Se connecterTuan Muda Gideon masih duduk di atas ranjangnya dengan wajah yang dipenuhi dengan kekesalan dan keheranan dengan permintaan sang pengasuhnya. Dia menatap pengasuhnya, Septin, dengan ekspresi kemarahan yang hakiki. Septin, yang hampir sebaya dengannya, berdiri di depannya dengan pandangan mata penuh harap."Tuan Muda Gideon, bagaimana dengan tawaran saya tadi? Jika next saya akan menemani Anda berpetualang di malam hari?" ucap Septin dengan nada penuh antusiasme, demi untuk mematahkan keegoisan sang tuan muda.Gideon menatap Septin dengan matanya yang masih memancarkan kekesalan kepada gadis itu. "Cih! Memangnya Lo sanggup mengikuti kegiatan gue di malam hari di luar rumah? Serius Lo, Pengasuh Septin?"Septin mengangguk pasti, dan tetap mempertahankan keinginannya. "Ya … saya serius, Tuan Muda. Kenapa kita tidak menjelajahi malam bersama-sama, seperti yang selalu Anda lakukan sendiri sebelumnya?"Gideon menahan diri untuk tidak langsung menolak tawaran itu. Dia mencoba memahami apa
“Tuan Muda, saya tahu kok kalau kita hampir sebaya. Tapi Anda juga harus tahu jika saya adalah pengasuh yang ditunjuk langsung oleh Nyonya Kemala,” tutur Septin kepada Gideon yang sangat keras kepala.“Terus … maksud Lo apa, hah?” hardik Gideon.“Ya ampun … Tuan Muda. Hanya ada kita berdua di dalam ruangan ini. Anda tidak perlu membentak saya,” ucap Septin sambil balik menatap Gideon yang dari tadi melirik ke arahnya dengan sangat sinis.“Katakan mau Lo Septin! Jangan kebanyakan bacot, Lo! Jangan sok mengatur gue!” Gideon bukannya mengecilkan suaranya. Pria itu malah menambah satu oktaf nada suaranya saat ini.“OMG! Ternyata Tuan Muda Gideon, sangatlah pemarah. Sabar … sabar Septin. Tarik napas dalam-dalam lalu buang perlahan,” gumam sang gadis dari dalam hatinya.“Maksud saya, kita harus saling menghargai, Tuan Muda. Anda sebagai anak asuh saya, dan saya sebagai pengasuh Anda. Sesimpel itu kok,” ucapnya mencoba menjelaskan semuanya kepada Gideon.“Kalau gue nggak mau, Lo mau apa?” ta
Gideon dan Septin mulai meraba-raba di kegelapan gudang. Mereka bersembunyi di balik tumpukan kotak-kotak kardus dan barang-barang usang. Bunyi langkah kaki para sekuriti yang berpatroli di sekitar kediaman keluarga Mosha menggetarkan udara di dini hari itu. Gideon tahu bahwa jika dia tertangkap, pria itu tak hanya akan menimbulkan masalah bagi dirinya sendiri, akan tetapi juga bagi Septin. Pengasuh barunya yang baru saja direkrut oleh sang ibu, Nyonya Kemala."Dengar, Pengasuh Septin," bisik Arjuna dengan suara pelan yang hampir tidak terdengar di antara suara derap langkah kaki di luar gudang. "Kita harus bersabar. Jangan bergerak sampai mereka benar-benar pergi."Septin yang masih belum paham tentang situasi itu, hanya bisa mengangguk-anggukkan kepalanya kepada sang tuan muda.Gideon, dengan napasnya yang terengah-engah, berkata lagi, "Dengarkan, Pengasuh Septin. Kita harus tetap diam dan berharap mereka melewati gudang tanpa curiga."Lagi-lagi Septin menganggukkan kepalanya.
Petrus dan Lukas tersenyum, merasa terharu mendengar kata-kata Gideon. Mereka merasa senang bisa menjadi bagian dari setiap pencapaian Gideon.Perjalanan pulang mereka berlangsung dengan penuh keceriaan. Ketiganya berbicara tentang balapan tadi, membagikan pengalaman dan cerita seru satu sama lain. Mereka tertawa dan saling menggoda, menciptakan suasana yang penuh keakraban."Tahu tidak, Guys, saat gue melihat kalian berdua di sisi arena, memberikan dukungan dan semangat, membuat gue merasa lebih semangat dan yakin akan menang," seru Gideon dengan penuh semangat. "Kalian adalah sahabat sejati, gue!”Petrus dan Lukas tersenyum lagi. Keduanya merasa terharu mendengar kata-kata Gideon. Mereka tahu betapa pentingnya dukungan dan persahabatan dalam mencapai kesuksesan.Saat mobil yang disetir oleh Lukas akhirnya tiba di area belakang rumah Gideon, mereka pun turun dari mobil dengan perasaan yang penuh kebahagiaan. Ketiganya berdiri di sana, saling berpelukan sebagai tanda persahabatan dan
Akhirnya, Gideon melintasi garis finish sebagai orang pertama yang mencapai garis akhir arena balapan dan menjadi juara dalam balapan itu. Dia merasakan kegembiraan yang tak tergambarkan, diiringi sorak sorai penonton dan tepuk tangan yang meriah.Petrus dan Lukas berlari mendekatinya, memberikan pelukan dan ucapan selamat. Mereka benar-benar bangga dengan pencapaian Gideon.“Lo adalah pembalap yang luar biasa, Bro Gideon!" ucap Petrus dengan penuh kagum.“Gue tidak pernah meragukan kemampuanmu, Bro Gideon!" tambah Lukas dengan senyuman lebar.Ketiganya lalu berpelukan sebagai tanda persahabatan dan kebersamaan mereka dalam petualangan ini. Gideon merasa begitu beruntung memiliki teman-teman seperti Petrus dan Lukas yang selalu mendukungku.Petualangan malam ini benar-benar tak terlupakan. Gideon belajar bahwa keberanian dan keahlian yang dirinya miliki dalam bermain game balap di rumahnya dapat diaplikasikan dalam kehidupan nyata. Sang tuan muda merasa semakin percaya diri dan siap
Petualangan malam terus berlanjut setelah ketiganya menikmati waktu yang menyenangkan di Pantai Ancol. Petrus, Lukas, dan Gideon, memutuskan untuk melanjutkan petualangan mereka ke sebuah arena balap liar di pinggiran kota Jakarta.“Bro … bagaimana kalau kita ke suatu tempat yang istimewa?” ajak Petrus.“Suatu tempat? Kenapa tempat itu bisa dikatakan sebagai tempat istimewa?” tukas Gideon penasaran.“Ha-ha-ha! Karena tempat itu adalah arena balap!” tutur Lukas.“Wow! What a surprise! Ayo kita ke sana! Gue nggak sabar ingin mencoba balapan motor yang sesungguhnya bukan hanya di depan layar saja!” ujar Gideon antusias.Perjalanan ketiga pemuda tersebut menuju arena balap liar dimulai dengan suasana yang penuh sukacita. Dengan Petrus yang menyetir mobil, mereka berangkat dari Pantai Ancol, menyusuri jalan-jalan kota Jakarta yang semarak dengan lampu-lampu malam yang berkelip-kelip.Mobil bergerak meluncur di jalan tol yang mulus, melaju dengan kecepatan yang tepat, seiring dengan irama l







