LOGINKedua matanya seolah hendak terlepas dari tempatnya. Seseorang di hadapannya membuatnya merasakan hal itu untuk pertama kalinya.Vivian yang tadi tak ada kesan anggun sedikit pun, dan lebih pantas disebut bar-bar kini benar-benar merubah sikap. Ia mencoba bersikap manis dan anggun seperti seorang putri kerajaan.“Maaf, Mas siapa, ya? Kok barusan ketuk pintu kamar Mbak Thalita?” tanya Vivian mencari informasi dengan merubah gesture tubuhnya. “Oh, kamu pasti adiknya Baskara, ya?” tanya balik Junior pada gadis muda yang terlihat salah tingkah di hadapannya. “Iya, betul Mas, aku Vivian, oh ya, lalu kedatangan Mas ke sini untuk menemui siapa?” Dengan konyolnya Vivian melempar pertanyaan itu pada Junior. Junior tak sedikit pun menunjukkan sikap risih atau kesal pada pertanyaan itu. Ia malah mengulas senyum manis dan ramah. “Aku ke sini mau menemui Thalita. Baskara yang menyuruhku kemari.”“Oh, begitu, mari silakan masuk,” ucap Vivian yang refleks memberi ruang gerak untuk pria itu masuk
Latief menatap dalam-dalam kedua mata indah sang putri yang mengingatkan dirinya pada Namira. Mata yang sama, mata yang begitu indah. Dihiasi dengan bulu mata lentik dan panjang yang tumbuh secara alami. Yang bodohnya telah ia campakkan belasan tahun lamanya.Pria itu sadar betapa berdosanya dirinya di depan Thalita. Ia masih terus berharap ada pintu maaf yang terbuka untuknya. Maaf yang tulus dan murni. Salahkah jika dirinya masih berharap akan kemungkinan kecil itu dari wanita yang telah ia sakiti?“Simpan saja keinginanmu itu, Pak Latief! Putrimu yang lain lebih membutuhkanmu. Hubungan kita memang ayah dan anak kandung. Tapi itu dulu. Sekarang sudah tak sama seperti dulu. Aku bukan lagi anakmu, Pak Latief. Dan aku juga tidak butuh anda untuk menjadi wali nikahku. Masih ada orang yang jauh lebih baik dan pantas untuk menjadi wali nikahku selain anda. Pak Latief tenang saja, tidak perlu memikirkan hal itu. Ini adalah urusan saya. Bukan urusan anda!” tegas Thalita sebelum berbalik bad
“Thalita, Ayah tahu kamu masih marah dan benci padaku. Tapi bolehkah Ayah bertanya padamu tentang suatu hal? Ayah berjanji, setelah kamu menjawab pertanyaan ini, Ayah tidak akan mengganggu atau ikut campur hidupmu lagi,” ucap Latief memohon. Wajahnya begitu sendu dan ekspresi bersalah di sana terpampang nyata. Thalita menghela napas sebelum memberikan respon pada Latief. “Baiklah, setelah itu anda harus benar-benar menjauh dan tidak diijinkan mengganggu hidupku lagi,” kata Thalita kemudian setelah menimang sesuatu di benaknya. Vivian yang ada di tengah-tengah mereka terlihat begitu bingung dan terus menerka. Mengapa Latief yang notabene adalah ayah kandung Kenzo mengatakan dirinya adalah ‘ayah’ dari Thalita? Bukankah kakak kandung Kenzo adalah Karina? Sebenarnya ada apa ini?Stefani yang ada di dekat mobil mendapatkan kode dari Thalita. Sang atasan tak perlu memanggil namanya untuk membawa pergi Vivian agar menjauh, karena ia sudah memiliki ketajaman pemikiran dan penglihatan yang
Latief seperti seorang tersangka yang siap divonis mati. Wajah pria itu memucat dan kesulitan hendak menatap siapapun di sekelilingnya. “Papa kenal sama calon kakak iparnya Vivian?” Kenzo mengulang pertanyaannya. Sungguh, ia benar-benar merasa penasaran dengan hubungan apa antara sang ayah dengan wanita cantik di sebelah Vivian.Sungguh, wanita itu benar-benar cantik. Pantas saja kakak kandung Vivian rela menceraikan istri pertamanya demi wanita di hadapannya. Pemuda itu mendengar rumor yang beredar di antara para pengusaha yang sempat ia simak beberapa saat lalu waktu dirinya menemani ayahnya membahas kerja sama bisnis.Di saat pikirannya bercabang antara kagum dan penasaran, Kenzo dikejutkan dengan seruan dari seseorang. Ia melihat Vivian menatap sinis ke arahnya. “Bisa kita bicara sebentar?” Vivian bertanya dengan ekspresi tegas. Kenzo mengangguk. Ia meminta ijin pada sang ayah melalui tatapan matanya. Begitu mengambil tempat yang agak berjauhan dari Latief dan Thalita, Vivian
“Apa nggak ngerepotin Mbak Thalita?” Thalita lantas menggeleng cepat. “Kalau Mbak sudah menawarkan hal itu, tandanya Mbak nggak merasa direpotkan sedikitpun.”“Tapi Mbak—”“Tapi kenapa lagi, Vivian?” Thalita menatap heran.“Kenapa Mbak memintaku untuk menemuinya? Aku kan bisa memutuskan hubungan kami lewat chat atau telepon, kenapa aku harus repot-repot menemui dia, Mbak?”Thalita paham sekarang apa yang membuat Vivian mempertanyakan hal itu padanya. “Kalian memulai hubungan percintaan kalian dengan baik-baik, kan? Kenapa pas putus cuma lewat pesan atau telepon?” balas Thalita dengan pertanyaan. “Oh jadi karena itu, Mbak?”Thalita mengangguk mantap. ‘Sebenarnya Mbak ingin tahu seperti apa muka si bajingan kecil itu! Dan setelah itu Mbak akan memukul atau menendang senjatanya supaya dia nggak berulah lagi. Siapa suruh dia mengganggu kamu, Vivian? Mbak nggak akan diam saja saat orang-orang yang kusayangi disakiti oleh laki-laki kurang ajar seperti mantan kamu itu.’ Thalita hanya bis
“Kalau kamu beneran sayang sama aku, kamu rela kan melakukan ‘itu’ sama aku?” Bisikan pemuda itu membuat sepasang mata Vivian terbuka lebar. Ia tak menyangka bahwa pemuda yang akhirnya ia terima cintanya meminta hal gila semacam itu padanya. “Kita sudah tiga bulan berpacaran, Vivian. Kalaupun kamu hamil, aku pasti bakalan tanggung jawab dan menikahi kamu,” lanjut pemuda itu di telinga Vivian.PlakkTamparan mendarat mulus di wajah pemuda itu. Vivian tak bisa bersabar ataupun menolerir apa yang telah diucapkan olehnya.“Kamu pikir aku perempuan macam apa? Aku menerima kamu jadi pacar aku karena aku berpikir kamu beneran tulus sayang sama aku dan beda dari semua laki-laki yang ada di sekitarku. Kuanggap kamu bisa menerima semua kekurangan dan kelebihanku. Tapi ternyata aku salah. Aku nggak mau lihat muka kamu lagi! Aku benci sama kamu!” amuk Vivian dengan jari telunjuk mengarah ke arah wajah pemuda itu.“Vivian! Vivian! Aku minta maaf, Vivian. Tolong jangan marah sama aku,” teriak pem







