ログインSirine ambulans berlalu. Hening sejenak. Semua mata kini terarah pada Yola dan Ferry. Petugas polisi sudah berada di rumah itu. Ferry dan Yola digiring menuju ke mobil polisi. Mereka berdua menurut saja ketika dibawa pergi oleh beberapa petugas kepolisian seperti kerbau yang dicocok hidungnya. Tak ada perlawanan. Sisi arogan yang mereka miliki sebelumnya sirna berganti menjadi kegelisahan yang teramat sangat.“Kalau sampai terjadi hal buruk pada David, kupastikan kalian berdua membusuk di penjara!” ucap Baskara serius. Ia benar-benar marah sebelumnya, untungnya Thalita dan Seruni sesegera mungkin bahu membahu menenangkan kemarahannya. “Biar proses hukum yang berjalan dan mengadili mereka, Bas. Sekarang kita ikuti mobil ambulans yang membawa David ke Rumah Sakit!” titah Teddy pada Baskara dan dengan kewibawaannya membuat semua orang di sekitarnya mengangguk patuh. Thalita yang tepat berada di sisi Baskara mengangguk pelan memberi kode pada sang kekasih. Pria itu memberikan tanggapan
“Berhenti, Yola! Jangan melakukan tindakan bodoh di rumah ini!” hardik Seruni yang sedari tadi diam menahan emosi ketika menyaksikan perseteruan antara Yola dan Baskara. “Kamu lebih baik diam! Kalau bukan karena kamu yang nggak punya kekuatan untuk membuat cucumu patuh, aku nggak akan melakukan hal senekat ini. Kalian semua jahat. Kamu, kamu dan juga kamu!” balas Yola seraya menunjuk beberapa orang yang telah membuat hidupnya kacau balau separah ini menggunakan moncong pistolnya. “Yola, semua ini salahku. Jangan salahkan Nenek, Baskara dan semua keluargaku! Kalau kamu mau marah, limpahkan semuanya sama aku. Kalau bukan karena aku yang kabur saat pernikahan kita saat itu, mungkin kamu nggak akan pernah melakukan hal seperti ini. Ini semua salahku, Yola,” ucap David angkat bicara dengan raut wajah penuh penyesalan.Baskara yang mendengarnya segera merangkul Thalita dan memeluknya erat. Ia pasang badan melindungi sang kekasih dari kegilaan wanita yang tengah mengandung tersebut. Yola
“Anakku? Anak kita?” Baskara membeo. Ia mengulang setiap kata yang terucap dari mulut Yola sebagai kalimat penegasan.“Iya, anak kita! Memangnya anak siapa lagi? Suamiku itu kamu. Jadi jelas hanya kamu orang yang satu-satunya bisa membuatku hamil. Jangan berpura-pura bodoh, Bas!” Yola terus melancarkan serangannya. Ia memang berniat membuat Thalita sadar dan segera menjauh dari kehidupan Baskara. “Oke, oke, aku nggak mau banyak debat. Aku cuma mau nunjukkin kamu sesuatu sebelum aku melakukan tindakan selanjutnya sama hubungan kita.” Baskara terdengar mengalah. Pikiran Yola terusik oleh ucapan Baskara. Keningnya berkerut dalam. Penasaran hebat menghantuinya. Ditambah lagi saat ini ia melihat Baskara memberikan sebuah kode pada Rico. Perasaannya mulai tak tenang. “Orangnya sudah datang, Tuan.” Rico memberitahu. Tak lama kemudian, dua pria bertubuh tegap berpakaian yang hampir sama dengan Rico masuk membawa seorang pria muda. Mungkin pria itu beberapa tahun lebih muda dari Baskara.
Baskara menghela napas sebelum mengangkat tangannya menjeda perdebatan. Tatapannya jelas terarah pada Yola. Ia mengamati sejenak situasi di sekitarnya. “Berapa usia kandunganmu sekarang?” Mendengar secuil perhatian yang diberikan Baskara padanya membuat Yola tampak berpikir sebelum menjawab pertanyaan pria tampan itu. “Sesuai dengan hasil tes dari dokter yang sudah kutunjukkan padamu, mungkin sekitar 4 sampai 5 minggu pada hari ini. Aku lupa tepatnya. Lebih jelasnya, kita bisa memeriksakan kandunganku ini ke dokter. Supaya kamu bisa yakin dan percaya kalau janin yang kukandung ini adalah anak kamu.”Tawa Baskara tak bisa dibendung lagi. Ia tak kuasa menahan tawa hingga suaranya terdengar renyah. Yola dan Ferry saling bersitatap. Mereka menatap aneh pada gerak-gerik Baskara saat ini. “Apa yang kamu tertawakan, Bas?” tanya Yola dengan ekspresi tak suka. Wanita itu merasa diremehkan. “Sesuatu yang lucu, memangnya nggak boleh?” balas Baskara dengan nada sinis yang kentara. “Apa yang
“Apa kamu memang tidak menghormati aku, Yola? Apa selama ini kebaikanku ke kamu tidak berarti sama sekali? Tujuanku mengumpulkan kalian semua pada hari ini di sini bukan untuk bertengkar satu sama lain. Aku hanya ingin kalian menyelesaikan semua masalah yang ada dengan kepala dingin dan mencari solusi terbaik. Paham?” Seruni menyita atensi semua orang. Yola terdiam sejenak. Sepertinya ini bukan waktunya untuk berdebat atau beradu argumen dengan wanita tua di hadapannya. Lebih baik mengikuti ke arah mana wanita tua itu membawanya. Ia harus tetap menunjukkan sisi anggun yang selama ini ia bangun di hadapan semua orang. Menyempurnakan penampilan dan posisinya yang terkesan rapuh, wanita itu menatap sendu sembari mengelus perutnya. Ia ingin semua orang tahu bahwa saat ini ia benar-benar tengah hamil. Tak boleh ada yang menganggapnya sedang bersandiwara.Kembali pada Baskara, pria itu mencari tempat duduk sebelum mengarahkan langkahnya beriringan dengan sang kekasih. Menemukan posisi yang
Sebelum Baskara membantu Thalita menjawab pertanyaan yang diajukan Vivian, gadis kecil yang naasnya adalah saudara kandungnya malah sudah lebih dulu menarik Thalita darinya. “Bagus dong kalau gitu, akhirnya aku punya kakak ipar yang cantik, baik hati dan sefrekuensi sama aku,” ucap Vivian dengan santainya menggelayut manja di lengan Thalita dan mengajaknya masuk ke dalam rumah.“Vivian, kembalikan Thalita!” Baskara tak terima ketika sang adik mengambil alih kepemilikan. Walau adiknya adalah perempuan, ia tetap saja merasa cemburu jika ada yang lebih dekat dengan Thalita daripada dirinya. “Ngalah bentar sih kenapa?” Vivian juga tak mau kalah. Ia malah dengan beraninya menjulurkan lidahnya pada Baskara dan melangkah lebih cepat bersama dengan Thalita. “Ayo, Mbak, semua orang sudah menunggu Mas Baskara,” ajak Vivian yang membuat kening Thalita berkerut. “Kalau Mas Baskara yang ditunggu, kenapa kamu malah menggandeng tangan Mbak? Harusnya kan kamu ngajakin Mas Baskara, Vivian cantik,”







