تسجيل الدخول“Anakku? Anak kita?” Baskara membeo. Ia mengulang setiap kata yang terucap dari mulut Yola sebagai kalimat penegasan.“Iya, anak kita! Memangnya anak siapa lagi? Suamiku itu kamu. Jadi jelas hanya kamu orang yang satu-satunya bisa membuatku hamil. Jangan berpura-pura bodoh, Bas!” Yola terus melancarkan serangannya. Ia memang berniat membuat Thalita sadar dan segera menjauh dari kehidupan Baskara. “Oke, oke, aku nggak mau banyak debat. Aku cuma mau nunjukkin kamu sesuatu sebelum aku melakukan tindakan selanjutnya sama hubungan kita.” Baskara terdengar mengalah. Pikiran Yola terusik oleh ucapan Baskara. Keningnya berkerut dalam. Penasaran hebat menghantuinya. Ditambah lagi saat ini ia melihat Baskara memberikan sebuah kode pada Rico. Perasaannya mulai tak tenang. “Orangnya sudah datang, Tuan.” Rico memberitahu. Tak lama kemudian, dua pria bertubuh tegap berpakaian yang hampir sama dengan Rico masuk membawa seorang pria muda. Mungkin pria itu beberapa tahun lebih muda dari Baskara.
Baskara menghela napas sebelum mengangkat tangannya menjeda perdebatan. Tatapannya jelas terarah pada Yola. Ia mengamati sejenak situasi di sekitarnya. “Berapa usia kandunganmu sekarang?” Mendengar secuil perhatian yang diberikan Baskara padanya membuat Yola tampak berpikir sebelum menjawab pertanyaan pria tampan itu. “Sesuai dengan hasil tes dari dokter yang sudah kutunjukkan padamu, mungkin sekitar 4 sampai 5 minggu pada hari ini. Aku lupa tepatnya. Lebih jelasnya, kita bisa memeriksakan kandunganku ini ke dokter. Supaya kamu bisa yakin dan percaya kalau janin yang kukandung ini adalah anak kamu.”Tawa Baskara tak bisa dibendung lagi. Ia tak kuasa menahan tawa hingga suaranya terdengar renyah. Yola dan Ferry saling bersitatap. Mereka menatap aneh pada gerak-gerik Baskara saat ini. “Apa yang kamu tertawakan, Bas?” tanya Yola dengan ekspresi tak suka. Wanita itu merasa diremehkan. “Sesuatu yang lucu, memangnya nggak boleh?” balas Baskara dengan nada sinis yang kentara. “Apa yang
“Apa kamu memang tidak menghormati aku, Yola? Apa selama ini kebaikanku ke kamu tidak berarti sama sekali? Tujuanku mengumpulkan kalian semua pada hari ini di sini bukan untuk bertengkar satu sama lain. Aku hanya ingin kalian menyelesaikan semua masalah yang ada dengan kepala dingin dan mencari solusi terbaik. Paham?” Seruni menyita atensi semua orang. Yola terdiam sejenak. Sepertinya ini bukan waktunya untuk berdebat atau beradu argumen dengan wanita tua di hadapannya. Lebih baik mengikuti ke arah mana wanita tua itu membawanya. Ia harus tetap menunjukkan sisi anggun yang selama ini ia bangun di hadapan semua orang. Menyempurnakan penampilan dan posisinya yang terkesan rapuh, wanita itu menatap sendu sembari mengelus perutnya. Ia ingin semua orang tahu bahwa saat ini ia benar-benar tengah hamil. Tak boleh ada yang menganggapnya sedang bersandiwara.Kembali pada Baskara, pria itu mencari tempat duduk sebelum mengarahkan langkahnya beriringan dengan sang kekasih. Menemukan posisi yang
Sebelum Baskara membantu Thalita menjawab pertanyaan yang diajukan Vivian, gadis kecil yang naasnya adalah saudara kandungnya malah sudah lebih dulu menarik Thalita darinya. “Bagus dong kalau gitu, akhirnya aku punya kakak ipar yang cantik, baik hati dan sefrekuensi sama aku,” ucap Vivian dengan santainya menggelayut manja di lengan Thalita dan mengajaknya masuk ke dalam rumah.“Vivian, kembalikan Thalita!” Baskara tak terima ketika sang adik mengambil alih kepemilikan. Walau adiknya adalah perempuan, ia tetap saja merasa cemburu jika ada yang lebih dekat dengan Thalita daripada dirinya. “Ngalah bentar sih kenapa?” Vivian juga tak mau kalah. Ia malah dengan beraninya menjulurkan lidahnya pada Baskara dan melangkah lebih cepat bersama dengan Thalita. “Ayo, Mbak, semua orang sudah menunggu Mas Baskara,” ajak Vivian yang membuat kening Thalita berkerut. “Kalau Mas Baskara yang ditunggu, kenapa kamu malah menggandeng tangan Mbak? Harusnya kan kamu ngajakin Mas Baskara, Vivian cantik,”
“Jadi benar pria itu adalah ayah kandungmu?” tanya Baskara dengan penuh kehati-hatian. Ia khawatir menyinggung perasaan sang kekasih. Ia tak mau menambah luka di hati Thalita.Thalita mengangguk pelan. Lalu ia menunjukkan senyuman. Ia tak mau siapapun tahu bahwa saat ini ia benar-benar terluka dan hancur. Pria yang dulu sangat ia sayangi adalah orang yang pertama kali menghancurkan kebahagiaannya. Pria yang seharusnya membimbingnya menuju ke jalan dan masa depan yang baik telah menghancurkan segalanya. Merenggut kebahagiaan semasa kecilnya hingga detik ini. “Kalau kamu mau menangis, maka menangislah. Jangan ditahan! Senyuman kamu yang seperti ini justru bikin aku takut.” Ucapan Baskara membuat Thalita yang bersitatap dengannya tak kuasa menahan laju air mata. Menghancurkan dinding kokoh yang berusaha ia pertahankan agar tak terlihat oleh siapapun kini runtuh sudah. Dipeluknya tubuh lemah oleh keadaan itu dengan lembut. Pelukannya begitu menenangkan hingga Thalita bisa meluapkan seg
“Papa, apa yang dia bilang barusan itu nggak benar, kan? Dia bukan anak Papa, kan?” Karina menolak kenyataan apa yang baru saja didengar olehnya.Karina terlihat jauh lebih syok dibandingkan Mirna yang notabene adalah istri dari Latief. Ia bersitatap dengan ibunya seolah menyiratkan bahwa yang barusan ia dengar hanya sebuah kesalahpahaman. “Papa cuma papanya Karina dan Kenzo, kan? Jawab aku, Pa! Apa yang barusan dia bilang itu nggak benar, kan? Iya kan, Pa?!” Karina terus mengemis jawaban pada sang ayah. Ia berharap besar sang ayah segera mengatakan ‘iya’. Namun yang Karina harapkan tidak menjadi kenyataan. Latief menggeleng pelan. Pria itu menunjukkan ekspresi bersalah dan hanya mampu diam ketika banyak mata menghakiminya. “Kenapa anda diam? Bukankah putri anda meminta jawaban pada anda? Ke mana perginya sikap angkuh anda barusan?” Thalita angkat bicara setelah beberapa saat bungkam. Ia puas sudah mengutarakan segala hal yang terpendam dari hati dan pikirannya. Ia tak peduli akan







