LOGINSeruni nyaris tak bisa berkata-kata. Pemandangan di depan mata sungguh menguras energi tua yang ia miliki. Rasanya tenaga yang masih bersarang di tubuh renta miliknya raib seketika. “David!” Seruni menunjuk-nunjuk pria yang berlutut di hadapannya usai didorong keras oleh Baskara. Ia masih tak percaya dengan apa yang disaksikannya. Tak lama kemudian, Teddy yang mendengar suara keributan di ruang keluarga pun ikut bergabung. Sepasang suami istri tua itu saling melempar pandangan satu sama lain.“David, kamu masih hidup?” Teddy yang terkejut melihat keberadaan cucu pertamanya segera mendekat. Pria tua itu hendak mengulurkan tangannya untuk membantu David bangun dari posisinya. Usaha Teddy tak membuahkan hasil. Baskara pasang badan mencegah usahanya. Cucu keduanya yang sekaligus pewaris utama tahta perusahaan miliknya kini membuat jarak antara dirinya dengan David. “Jangan ada yang mendekat! Aku akan buat perhitungan dengan pecundang ini. Pecundang yang kabur dari pernikahan dan berse
Baskara bergeming di tempat. Ia sengaja memberi waktu pada sang kakak untuk menjelaskan semua kekacauan ini. Mungkinkah seorang pria yang lama bersembunyi akan menunjukkan keberanian?David menatap kedua mata sang kekasih dengan perasaan bersalah. “Dia adalah adikku. Aku.. aku.. kabur dari pernikahan dan membuatnya menggantikan aku sebagai pengantin pria.”Semua kata yang ia tahan akhirnya keluar. Entah apa yang akan terjadi setelah ini, David tak mampu memprediksi. Rasa bersalah yang bersarang di hatinya saat ini bukan hanya untuk sang kekasih melainkan dan paling utama pada adik kandungnya sendiri. Bugg Kepalan tangan Baskara kembali mengenai rahang tegas sang kakak. David tak membalas. Sonia yang tadi membela kekasihnya pun kini tak bisa berkata-kata. Sonia tampak syok dan merasakan hal aneh yang menjalar sampai ke ulu hati. Kekasih yang paling ia cintai rupanya telah begitu tega menyakiti adiknya sendiri dan kabur dari sebuah ikatan sakral hingga membuat orang lain harus mender
Sambil menyesap kopi hitam di hadapannya, pikiran Thalita melanglang buana entah ke mana. Kopi yang sudah tidak sepanas tadi kini mengaliri tenggorokannya secara perlahan. “Tolong awasi Baskara untukku, Thalita. Laporkan semua pergerakannya padaku. Aku curiga dia ada main dengan wanita lain di luar sana. Kamu dan aku sama-sama seorang wanita pasti paham apa yang aku rasakan, bukan? Aku yakin wanita secantik kamu pasti memiliki seorang kekasih. Dan kamu pasti tahu jika ada yang aneh pada pasanganmu, kamu pasti akan melakukan segala cara untuk menemukan jawaban. Benar, kan?”Ingatan kejadian siang tadi terus terngiang di kepalanya. Thalita menggeleng cepat berharap apa yang terjadi dan yang ia ingat segera enyah dari pikiran. Ia tak mau mengingat seujung kuku pun setiap kata yang keluar dari bibir Yola padanya. Kenyataannya, segala hal justru terekam jelas di memori internal kepalanya. Sialan!“Sial! Sial! Kenapa aku harus ada di tengah-tengah kalian? Dari sekian banyak wanita yang ka
Menjauh dari barisan karyawan yang tengah berperang dengan tugas mereka masing-masing, Thalita dan Yola berdiri di dekat balkon.Angin menerbangkan ujung-ujung rambut Thalita yang tergerai cantik. Wanita itu merasa tak nyaman dengan situasi yang ia alami saat ini. Berada berdua saja dengan Yola membuat ketidaknyamanan itu mulai tak terkendali. Sebelum ungkapan cinta tulus dan romantis dari Baskara kepadanya tempo hari, ia masih bisa bersikap biasa-biasa saja pada Yola. Tapi sekarang? Ia malah terlihat seperti seorang gundik yang sedang berusaha merebut kekuasaan dari sang permaisuri demi mendapatkan hati kaisar. “Thalita, sebenarnya selama beberapa hari ini aku merasa ada yang aneh dengan suamiku. Kamu sebagai tangan kanannya di kantor ini tentu tahu siapa sajakah orang-orang yang dia temui, kan? Apakah di antara mereka ada yang mencurigakan?” Denyut jantung Thalita rasanya seperti mau meledak dalam kobaran api. Ia nyaris luluh lantak dalam kata-kata wanita yang ada di sampingnya.
Kerutan di kening Vivian terlihat jelas. Thalita harus memutar otak. Jangan sampai keberadaan Baskara diketahui oleh Vivian. Ia tak mau ada drama baru yang berujung membawa-bawa namanya. ‘Kenapa aku harus berurusan dengan duo kakak beradik ini, Ya Tuhan?’ “Kenapa jangan, Mbak?” Vivian menatap penuh selidik seraya berusaha menoleh ke belakang sebisanya. Namun, usaha Vivian tidak membuahkan hasil. Thalita dengan cepat tersenyum dan berkata penuh kelembutan bak seorang kakak yang sangat menyayangi adiknya. “Tadi kamu bilang, ada yang mau kamu bicarakan dengan Mbak? Kalau kamu terlalu lama dan nggak segera memberitahuku, jam istirahatku akan terbuang sia-sia, Vivian. Apa kamu nggak kasihan sama Mbak?” Melihat ekspresi sendu di wajah Thalita, Vivian segera membuang jauh-jauh rasa ingin tahu yang menyeruak di dalam dirinya tentang siapakah pemilik ponsel yang baru saja berdering nyaring menyita perhatiannya. “Oke, Mbak. Jadi begini….”Dengan kegigihan Thalita, Baskara segera pergi dar
“Sudah, Pak. Ini hasil penyelidikannya,” jawab Rico sembari menyerahkan sebendel dokumen dalam sebuah amplop coklat besar pada Baskara. Baskara segera membuka isi amplop tersebut lalu mengangguk-anggukkan kepalanya seraya tersenyum sinis. “Berani main-main sama aku, nyalinya lumayan kuat juga,” komentar Baskara sembari melempar dokumen tersebut ke atas meja dengan raut wajah kesal.Rico telah terbiasa melihat sang atasan memaki orang atau mengomentari banyak hal yang tidak sesuai dengan kata-kata kasar, ia sudah dapat memprediksi bahwa hal ini akan terjadi. Pria itu hanya diam dan tidak mengeluarkan sepatah kata pun jika melihat perangai Baskara yang saat ini terlihat seperti singa hendak menerkam mangsa. “Aku akan membuat kalian menangis di neraka sebentar lagi,” desis Baskara dengan senyuman smirk yang sudah menjadi ciri khasnya.~~~~“Nunggu lama, ya?” Thalita menepuk bahu Vivian yang sudah tiba lebih dulu di kantin kantor.Vivian menggeleng cepat. “Belum lama kok, Mbak. Aku mal
Mati?!Jangan gila!!Thalita berusaha memaksa Baskara agar bangun dari posisi berlututnya saat ini. Namun, pria itu malah mendorongnya pelan agar tak ikut campur. Ia benar-benar bersikeras meminta restu. “Mas, aku mohon berdiri sekarang juga,” pinta Thalita dengan nada memaksa. Wanita itu sedikit
Mendengar kata-kata bermakna peringatan dari Jani, Thalita memilih menjauh dari Baskara. Ia melepaskan rengkuhan tangan Baskara dari pinggangnya yang ramping secara perlahan. Rasanya tak nyaman dan malu dengan apa yang baru saja diucapkan sang tante pada mereka berdua. Sesaat, keduanya tampak cang
Semua mata tertuju pada kedua insan manusia yang tercipta begitu serasi. Thalita dan Baskara menghentikan ucapan mereka sejenak sebelum akhirnya sang penguasalah yang mengambil alih perseteruan. “Saya sudah menikah,” kata Baskara secara lantang yang membuat Jani membelalakkan matanya. Namun, belum
“Tentu saja bisa, Bu Jani. Saya mencintai Thalita dengan sepenuh hati. Sejak pertama bertemu dengannya, saya merasa nyaman dan ingin selalu bersama dengan dia. Padahal saya sadar saat ini saya masih terikat pernikahan dengan wanita lain. Tapi saya tidak bisa membohongi diri saya sendiri dan terus b







