INICIAR SESIÓN“Kalau kamu beneran sayang sama aku, kamu rela kan melakukan ‘itu’ sama aku?” Bisikan pemuda itu membuat sepasang mata Vivian terbuka lebar. Ia tak menyangka bahwa pemuda yang akhirnya ia terima cintanya meminta hal gila semacam itu padanya. “Kita sudah tiga bulan berpacaran, Vivian. Kalaupun kamu hamil, aku pasti bakalan tanggung jawab dan menikahi kamu,” lanjut pemuda itu di telinga Vivian.PlakkTamparan mendarat mulus di wajah pemuda itu. Vivian tak bisa bersabar ataupun menolerir apa yang telah diucapkan olehnya.“Kamu pikir aku perempuan macam apa? Aku menerima kamu jadi pacar aku karena aku berpikir kamu beneran tulus sayang sama aku dan beda dari semua laki-laki yang ada di sekitarku. Kuanggap kamu bisa menerima semua kekurangan dan kelebihanku. Tapi ternyata aku salah. Aku nggak mau lihat muka kamu lagi! Aku benci sama kamu!” amuk Vivian dengan jari telunjuk mengarah ke arah wajah pemuda itu.“Vivian! Vivian! Aku minta maaf, Vivian. Tolong jangan marah sama aku,” teriak pem
“Kenapa jangan, Tante?” Thalita heran pada sikap dan ucapan Jani yang membuatnya saat ini merasa curiga. Tak pernah Jani menunjukkan ekspresi panik seperti ini saat ada bersamanya.Sebenarnya siapa orang yang ada di luar?Thalita beranjak dari posisinya dan menunduk menatap sang ibu sebelum mempertanyakan hal yang membuatnya penasaran pada Jani. “Sebenarnya siapa yang ada di luar, Tante? Kenapa ekspresi Tante aneh seperti itu?” Melihat Jani belum memberikan respon atas pertanyaan yang ia lontarkan, Thalita memilih berjalan hendak membuka pintu.Jani melirik Stefani dan menunjukkan gelagat ketakutan. Stefani yang tanggap segera mengambil alih tindakan. “Biar saya yang membukakan pintu, Nona Thalita.” Demi kenyamanan dan keamanan bersama, Stefani mengambil resiko apapun itu. Kalau yang ada di luar adalah orang yang berbahaya, ia masih bisa diandalkan dengan ilmu bela diri yang cukup terlatih. Ia mampu melindungi sang nona dan keluarganya yang semuanya adalah perempuan.Thalita mengh
Jani mengalihkan pandangan. Ia harus mencari alasan yang tepat. ‘Bagaimana ini, Tuhan? Aku nggak akan membiarkan kakakku tahu tentang apa yang saat ini terjadi pada Thalita. Setidaknya untuk saat ini saja. Tuhan, tolong bantu aku. Aku tidak bisa berbohong pada Mbak Namira. Tapi untuk jujur mengenai apa yang dialami Thalita tentu tak mungkin ku ungkap sekarang.’“Bu Jani, maaf mengganggu. Bisa kita bicara sebentar?” Stefani yang sebelumnya berada di teras rumah untuk mencari udara segar mendadak masuk ke dalam rumah. Ia mendekati dua wanita paruh baya di ruang tamu dengan ekspresi tak terbaca. Jani segera bangkit dari tempat duduknya. Mungkinkah ini adalah jawaban dari Tuhan agar ia bisa menghindari pertanyaan pelik dari sang kakak?Sebelum mengikuti Stefani, Jani menundukkan kepalanya lalu menatap wajah Namira yang sendu. Sungguh, ia tak ingin membuat kakak kandungnya itu bersedih dengan kabar yang cukup mendadak ini. Ia butuh waktu untuk mengungkap segala hal mengenai kehamilan Tha
Namira menjawab dengan anggukan pelan. Seolah hal itu sudah menjadi jawaban pasti tanpa perlu penjelasan panjang lebar.Percayalah, tak ada yang tak mungkin jika itu berasal dari kasih Tuhan. Setelah sekian lama hidup dalam bayang-bayang masa lalu yang pedih, akhirnya Namira bisa bangkit dari keterpurukannya. Pikirannya sudah seperti orang normal pada umumnya. Bayangan masa lalu tentang Latief yang meninggalkannya perlahan menghilang dan tergantikan dengan kebahagiaan yang bersumber dari putrinya.‘Apakah ini salah satu bukti mukjizat darimu, Tuhan? Kau mengembalikan ibuku kepadaku. Akhirnya… akhirnya Ibu…’Thalita tak bisa berkata-kata lagi walau hanya dalam hati. Tangisnya pecah dan langsung memeluk sang ibu dengan erat. “Ibu, aku sayang Ibu.” Thalita menangis di pelukan Namira. Wanita cantik itu berlutut di atas lantai sembari memeluk sang ibu dengan tangis yang tak dapat ditahan lagi.Namira tak bisa menahan isak tangis, sama seperti sang putri. Akhirnya pasangan ibu dan anak itu
Kedua mata Thalita terarah pada tayangan televisi yang kini menunjukkan pemandangan menyedihkan. Sebuah kecelakaan maut tunggal yang telah menewaskan wanita yang pernah merebut kebahagiaan ibunya. Bukan kebahagiaan yang ada di benak Thalita saat ini, melainkan iba pada nasib keluarga yang ditinggalkan.“Permisi, Nona Thalita, ini teh hangatnya,” ucap Stefani sembari meletakkan secangkir teh hangat permintaan sang majikan. Tak mendapat jawaban karena Thalita sedang fokus pada apa yang tersaji di layar televisi, Stefani segera berpindah posisi. Ia kini berdiri di samping Rico dan pria itu berbisik di telinganya. Terjawablah sudah apa yang membuat dirinya bertanya-tanya. Kembali pada Thalita dan Baskara…Baskara membalik tubuh Thalita agar mereka bisa saling bersitatap. “Ada apa, Sayang?”“Nggak apa-apa, Mas.” Thalita menjawab singkat tanpa berniat memberikan penjelasan. “Oh ya, Mas, habis ini aku mau ke rumah Ibu, ya,” ucap Thalita meminta ijin. “Mau ke rumah Ibu? Perlu aku temani? M
“Sayang, maaf aku lam—” Baskara yang hendak melanjutkan kata-katanya tiba-tiba membelalakkan mata. Tepat di saat itu juga, tangan Karina yang hendak menampar Thalita dihentikan seseorang. Bukan Yudith ataupun Baskara, melainkan Tahlita sendiri-lah yang melakukannya. “Kamu pikir kamu bisa menamparku? Jangan harap kamu bisa menyentuhku, Karina! Saat kamu berani menamparku, aku akan membalasmu 10 kali lipat dari tamparan serta rasa sakit yang kamu berikan padaku. Masih berani coba? Aku nggak main-main, Karina.” Thalita tampak berbeda saat ini. Wanita yang tengah mengandung buah cintanya dengan Baskara itu terlihat tegas, ambisius dan diliputi amarah yang tak main-main.Karina sontak memundurkan tubuhnya. Tumbuh rasa takut yang kini menyelubungi hatinya. Ia melirik ke arah Yudith yang diam saja dan sepertinya tidak akan berada di pihaknya. “Kamu itu tunanganku tapi kenapa malah diam? Kenapa kamu nggak angkat bicara saat wanita ini menggangguku?” Karina menyalahkan Yudith yang memilih d







