di depannya dengan pandangan mata penuh harap."Tuan Muda Gideon, bagaimana dengan tawaran saya tadi? Jika next saya akan menemani Anda berpetualang di malam hari?" ucap Septin dengan nada penuh antusiasme, demi untuk mematahkan keegoisan sang tuan muda.Gideon menatap Septin dengan matanya yang masih memancarkan kekesalan kepada gadis itu. "Cih! Memangnya Lo sanggup mengikuti kegiatan gue di malam hari di luar rumah? Serius Lo, Pengasuh Septin?"Septin mengangguk pasti, dan tetap mempertahankan keinginannya. "Ya … saya serius, Tuan Muda. Kenapa kita tidak menjelajahi malam bersama-sama, seperti yang selalu Anda lakukan sendiri sebelumnya?"Gideon menahan diri untuk tidak langsung menolak tawaran itu. Dia mencoba memahami apa

  • CINTA ANTARA PENGASUH DAN TUAN MUDA    17. Mencoba Bernegosiasi

    “Tuan Muda, saya tahu kok kalau kita hampir sebaya. Tapi Anda juga harus tahu jika saya adalah pengasuh yang ditunjuk langsung oleh Nyonya Kemala,” tutur Septin kepada Gideon yang sangat keras kepala.“Terus … maksud Lo apa, hah?” hardik Gideon.“Ya ampun … Tuan Muda. Hanya ada kita berdua di dalam ruangan ini. Anda tidak perlu membentak saya,” ucap Septin sambil balik menatap Gideon yang dari tadi melirik ke arahnya dengan sangat sinis.“Katakan mau Lo Septin! Jangan kebanyakan bacot, Lo! Jangan sok mengatur gue!” Gideon bukannya mengecilkan suaranya. Pria itu malah menambah satu oktaf nada suaranya saat ini.“OMG! Ternyata Tuan Muda Gideon, sangatlah pemarah. Sabar … sabar Septin. Tarik napas dalam-dalam lalu buang perlahan,” gumam sang gadis dari dalam hatinya.“Maksud saya, kita harus saling menghargai, Tuan Muda. Anda sebagai anak asuh saya, dan saya sebagai pengasuh Anda. Sesimpel itu kok,” ucapnya mencoba menjelaskan semuanya kepada Gideon.“Kalau gue nggak mau, Lo mau apa?” ta

  • CINTA ANTARA PENGASUH DAN TUAN MUDA    16. Tak Dapat Mengelak Lagi

    Gideon dan Septin mulai meraba-raba di kegelapan gudang. Mereka bersembunyi di balik tumpukan kotak-kotak kardus dan barang-barang usang. Bunyi langkah kaki para sekuriti yang berpatroli di sekitar kediaman keluarga Mosha menggetarkan udara di dini hari itu. Gideon tahu bahwa jika dia tertangkap, pria itu tak hanya akan menimbulkan masalah bagi dirinya sendiri, akan tetapi juga bagi Septin. Pengasuh barunya yang baru saja direkrut oleh sang ibu, Nyonya Kemala."Dengar, Pengasuh Septin," bisik Arjuna dengan suara pelan yang hampir tidak terdengar di antara suara derap langkah kaki di luar gudang. "Kita harus bersabar. Jangan bergerak sampai mereka benar-benar pergi."Septin yang masih belum paham tentang situasi itu, hanya bisa mengangguk-anggukkan kepalanya kepada sang tuan muda.Gideon, dengan napasnya yang terengah-engah, berkata lagi, "Dengarkan, Pengasuh Septin. Kita harus tetap diam dan berharap mereka melewati gudang tanpa curiga."Lagi-lagi Septin menganggukkan kepalanya.

  • CINTA ANTARA PENGASUH DAN TUAN MUDA    15. Ketahuan Septin

    Petrus dan Lukas tersenyum, merasa terharu mendengar kata-kata Gideon. Mereka merasa senang bisa menjadi bagian dari setiap pencapaian Gideon.Perjalanan pulang mereka berlangsung dengan penuh keceriaan. Ketiganya berbicara tentang balapan tadi, membagikan pengalaman dan cerita seru satu sama lain. Mereka tertawa dan saling menggoda, menciptakan suasana yang penuh keakraban."Tahu tidak, Guys, saat gue melihat kalian berdua di sisi arena, memberikan dukungan dan semangat, membuat gue merasa lebih semangat dan yakin akan menang," seru Gideon dengan penuh semangat. "Kalian adalah sahabat sejati, gue!”Petrus dan Lukas tersenyum lagi. Keduanya merasa terharu mendengar kata-kata Gideon. Mereka tahu betapa pentingnya dukungan dan persahabatan dalam mencapai kesuksesan.Saat mobil yang disetir oleh Lukas akhirnya tiba di area belakang rumah Gideon, mereka pun turun dari mobil dengan perasaan yang penuh kebahagiaan. Ketiganya berdiri di sana, saling berpelukan sebagai tanda persahabatan dan

  • CINTA ANTARA PENGASUH DAN TUAN MUDA    14. Menjadi Pemenang

    Akhirnya, Gideon melintasi garis finish sebagai orang pertama yang mencapai garis akhir arena balapan dan menjadi juara dalam balapan itu. Dia merasakan kegembiraan yang tak tergambarkan, diiringi sorak sorai penonton dan tepuk tangan yang meriah.Petrus dan Lukas berlari mendekatinya, memberikan pelukan dan ucapan selamat. Mereka benar-benar bangga dengan pencapaian Gideon.“Lo adalah pembalap yang luar biasa, Bro Gideon!" ucap Petrus dengan penuh kagum.“Gue tidak pernah meragukan kemampuanmu, Bro Gideon!" tambah Lukas dengan senyuman lebar.Ketiganya lalu berpelukan sebagai tanda persahabatan dan kebersamaan mereka dalam petualangan ini. Gideon merasa begitu beruntung memiliki teman-teman seperti Petrus dan Lukas yang selalu mendukungku.Petualangan malam ini benar-benar tak terlupakan. Gideon belajar bahwa keberanian dan keahlian yang dirinya miliki dalam bermain game balap di rumahnya dapat diaplikasikan dalam kehidupan nyata. Sang tuan muda merasa semakin percaya diri dan siap

  • CINTA ANTARA PENGASUH DAN TUAN MUDA    13. Balapan Motor Liar

    Petualangan malam terus berlanjut setelah ketiganya menikmati waktu yang menyenangkan di Pantai Ancol. Petrus, Lukas, dan Gideon, memutuskan untuk melanjutkan petualangan mereka ke sebuah arena balap liar di pinggiran kota Jakarta.“Bro … bagaimana kalau kita ke suatu tempat yang istimewa?” ajak Petrus.“Suatu tempat? Kenapa tempat itu bisa dikatakan sebagai tempat istimewa?” tukas Gideon penasaran.“Ha-ha-ha! Karena tempat itu adalah arena balap!” tutur Lukas.“Wow! What a surprise! Ayo kita ke sana! Gue nggak sabar ingin mencoba balapan motor yang sesungguhnya bukan hanya di depan layar saja!” ujar Gideon antusias.Perjalanan ketiga pemuda tersebut menuju arena balap liar dimulai dengan suasana yang penuh sukacita. Dengan Petrus yang menyetir mobil, mereka berangkat dari Pantai Ancol, menyusuri jalan-jalan kota Jakarta yang semarak dengan lampu-lampu malam yang berkelip-kelip.Mobil bergerak meluncur di jalan tol yang mulus, melaju dengan kecepatan yang tepat, seiring dengan irama l

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status