Share

15. Ketahuan Septin

last update Last Updated: 2026-01-09 10:09:17

Petrus dan Lukas tersenyum, merasa terharu mendengar kata-kata Gideon. Mereka merasa senang bisa menjadi bagian dari setiap pencapaian Gideon.

Perjalanan pulang mereka berlangsung dengan penuh keceriaan. Ketiganya berbicara tentang balapan tadi, membagikan pengalaman dan cerita seru satu sama lain. Mereka tertawa dan saling menggoda, menciptakan suasana yang penuh keakraban.

"Tahu tidak, Guys, saat gue melihat kalian berdua di sisi arena, memberikan dukungan dan semangat, membuat gue merasa lebih semangat dan yakin akan menang," seru Gideon dengan penuh semangat.

"Kalian adalah sahabat sejati, gue!”

Petrus dan Lukas tersenyum lagi. Keduanya merasa terharu mendengar kata-kata Gideon. Mereka tahu betapa pentingnya dukungan dan persahabatan dalam mencapai kesuksesan.

Saat mobil yang disetir oleh Lukas akhirnya tiba di area belakang rumah Gideon, mereka pun turun dari mobil dengan perasaan yang penuh kebahagiaan. Ketiganya berdiri di sana, saling berpelukan sebagai tanda persahabatan dan
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • CINTA ANTARA PENGASUH DAN TUAN MUDA    20. Kejahilan Yang Semakin Merajalela

    Sementara di dalam kamarnya, Gideon terlihat senyum-senyum sendiri melihat kerepotan dari sang pengasuh membersihkan ruangan pribadinya.“Rasain kamu, Pengasuh Septin! Ha-ha-ha! Makanya jangan berani melawanku!” seru Gideon, sambil terus menonton pengasuhnya yang sedang beres-beres itu.Seringai licik mulai tergambar jelas di wajah pria tampan itu. Sepertinya Gideon punya rencana lain untuk semakin membuat sang pengasuh menjadi sangat repot.“Ada baiknya aku menambah pekerjaannya!” sergah sang tuan muda dari dalam hatinya.Lalu Gideon melangkah keluar dari kamarnya dan mulai berjalan menuju ke dalam ruang perpustakaan pribadinya.Gideon, pria yang selalu menunjukkan sikap tenang dan berwibawa, hari ini tampak berbeda. Dia berjalan masuk ke dalam ruang perpustakaan miliknya dengan langkah yang berbeda dari biasanya. Perpustakaan itu adalah tempat dia biasanya mencari ketenangan dan pengetahuan, akan tetapi hari ini, Gideon memiliki niat lain.“Ha-ha-ha! Atraksi mahakarya dari ku akan s

  • CINTA ANTARA PENGASUH DAN TUAN MUDA    19. Sangat Berantakan

    "Tidak, Septin. Masih belum pas. Rasa susu ini ... rasanya terlalu ... saya tidak tahu," ucap Gideon dengan suara yang terdengar kecewa.Septin merasa hatinya seketika menjadi panas. Dia telah mencoba sekuat tenaga untuk memenuhi permintaan Gideon, namun sepertinya tidak ada yang bisa membuatnya puas."Tuan Muda Gideon, saya... saya sungguh minta maaf. Saya tidak tahu apa yang harus saya lakukan lagi. Saya sudah berusaha untuk membuat segelas susu untuk Anda. Tapi Anda tetap tidak suka!" ucap Septin dengan suara yang penuh dengan rasa kesal yang ditahan.Gideon menatap Septin dengan senyum yang penuh dengan kepuasan karena berhasil membuat sang pengasuh marah. "Ya … sudah. Tidak apa-apa, Septin. Gue akan mencoba lagi lain kali. Terima kasih atas usaha Lo. Segera bereskan semua kekacauan ini! Gue mau tidur, jangan lupa bersihkan ruang belajar gue dan ruang exercise gue. Segera!”Setelah mengucapkan semua kalimat itu. Lalu dengan santainya Gideon menjatuhkan tubuhnya di atas ranjangnya

  • CINTA ANTARA PENGASUH DAN TUAN MUDA    18. Liciknya Gideon

    Tuan Muda Gideon masih duduk di atas ranjangnya dengan wajah yang dipenuhi dengan kekesalan dan keheranan dengan permintaan sang pengasuhnya. Dia menatap pengasuhnya, Septin, dengan ekspresi kemarahan yang hakiki. Septin, yang hampir sebaya dengannya, berdiri di depannya dengan pandangan mata penuh harap."Tuan Muda Gideon, bagaimana dengan tawaran saya tadi? Jika next saya akan menemani Anda berpetualang di malam hari?" ucap Septin dengan nada penuh antusiasme, demi untuk mematahkan keegoisan sang tuan muda.Gideon menatap Septin dengan matanya yang masih memancarkan kekesalan kepada gadis itu. "Cih! Memangnya Lo sanggup mengikuti kegiatan gue di malam hari di luar rumah? Serius Lo, Pengasuh Septin?"Septin mengangguk pasti, dan tetap mempertahankan keinginannya. "Ya … saya serius, Tuan Muda. Kenapa kita tidak menjelajahi malam bersama-sama, seperti yang selalu Anda lakukan sendiri sebelumnya?"Gideon menahan diri untuk tidak langsung menolak tawaran itu. Dia mencoba memahami apa

  • CINTA ANTARA PENGASUH DAN TUAN MUDA    17. Mencoba Bernegosiasi

    “Tuan Muda, saya tahu kok kalau kita hampir sebaya. Tapi Anda juga harus tahu jika saya adalah pengasuh yang ditunjuk langsung oleh Nyonya Kemala,” tutur Septin kepada Gideon yang sangat keras kepala.“Terus … maksud Lo apa, hah?” hardik Gideon.“Ya ampun … Tuan Muda. Hanya ada kita berdua di dalam ruangan ini. Anda tidak perlu membentak saya,” ucap Septin sambil balik menatap Gideon yang dari tadi melirik ke arahnya dengan sangat sinis.“Katakan mau Lo Septin! Jangan kebanyakan bacot, Lo! Jangan sok mengatur gue!” Gideon bukannya mengecilkan suaranya. Pria itu malah menambah satu oktaf nada suaranya saat ini.“OMG! Ternyata Tuan Muda Gideon, sangatlah pemarah. Sabar … sabar Septin. Tarik napas dalam-dalam lalu buang perlahan,” gumam sang gadis dari dalam hatinya.“Maksud saya, kita harus saling menghargai, Tuan Muda. Anda sebagai anak asuh saya, dan saya sebagai pengasuh Anda. Sesimpel itu kok,” ucapnya mencoba menjelaskan semuanya kepada Gideon.“Kalau gue nggak mau, Lo mau apa?” ta

  • CINTA ANTARA PENGASUH DAN TUAN MUDA    16. Tak Dapat Mengelak Lagi

    Gideon dan Septin mulai meraba-raba di kegelapan gudang. Mereka bersembunyi di balik tumpukan kotak-kotak kardus dan barang-barang usang. Bunyi langkah kaki para sekuriti yang berpatroli di sekitar kediaman keluarga Mosha menggetarkan udara di dini hari itu. Gideon tahu bahwa jika dia tertangkap, pria itu tak hanya akan menimbulkan masalah bagi dirinya sendiri, akan tetapi juga bagi Septin. Pengasuh barunya yang baru saja direkrut oleh sang ibu, Nyonya Kemala."Dengar, Pengasuh Septin," bisik Arjuna dengan suara pelan yang hampir tidak terdengar di antara suara derap langkah kaki di luar gudang. "Kita harus bersabar. Jangan bergerak sampai mereka benar-benar pergi."Septin yang masih belum paham tentang situasi itu, hanya bisa mengangguk-anggukkan kepalanya kepada sang tuan muda.Gideon, dengan napasnya yang terengah-engah, berkata lagi, "Dengarkan, Pengasuh Septin. Kita harus tetap diam dan berharap mereka melewati gudang tanpa curiga."Lagi-lagi Septin menganggukkan kepalanya.

  • CINTA ANTARA PENGASUH DAN TUAN MUDA    15. Ketahuan Septin

    Petrus dan Lukas tersenyum, merasa terharu mendengar kata-kata Gideon. Mereka merasa senang bisa menjadi bagian dari setiap pencapaian Gideon.Perjalanan pulang mereka berlangsung dengan penuh keceriaan. Ketiganya berbicara tentang balapan tadi, membagikan pengalaman dan cerita seru satu sama lain. Mereka tertawa dan saling menggoda, menciptakan suasana yang penuh keakraban."Tahu tidak, Guys, saat gue melihat kalian berdua di sisi arena, memberikan dukungan dan semangat, membuat gue merasa lebih semangat dan yakin akan menang," seru Gideon dengan penuh semangat. "Kalian adalah sahabat sejati, gue!”Petrus dan Lukas tersenyum lagi. Keduanya merasa terharu mendengar kata-kata Gideon. Mereka tahu betapa pentingnya dukungan dan persahabatan dalam mencapai kesuksesan.Saat mobil yang disetir oleh Lukas akhirnya tiba di area belakang rumah Gideon, mereka pun turun dari mobil dengan perasaan yang penuh kebahagiaan. Ketiganya berdiri di sana, saling berpelukan sebagai tanda persahabatan dan

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status